Follow IG @samsularipin_101
"Beberapa hati baru disadari berharga justru setelah mereka memutuskan untuk menyerah".
Alana Gabriela Indira selalu tahu bahwa hidupnya tidak sepenuhnya milik dirinya sendiri. Sebagai putri dari pengusaha sukses, Raden Wijaya dan Retno Indira, ada harga mahal yang harus ia bayar, termasuk menyetujui perjodohan bisnis dengan Jevandra Pratama, CEO muda dari Pratama Group. Alana menerima pernikahan ini dengan hati terbuka, siap belajar mencintai pria yang dipilihkan orang tuanya.
Namun, bagi Jevandra, pernikahan ini adalah sebuah penjara. Hatinya sudah terkunci rapat untuk Silvia Anita, kekasih yang sudah menemaninya selama bertahun-tahun. Terpaksa tunduk di bawah tekanan sang ayah, Bimo Pratama, dan ibunya, Diana Prameswari, Jevandra melimpahkan seluruh rasa frustrasinya kepada Alana. Ia bersumpah tidak akan pernah memberikan ruang bagi Alana di hidupnya.
Di bawah satu atap, Alana bertahan dalam keheningan dan penolakan yang dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. Aipp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retakan yang Mulai Berdarah
Kepergian Jevandra yang tergesa-gesa meninggalkan lubang tak kasat mata yang menyedot seluruh sisa energi Alana. Ia menatap kosong ke arah pintu keluar ballroom, tempat bayangan suaminya menghilang di balik punggung-punggung tamu berpakaian mewah. Di telapak tangannya, sisa kehangatan dari lengan jas Jevandra menguap, digantikan oleh rasa dingin yang menjalar dari lantai marmer melalui sepatu hak tingginya.
"Alana? Kok sendirian? Jevandra ke mana?"
Suara lembut namun menyelidik itu mengejutkan Alana. Ia berbalik dengan cepat, mengunci ekspresi wajahnya agar kembali tenang dalam hitungan detik. Diana Prameswari berdiri di sana, memegang segelas minuman dengan alis bertaut heran. Di sampingnya, Bimo Prtama menatap dengan pandangan menyelidik yang khas bagi seorang penguasa bisnis.
Alana menelan ludah, memanggil kembali keahlian berbohong yang beberapa menit lalu diejek oleh suaminya sendiri. "Ah, Mama... Papa. Itu... Jevandra baru saja menerima telepon darurat dari sekretarisnya. Katanya ada masalah teknis yang cukup serius di server pusat data perusahaan logistik kita. Jadi dia harus segera ke kantor untuk memimpin rapat darurat."
Yudhistira mendengus pelan, namun raut wajahnya menunjukkan kepuasan. "Anak itu memang tidak tahu waktu kalau sudah urusan kerja. Tapi baguslah, tanggung jawabnya tinggi. Sifat dasarnya memang tidak bisa melihat ada masalah yang menunda operasional."
"Tapi ini kan acara penting, Pa. Masa Alana ditinggal sendirian?" Diana mengeluh, menatap menantunya dengan rasa bersimpati. "Kamu tidak apa-apa kan, Sayang? Mau Mama temani sampai sopir menjemput?"
"Tidak apa-apa, Ma, sungguh," Alana tersenyum, kali ini senyumannya terasa lebih ringan karena ia tahu sandiwara malam ini harus segera berakhir. "Alana juga sudah agak lelah. Lagipula, sopir di bawah sudah siap. Alana pamit pulang duluan ya, Ma, Pa."
Setelah berpamitan dan mencium pipi kedua mertuanya, Alana berjalan mantap meninggalkan aula besar itu. Ia menolak untuk menundukkan kepala. Di sepanjang koridor hotel menuju lobi, beberapa kilatan kamera masih menyambarnya, dan Alana tetap memberikan senyuman formal terbaiknya. Namun, begitu tubuhnya tenggelam di kursi belakang mobil sedan mewah yang membawanya pulang, senyuman itu runtuh tanpa sisa.
Ia tidak menangis. Rasa sedih yang mendalam semalam kini telah bermutasi menjadi rasa lelah yang teramat sangat. Alana bersandar pada jok kulit mobil, memejamkan mata, mencoba mengusir bayangan Jevandra yang saat ini mungkin sedang mengompres dahi Silvia Anita dengan penuh cinta.
...****************...
Apartemen mereka di lantai 22 kembali menyambut Alana dengan keheningan yang mencekam. Alana melangkah masuk, melepas sepatu hak tingginya dengan kasar, lalu berjalan menuju cermin besar di ruang tengah. Ia menatap pantulan dirinya sendiri. Gaun navy blue ini sangat indah, riasan, tetapi matanya terlihat begitu mati.
"Untuk apa kamu bertahan, Alana?" bisiknya pada pantulan dirinya sendiri di cermin.
Ia tidak butuh jawaban. Ia tahu jawabannya: senyuman ibunya, harapan ayahnya, dan jalinan bisnis keluarga Pratama yang saat ini sedang bergantung pada belas kasihan dinasti Wijaya.
Alana memutuskan untuk membersihkan diri. Ia mandi dengan air hangat, membiarkan uap air meredakan ketegangan di otot-otot bahunya. Setelah mengganti pakaiannya dengan piyama satin panjang berwarna hitam, ia berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air putih.
Tepat saat ia meneguk airnya, pandangannya menangkap sebuah benda yang terletak di atas meja konter dapur island. Sebuah tablet kerja milik Jevandra tertinggal di sana. Biasanya pria itu tidak pernah seceroboh ini, namun kepanikan karena panggilan Silvia tampaknya berhasil mengacaukan fokus sang CEO berdarah dingin.
Layar tablet itu tiba-tiba menyala, menampilkan notifikasi pesan masuk yang terus-menerus berkedip. Alana tahu ia tidak seharusnya mencampuri urusan pribadi orang lain. Namun, rasa penasaran dan harga diri yang terluka mendorong langkah kakinya mendekat.
Di layar terkunci itu, deretan pesan dari nomor tanpa nama—namun dengan foto profil Silvia Anita—terpampang jelas.
“Jev, terima kasih ya obatnya. Kamu baik banget langsung datang.”
“Maaf ya aku mengganggu acaramu malam ini. Aku benar-benar takut tadi kalau sendirian.”
“Kamu sudah jalan pulang ke apartemenmu? Hati-hati di jalan, Jev. I love you.”
Alana meletakkan kembali gelasnya dengan tangan yang sedikit bergetar. Kalimat terakhir itu I love you, terasa seperti asam yang dituangkan di atas luka terbuka. Jevandra tidak membalas pesan itu di layar terkunci, namun fakta bahwa pesan itu dikirimkan setelah Jevandra mengunjunginya membuktikan betapa menyedihkan pernikahan ini yang dianggap hanyalah sebuah lelucon besar bagi mereka berdua.
Tiba-tiba, suara pintu utama yang terbuka mengejutkan Alana.
Alana menoleh ke arah jam dinding. Jam itu menunjuka pukul 01.30 pagi. Jevandra pulang. Pria itu melangkah masuk dengan langkah yang tidak lagi seangkuh biasanya. Jasnya sudah dilepas, tersampir di lengan kirinya, sementara lengan kemejanya digulung hingga ke siku. Wajahnya menunjukkan perpaduan antara kelelahan fisik dan sisa-sisa kecemasan yang belum sepenuhnya reda.
Begitu melihat Alana berdiri di dapur dengan tablet miliknya yang masih menyala di samping gelas air, langkah Jevandra terhenti. Matanya langsung beralih pada tablet tersebut, lalu kembali menatap Alana dengan kilat defensif yang tajam.
"Kamu menyentuh barang-barang saya lagi?" tanya Jevandra, suaranya terdengar serak namun penuh dengan nada tuduhan yang instan. Pria itu berjalan cepat mendekati dapur, merebut tabletnya dari atas meja konter.
Alana tidak mundur selangkah pun. Keberanian yang aneh tiba-tiba merayapi dirinya, menggantikan rasa takut dan rendah diri yang ia rasakan sepanjang malam. "Tabletmu menyala karena ada pesan masuk yang terus berbunyi. Saya tidak membukanya, layarmu tidak dikunci dengan benar."
Jevandra memeriksa layarnya, melihat pesan dari Silvia yang masih terpampang di sana, lalu memasukkan tablet itu ke dalam tas kerjanya dengan gerakan gusar. "Jangan pernah lancang membaca apa pun yang masuk ke ponsel atau tablet saya, Alana. Saya sudah memperingatkanmu semalam."
"Lancang?" Alana tertawa, sebuah tawa pendek yang terdengar sangat dingin hingga membuat Jevandra sedikit tersentak. "Siapa yang sebenarnya lancang di sini, Jevandra? Kamu meninggalkan istrimu sendirian di acara resmi papamu, berbohong pada orang tua kita, hanya untuk berlari ke apartemen wanita lain yang mengeluh demam? Dan kamu menyebut saya lancang hanya karena melihat notifikasi yang muncul di meja dapur saya sendiri?"
"Silvia sedang sakit!" Jevandra meninggikan suaranya satu oktav, rahangnya mengeras. "Dia tidak punya siapa-siapa di kota ini. Dia sendirian!"
"Lalu saya punya siapa di sini?!" Alana membalas, suaranya tidak kalah tinggi, memecah keheningan malam di apartemen megah itu. Air mata yang ia tahan sejak di ballroom kini mendesak keluar, bukan karena sedih, melainkan karena amarah yang sudah mencapai puncaknya. "Saya juga sendirian di apartemen ini, Jevandra! Saya berdiri di sana, berbohong di depan ibu saya sendiri, demi menjaga nama baikmu! Sementara kamu... kamu bahkan tidak peduli bagaimana saya harus pulang atau apa yang akan dikatakan orang-orang jika mereka tahu suamiku pergi menemui kekasihnya!"
Jevandra terdiam selama beberapa detik. Ada riak keterkejutan di matanya melihat Alana yang biasanya tenang dan penurut kini meledak di depannya. Namun, ego seorang Jevandra Pratama tidak membiarkannya terlihat bersalah. Pria itu menarik napas dalam, mencoba meredam emosinya sendiri menjadi sedingin es.
"Saya sudah bilang, ini pernikahan bisnis," ucap Jevandra, suaranya kembali rendah dan menusuk. "Kamu mendapatkan status, keluargamu mendapatkan suntikan dana dan stabilitas saham, dan saya mendapatkan formalitas yang diinginkan orang tua saya. Jangan bertingkah seolah-olah kamu adalah korban di sini, Alana. Kamu tahu persis apa yang kamu tanda tangani saat menyetujui pernikahan ini."
Alana merasakan hatinya seperti diremas dengan kejam. "Ya, saya tahu ini pernikahan bisnis. Tapi bisnis sekalipun memiliki etika, Jevandra! Kamu menghina saya dengan menyebut saya 'perempuan di rumah itu' di depan dia! Kamu menganggap saya tidak ada! Saya tidak meminta cintamu, saya tidak pernah meminta kamu melupakan wanita itu dalam semalam. Tapi hargai saya sebagai manusia yang memegang status sebagai istrimu di mata hukum dan agama!"
Jevandra melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka hingga Alana bisa merasakan aura intimidasi yang kuat dari pria itu. "Hargai? Saya sudah memberikan semua kemewahan yang kamu butuhkan di tempat ini. Saya menjaga nama baikmu di depan media. Apa lagi yang kamu inginkan? Kamu ingin saya berpura-pura mencintaimu di dalam rumah ini juga?"
"Saya ingin kamu punya otak dan hati!" balas Alana, matanya menatap lurus ke dalam manik mata hitam Jevandra yang kelam. "Jika kamu begitu mencintainya, kenapa kamu tidak menolak pernikahan ini sejak awal? Kenapa kamu harus menyeret saya ke dalam neraka yang kamu ciptakan sendiri? Kamu pengecut, Jevandra. Kamu tidak berani menentang papamu, tapi kamu melampiaskan kemarahanmu pada saya yang tidak tahu apa-apa!"
Kata 'pengecut' tampaknya menjadi pematik yang tepat untuk membakar kendali diri Jevandra. Pria itu mencengkeram tepi meja konter dapur dengan kuat, jemarinya memutih. Matanya berkilat penuh amarah yang menakutkan.
"Kamu tidak tahu apa-apa tentang apa yang sudah saya korbankan untuk mempertahankan Silvia!" desis Jevandra, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Alana. "Jadi jangan pernah mendikte hidup saya. Mulai besok, saya tidak peduli apa yang kamu lakukan. Tapi jika kamu sekali lagi berteriak di depan saya dan mencampuri urusan Silvia, saya tidak akan segan-segan menghentikan seluruh kerja sama pasokan bahan baku untuk perusahaan ayahmu."
Ancaman itu seperti air es yang disiramkan langsung ke kepala Alana. Seketika, seluruh amarahnya membeku, digantikan oleh rasa kenyataan yang pahit dan berlendir. Ayahnya. Perusahaan keluarganya. Jevandra memegang kendali penuh atas urat nadi ekonomi keluarganya, dan pria itu baru saja menggunakannya sebagai senjata untuk membungkamnya.
Alana menatap Jevandra dengan pandangan yang perlahan berubah menjadi kekosongan yang dingin. Rasa hormat, rasa takut, atau apa pun yang tersisa untuk suaminya menguap sepenuhnya malam itu.
"Begitu ya..." Alana berbisik, suaranya mendadak menjadi sangat tenang, ketenangan yang jauh lebih menakutkan daripada teriakannya tadi. "Kamu menggunakan keluarga saya untuk mengancam saya."
Jevandra tidak menjawab, namun tatapan matanya tidak beralih, mengukuhkan ancamannya sebagai hal yang mutlak.
Alana memundurkan langkahnya, melepaskan diri dari kepungan aura intimidasi Jevandra. Ia menegakkan tubuhnya, menatap suaminya untuk terakhir kali malam itu dengan pandangan paling asing yang bisa ia berikan.
"Baik. Kamu menang, Jevandra Pratama," ucap Alana dengan nada datar tanpa emosi. "Mulai detik ini, lakukan apa pun yang kamu mau dengan wanita itu. Bermalamlah di sana setiap hari jika itu membuatmu merasa menjadi pria sejati. Saya tidak akan pernah bertanya, saya tidak akan pernah peduli. Kita adalah dua orang asing di bawah satu atap, persis seperti yang kamu inginkan."
Tanpa menunggu reaksi dari Jevandra, Alana berbalik dan berjalan dengan langkah anggun menuju kamarnya. Ia menutup pintu kamar dengan pelan, tanpa dentuman, namun suara klik kunci yang berputar dari dalam terdengar sangat jelas di keheningan malam itu.
Di dapur, Jevandra berdiri sendirian. Ia menatap pintu kamar Alana yang tertutup rapat. Tangannya yang mencengkeram konter dapur perlahan mengendur. Entah mengapa, kemenangan yang baru saja ia raih dengan menggunakan ancaman bisnis terasa begitu hambar dan meninggalkan rasa tidak nyaman yang aneh di dalam dadanya. Apartemen mewah itu kini terasa jauh lebih luas, jauh lebih dingin, dan jauh lebih sepi dari sebelumnya.