Bimo mengayuh sepedanya di tengah sinar jahat mentari. Entah melamunkan apa dia saat itu, ia tidak sadar sudah sampai di perempatan lampu merah dan tidak sempat mengerem sepedanya. Nahas, dia sangat terlambat. Ia menghantam seorang gadis yang berhenti di depannya.
Dimensi dalam diri mereka berhenti. Namun, lampu dengan cepat berubah hijau. Sejak kejadian itu, Bimo dihantui rasa penasaran karena perempuan itu sangat familiar baginya.
Hari ini, Adeth berangkat terlalu pagi. Kelas dan sekolahnya masih sepi. Tidak lama kemudian, muncul seorang lelaki dari balik pintu kelasnya untuk meminta bantuan. Adeth terkejut melihat lelaki itu.
Hai, terima kasih sudah mampir! Jangan lupa tekan tombol suka dan vote, ya, agar saya semangat untuk berkarya setiap harinya. Bagikan juga ke teman-teman kalian, ya, siapa tahu suka, karena dukungan dari kalian semua sangat warbyasah!
Find me on social media
IG: @dernatasw or @dahelart
FB: Derna Taswara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Doris Gaverna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
017. Episode 17
“Kamu terancam akan diturunkan jabatan!”
Atmosfer pada ruangan itu memanas. Tidak ada yang berani mendinginkan suasana.
“Kemana saja kau? Hebat. Ketua panitia Pelantikan Pramuka Penegak menghilang begitu saja selama satu jam, membiarkan acara terbengkalai. Mau jadi apa kamu, hah?!”
Kertas-kertas proposal dan catatan penting lainnya dilemparkan ke Bimo yang tengah menunduk. Lelaki itu berdiri di hadapan teman-temannya. Dia dipermalukan. Diserang di hadapan umum.
“Jawab aku!”
Telinga Bimo memanas. Seluruh tubuhnya bergetar. Namun, ia masih mencoba untuk bersikap setenang mungkin.
“Hei, kubilang jawab aku!” Dewan merenggut bahu Bimo, membuatnya hilang keseimbangan dan membentur meja guru. Pelipisnya berdarah. Sontak, seluruh orang yang berada di ruangan itu berteriak untuk melerai mereka berdua.
“Sudah, tolong hentikan!”
“Cukup, Dewan. Kau sudah melewati batas.”
“Tidak ada yang akan diuntungkan dengan pertengkaran kalian!”
Kak Zalri menghela napas. “Dewan, sudah. Jangan dilanjutkan.”
Dewan menampar Bimo dengan cukup keras. “Bagaimana? Masih kurang?”
Tangan Dewan mengambil ancang-ancang untuk melakukan tamparan lagi. Dengan sigap, Linda, salah satu teman perempuan Dewan menangkap tangannya tepat waktu sebelum menghantam kembali rahang Bimo.
“Cukup Dewan, hentikan! Ini sudah keterlaluan.”
Barisan yang ada di depan Bimo terisak. Tidak tega melihat pemimpin yang mereka anggap baik itu disiksa. Hati mereka ikut tersayat melihat pemandangan tegang tersebut.
Tiba-tiba, salah satu teman perempuan Bimo mendekat ke arah Dewan dengan kepala menunduk. Tanpa diduga, ia tiba-tiba bersujud di kaki Dewan. Memelas dan menangis sejadi-jadinya.
“Sudah! Cukup hentikan! Aku tahu dia memang salah, tapi jangan terlalu dibesar-besarkan seperti ini. Bukankah bisa juga menggunakan cara yang tidak kasar? Aku mohon, hentikan perselisihan kalian!”
Dewan membenarkan letak kacamatanya. Dengan gayanya yang angkuh, ia berbicara lantang hingga bergema ke luar ruangan.
“Kenapa kalian memintaku menghentikan ini? Bukankah pantas, seseorang yang tidak bisa bertanggung jawab untuk dihukum? Pantaskah orang seperti dia menjadi pemimpin kalian? Aku muak. Aku malu punya junior seperti dirimu! Orang seperti ini hanya akan membawa nama buruk organisasi kita. Sebenarnya, apa yang ada di pikiran kalian saat melakukan pemungutan suara kemarin? Apa kalian tidak berpikir, apa jadinya organisasi kita di bawah pimpinan orang seperti dia? Kita semua akan hancur! Untuk apa juga kalian menangisi orang seperti dia?”
Harga diri Bimo hancur, menjadi serpihan-serpihan kecil yang tak mampu disatukan kembali. Perasaannya, kepercayaannya, dan kepeduliannya hancur. Semua yang menjadi bagian dari diri Bimo hancur tak tersisa pada detik itu. Bimo tidak tahan lagi. Seluruh bagian dirinya telah dikuasai emosi yang membuncah. Ia tidak dapat mengandalikan dirinya.
“Kau yang akan hancur,” desis Bimo tajam membuat semua orang menatap ke arah dirinya yang masih menunduk.
“Apa katamu? Coba ulangi lebih keras,” Dewan berjalan mendekari Bimo dengan pose menantang.
“Kubilang, kau yang akan hancur,” Bimo masih menunduk, tapi nada bicaranya keras dan terkesan menantang balik. Bimo mengangkat kepalanya. Tanpa pikir panjang, ia meluapkan semua emosi yang dirasakannya. “Orang seperti kau yang akan hancur!”
Plak!
Satu tamparan keras kembali dilayangkan lelaki berkacamata tersebut. Bimo memegangi pipinya yang terasa panas. Telinganya berdenging. Nafas mereka menggebu, seolah dalam nafas mereka terjadi perkelahian juga. Linda yang ada di belakang mereka mengamati dengan was-was. Setelah menunggu keadaan yang dirasanya aman, ia mendekati Dewan dengan hati-hati.
“Bisa ikut aku sebentar?”
Dewan menepis tangan Linda dengan kasar. Lengannya langsung mencengkeram kerah baju Bimo dengan kuat. Telapak yang menggenggam itu mengguncang tubuh Bimo kencang, hingga membuat giginya terdengar gemeretuk.
“Sok pahlawan kamu. Sudah merasa jadi yang paling benar? Sudah merasa yang paling benar sampai melupakan tata krama? Seperti itukah tabiat aslimu? Bodoh sekali kau! Kau anggap seperti apa senior yang selama ini memberikan semua yang mereka punya kepadamu?” Dewan mengangkat tubuh Bimo dengan satu lengan besarnya. Kini, wajahnya berada sejajar dengan Bimo.
“Aku anggap kalian sampah!” Bimo membalas cengkeraman kuat Dewan dengan mendorong tubuhnya.
Dewan yang merasa adik tingkatnya kurang ajar segera mengambil penggaris besi di atas meja guru dan melemparkannya bak shuriken ke arah kepala Bimo yang langsung mendarat di jidat licinnya laksana pesawat. Adegan yang cukup menyeramkan untuk ditonton.
Headshot, pikir Dewan bangga sambil mengelus dagunya. Semoga otaknya bisa berfungsi normal kembali.
Bimo berdiri terhuyung dengan satu tangan memegang bagian yang terkena lemparan. Ia merasakan sesuatu yang dingin. Ia terperanjat melihat telapak tangannya berlumuran cairan merah. Semua makhluk dalam ruangan itu tercengang. Namun, Bimo masih bersikap seolah tak terjadi apa-apa padahal darah mulai mengalir melewati dagunya.
“Kau tahu, kenapa aku menganggap kalian sampah?” seluruh pasang mata menatap Bimo yang berdarah. “Karena kalian hanya bisa merendahkan kami. Kalian tidak pernah menghargai kerja keras kami. Aku, berbicara seperti ini sebagai perwakilan dari mereka semua yang mengeluhkan hal ini padaku.”
Jemari Bimo menunjuk barisan teman-temannya yang sesenggukan. Dewan semakin naik pitam.
“Aku tidak tahu apa yang ada di kepalamu. Tapi bukankah hal yang semacam ini terlalu berlebihan? Mereka mati-matian melakukan apapun demi lancarnya kegiatan ini. Mereka rela dihajar orang tua, mengeringkan tabungan mereka, merelakan waktu berharga mereka hanya untuk kesuksesan acara ini. Tapi yang kalian para senior berikan hanya respon negatif. Lalu untuk apa semua kerja keras kami? Asal kalian tahu, kami para junior hanya ingin membuat kalian para senior senang, puas akan kerja keras kami. Sekarang aku balik bertanya. Kau anggap apa junior yang telah melakukan segalanya untuk kalian, hah? Ampas?”
Teman-teman Bimo hanya mengamini dalam diam. Mereka merasa cukup lega akhirnya ada seseorang yang menyuarakan isi hati mereka. Terkadang, butuh korban untuk membuat seseorang menyadari kenyataan.
Dewan seperti tersetrum. Bimo membuatnya tersadar, poin apa yang selama ini ia sia-siakan. Sayang, ego Dewan yang terlalu tinggi membuatnya enggan meminta maaf, apalagi mengakui kesalahan. Dengan sombongnya, ia kembali mengangkat kerah baju Bimo.
“Jangan kurang ajar kau, ya. Berani-beraninya kau berkata kasar seperti itu di hadapan senior seperti kami.”
“Jangan sok suci.”
“Dasar, tidak tahu terimakasih.”
“Daripada tidak tahu malu. Sudah tahu salah, malah menyalahkan.”
Adu mulut mereka semakin tidak keruan. Saking kerasnya, suara mereka sampai terdengar dari tiga ruangan.
Nita baru keluar dari UKS memegangi kepalanya yang masih pusing. Semua temannya sudah selesai mengikuti kegiatan pelantikan. Dirinya sedikit bersedih mengetahui bahwa ia harus melakukan pelantikan ulang bulan depan, bersama teman-teman lainnya yang tidak mengikuti pelantikan hari ini karena berbagai alasan. Daun telinganya tidak sengaja menangkap sesuatu. Suara itu bergema sangat keras.
Seperti orang ribut, pikirnya
Tanpa pikir panjang, ia berjalan mendekati sumber suara. Suara itu berasal dari ruang kepanitiaan di kelas XII-II IPS. Bola mata Nita mengintip masuk dari jendela yang terbuka di belakang ruangan. Terkejutlah dia mengetahui pria yang sempat menolongnya berlumuran darah. Dirinya tambah terkejut melihat anak berkacamata di depannya mencengkeram kerah bajunya, sedangkan barisan teman-teman di depannya tidak melakukan apapun. Nita ingin menolongnya. Tapi, akhirnya ia urung niat dan memutuskan untuk menguping karena sepertinya ini masalah para senior.
“Banyak omong kamu!”
Suara tamparan kembali terdengar. Bimo mulai kehabisan tenaga. Saat tamparan itu melayang, dirinya langsung tersungkur ke tanah. Teman-teman Dewan dengan sigap memisahkan mereka berdua.
“Dewan! Cukup hentikan! Kau sudah keterlaluan!” pandangan Linda beralih ke Bimo. “Kau juga sama. Jangan memperburuk keadaan!”
Bimo yang sudah tidak kuat berdiri dibantu dan disangga oleh dua orang teman Dewan.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Galang, teman Dewan sejak sekolah dasar. “Aku tidak percaya dia akan setega ini.”
“Iya. Kita harus segera keluar dari sini.” Brahma, teman Dewan juga menanggapi sambil mengerutkan dahi.
Nita melihat kejadian itu. Ia tercengang. Ia sangat ingin menolongnya. Namun, seluruh tubuhnya mendadak kelu, seperti tertanam jauh di bawah bumi. Nita tidak bisa melakukan apa-apa.
Galang dan Brahma membopong Bimo keluar ruangan. Dewan yang melihatnya langsung meneriaki mereka.
“Hei! Mau kau bawa kemana bocah kurang ajar itu? Aku belum menyelesaikan urusanku dengannya. Kembali kalian berdua!”
Galang merasa jengkel. Hatinya mendidih mendengar ucapan temannya yang kekanak-kanakan tersebut. Dilepaskan rangkulannya pada Bimo dan mulai mendekati Dewan.
“Kau yang kurang ajar. Kau terlalu menuruti egomu. Apa kau tidak malu menghajar anak seperti dia, yang sudah terbukti benar omongannya, tanpa sedikitpun rasa bersalah? Kau tidak merasa bersalah mempermalukan dia di hadapan teman-temannya yang bahkan tidak tahu apa-apa? Apa kau setega itu? Lihat dia!” Galang tidak bisa membendung lagi perasaanya yang campur aduk. Air matanya ikut meleleh. “Ada apa denganmu sebenarnya? Ini masalah yang tidak terlalu besar. Kau sudah cukup puas menghajarnya, kan? Jangan berlebihan, Dewan.”
Dewan mendengus. “Jadi kau membela bocah tengik itu?”
“Kau ini ternyata tidak berubah, ya. Tetap bodoh seperti dulu. Aku sangat kecewa padamu.”
“Kenapa Galang? Kau temanku, bukan? Kenapa kau jadi membela anak itu?”
Galang menampar Dewan. Semua makhluk di ruangan itu kembali dibuat tercengang.
“Apa kau sudah gila? Kau tidak sadar apa yang telah kau lakukan? Dan kau masih berani bertanya dengan pertanyaan konyol seperti itu? Jangan berlagak bodoh, Dewan. Aku tahu, kok, apa tujuanmu. Membuat Bimo sadar akan apa yang dilakukannya, kemudian membuatnya menyesalinya, dan merubah sikapnya, benar bukan? Tapi, tolong renungkan kembali. Apa itu semua perlu? Menghajarnya sampai babak belur tanpa mempertimbangkan resiko kedepannya? Bukankah hanya dengan menegurnya sudah cukup? Jangan membuatku jijik dengan sikapmu itu. Sekarang jawab aku. Apa semua itu perlu?”
Ruangan itu hening. Dewan tertegun. Satu tangannya masih memegangi pipinya yang memerah.
“Galang …,” gumamnya tanpa sadar.
“Jika kau masih mau menghajar anak itu lagi,” Galang mengambil posisi siap bertarung. “Langkahi mayatku dulu.”
Teman-teman Bimo yang sedari tadi hanya diam akhirnya melakukan tindakan. Mereka berdiri serempak menghadang kedua bocah yang siap bertarung itu.
“Mas, Mas Galang nggak perlu begini.”
“Sudahlah, mas, nggak apa-apa. Nggak perlu membela kami. Kami yang salah, nanti malah Mas Galang yang kena imbasnya.”
“Aku jijik sama kamu, Mas Dewan!”
Bimo terharu melihat pemandangan langka ini. “Teman-teman ….”
Kak Zalri yang sedari tadi diam saja, akhirnya turun tangan. “Sudah, sudah. Kalian semua bisa pulang. Dewan, Galang, setelah ini ikut saya ke Sanggar Pramuka, ya. Brahma, bawa Bimo ke UKS, biar diobati anak PMR. Kalian teman-teman Dewan, juga bisa pulang. Kalau kalian nggak mau pulang, bisa bantu bersih-bersih sebentar.”
Tidak butuh waktu lama, semua teman-teman Bimo dan Dewan langsung pulang ke rumah masing-masing.
Kak Zalri memegang jidatnya. “Dasar anak remaja. Dengar yang namanya bersih-bersih main kabur saja.”
Dewan berteriak kesal sambil berjalan dengan penuh amarah menuju sanggar. “Aaakh! Nggak ada yang benar! Semuanya sesat!”
Brahma membantu Bimo berjalan dengan merangkul pundak Bimo dengan satu tangan. Bimo merasa tidak enak pada seniornya yang satu ini.
“Seharusnya Mas nggak perlu repot-repot bantu saya segala. Orang yang salah saya, kalian semua kena imbasnya. Saya jadi nggak enak sama mas dan teman-teman mas juga. Saya minta maaf, ya, mas, sudah berkata hal yang tidak baik.”
Brahma tersenyum. “Hus, nggak boleh bilang begitu. Kamu juga nggak perlu minta maaf. Saya paham posisi kamu sekarang.”
Bimo semakin terharu. Dirinya tidak menyangka masih ada orang baik seperti Brahma. Ia tak kuasa membendung tangisnya, hingga akhirnya pecah dan ia tertunduk ke tanah.
“O-oi! Kamu kenapa?”
“Saya minta maaf, mas. Saya merasa bersalah mengatakan hal yang buruk tentang senior. Kenapa saya begitu jahat dan egois? Saya hanya membela diri saya. Tapi, Mas Brahma dan yang lain jadi terlibat. Sekali lagi maaf, ya, mas. Saya rela diturunkan jabatan. Saya merasa punya hutang budi pada kalian para senior.”
Brahma tertawa kecil sambil mengacak rambut Bimo. Mengetahui reaksi yang didapatkan tidak sesuai harapan, Bimo memandang heran ke arah seniornya tersebut.
“Aku, kan, sudah bilang, nggak perlu minta maaf. Harga dirimu terlalu tinggi untuk meminta maaf pada kami yang selama ini menyia-nyiakan kalian. Seharusnya kami yang minta maaf.”
Mata Bimo berbinar-binar. Ia sangat bangga masih memiliki senior berhati besar seperti Brahma. Ia lalu tersenyum ke arah Brahma yang membuatnya tersenyum juga.
“Nah, gitu, dong, senyum. Mukamu terlalu tampan untuk murung.”
Nita masih pada posisinya, tidak bergerak sedikitpun. Saat kedua seniornya tersebut akan melewati tempatnya berdiri, ia baru tersadar. Bukannya bersembunyi, dirinya malah menjemput kedua orang itu.
“Kak Bimo, apa yang terjadi? Kenapa kau berlumuran darah seperti ini?”
“Nita? Sedang apa kau di sini? Oh, ini. Nggak terlalu penting. Tadi terbentur ujung paku gazebo, bocor, deh,” Bimo masih berusaha tertawa. Brahma yang melihatnya jadi sedikit merasa kasihan.
“Kalau kamu benar-benar ingin tahu detailnya, kapan-kapan aku jelasin.”
___________________________________
Apa saja hal yang kalian lakukan selama #dirumahaja? Bosen, nggak? Beritahu kita, dong!
Hai, terima kasih sudah mampir! Bagikan ke teman-teman kalian, ya, siapa tahu suka. Karena, dukungan dari kalian semua sangat warbyasah!
Find me on social media
IG: @dernatasw or @dahelart
FB: Derna Taswara
waahhhh
ternyata..
ada saingan mu, Deth....
adrenalin naik..
sePi (sesak pipis) thor..
😄🤣🤣
bocah Kambil itu apa ya artinya??
salken
jd inget tempo dulu pas ikut pramuka,