Bermula dari murid pindahan dari kota yang bernama Rara Amelia Putri, dan Dewa hayunda seorang siswa yang tampan yang cuek dan lugu, yang tak pernah menyadari ketampanannya
Dewa terjerat tipu daya cinta Rara, dan membuat nya terbelenggu, hingga membuat Dewa terjebak dengan cinta terlarang
Kejadian berulang saat Dewa di bangku kuliah, bertemu Rara, seolah takdir menjodohkan mereka, Dewa menata kembali cintanya untuk menjadi lebih baik, tapi ternyata keinginan itu hanya sepihak, tidak dengan Rara, dalam kisah cintanya yang sedang mekar, Rara meninggalkan Dewa dan menikah dengan pria lain, membuat Dewa terpuruk dan jatuh dalam dunia hitam, kehadiran dosen cantik sebagai tuan mami, dan mas Rio yang menjadikannya kucing Anggora
Dalam perjalanan hidupnya bersama Rara Dewa memilik 2 orang anak, Arjuna dan Gading
Berakhir tuhan mengirimkan seorang malaikat bernama Dina, yang membantunya keluar dari kehidupan yang kelam
Wanita yang lembut dan bersahaja, yang memiliki cinta pertama bernama Dewa hayunda
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjuna bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEGILAAN KU
Tepat pukul 20:00 Dewa pergi dengan motor Ninja menuju ke sebuah Apartemen mewah di Bandar Lampung. Dewa parkirkan motornya dan menuju loby lantai bawah, Dewa menyerahkan sebuah kartu untuk mendapatkan petunjuk.
Seorang pelayan yang manis mengantarku menuju lift, kami berjalan menyusuri lorong Apartemen, langkah kami terhenti di depan sebuah pintu dan dia segera meninggalkanku
Ku coba membuka pintu Apartemen, seperti petunjuk pelayan tadi,
"Cklek.." pintu terbuka
Belum apa-apa, aku sudah di suguhkan dengan pemandangan yang luar biasa, wanita cantik dengan berbusana lingerie berdiri di sana, wanita itu menoleh melihatku, tersenyum tanpa malu-malu
"Woooow...." bisik hatiku,
"Came on boy" wanita itu menghampiriku menarik tanganku untuk masuk
Kulihat ada seorang lelaki menghadap jendela berkacak pinggang, bertelanjang dada hanya memakai handuk yang di lilitkan di pinggangnya dia terlihat sedang menikmati pemandangan malam dari tirai yang terbuka sedikit.
Aku terkejut bukan main, takut, bingung, dan banyak perasaan berkecamuk, " mampus aku.'' pikirku dalam hati, ternyata wanita itu menyadari apa yang ku pikirkan, dia menyentuh daguku, memeluk pinggangku, ku tepis tidak enak hati, karena ada orang ke tiga di sana.
"Don't worry, tampan, dia suamiku, kamu datang tepat waktu, aku Leila" bisik bibir mungil itu di telingaku, "huuuuuffg," bulu kudukku merinding seketika manakala wanita yang bernama leila itu menghempaskan nafasnya di leherku
Merinding bulu kudukku rasanya mengetarkan seluruh persendianku, Leila terus membangunkan hasrat lelakiku, dia terus menyerang menyentuh ku tanpa ada canggung sedikit pun. Tapi ku tepis tangannya, ku duduk di sofa, menunggu reaksi orang ke tiga, "mana ada suami membiarkan istrinya di sentuh orang lain di hadapannya." pikirku. dengan memberikan diri aku bertanya keadaan yang sedang ku alami saat ini.
Lelaki itu membalikkan badannya, tersenyum padaku, dia seolah acuh dengan apa yang di lakukan istrinya, dia terus melangkah dan duduk di sofa yang bersebrangan denganku
Lelaki yang lumayan tampan khas seorang pengusaha sukses, memilliki tubuh yang tegap, badan atletis, terlihat sangat maskulin tak ada yang menyadari bahwa dia seorang gay
Dengan santai dia duduk di sofa, menjawab bahwa dia tidak normal, dan tidak bisa memuaskan istrinya, jadi dia akan membayar siapapun yang bisa memuaskan istrinya
"Siapapun!, sepertinya kamu adalah lelaki yang di inginkan istriku"
"Aku tersenyum geli, tapi ya bolehlah di coba" bisikku pada diriku sendiri,"Gila."
Ku lihat ke arah Leila, Leila tak mempedulikan keberadaan suaminya, dia terus menyentuhku membiarkan suaminya melihat kami melakukannya.
Dia hanya menonton, dengan santai, sampai kami terkapar tak berdaya dalam kenikmatan.
"Gila" Leila teryata lebih nikmat dari mami, aku baru menyadari ternyata wanita punya banyak rasa.
*****"
Suami Leila, menghampiriku. dia dengan keadaannya sekarang. Aku terkejut dan tercengang kaget, otaknya langsung tak bisa berfikir sehat, "aku tak pernah melakukannya mas," ucapku takut-takut. ''sudah ikuti saja yang ku katakan,'' jawab lelaki tampan itu sedikit memaksa ku. dengan pasrah tak berdaya aku melakukan seperti yang dia inginkan."Buset dah..."
Tanpa ku sadari Leila mencuri informasi dari hanphoneku. dia, mengacak-acak informasi yang ku simpan di hanphonku. mengambil informasi tentang hubunganku dengan Marsya. ia dengan jahatnya menyimpan semua kartu AS-ku. dan mengambil nomorku. itu semua ia jadikan modal, sebagai senjata, untuk menjebak ku menjadikan aku budak **** mereka
Ku pejamkan mataku, menghela nafas panjang dan berlalu mandi untuk menyegarkan tubuhku
kami mengakhiri malam itu dengan obrolan ringan.Aku tau, mereka sepasang pengantin baru, yang di jodohkan oleh orang tua mereka.
Mas Rio dari pulau Jawa seorang pengusaha muda yang sukses, dia memimpin sebuah perusahaan dan memiliki sebuah Mall di Jakarta dan beberapa di Lampung, mas Rio tidak tertarik dengan lawan jenis, sedangkan Leila adalah wanita muda yang sudah menyandang gelar dokter Spesialis penyakit dalam
Mas Rio tidak begitu menginginkan wanita, sedangkan Leila tak begitu perduli tentang banyak hal. Mereka sepakat menikah untuk menyenangkan orang tua mereka. Gawatnya lagi mereka menginginkan aku untuk ikut mereka dalam perjalanan bulan madu mereka. dengan ancaman, jika aku menolak, mereka akan membongkar hubunganku dengan buk Marsya kepada suaminya."Alamak...mampuslah aku.''
Aku terdiam berpikir, kalo ikut mereka kuliahku berantakan, itu sungguh sesuatu yang sangat tidak aku inginkan. jika aku menolak untuk ikut, pasti tamat riwayatku. aku bagaikan makan buah simalakama. apapun pilihan ku, aku akan hancur juga.
Bagaimana aku akan menghadapi orang tuaku, anak-anakku, aku berfikir keras, sampai tak sadar akupun tertidur pulas.
********
Terbangun di pagi hari, Dewa tak melihat siapapun, sarapan telah tersedia di meja makan, baju baru untuk ganti sudah di siapkan, Dewa beranjak ke kamar mandi, membasuh muka, menggosok gigi.
Ku pandangi wajahku di kaca kamar mandi masih terasa sisa permainan semalam, kemudian aku berlalu untuk menyantap sarapanku
"Cekrek"
Suara pintu terbuka, mas Rio muncul menghampiriku, dengan senyumannya, dia menghampiri aku santai.
Meski dalam hatiku terus mengumpat, namun aku tetap harus menunjukan senyum yang manis pada mas rio
"Dewa...jadilah kekasihku aku akan memenuhi semua kebutuhanmu"ucap mas rio tanpa basa basi, ia berdiri menghadap jendela melihat keramaian di luar sana
"Tawaran yang menjanjikan," aku tersenyum
"Bukan tidak mau, aku masih terikat kontrak sama ibu Marsya" jawab Dewa pelan, berusaha tak menyinggung perasaannya,
Mas Rio kembali tersenyum,
"Ya sudah pulanglah, aku akan menghubungimu nanti"
Dia mengacungkan hanphonenya memberi isyarat bahwa. kartu As Dewa sudah di simpannya, jangan lari ancamnya padaku. Dewa mengangguk manis, bergegas Menganti baju dan pulang
******
Dewa melangkah masuk ke kos-an, dia menjatuhkan tubuhnya ke sofa, memejamkan mata, baru saja bersantai tiba-tiba sebuah klakson mengagetkannya, dengan malas Dewa membuka pintu
"Benar ini rumah pak Dewa ?" ku keryitkan alisku
"Pak ?, oh iya-iya, ada apa ?" tanyaku buru-buru
Orang tersebut memberiku kunci mobil beserta surat-surat atas namaku, dan kunci apartemen.
Belum hilang Dewa kaget hanphonenya berdering
"Halo..."
"Itu mobil untukmu, dan pindahlah dari rumah itu"
Suara mas Rio terdengar dari sebrang sana, memberi tau keadaan yang di hadapi Dewa saat ini. belum sempat Dewa menjawab, sambungan telfon sudah terputus. Dewa melihat layar telfon sejenak, lalu kurir meminta tanda terima, dan berlalu pergi
Dewa nyegir kuda melihat mobil terios putih parkir di depan rumahnya, dan tersenyum,
"Nggak rugi aku melayani mereka semalam," geli sendiri
Hari ini Dewa berniat mau tidur melepas lelahnya
******
Sudah seminggu dari kejadian itu, Dewa baru terpikir jawaban apa yang akan di berikan pada mas Rio.
ku telpon nomornya, dia mengangkat, menyambut hangat,
"Bagaimana Dewa ?" tanya mas Rio terus terang,
"Mas, beri aku waktu sampai kuliahku selesai, aku hanya sekor ikan Koki mas, untuk saat ini buk Marsya adalah majikanku, biar ku selesaikan ini sampai akhir, agar tak ada masalah di kemudian hari."
Jawaban Dewa mantab, mas Rio memahami dengan syarat, Dewa harus bisa membuat Leila hamil
"Glek" iya kalo Hamil kalo nggak, aku bisa gawat
"Tapi mas, hamil bukan kehendakku "
"Terserah itu penawaranku, bisa di atur, istriku seorang dokter"
"Baiklah" setelah lulus kuliah
Setelah penawaran selesai aku benar-benar pindah rumah ke sebuah Apartemen yang mewah, cukup besar untuk seorang bujangan, fasilitas mobil, Apartemen mewah, di tambah lagi kartu kredit
"Haaahaaahaa"
Aku tertawa lepas, menikmati kekayaanku, sofa, ranjang, semua tampak mewah dan nyaman.
Aku benar-benar di manjakan oleh harta mas Rio. seorang Dewa yang dulunya pendiam, sederhana, dan biasa saja, dalam hitungan bulan menjadi seorang yang sangat populer, kabar miring soal Dewa pun mulai menyebar di setiap sudut kampus.
Merasa aku membuka diri, banyak mahasiswi melamarku, bahkan memenuhi beranda akun sosial media ku, di kelas dan di tempat biasa aku nongkrong, di penuhi mahasiswi cantik, pusing aku di buat oleh mereka.
Hubunganku dan mami masih berjalan lancar, prioritas utama adalah majikanku, karena dia adalah jantung skripsiku.
******
Hari itu fakultas kebidanan Poltekkes Bandar Lampung melangsungkan wisuda, aku sengaja datang.
Dari dalam mobil, aku melihat hiruk pikuknya orang-orang sedang sibuk merayakan acara wisuda.
Mataku berputar-putar mencari-cari, benar saja, gadis sialan itu ada di sana, dia tak sendiri, terlihat keluarganya sedang asyik berfoto dengannya
Aku menikmati senyum tawa bahagianya, seolah tak punya dosa, sesekali ia melihat ke arahku, dia belum menyadari keberadaan ku
Ku buka kaca mobil dengan sengaja, memperhatikannya,
"Woi... Dewa !" suara seorang wanita sisi memanggilku, membawa mata Rara melihatku.
Rara berlari menghampiriku, ku tutup kaca mobil, berlalu meninggalkannya, itu terakhir aku melihat Rara.
Tak ada rasa apapun dalam pertemuan itu, benci suka atau apapun, tak ada, teryata semua memang sudah hambar, tak ada lagi sisa cinta di hati Dewa untuk Rara.