"Luka terdalam seorang wanita bukanlah saat dia harus melepaskan, melainkan saat dia menyadari bahwa selama ini dia telah mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk seorang pria yang bahkan tidak sudi melangkah satu senti pun untuk mempertahankannya."
Menikah dengan Arman membuat Aini Lidya paham rasanya terlantar secara mental. Nafkah pas-pasan, suami yang gemar pulang larut malam, hingga mertua dan ipar yang toxic, semuanya Aini telan bulat-bulat selama satu tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: KETUKAN YANG SALAH ALAMAT
Malam pasca-pemblokiran itu menjadi malam yang paling panjang bagi Arman. Di kamar rumah ibunya, pria itu terus menatap layar ponselnya yang membisu dengan tatapan frustrasi. Setiap kali dia mencoba menekan tombol panggil, hanya suara nada sibuk atau peringatan sistem yang dia dapatkan.
Kamar Aini telah menutup pintunya, dan kini nomor teleponnya pun telah mengunci rapat jalurnya. Ego lelaki Arman yang setinggi langit runtuh, digantikan oleh rasa bersalah yang menjelma menjadi duri di dalam daging. Penyesalan itu merongrong jiwanya, membuatnya tidak bisa memejamkan mata hingga fajar menyingsing.
Keesokan harinya, didorong oleh rasa rindu yang menggebu dan keputusasaan yang membakar dada, Arman nekat menyalakan motornya. Dia berkendara membelah jalanan Pesisir Selatan menuju rumah orang tua Aini. Kali ini, dia tidak datang untuk memancing amarah; dia datang dengan kepala tertunduk, membawa sisa-sisa harapan yang mulai sekarat.
Setibanya di sana, sore baru saja menyapa. Berbeda dari dugaan Arman, Bapak Farhan dan Ibu Naya ternyata berada di rumah, sedang duduk santai di teras depan. Langkah kaki Arman terasa begitu berat saat menginjak pekarangan rumah mertuanya. Dengan wajah pias dan suara yang bergetar, Arman melangkah maju, lalu tiba-tiba menjatuhkan lututnya—dia bersujud dan memohon di hadapan Bapak Farhan dan Ibu Naya.
"Pak, Bu... Arman minta maaf. Arman khilaf selama ini," rintih Arman, suaranya parau penuh penyesalan.
"Tolong bantu Arman agar Aini mau menerima Arman kembali. Arman tidak bisa hidup tanpa dia, Bu."
Bapak Farhan dan Ibu Naya saling berpandangan. Tidak ada kilat amarah di mata mereka, tidak ada makian yang keluar. Sebagai orang tua yang bijaksana, mereka membungkus diri dalam ketenangan yang berwibawa.
Bapak Farhan menghela napas panjang, seolah melepaskan beban berat dari dadanya. Beliau menatap menantunya yang bersimpuh.
"Arman, berdiri Nak. Tidak usah sujud seperti ini," ujar Bapak Farhan tenang.
"Dulu, saat kamu datang meminta Aini, kami menyerahkannya kepadamu dengan penuh rasa percaya. Sekarang, setelah badai ini terjadi, kami sebagai orang tua tidak memiliki hak untuk memaksakan apa pun. Segala keputusan ada di tangan Aini. Kami mengembalikan seluruh pilihan hidupnya kepada dirinya sendiri."Ibu Naya hanya mengangguk pelan, menyetujui kalimat suaminya.
Mereka tidak ingin ikut campur terlalu dalam, menghormati privasi dan batasan yang telah dipilih oleh putri mereka.Mendengar keributan di luar, daun pintu rumah perlahan terbuka. Aini melangkah keluar. Netranya seketika bertabrakan dengan sosok pria yang delapan bulan lalu pergi membawa luka di hatinya. Jantung Aini berdegup kencang, darahnya berdesir dingin, namun dia sekuat tenaga mengingat petuah ayahnya: berbicara dengan ketenangan yang mutlak.
Arman langsung bangkit dan menatap Aini dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ai... tolong buka blokirmu. Tolong maafkan aku. Mari kita lupakan masa lalu dan mulai semuanya dari awal lagi," bujuk Arman, mencoba meraih jemari Aini, namun Aini dengan cepat menarik tangannya mundur.
Aini menatap Arman dengan pandangan yang teramat datar, seolah sedang melihat orang asing yang tersesat.
"Untuk apa kembali, Mas?" tanya Aini, suaranya meluncur begitu mulus tanpa nada tinggi.
"Dulu kamu sendiri yang billing bahwa kita selalu ribut sejak awal menikah. Kamu sendiri yang bilang tidak pernah bahagia denganku, Mas. Kamu yang memutarbalikkan fakta seolah-olah aku yang salah, padahal itu reaksiku saat kamu melakukan keslahan" jawab Aini setenang mungkin.
Arman menggelengkan kepala dengan panik. "Tidak, Ai... aku hanya emosi waktu itu—"ujar Arman memelas.
"Sekarang aku sudah mengabulkan keinginanmu, Mas," potong Aini, kalimatnya setegas karang yang dihantam ombak.
"Aku sudah bilang tidak mau lagi denganmu mas. Onda Jadi, silakan kamu pergi dan pulanglah ke rumah ibumu yang serba benar itu. Jangan pernah mencari orang yang selalu salah ini lagi." Ujar Aini datar deangan penuh ketegasan.
Melihat ketegasan Aini yang tak tergoyahkan, ego Arman kembali tersengat. Dia merasa buntu. Dengan sisa keangkuhannya yang belum sepenuhnya terkikis, Arman melangkah mundur. Dia menyadari tidak ada lagi pembelaan, tidak ada lagi ruang baginya di rumah ini. Dengan langkah gontai dan hati yang hancur berkeping-keping, Arman akhirnya berjalan menuju motornya, memutar kemudi, lalu pergi meninggalkan pekarangan rumah itu dengan kekalahan mutlak.
Begitu deru motor Arman lenyap ditelan jarak, benteng ketenangan yang susah payah dibangun Aini perlahan retak. Aini berbalik badan, lalu perlahan air matanya menetes satu per satu membasahi pipi.
Sungguh sebuah ikatan batin yang rumit; meski logika dan harinya sudah memantapkan diri untuk tidak sudi lagi hidup bersama pria itu, namun rasa sayang yang pernah tumbuh selama bersama menjalin hubungn pacaran hingga pernikahan tidak bisa mati begitu saja dalam semalam. Air mata itu adalah bentuk penghormatan terakhirnya untuk rasa yang kini harus dia kubur dalam-dalam.
Melihat putrinya kembali menangis, Ibu Naya langsung bergerak cepat merengkuh tubuh Aini ke dalam pelukan yang hangat.
Di bawah naungan langit sore yang mulai mendung, sang ibu mencoba menyiramkan kesejukan untuk menguatkan hati anaknya.
"Menangislah, Nak. Tidak apa-apa," bisik Ibu Naya sambil mengusap lembut punggung Aini.
"Air matamu sore ini bukan karena kamu lemah, tapi karena kamu sedang membasuh sisa-sisa kenangan buruk yang tertinggal. Ingatlah, Nak, melepaskan seseorang yang tidak bisa menghargaimu bukanlah sebuah kehilangan. Itu adalah langkah awal mendatangkan kebahagiaan baru yang jauh lebih layak untukmu. Kamu wanita yang berharga."
Di sudut teras, Bapak Farhan hanya diam membisu. Beliau tidak ikut berbicara, namun sepasang matanya menatap sang putri dengan tatapan iba yang teramat dalam. Ada rasa perih di hati seorang ayah melihat permata hatinya harus melewati cobaan seberat ini, namun beliau tahu, badai inilah yang akan membentuk Aini menjadi wanita yang sekokoh baja.
Setelah merasa lebih tenang dan menguasai emosinya kembali berkat pelukan sang ibu, Aini menghapus air matanya. Dia tersenyum tipis pada kedua orang tuanya, lalu melangkah masuk ke dalam kamar untuk menenangkan diri.
Aini duduk di tepi tempat tidur, mencoba mengalihkan seluruh mendung di pikirannya dengan mengambil ponselnya. Dia membuka aplikasi menulis digital tempatnya menumpahkan seluruh isi hati selama beberapa bulan terakhir.
Seketika itu juga, mata Aini terbelalak. Di layar ponselnya, deretan notifikasi masuk bagaikan air bah. Jumlah pembaca novelnya meledak drastis melebihi angka yang pernah dia bayangkan. Kolom komentarnya dipenuhi oleh ribuan dukungan, cinta, dan pujian dari para pembaca yang merasa tersentuh oleh kejujuran ceritanya.
Namun, kejutan terbesar berada di kolom kotak masuk email utamanya. Sebuah surat undangan resmi dari pihak manajemen aplikasi mendarat dengan logo emas yang mewah. Karena kesuksesan karyanya yang fenomenal dan berhasil meledak di pasaran, Aini secara hormat diundang sebagai tamu VIP untuk menghadiri acara Gala Dinner dan Pertemuan Penulis Sukses Nasional yang akan diadakan di hotel bintang lima pusat kota provinsi pada minggu depan.
Membaca kata "Gala Dinner" yang tertera jelas di undangan formal tersebut, seketika rasa sesak di dada Aini menguap, digantikan oleh binar harapan yang baru. Dia menatap layar ponselnya dengan senyuman yang kali ini benar-benar lepas dan lega.
Sebab, saat sebuah pintu masa lalu ditutup dengan ketegasan hati, semesta sering kali sengaja membuka jendela baru yang menyilaukan; membuktikan bahwa sebuah undangan Gala Dinner di masa depan jauh lebih berharga daripada air mata yang kamu buang untuk masa lalu yang sia-sia.