Dia terlihat piawai bermain dengan ekspresi dan gesture tubuhnya. Bergaya dengan busana elegant dan mewah. Ketampanannya adalah anugerah dan ekspresi adalah bahasa jiwa. Membuat semua wanita dan rekan bisnisnya berdecak kagum.
Namun siapa sangka, di balik kegemilangan kariernya, ia menyimpan sisi gelap yang hidup di alam bawah sadarnya. Latar belakangnya Kesepian dan kepedihan hidupnya ia sembunyikan dengan sekeras-kerasnya hingga nyaris tidak memiliki kehidupan pribadi. Bahkan ia tidak mengerti apa itu cinta. Yang ia pahami hanya rasa sakit dan tersisih.
Dalam perjalanan alam bawah sadar ia menciptakan pribadi lain di saat ada guncangan emosional datang. Entah saat sedih atau gembira, bahkan saat bercinta,
ia menjelma menjadi pribadi lain yang bernama Rava Alexi Ortama, dengan sifat yang sangat cerdas, licik, dingin, psikopatik dan sangat bengis.
Saat menjadi Rava, yang ia pikirkan adalah mencari teman untuk dirinya di masa lalu. Semua orang harus mengalami rasa sakit, penderitaan, kesepian, ketakutan, sama seperti yang dirasakannya selama ini.
Penasaran dengan kisahnya, yuk simak jangan lupa tinggalkan jejak.
Cover by pinteres.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kostum Joker.
Setelah mendapatkan undangan makan malam di rumah Rava. Aditya segera pergi ke toko perhiasan untuk membeli sebuah kalung yang akan di berikan kepada ibunya Rava sebagai kado ulang tahun.
Aditya memperhatikan beberapa contoh kalung yang berhiaskan berlian. Namun Aditya tertarik pada sebuah kalung liontin di dalam kotak kaca.
"Mbak, boleh aku liat kalung itu?" tunjuknya ke arah kotak kaca.
"Maaf mas, kalung liontin itu tidak jual." Jawab pelayan toko.
"Kalau tidak di jual, kenapa di pajang?" tanya Aditya menatap wanita penjaga toko tersebut.
"Kalung ini di gadaikan seorang pria dua bulan lalu, dia berjanji untuk menebusnya. Tapi sudah lewat jatuh tempo pria itu tidak kunjung datang." Jelas wanita itu.
"Hmm, begitu ya. Tapi aku tertarik dengan kalung liontin itu." Aditya tetap bersikeras.
"Bagaimana ya, mas. Saya juga bingung, takut pria itu datang lagi." Pelayan toko itu mulai ragu.
"Jual saja, itu bukan kesalahan kita. Ini sudah lewat jatuh tempo sesuai perjanjian." Kata pemilik toko tersebut menimpali.
"Baiklah!"
Akhirnya pelayan toko itu memberikan kotak kecil berisi kalung liontin kepada Aditya. Setelah selesai membungkus dan pembayarannya. Aditya memasukkan kotak itu ke dalam saku celananya, lalu bergegas kekuar dari dalam toko.
"Bagaimana kalau pria itu mencari kalung ini? bisa jadi kalung ini sangat berharga untuk pria itu." Gumam Aditya, lalu mengeluarkan kotak dalam saku celananya, membuka bungkusnya dan mengambil kalung liontin di dalam kotak.
"Kalung ini biasa saja, bahkan harganya sangat murah." Ucapnya memperhatikan kalung di tangannya. "Tapi kalau memang kalung ini berharga untuk pria itu, sudah dari kemarin ia menebusnya."
Aditya menggosok gosokkan kalung tersebut, tiba tiba kalung liontin itu terbuka. Aditya terkejut melihat ada foto seorang pria dan seorang wanita.
"Mungkinkah ini foto pemilik kalung liontin?" ucap Aditya pelan. "Tapi bisa saja bukan, sekarang banyak kok, kalung seperti ini di dalamnya terdapat foto."
Aditya menarik napas dalam dalam, lalu menjalankan mobilnya meninggalkan halaman toko. Setengah perjalanan, Aditya mengingat sesuatu.
"Ya Rabb, aku baru ingat. Wajah wanita dalam foto itu mirip dengan wanita yang berada di kursi roda bersama Rava!" pekik Aditya.
"Apakah ini kebetulan? atau?" Aditya semakin bingung, tapi ia juga penasaran. "Apa yang harus kulakukan?"
Kemudian Aditya menghubungi Beby, dan memintanya untuk menemaninya ke pesta ulang tahun ibunya Rava.
***
Malam minggu pukul 19:00.
Aditya bergegas menjemput Beby di rumahnya, untuk menemaninya ke pesta ulang tahun. Sesampainya di halaman rumah Beby. Gadis itu sudah menunggu dengan raut wajah cemberut.
"Kau terlambat sepuluh menit, ngaret!" rutuk Beby.
"Hei, kau tidak boleh begitu. Baru juga sepuluh menit, tadi di jalan macet." Aditya memberikan alasan.
"Ya sudah, ayo kita berangkat!" Usul Beby.
"Baik Tuan Putri!" goda Aditya tersenyum, lalu membuka pintu mobil untuk Beby. Lalu ia masuk ke dalam mobil dari arah pintu lain.
Aditya menyalakan mesin, mobilpun melaju meninggalkan halaman rumah. Sepanjang perjalanan Aditya menceritakan kejadian tadi siang di toko perhiasan.
"Dokter ini mengada ada, bisa saja itu kebetulan." Timpal Beby.
"Aku serius Beb.." ucap Aditya.
"Di dunia ini, kita punya tujuh kembaran loh." Kata Beby melirik ke arah Aditya.
"Hmm, sok tahu kamu!" sahut Aditya tertawa kecil
"Hehe..iya..itu juga katanya. Tapi memang benar kan?" Beby mencubit gemas pinggang Aditya.
"Eh Beb, jangan begitu. Geli tau, aku lagi nyetir nih. Gimana kalau aku tidak fokus." Rutuk Aditya setengah menggoda.
Beby hanya tertawa kecil, kelembutan dan kebaikan Aditya semakin hari semakin membuat Beby jatuh cinta. Begitu juga Aditya, menyimpan rasa untuk Beby. Namun belum ada keberanian untuk Aditya menyatakannya.
Tak lama kemudian, mereka telah sampai di halaman rumah mewah milik Rava. Aditya menepikan mobilnya, lalu keluar dari pintu mobil. Membantu Beby membukakan pintu mobil lainnya. Kemudian mereka melangkah bersama menuju pintu rumah.
"Sepi.." ucap Beby pelan.
"Kau benar, Beb. Rumah sebesar ini tapi seperti tidak ada kehidupan." Timpal Aditya.
"Merinding!" sahut Beby
"Nah, sekarang kau yang mengada ada." Kata Aditya.
"Hahaha!" Beby tertawa cukup keras di depan pintu rumah.
Tiba tiba pintu rumah terbuka. Seorang pria berwajah rusak berdiri di ambang pintu membuat Aditya dan Beby berjengkit kaget.
"Jangan takut, saya Jimi. Asisten Tuan Rava, silahkan masuk!"
Beby menggenggam lengan Aditya, lalu mereka berdua masuk ke dalam rumah, mengikuti langkah Jimi.
"Silahkan kalian tunggu disini." Ucap Jimi, lalu pria itu berlalu dari hadapan mereka berdua.
Aditya memperhatikan kue ulang tahun dengan lilin yang bertuliskan angka 31 di atas meja. Makanan dan minuman segar, buah buahan sudah tersaji di atas meja. Dengan sedikit hiasan. Yang membuat mereka heran, terdengar alunan musik dan suara anak kecil tertawa membuat bulu kuduk Aditya dan Beby merinding.
Tiba tiba mereka di kejutkan dengan kedatangan Jimi dan Alicia yang menggunakan kostum joker. Belum habis keterkejutan mereka berdua. Rava muncul menggunakan kostum yang sama dari arah samping, mendorong kursi roda. Wanita cantik duduk dengan riasan make up yang sederhana duduk di kursi roda dengan tatapan kosong.
Untuk pertama kalinya, Rava mengundang orang lain masuk ke dalam rumahnya selain jimi dan Alicia.