Petik pelajaran dari setiap isi cerita
...
1. Kamu hanya mencintai seragamku dan bukan diriku. Dua tahun pernikahan dengan istriku hanya penuh pertikaian, hingga karenanya kamu memintaku memiliki anak dengan dengan seorang gadis anak almarhumah mantan pengasuhmu sejak kecil.
Dengan kacaunya aku menuruti keinginanmu karena aku sayang kamu Bianca. Namun semakin lama, sebagai seorang suami, aku tidak bisa memaafkan kesalahanmu
Tahukah kamu.. keegoisanmu ini membuat cerita baru dalam rumah tangga kita Bianca.
...
Kamu sungguh menghancurkan isi hatiku Bianca.. Pecah dan hancur sampai ke akarnya tapi aku masih mencintaimu hingga kesalahan fatal itu terjadi memporak porandakan rumah tangga kita.
Dan akhirnya aku berkali-kali merasakan kenangan pahit karenamu Bianca hingga sosok itu datang didalam hatiku tanpa sengaja. Dia......... ( by Ghara )
#
2. Dan disisi lain kamu berbeda dengan dia. Dirimu sudah membalikan seluruh duniaku.
Awalnya aku hanya bermain-main, tapi semakin kusadari.. ada rasa berbeda dalam hatiku. Perasaanku pun bukan sekedar permainan.
Nindy bayangan terindah masa laluku. Jujur memang caraku mendapatkan mu adalah sesuatu yang salah. Hanya aku yang tau itu semua di sengaja atau tidak. Hanya kamu.. hanya kamu saja di hati ini. Diajeng Amarilys Sahna . Kamu hidup matiku, sehidup sesurga ku. ( by Bayu )
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Cinta kasih.
"Siapa Nia Bang?" tanya Nada langsung pada pokok persoalan.
"Teman sekelas Abang di jurusan IPA" jawab Bang Ghara.
"Teman?? Teman Abang yang sering Abang godain??" tanya Nada lagi.
"Hmm.. Saya ke toilet dulu..!!" pamit Yusuf dengan tidak bertanggung jawab.
Bang Ghara mengusap tengkuknya, bingung menjawab pertanyaan Nada.
"Ghara..!!!!!" sapa seorang wanita disana.
Ghara menoleh dan melihat ke arah sumber suara. Ternyata yang memanggil benar adalah Nia.
"Hai Nia.. apa kabar???" jawab Bang Ghara dengan mata berbinar seakan lupa kalau ia sedang datang bersama Nada.
"Baik. Kenalin donk. Ini suami aku" Nia memperkenalkan sosok seorang pria pada Ghara.
Saat mereka sedang bersalaman, Nia memperhatikan wanita yang berada di samping Ghara.
"Ini siapa?" tanya Nia pada Ghara.
"Oohh.. maaf. Ini istriku Nada" jawab Ghara mengenalkan istrinya. Ia baru menyadari kalau ia terlupa.
"Hai Nada.. aku Nia" kata Nia memperkenalkan diri. Mereka pun saling bersalaman.
...
"Broo.. Nia kenapa jadi hancur begitu???" bisik Ghara pada Yusuf.
"Nggak tau, mungkin sama suaminya di kasih makan soda kue" jawab Yusuf.
"Eheem.." Nada berdehem menyadarkan Ghara yang masih tidak percaya dengan perubahan wujud Nia yang dulu dengan sekarang.
"Mau Abang ambilkan kue dek?" tanya Bang Ghara dengan sigap.
"Mau.." jawab Nada.
"Apa?"
"Red velvet sama risoles" jawab Nada.
"Tunggu sebentar ya..!!" Bang Ghara menyentuh pipi Nada.
"Lu jangan celamitan lihat bini orang. Hadap tembok..!!" Ghara mendorong pipi Yusuf agar menghadap dinding.
"Eehh.. gue lagi mengintai mangsa. Siapa tau di antara teman kita ada yang masih gadis. Yaaa.. janda juga nggak apa-apa deh" celetuk Yusuf.
"Baaanngg..!!!" tegur Nada.
"Segera dek..!!" jawab Bang Ghara langsung meninggalkan tempat.
"Hmm Nada.. maaf ya. Bukannya aku mau ikut campur. Tapi bukannya istri Ghara itu Bianca ya??" tanya Yusuf.
"Iya Bang Yusuf. Tapi Abang sudah bercerai dengan mbak Bianca" jawab Nada.
"Innalilahi.. Maaf ya aku sungguh nggak tau kabar ini" kata Yusuf menyudahi pertanyaannya tak ingin ikut campur dalam masalah rumah tangga sahabatnya.
"Nggak apa-apa Bang" Nada memasang senyumnya meskipun nampak terpaksa.
"Apapun alasannya, aku merasa Ghara sekarang menikah dengan wanita yang tepat sebab kami dulu sempat ragu saat Ghara menikah dengan Bianca. Bisa sampai menikahimu berarti kamu bukan wanita sembarangan" kata Yusuf.
"Aahh Abang bisa saja"
"Sungguh.. Ghara tidak pernah selembut ini memperlakukan wanita bahkan dengan Nia dan Bianca sekalipun" ucap Yusuf dengan jujur.
"Apa Abang dulu punya hubungan dengan mbak Nia??" tanya Nada.
"Ya begitulah.. hanya sekedar hiburan saat umur belum paham apa itu cinta. Hanya sebagai status saja biar nggak jomblo" jawab Yusuf.
"Apa iya dulu mbak Nia tidak begitu?" Nada ikut penasaran.
"Iya, dulu langsing dan jadi rebutan para pria. Maklum anaknya sudah dua dan sekarang sedang hamil lagi" kata Yusuf.
"Bicara apa kalian??" Bang Ghara tiba-tiba muncul di tengah mereka.
"Bang Yusuf sedang membongkar siapa saja mantan Abang waktu SMA" jawab Nada.
"Suf.. Kalau pulang gue sampai gelut sama bini.. awas aja lu nanti. Gigi lu gue pastikan geser dari rahang" ancam Bang Ghara.
"Abang takut ketahuan punya banyak mantan?" tanya Nada.
"Bukan dek. Abang takut kamu salah paham. Abang nggak punya pacar" jawab Bang Ghara.
"Kecuali Mbak Nia? Mbak Bianca?"
"Itu masa labil dek. Nggak bisa di samakan dengan sekarang" kata Bang Ghara.
"Sudah.. ini di makan dulu camilannya"
-_-_-_-
Entah kenapa Nada selalu terbayang wajah Mbak Nia. Meskipun bobotnya kini mencapai delapan puluh lima kilogram tapi tidak mengurangi aura cantik masanya dulu.
"Mikir apa?" Bang Ghara mengusap puncak kepala Nada.
"Dulu Mbak Nia itu cantik sekali ya Bang?" tanya Nada.
"Woalah dek.. Daritadi kepikiran Nia?? Kamu ini konyol" kata Bang Ghara.
Nada terdiam tapi pikirannya masih melayang membayangkan mbak Nia.
"Jaman dulu.. Abang masih mencari jati diri. Masih nakal-nakalnya. Bisa dapat primadona sekolah sudah menjadi suatu kebanggaan. Wanita cantik menurut pandangan mata Abang saat itu.. Ya Nia" ucap Bang Ghara.
"Jadi dia primadona Bang??" tanya Nada mempertegas kata primadona.
Ghara tersenyum melihat ekspresi wajah Nada yang sudah bisa di pastikan cemburu.
"Iyalah.. dia primadona. Kamu baru bidadarinya Abang" jawab Bang Ghara.
Nada tidak menjawab tapi memalingkan wajah menyembunyikan senyum di balik sikap salah tingkahnya.
"Sekarang kita mau kemana Bu boss? Mau pulang atau jalan-jalan?" tanya Bang Ghara.
"Kita pulang saja ya Bang. Nada capek sekali" jawab jujur Nada.
"Oke siap"
-_-_-_-_-
Mama Dira datang menyambut Nada yang terlihat lelah sambil membawa mangkok kecil di tangannya.
"Duduk dulu. Ini pasti capek sekali"
"Nada nggak apa-apa kok ma" jawab Nada.
"Sudah cepat ganti pakaian nanti duduk disini..!!" kata Mama Dira.
...
"Mama.. jangan ma..!!" tolak Nada saat mama menaikan kaki Nada di atas pangkuan Mama Dira.
"Sudah diam saja. Kamu anak mama juga" jawab Mama Dira dengan santai.
Seketika Nada menangis terisak. Sungguh seumur hidup baru kali ini Nada diperlakukan seperti ini.
"Kamu anak mama. Jangan buat jarak di antara ibu dan anak. Kamu bisa menerima anak mama saja, mama sangat bersyukur. Ghara itu tidak pernah bisa lembut dan selalu bersikap dingin. Tapi mama lihat kamu mampu meluluhkan hati anak mama" kata Mama Dira.
"Abang memang tidak pernah jahat sama siapapun ma" jawab Nada.
"Siapa bilang..?????"
"Mamaaaa..!!!!" tegur Bang Ghara agar sang mama tidak bicara aneh-aneh tentang masa lalunya.
"Abang kenapa ma?"
"Dulu......"
.
.
.