Karena alasan cinta, Aisha mengubur cita-citanya dan menikah muda dengan Aarick. Namun sayang, ternyata cinta saja tidak mampu menjaga keutuhan rumah tangganya.
"Di mana dia menyentuhmu! Apa selama ini kau selingkuh di belakangku?" teriakan Aarick menggema di dalam kamar.
"Apa kau akan melepaskan aku jika aku menjawab iya?"
"Aisha!!"
Sejak pertengkaran itu Aarick semakin bersikap dingin, bahkan rasa cemburunya sudah menyakiti Aisha dan janin yang dikandung istrinya.
Bagiamana akhir rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon violla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MT2. Bab17
Malam yang dinanti pun tiba, cahaya rembulan menerangi rumah Aisha seolah ikut menjadi saksi acara lamaran tersebut. Semua mata memandang kagum pada memilik mata indah itu. Aisha merunduk meruruni anak tangga menuju lantar dasar di mana Aarick sudah menunggunya.
"Apa dia calon istrimu?" godaan Ariel membuat semua orang tertawa. "Jangan buru-buru, perhatikan baik-baik jangan sampai salah orang," Ariel semakin menggoda Aarick, ia merangkul anaknya yang sudah siap membina rumah tangga.
"Seratus persen benar, Aisha wanita paling cantik yang pernah aku kenal," jawab Aarick tepat saat Aisha sudah berdiri di depannya. Aisha merunduk malu. "Bahkan, senyumannya mengalahkan sinar rembulan," ucapan Aarick membuat Aisha semakin tersipu.
"Kalau begitu tunggu apa lagi? Cepat sematkan cincin di jari manisnya agar senyuman itu selalu menghiasi wajahnya." Anggun ikut menimpali, ia membuka kotak cincin dan menyerahkannya kepada Aarick.
Aarick tidak mau membuang waktu, ia meraih tangan Aisha lalu menyematkan cincin di jari manisnya.
"Aku mencintaimu, Aisha ... kini, esok dan selamanya. Terimalah bukti cintaku ini," lirih Aarick di depan keluarga ia mengecup tangan Aisha.
Pandangan mata mereka bertemu, Aisha yakin jika Aarick benar-benar mencintainya. Namun, ntah mengapa saat ini di hatinya masih resah seperti ada sesuatu yang menghalangi kebahagiaan ini.
"Aku juga cinta sama kakak," jawab Aisha, ia meyakinkan diri jika dirinya juga mencintai Aarick.
Tulus mencintai, atau hanya merasa nyaman dengan hubungan yang sudah terjalin sejak mereka masih kecil. Biarlah waktu yang akan menjawab semua pertanyaan Aisha.
***
"Apa sudah pernah ada yang bilang kalau senyumanmu mengalahkan sinar rembulan?" tanya Aarick, kini mereka sudah duduk di bangku taman sementara yang lainnya masih berada di rumah Aisha untuk menentukan tanggal pernikahan.
Pandangan keduanya bertemu, Aisha hampir tidak percaya jika MR. Juteknya kini pandai merayu. "Hanya kakak seorang," jawab Aisha. Ia membiarkan Aarick menggenggam tangannya.
"Dan ... hanya aku seorang yang tulus cinta sama kamu, hanya aku seorang yang bisa buat kamu bahagia, dan hanya kamu seorang yang ada di hatiku, yang aku cintai dan yang ingin aku jadikan istri. Setelah kita resmi menjadi suami istri, kita akan tinggal di apartmen untuk sementara waktu, menunggu rumah yang sekarang aku bangun siap untuk kita tempati."
"Tidak perduli tinggal di mana, aku juga nggak perlu rumah mewah, aku punya rumah impian, aku mau tinggal di rumah yang sudah aku desain sendiri." Ia terkikik membayangkan keseruannya.
Aarick menmbuang napas gusar, ia tahu ke mana arah bicara Aisha. "Nanti setelah menikah, kita cari kampus terbaik untukmu," ucap Aarick.
"Sebenarnya, ada salah satu perusahaan ternama yang melirik desainku, mereka menawarkan kerja sama yang menguntungkan. Mereka bisa menjamin sampai aku berhasil menjadi seorang arsitek ternama." Aisha menelan ludah saat Aarick melepaskan genggaman tangannya, Aarick sudah membuang muka seperti sengaja menghindarinya. "Kak, bolehkan ak---
"Jangan pergi! Aku tidak mengijinkannya," ucap Aarick pelan, tetapi suaranya terdengar jelas dan tegas.
"Kalau begitu, kita tunda pernikahan ini sampai aku kembali ke sini." Aisha meraih tangan Aarick. "Tidak akan lebih dari empat tahun, selama menunggu kita bisa saling mengunjungi," ucap Aisha.
Rahang Aarick mengeras, matanya memerah saat kembali melihat Aisha. "Sekali kamu pergi ... jangan pernah kembali lagi." Aarick beranjak lalu mengacak rambut Aisha. "Tidak akan ada kesempatan ke dua, Aisha ... kamu masih punya waktu dua minggu untuk menentukan pilihan, menjadi istriku atau pergi menjauh dariku." Aarick merunduk dan mencium kening Aisha.
***
Rencana pernikahan Aisha telah sampai di telinga Elang, sudah satu minggu berlalu dan tepat hari ia kembali menginjakkan kaki di rumahnya.
"Kakak!" Aisha berlari menyambut Elang dengan pelukan. "Aish pikir kakak lupa sama kami di sini." Ia mencubit perut Elang.
"Aku bisa melupakan semuanya, tapi tidak dengan keluarga dan pernikahanmu," jawab Elang yang sudah merangkul adiknya. "Papa sama mama di mana?"
"My boy!" teriak Endi dari lantai dua. "Ingat jalan pulang juga, ya?" Endi berjalan cepat menuruni anak tangga.
"Sejauh apapun aku pergi, tetap saja rumah masih menjadi tempat ternyaman yang pernah aku singgahi." Elang sudah memeluk Endi.
Alisa baru datang dari arah dapur ia bahkan tidak sengaja menjatuhkan nampan yang dibawanya. "Elang?" ia tidak percaya anaknya sudah berdiri di depan mata, Alisa mendekat dan memeluk Elang.
"Jangan nangis, Ma... Elang pulang untuk mama dan sebagai saksi di pernikahan Aisha." Elang mengepalkan tangan di balik punggung Alisa.
Alisa semakin terisak. "Maafkan kami, tapi seharusnya kamu dulu yang menikah, semua ini karena wanita itu," ucap Alisa.
"Itu masa lalu, Ma. Jangan ingatkan Elang tentang wanita itu lagi. Elang pulang bukan untuk membahas dia. Elang cuma mau membantu menyiapkan pernikahan Aisha," jawab Elang.
"Sudahlah, biarkan Elang istrahat dulu," tawar Endi.
"Tidak Pa ... lebih baik kita bahas lebih rinci lagi acara pernikahan Aisha dengan Aarick," rahang Elang masih mengeras saat menyebut nama calon adik iparnya, sebenarnya ia sudah punya rencana lain untuk Aarick.
***
Kembalinya Elang sampai juga di telinga Aarick. Siang ini Aarick masih memantau pembangunan gedung yang akan menjadi tempatnya memulai usaha properti saat Aisha meneleponnya.
Setelah resmi bertunangan, pihak keluarga melarang Aarick dan Aisha bertemu, mereka hanya berkomunikasi melalui telepone genggam saja.
"Sial! Dia pasti merencanakan sesuatu," ucapnya pada Aditya yang juga mendengar pembicaraannya dengan Aisha.
"Sejak kapan kakak takut sama dia?" tanya Aditya santai.
"Aku cuma takut kehilangan Aisha. Aku tidak yakin Elang begitu cepat berubah pikiran, dia tidak sebaik itu mengijinkanku menikahi Aisha."
"Sudahah kak, biarkan saja dia melakukan apa yang dia mau. Kita awasi pergerakannya, bukankah semua persyaratan nikah sudah lengkap? Sebelum Elang bertindak lebih baik kita majukan tanggal pernikahannya, cukup panggil penghulu dan saksi untuk menikahkan kalian," usul Aditya.
"Kau benar! Aku nggak akan biarkan Elang menggagalkan pernikahanku," jawab Aarick.
***
"Kamu pikir pernikahan ini untuk main-main? Tunangan boleh dadakan, tapi pernikahan harus perlu persiapan yang matang," tolak Aariel, ia tidak habis pikir dengan permintaan anaknya.
"Surat-suratnya sudah lengkap, Pa! Tidak perlu mengadakan resepsi, cukup dihadiri keluarga inti saja," Aarick teguh pada pendiriannya.
"Kita sudah menentukan tanggal yang baik, dan kita sudah sepakat memilih hari senin depan'kan?"
"Semua hari dan tanggal itu baik, Pa. Besok aku akan menikahi Aisha," ucap Aarick, ia sudah seperti cacing kepanasan berjalan mondar-mandir mengitari ruang keluarga.
Sifat dan tindakan Aarick membuat Ariel teringat akan masa mudanya dulu, ia akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang diinginkannya, apa yang menjadi miliknya harus menjadi miliknya saat ini juga.
***
Masih adakah yang menunggu? Maaf ceritanya semakin membosankan:-)