NovelToon NovelToon
Montir Ganteng

Montir Ganteng

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:427.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Dareen

Dareen yang selalu dibandingkan oleh papanya dengan kakak kandungnya yang bernama Aril. Dareen madih kuliah sedangkan Aril sudah bekerja. Dareen akhirnya membuktikan pada papanya bahwa ia bisa mandiri tanpa bantuan dari papanya. Dareen mulai ikut bekerja sebagai montir, karena dia mempunyai paras yang tampan. Akhirnya banyak yang menjuluki Montir Ganteng.

Bagaimana Dareen bisa sukses?
Ikuti ceritanya di Montir Ganteng.

Thank's.
Dareen_Naveen (Boezank Jr.)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dareen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part. 17 (Thank's Pertir)

Malam semakin larut. Hening setelah papa dan mama masuk ke dalam kamar. Yang disusul oleh pasangan pengantin baru, bang Aril dan kak Manda yang juga turut serta meninggalkan gue di meja makan.

Gue berniat untuk masuk ke kamar. Menaiki anak tangga yang didesign berkelok menambah keindahan arsitektur dalam rumah. Warna tembok berwarna putih yang ditempel banyak sekali foto keluarga termasuk anggota baru di keluarga kami, yaitu kak Manda.

Kak Manda gadis yang baik, cuma kalau dengan gue enggak terlalu akrab. Gimana mau akrab coba? Gue sama papa aja enggak akrab.

Di luar terdengar suara hujan yang begitu deras. Gue meringkuk di dalam selimut. Tak lama, hujan pun reda, suara gemericik air yang disertakan dengan semilir angin malam yang begitu menusuk. Gue tutup jendela kamar dan gue pejamkan mata hingga suara adzan subuh berkumandang.

***

“Bang, servis motor, ya? Tolong dicek semua aja Bang.” Ujar customer.

“Baik, Mba!” ucap Ferdy.

Si gadis itu tersenyum. Cuma sikapnya agak mencurigakan. Matanya melirik kesana-sini, seolah sedang ada yang ia perhatikan entah mencari apa? Ferdy memperhatikan seraya mengecek motor si customer.

Wajahnya cantik, rambutnya panjang terurai, apabila ia menyibakan rambut panjangnya tercium shampo yang begitu wangi, kek perpaduan wangi daun mint yang di mix dengan wangi buah, begitu lembut diindra penciuman.

“Bang, gue tahu bengkel ini dari sosmed,” ucap wanita cantik yang memecah suasana hening.

“Oh,” jawab Ferdy.

“Perasaan, ada montirnya satu lagi, dia di mana, Bang?”

“Lagi di dalam,” jawab Ferdy yang sedang sibuk memperbaiki motornya.

Hening sesaat, customer yang sibuk dengan gawainya dan Ferdy sibuk memperbaiki kerusakan motor. Suasana di siang ini mendung pekat. Hujan pun akhirnya turun dengan derasnya.

“Nila!” Kata gue yang sedang membawa secangkir kopi dan moccacino panas.

Nila tersenyum dan mendekat.

“Hai Dareen, apa kabar?”

“Allhamdulillah, kabar Gue baik. Fer, ini kopi Lu.”

“Iya, nanti Jang. Lagi nanggung,” jawab Ferdy yang sedang menservis.

Gue sebenrnya males kalau ketemu Nila lagi. Cuma gimana? Sekarang ia telah mampir kebengkel, berarti Nila customer gue juga. Lamunan berkecamuk akan masa lalu Nila. Sayangnya, hingga saat ini Nila masih seperti itu, bahkan lebih parah lagi.

Ingin rasanya meminta Nila untuk pulang, tapi hujan turun dengan begitu derasnya. Nila yang sedari tadi memandangi gue dengan perasaan entah.

“Mau minum apa?” Akhirnya gue mengalah.

“Terserah Kamu aja,” jawab Nila tersenyum manis.

“Ya udah, tunggu sebentar Gue buatin dulu.” Gue ngeloyor ke dapur.

“Dareen.” Nila memanggil.

“Apa?” Gue menoleh.

“Ikut ke belakang, ya?”

“Mau ngapain?” jawab gue heran.

“Mau pipis,” jawab Nila sambil tersenyum.

Nila mengekor dari belakang. Serasa kek induk kucing yang dibuntutin anaknya. Gue menunjukan arah kamar mandinya sedangkan gue membuatkan hot moccachino untuknya. Tak berapa lama, Nila keluar dari kamar mandi. Sepertinya dia merapihkan baju dan make up, karena tadi ia mengendarai motor jadi rada acak-acakan.

Nila dan Yumna sangat berbeda. Nila yang terlalu memperhatikan penampilannya, sedangkan Yumna lebih cuek. Sering sekali ketika jalan bareng Yumna, rambutnya berantakan karena gue sering bawa Yumna pakek motor, tapi gue suka ngeliatnya.

Sedangkan Nila, yang kemana-mana sering dianterin pakek mobil sama pak Beni, sangat menjaga penampilannya membuat gue risih, yang sebentar-sebentar ditaplokin bedak tuh pipinya.

Nila mengekor di belakang gue yang sedang membawa hot moccacino untuknya. Sedangkan Ferdy di luar sedang menikmati secangkir kopi yang ditemani oleh derasnya air hujan. Nila kembali duduk di kursi yang tersedia untuk customer yang sedang menunggu.

“Hot moccachino-nya, Nil.” Gue menyerahkan secangkir minuman untuknya.

“Makasih, Dareen.” Nila meraih.

“Motornya udah beres, Bro?” gue menyakan ke Ferdy.

“Udah sip, semua beres.” Kata Ferdy sambil terus menyeruput kopi panasnya.

Entah mengapa, Nila selalu memandang gue. Ketika gue menenggak moccachino pun tak luput dari pandangannya. Persis seperti awal kita berjumpa di bengkel showroom. Nila selalu memperhatikan gerak gerik gue. Ini yang membuat gue risih, terlebih gue tahu sifat Nila yang haus akan harta.

Hujan belum juga reda. Makin lama tuh si Nila disini, vangke!

“Fer, Gue masuk dulu, ya?”

“Mau ke mana?”

“Ee!” jawab gue sambil ngeloyor.

Gue masuk ke kamar yang ada di lantai atas, gue menaiki anak tangga yang tidak begitu tinggi. Gue membenamkan tubuh di kasur lantai yang memang sengaja gue beli untuk istirahat dikala capek melanda.

Menghela napas dan membuangnya.

Gue seperti orang ***** kalau inget masa lalu di mana Nila hampir menjebak gue, walau semua itu tak terjadi. Pengalaman itu juga yang pada akhirnya gue jadi tahu dengan sifat aslinya. Seorang yang haus akan harta.

Terbesit dalam pikiran gue, gimana dengan Yumna? Apakah ia masih sedih seumpama menghadapi pernikahan papanya dengan wanita simpanannya yang tak lain itu Nila? Seseorang yang gue kenal. Akhirnya gue memutuskan untuk chat WA sekedar ingin tahu kondisi Yumna.

‘Na, Kamu lagi apa?' Chat WA yang gue kirim pada Yumna.

Namun, hanya terlihat centang satu.

Mungkin Yumna masih sekolah. Kata hati gue yg menjawab.

Lima menit berlalu,

Sepuluh memit berlalu,

Hingga segengah jam, akhirnya Yumna video call.

‘Hai ... Oppa.’ Yumna melambaikan tangan.

Terlihat Yumna masih duduk dalam kelas, di mana terlihat bangku-bangku sekolah yang sudah di tinggal oleh penghuninya.

‘Kamu masih di sekolah, Na?’ tanya gue.

‘Iya Oppa. Ini mau pulang kok bentar lagi.’ Yumna terlihat ceria.

‘Sepertinya ada yang senang hari ini?’

Dalam sekejap Yumna tertunduk. sepertinya ia telah menyembunyikan air mata yang terjatuh di pipinya ketika ia menundukan kepala. Namun, dengan cepat Yumna telah menghapusnya sehingga tak terlalu jelas gue melihatnya.

‘Na, Kamu menangis, Sayang? Ada apa?’ tanya gue heran.

‘Engak ada apa-apa, kok’

‘Lalu, kenapa Kamu belum pulang sekolah? Padahal sekolah sepertinya sudah sepi.’

‘Iya, ini mau pesan ojol kok, Oppa.’

‘Lah, si Mamang ke mana?’

‘Sekarang, si Mamang udah enggak kerja di rumah lagi.’

‘Udah, enggak usah chat ojol. Nanti, Kakak yang jemput. Kamu tunggu di sana, ya? Kakak OTW.’

Gue ambil jas hujan, tak lupa jas hujan buat Yumna yang gue masukan ke dalam bagasi motor. Gue ngeloyor untuk menjemput Yumna.

“Mau ke mana, Jang?” tanya Ferdy.

“Gue ada perlu Fer. Sorry Gue tinggal.”

Gue melesat meninggalkan Ferdy dan Nila yang ada di bengkel.

Disepanjang jalan, gue teringat akan Yumna yang tadi terlihat mengusap air mata. Jalanan sepi karena hujan yang sangat lebat. Mestinya, gue cepat nyampe di sekolahan.

“Shit!” Gue terpeleset.

Kali pertama motor gue lecet karena terjatuh. Tapi yang ada di dalam pikir gue Yumna, hanya Yumna. Gue kembali memacu kencang R25. Rasa perih dari lutut dan tangan yang lecet tak gue rasa. Hingga akhirnya gue bertemu Yumna di halte sekolah.

“Na?” Gue memarkir motor di halte sekolah, karena hanya ada Yumna di situ.

“Ya Allah, Oppa. Kenapa ke sini sekarang sih? Kan masih hujan," ucap Yumna.

Gue tersenyum sambil menahan perih dari luka yang terjatuh tadi.

“Kan Kakak udah bilang langsung on the way, Na.”

“Iya, Aku pikir Oppa berangkat tunggu hujan reda. Aku juga enggak apa-apa, kok.” Yumna meyakinkan.

Gue memandang matanya yang tidak mungkin bisa bohong. Mata yang sembab telah menjawab tanpa gue minta klarifikasi. Gue mengusap lembut rambutnya. Yumna menatap gue dalam.

Nah loh! Akhirnya Yumna menangis dan memeluk Gue yang masih memakai jas hujan.

“Na, sebentar,” ucap gue.

“Kenapa?” Yumna melepaskan pelukannya.

“Kakak masih pakai jas hujan.” Gue melepaskan jas hujan yang basah dan robek di bagian lengan juga lutut.

“Ayok, sini,” ucap gue.

“Mau ngapain?” kata Yumna.

“Loh ... kan tadi Kamu peluk Kakak. Ayok mau peluk lagi enggak?” Gue menggoda.

“Ich, ogah! Tadikan spontan, Oppa.” Yumna tertunduk.

“Loh ... itu tangan dan lutut Oppa, kenapa?” tanya Yumna.

“Enggak apa-apa.”

Yumna melirik motor gue yang terparkir tepat di depan kami. Ada guratan bekas terjatuh tadi. Gue masih menahan perih dengan wajah yang basah karena air hujan.

JEDERR!

Suara petir mengagetkan Yumna yang sibuk dengan lamunannya tentang lecet yang ada di motor serta di lengan dan lutut gue. Seperti biasa dia meluk gue mungkin karena ia kaget, entahlah.

“Aww!” gue menarik tangan yang luka karena terpegang ketika Yumna memeluk gue.

Yumna melihat lengan gue. Memang terdapat lecet yang agak besar, mengakibatkan ada rasa perih karena sedari tadi terus terkikis air hujan. Segera Yumna meraih kotak kecil yang ada dalam tasnya. Ternyata kotak P3K.

“Tahan ya, Oppa.” Dia membersihkan luka dan mengobatinya seraya meniupnya pelan.

“Aduh.”

“Perih, ya?” Yumna meniup halus luka gue.

Ya Allah, gue kek anak kecil aja. Padahal luka kek gini doang bisa gue tahan. Tapi kok ada rasa seneng ketika melihat Yumna cemas ya? Kek ada rasa bahagia yang sulit gue utarakan.

“Udah beres.” Yumna melihat celanaku tepat di bagian lutut matanya terhenti.

“Oppa, lututnya juga luka tuh!” Yumna mendekat dan kembali mengobati gue.

Hujan masih sangat deras seakan memberikan waktu untuk kami berduaan di halte. Diiringi dengan kilatan petir yang membuat suasana menjadi romantis. Gimana gak romantis coba? Yumna terus memeluk gue tiap ada petir wkwkwkwk ...

entah ada rasa takut dalam diri Yumna, atau hanya modus semata.

Perit ... Petir ....

*Thank’s* atas hari ini, gue bahagia.

Terbesit dalam hati. Ihiyyyy** ....

1
Sulaiman Efendy
WADUHHH,, UDH TAMAT RUPANYA...
Sulaiman Efendy
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Sulaiman Efendy
MAMPUS LO RIL.. MKANYA JDI LAKI2, JGN GOBLOK,, MNTANG2 ISTRI BLM HAMIL, LLU SLINGKUH...
Sulaiman Efendy
PARAH TU NILA,,UDH JDI ISTRI BENI, MSH JUGA MAIN BLAKANG SAMA ARIL. DN ARIL MMG LKI2 BODOH..
Sulaiman Efendy
KN KALIAN BSA CEK KSUBURAN.. KNP SOLUSINYA HRS SELINGKUH. UDH ITU SELINGKUH DGN WANITA BKAS PAKAI..
Sulaiman Efendy
PSTI MANDA BLM HAMIL,, MKANYA SI ARIL SELINGKUH,, BSA JDI NI SI ARIL YG MNDUL..
Sulaiman Efendy
KLO BENGKEL UDH RAME PELANGGAN, KNP GK REKRUT PEKERJA BIAR GK KETETERAN..
Sulaiman Efendy
WAHHH SI ARIL SELINGKUH NI KYKNYA
Sulaiman Efendy
DINASEHATKN AWALNYA SJA SADAR, SKRG MLH MKIN PARAH..
Sulaiman Efendy
LBH BAGUS LO SELIDIKI, ATAU LO CHAT SI NILA..
Sulaiman Efendy
SEBESAR APA GAJI BENI DI PRUSAHAAN PAPA DAREEN, HINGGA BSA BLANJAIIN NILA BRG2 BRANDED, JGN2 KORUPSI TU SI BENI
Sulaiman Efendy
DI BLANJAIIN BENI, WAJAR BRANDED..
Sulaiman Efendy
BISA JDI MMG ANAK BENI, DN SI BENI SELINGKUH SAMA NILA..
Sulaiman Efendy
JGN2 YUMNA ANAK SI BENI...
Sulaiman Efendy
YA AMPUN NILA, UDH DI NASEHATI DAREEN. MSH AZA BRHUBUNGN DGN SI BENI..
Sulaiman Efendy
WAAHHH DARI TANTE2, MBAK2, SEBAYA, DN ABG, SUKA MA DAREEN..
Evi
thoor hubungan Aril sama nila bagai mana,. itu si nila hamil ank siapa bpk nya???
jd penasaran aq thoor
abdan syakura
Assalamu'alaikum kak Darren..
salken....
Kuy.....nyimak nih...😊🤝👍💪
Dareen: waalaikum salam, ..
terima kasih udh singgah di novel saya, Kak 🙏
total 1 replies
Qaisaa Nazarudin
dapet brondong nih🤣🤣
Qaisaa Nazarudin
Katanya Nila ini seumuran dgn Ariel iya,berarti tua Nila iya sama Darren..😅😅
Dareen: iya 😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!