Apa yang paling di inginkan setiap Kultivator didunia ini? Tentu saja kekuatan. Kekuatan adalah segalanya didunia ini, jika kamu tidak cukup kuat maka sesuatu yang menunggu adalah kematian. Oleh karena itu, untuk menjadi kuat semua hal akan dilakukan, meski itu harus membunuh demi sumber daya yang terbatas.
Tetapi terdapat seorang pemuda yang memiliki tujuannya sendiri, yaitu kedamaian. Dia menggunakan kekuatan sebagai alat untuk mencapainya. Setiap ayunan pedangnya akan menghancurkan kegelapan dari sisi kehidupan. Dengan pedangnya, dia akan membunuh segala musuh yang menghalangi langkahnya.
Namanya adalah Li Hui, pemuda berambut putih dengan iris emas yang setiap tatapannya akan menghancurkan mental setiap orang. Dan dengan bakatnya, dia akan memimpin setiap Kultivator melawan musuh yang sudah kelaparan selama ribuan tahun.
"Inikah akhirnya?"
Ucap Li Hui dengan pedang ditangan kirinya, memandang sedih kearah langit malam tanpa bintang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Levifq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 17 Tahap Pertama (1)
Mendengar hadiah yang akan disediakan oleh sekte untuk setiap pemenang, membuat semua peserta dan masing-masing perwakilan hampir pingsan karena tidak percaya. Manual Kultivasi Earth-Tier? Itu adalah hadiah terbaik yang bahkan sekte kelas menengah tidak mampu berikan.
'Patriak sekte ini pasti sudah gila', begitulah pemikiran setiap perwakilan keluarga yang hadir untuk menyaksikan seleksi. Bagaimana tidak? Manual kultivasi adalah sesuatu yang sangat penting untuk memajukan seorang Cultivator, bagaimana mungkin itu dibuat sebagai hadiah? Karena sekte bisa menggunakan manual ini untuk membimbing setiap murid yang berbakat?
"apa apaan?! Itu terlalu berharga hanya untuk sebuah hadiah" ucap Zhao Yan dengan bingung. "dan jika sekte memang memberikannya, maka kau harus mendapatkannya Feng'er" ucapnya lagi sambil melihat kearah kerumunan peserta.
Ditempat lain, lebih tepatnya ditempat duduk khusus undangan. "hm. Sepertinya Klan mengambil keputusan yang bagus" ucap seseorang yang tidak lain adalah pria paruh baya yang mengantarkan Xiao Yun dan Xiao Que kesekte Bintang Biru.
*
Sementara itu diantara para peserta, terlihat Xiao Yun yang memandang penuh semangat kedepan. Dia mengepalkan tangannya dan menggertakkan giginya keras "ini akan meningkatkan semangat ku untuk mendapatkan peringkat pertama!" serunya keras membuat semua mata memandang kearahnya. Sedangkan Xiao Que sudah berjalan menjauh karena merasa malu akibat teriakan saudaranya itu.
"kurasa dia tidak perlu berteriak seperti itu" gumam Xiao Que.
Dan tidak jauh dari tempat mereka, terlihat Zhao Feng yang juga bertambah semangat. Dia berjanji dalam dirinya untuk mendapatkan peringkat pertama supaya dia tidak memiliki penyesalan dalam dirinya lagi.
"apakah kita bisa mendapatkan semua itu saudara Hui?" tanya Zhu Fian dengan nada sedih. Berbeda dari peserta lainnya yang terlihat begitu bersemangat, Zhu Fian malah terlihat begitu sedih, karena dia tahu batas kemampuannya dan dia juga tahu bahwa dia tidak akan sanggup bahkan menduduki posisi 10 besar.
Tapi Li Hui yang berdiri disampingnya terlihat biasa saja, dia hanya berdiri dengan tenang dan diam seolah tidak terpengaruh dengan hadiah yang menggiurkan itu. "Aku tidak yakin, tapi kita setidaknya harus berusaha sangat keras untuk itu." ucap Li Hui.
"apa kau tidak mau menjadi peringkat pertama? "tanya Zhu Fian lagi setelah melihat reaksi Li Hui.
"tentu saja mau. Hadiahnya terlalu bagus untuk dibiarkan begitu saja. "
"hm. Kau benar"
Beberapa saat kemudian, Tetua yang berdiri dipodium kembali bersuara dengan lantang "semua hadiah itu diberikan oleh Royal Valley Sect sebagai imbalan atas perekrutan 2 murid jenius kita yaitu Zhu Yan dan Xi Zai. Jadi tanpa berlama-lama lagi mari kita mulai seleksi penerimaan murid Sekte Bintang Biru!"
Semua tetua yang ditugaskan pada seleksi tahap 1 langsung melakukan tugasnya masing-masing dengan memanggil peserta berdasarkan nomor urut. Ada 10 panggung pengukur bakat yang disediakan oleh sekte, sedangkan jumlah peserta adalah sebanyak 300 orang, yang membuat seleksi tahap pertama hanya membutuhkan waktu yang relatif singkat. Buktinya hanya dalam waktu 1 jam, sudah sebanyak 60 orang peserta yang maju untuk mengukur bakat mereka. Dan diantara 60 orang itu hanya 20 orang saja yang lulus ketahap kedua, dengan rata-rata bakat hanya berada diperingkat 3-4.
Tidak jauh dari arena, yaitu sekitar 500 meter dari pintu masuk, terdapat sebuah pondok sederhana yang terbuat dari bambu. Didalamnya ada 2 orang pria tua yang tidak lain adalah Patriak dan GrandElder, lalu Shu Juan dan 1 orang wanita paruh baya."bagaimana menurut anda calon-calon murid pada kali ini patriak?" tanya Shu Juan yang berdiri dibelakang patriak Qifan.
"menurutku, ini adalah generasi terbaik yang pernah aku lihat. Karena selain Hui'er, masih banyak anak-anak muda yang berbakat" jawab Patriak Qifan.
"anda benar patriak, tapi meskipun ini adalah generasi terbaik, sekte kita hanya mendapatkan bagian kecil dari murid-murid berbakat." sambung GrandElder yang membuat ketiga pasang mata disamping dan belakangnya menatapnya dengan bingung.
"apa maksudmu Grand Elder? "
"apakah anda lupa patriak ? Jika hanya sekte kita yang menerima murid setiap 2 tahun sekali? 1 bulan yang lalu, aku mengutus beberapa mata-mata ke sekte -sekte kecil terdekat. Dan aku mendapat kabar yang mengejutkan, yaitu sekte Benang Hitam berhasil mendapatkan 4 orang murid yang memiliki bakat tingkat 5-6, bahkan yang lebih mengejutkan lagi ada di sekte Pedang Putih, mereka berhasil mendapatkan 6 orang murid yang memiliki bakat tingkat 5-6." ucap GrandElder Meng.
"bb-bagaimana mungkin? " patriak Qifan, Shu Juan, dan wanita paruh baya sangat terkejut setelah mendengar informasi itu.
"apakah anda sudah memastikan kebenaran dari informasi itu GrandElder? " tanya Wanita paruh baya yang sering dipanggil Tetua Fen.
"Apa kau meragukan kualitas mata-mata sekte? " balas GrandElder Meng dengan nada pelan tetapi ada sedikit tekanan didalamnya.
"ah, maafkan saya GrandElder " ucap Tetua Fen sambil membungkuk.
"jika itu benar? Lalu apa yang harus kita lakukan? " tanya patriak Qifan.
"tidak ada patriak, yang bisa kita usahakan adalah memaksimalkan murid-murid kita sebaik mungkin" balas GrandElder Meng.
Sementara itu dia arena, seleksi tahap 1 terus berlanjut. "nomor Urut 65, harap maju kepanggung 5" seru tetua yang berdiri dipanggung 5
"bukankah itu Xiao Yun? "
"wah.. Itu Xiao Yun"
"bukankah dia sangat tampan? " ucap gadis-gadis sambil menangkupkan telapak tangannya dikedua sisi pipinya.
"jika dilihat secara langsung, dia memang terlihat berbeda dari kita"
Keributan terdengar saat Xiao Yun keluar dari kerumunan dan berjalan dengan gagah kepanggung 5. "hahahaha. Lihatlah dengan baik-baik, aku lah orang yang akan mendapatkan posisi pertama " seru Xiao Yun didalam hati. Terlihat dari matanya, dia sangat menikmati semua perhatian ini.
"letakkan kedua telapak tanganmu dan salurkan Qi mu secara perlahan kedalam bola kristal itu" ucap Tetua untuk mengerahkan Xiao Yun.
Xiao Yun langsung melakukan sesuai intruksi tetua tersebut dan mengalirkan Qi-nya ketelapak tangannya. Bola kristal itu secara otomatis menyerap Qi-nya dan setelah beberapa detik bola yang semula berwarna hijau, mulai berganti warna menjadi ungu pekat.
"ini dia. Hehe" gumam Xiao Yun.
"Xiao Yun, Bakat tingkat 6!" seru tetua itu dengan keras karena terlalu bersemangat.
Dan tentunya pengumuman itu langsung membuat peserta ribut, bahkan para tetua dan perwakilan juga sama-sama terkejut.
"ah, dia sudah mendapatkannya"
"dilihat dari cara jalannya juga sudah terlihat jelas. "
"tidak ada lagi peluang untuk merebut posisi 1 sekarang "
Seru para peserta dengan berbagai ekspresi, ada yang takjub, iri dan bahkan ada yang menatap dengan sinis contohnya Xiao Que. bahkan Zhao Feng yang sebelumnya sangat percaya diri, menatap Xiao Yun dengan pandangan suram.
Xiao Yun turun dari panggung lalu berjalan kembali ketempatnya sebelumnya. Senyuman bangga dan sombong terlukis dibibirnya, tampak seolah seorang raja yang berjalan diantara kerumunan rakyat jelata, yang menyambutnya dan memuji namanya. Dia merasa statusnya akan berubah sebentar lagi, menjadi semakin tinggi dan tinggi.
"lihatlah, dia begitu bersinar" ucap Zhu Fian yang memandang penuh takjub kearah Xiao Yun.
"hm. benarkah?" balas Li Hui sambil ikut memperhatikan Xiao Yun.
Setelah Xiao Yun sampai ketempatnya sebelumnya, salah satu tetua kembali memanggil nomor urut peserta.
"nomor 66, silahkan maju kepanggung 6!" panggil seorang tetua. Dan ternyata orang yang bernomor urut itu adalah Xiao Que.
"berusahalah dengan baik saudariku hehe" ucap Xiao Yun kepada Xiao Que yang dibalas dengusan dingin dari gadis muda itu.
"wah.. Dia seperti Dewi"
"lihatlah kau tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dia" ucap seorang pemuda kepada gadis muda yang ada disebelahnya.
"jika aku diberi kesempatan, aku ingin menjadi suami yang baik untuknya"
"ini masih siang dasar bocah bau kencur! "
Berbeda dengan tanggapan peserta saat melihat Xiao Yun tadi, kali ini para peserta khususnya laki-laki saling gaduh dan balas membalas jika diri merekalah yang paling cocok jika disandingkan Xiao Que.
"letakkan kedua tangan mu dipermukaan bola kristal itu gadis muda" ujar tetua yang langsung dilakukan oleh Xiao Que dan tidak lupa dia juga mengalirkan Qi-nya kedalam kristal.
Dan beberapa detik berikutnya bola kristal itu berganti warna menjadi warna ungu, tetapi berbeda dengan milik Xiao Yun yang lebih pekat, bola kristal milik Xiao Que berwarna ungu cerah.
". Xiao Que, bakat tingkat 5!" ujar tetua yang mengurus panggung 6.
"hm..Sepertinya Klan Xiao beruntung untuk generasi ini " ucap patriak Qifan tepat setelah hasil dari Xiao Que diumumkan.
"anda benar patriak " balas Shu Juan.
Sementara itu dikerumunan peserta juga terjadi keributan dengan berbagai pujian yang disematkan kepada Xiao Que.
"tidak hanya cantik, dia juga sangat berbakat." ucap salah satu peserta, dan dibalas peserta lainnya yang sama-sama terperangah melihat Xiao Que yang sedang berjalan. "kau benar"
Dilain sisi Xiao Que terus berjalan hingga tiba dihadapan Xiao Yun yang menatapnya dengan tatapan aneh. "hm.. Tidak buruk" ucap Xiao Yun sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"diamlah" ucap Xiao Que dengan sinis.
"eh, aku sedang memuji mu tau"
"aku tidak butuh pujian dari mu"
"terserah lah, dasar wanita aneh" balas Xiao Yun yang dibalas tatapan tajam dari Xiao Que.
ayo author semangat.