Seorang pemuda yang baru saja mengakhiri perang abadi antara dewa dan manusia kini sudah mati bersama dengan lenyapnya dewa, di atas ruangan kematiannya sendiri kini dia hanya diberi satu pilihan yakni harus menyelamatkan dunia yang baru saja ia selamatkan.
"Tidak ada cara menolaknya, bila ada? Mungkin sudah ku tolak dari dulu"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raffa Alief, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 17 - Liu Rong
Liu Rong melompat dengan cepat, ia sedang terburu-buru dengan anak usia balita ada di rangkulannya. Kekaisaran Wang sedang masa-masa kritisnya sekarang dengan Aliran Hitam yang terus menekan Aliran Putih Dan Netral, membuat Fondasi Kekaisaran Wang sedikit rusak dan goyah.
Liu Rong membawa balita di rangkulannya bukan tanpa alasan, balita ini dipercayai akan menjadi senjata yang terkuat didunia cultivator kekaisaran Wang. Ini dikarenakan keanehan pada tubuhnya yang dipercaya memiliki kekuatan fisik murni yang sangat kuat bahkan tanpa tenaga dalam sekalipun mungkin dia bisa mengalahkan seseorang yang ada ditingkat Bintang Satu Emas dimasa depan.
Tapi sayangnya informasi itu berhasil bocor ke lingkungan Aliran Hitam dan membuat gadis balita ini menjadi buronan terkenal dikalangan itu.
“Apakah masih jauh? Aku sudah begini selama empat hari penuh”
Liu Rong bergumam dengan pikiran yang cemas, tempat yang sedang ia tuju adalah tempat tinggal ‘Jagoan Pedang’ generasi sebelumnya. Dirinya cukup yakin sudah mengambil jalan yang benar dalam perjalanan ke sana, meskipun ada sedikit masalah pada dua hari yang lalu, tapi dirinya berhasil keluar dari masalah itu dengan bantuan pemuda bernama Xin Chen.
Langit malam tidak menghalangi jalannya, mengingat semua orang sudah mempertaruhkan nyawa mereka untuk melindungi nyawa seorang bayi kecil ini. Dirinya sudah dianggap sebagai cahaya satu satu yang bisa menyelamatkan bayi ini yang akan menjadi penyelamat bagi negerinya sendiri dan membalaskan dendam dari negerinya itu, maka dari itulah dia tidak boleh menyerah.
Karena tidak tahu sudah berapa lama ia sudah berlari seperti ini, Liu Rong sedikit tersentak mengetahui pagi sudah tiba, ia juga menemukan jalan buntu sebagai pengakhir dari perjalanannya.
Danau yang indah awal dari perjalanan Xing Chen ini akan menjadi akhir pelariannya, dia sudah tidak tahu akan kemana tujuannya selanjutnya membawa pergi balita yang ada dirangkulannya. Meskipun tugas yang diberikan kepadanya tidak berhubungan sama sekali dengan meminta bantuan kepada mantan Jagoan Pedang, tapi dirinya tetap bersikukuh untuk meminta bantuan mantan Jagoan tersebut.
Ini berawal dari pertemuannya dengan peramal beberapa hari yang lalu saat dirinya masih berada di wilayah perkotaan secara kebetulan, dirinya dijelaskan bahwa kekuatan anak yang dibawanya hanya akan menjadi kutukan dan penyakit bagi anak itu sendiri. Peramal itu juga menjelaskan jika ingin anak itu selamat maka anak itu harus dipertemukan dengan seseorang yang akan menjadi gurunya di benang takdirnya sendiri.
Peramal itu menunjukkan satu arah dengan jari telunjuknya sembari berkata, “Ke sanalah mungkin dirimu akan mendapatkan apa yang kau cari. Di Sana juga ada mantan Jagoan Pedang Dunia, bertanyalah kepadanya tentang situasi anak itu, mungkin dirinya tahu dan bisa menghindari kutukan yang ada pada kekuatan anak itu di masa depan” Dengan kecepatan penuh Liu Rong langsung kearah itu dan sekarang berakhir di danau yang indah ini.
“Apakah Peramal itu berbohong tentang adanya Mantan Jagoan Pedang?” Liu Rong merasa dikhianati oleh kerja kerasnya yang berlari dengan kecepatan penuh kesini selama empat hari tanpa istirahat.
Liu Rong menatap datar pemandangan indah yang ada didepannya tersebut, pikirannya kosong, tubuhnya juga bergetar. Dirinya berpikir untuk apa ia melakukan semua ini, dengan kekuatan yang terus menipis dalam perjalanan, dirinya sudah tidak bisa apa apa saat ini bahkan menggerakkan kakinya saja terasa sangat berat.
Akhirnya Liu Rong memutuskan untuk menangkan pikirannya agar membuat tubuhnya berhenti bergetar, sebenarnya dirinya sudah kelelahan di hari kemarin tapi semangat jiwanya memaksanya untuk tetap berlari. Dan akhirnya sekarang dia menemukan batasannya yang tidak bisa ia lewati, karena pikirannya sudah tenang Liu Rong melanjutkan aktivitasnya dengan mengumpulkan tenaga dalam untuk ia pakai sebagai penjagaan kewaspadaan terhadap lingkungan sekitar.
“Setidaknya seperempatnya saja” Lui Rong fokus untuk mengumpulkan tenaga dalam saat ini, dia berencana untuk meninggalkan tempat ini sebelum matahari tepat di atas kepala.
Bila saja dia menetap ditempat ini lebih lama maka tidak turun kemungkinan adanya kelompok Aliran Hitam yang akan menemukannya mengingat ia telah lolos dari kejaran mereka dua hari yang lalu. Jika dengan logika maka dapat dipastikan bahwa aliran hitam akan mengirimkan pasukan lebih banyak dari yang dikirim kemarin, dan juga jelas akan lebih kuat.
“Sepertinya sudah cukup” Liu Rong menghela napas dalam, dia memang tidak menyesali tugas yang ia laksanakan tapi dihatinya ada perasaan bersalah yang terus mengganjal.
“Andaikan aku bertemu dengan mantan Jagoan Pedang” Liu Rong memejamkan matanya sembari memijat keningnya yang sudah mulai sakit karena sibuk memikirkan tujuannya selanjutnya.
“Sepertinya junior sedang kesusahan… Karena kau sudah menyebutkan namaku dengan benar, ada yang bisa kubantu?” Suara laki laki gagah bergema ditelinga Lui Rong.
Dengan cepat Liu Rong membuka matanya menatap ke depan mendapati seorang laki laki dengan gagah berdiri didepannya, dengan ciri-ciri rambut putih yang laki-laki itu miliki maka sudah dapat dipastikan bahwa dia adalah Jagoan Pedang generasi sebelumnya.
“Junior memberi hormat kepada Senior Jagoan Pedang!” Liu Rong menangkup tinjunya dengan sedikit kaku, tidak bisa dilupakan bahwa dia juga masih membawa bayi dirangkulannya.
Laki-laki itu tertawa kecil menanggapi masih adanya orang yang memanggilnya dengan sebutan itu, karena terkesan kaku dirinya menyuruh Liu Rong untuk memanggilnya dengan panggilan yang biasa saja. Karena tidak memilik jalan kembali dan tidak mungkin baginya untuk menolak permintaan itu, Liu Rong terpaksa memanggilnya seperti kakak seperguruannya.
“Ikutlah dengan ku, kita bicarakan hal di di rumahku”
Liu Rong hanya bisa menuruti laki-laki tersebut, dengan mengendong Xianling yang masih kecil dirinya mengikuti pelan jalannya lelaki tersebut.
<__>
Hari sudah menunjukkan pagi hari dengan matahari yang baru terbit, Xin Chen sudah terbangun sedari tadi dia sedang sibuk menunggu dua bersaudara yang masih terlelap di alam mimpi, yang mungkin indah menurut Xin Chen.
Xin Chen melihat kearah pangkuannya mendapati Xin Ying yang masih tertidur lelap, seperti sebelumnya aura kedamaian masih tidak bisa berhenti keluar dari wajahnya yang imut, membuat Xin Chen tidak pernah berhenti bersyukur dengan takdir yang mempertemukan mereka berdua.
Tamparan dari tangannya sendiri mendarat di pipinya berusaha membuatnya sadar dari pesona adiknya sendiri, jelas dirinya sadar bahwa itu akan sangat berbahaya bagi kesehatan mentalnya, dia takut akan tergila-gila kepada adiknya sendiri dimasa depan.
“Semoga saja aku bisa selamat dari pesona mu itu” Xin Chen tersenyum lembut menatap adiknya, dia juga sedikit menyentuh hidung Xin Ying dengan lembut dan penuh kasih sayang tentunya.
“Uwahh, Sepertinya sudah pagi ya!?” Xian Han menguap dengan keras sebelum menatap Xin Chen yang ada dibelakangnya.
“Pagi!” Xin Chen memberanikan diri untuk menyapa teman barunya dengan senyuman lembut, ini adalah ucapan selamat pagi yang pertama kali yang ia buat di seumur hidupnya, bahkan di kehidupan sebelumnya dia tidak pernah mengatakan kata ini kepada temannya sendiri yang ada pada saat itu.
Ucapannya itu dibalas dengan sapaan yang sama dai Xian Han, membuatnya memiliki kebahagian keberhasilannya sendiri.