NovelToon NovelToon
Manis Yang Tidak Pernah Kumiliki

Manis Yang Tidak Pernah Kumiliki

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: teteh lia

Setelah diminta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, Viola Shania memilih memulai hidup baru dengan membuka toko kue sederhana bernama Sweet Cake.
Di balik senyum manis dan kue-kue manis yang dibuatnya, tersimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Sebuah kejadian tak terduga mengubah jalan hidupnya, memaksanya menikah dengan Han Seokjin, seorang CEO dingin, angkuh, berusia 35 tahun. Han Seokjin menutup rapat pintu hatinya setelah cinta tak berbalas terhadap sepupunya sendiri.
Di tengah pernikahan yang penuh tantangan, Viola bertekad mencairkan hati suaminya.
Mampukah ia meraih cinta Seokjin, atau justru menyerah pada takdir yang tak pernah berpihak padanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Satu bulan kemudian ....

"Hari ini kami jadi ikut beres-beres di tempat barunya, Bu?" Siska bertanya dengan nada antusias. Tangannya masih sibuk memasukkan beberapa peralatan dapur kecil ke dalam kardus.

"Kalian ikut beres-beres di tempat baru. Karena itu, cepatlah mengepak seluruh kardus ini." Viola menjawab sambil melanjutkan pekerjaannya melakban kardus-kardus besar di hadapannya. "Jangan sampai ada yang tertinggal."

"Siap, Bu!" Siska langsung kembali sibuk. Wajahnya terlihat jauh lebih cerah dibanding dua minggu lalu, ketika Viola pertama kali memberitahukan bahwa Sweet Cake akan pindah.

Saat itu ketiganya hanya terdiam. Mereka sudah terlalu nyaman di tempat ini. Bukan hanya karena pekerjaan, tetapi karena toko kecil itu perlahan terasa seperti rumah kedua bagi mereka.

Mereka juga sempat takut. Takut Viola akan mencari karyawan baru, sedangkan mereka membutuhkan pekerjaan itu. Namun, Viola justru menawarkan sesuatu yang membuat ketiganya lega.

Mereka boleh ikut pindah dengan syarat mereka harus mendapatkan izin dari keluarga masing-masing. Dan ternyata, tidak satu pun dari mereka yang mendapat penolakan.

"Bu, saya sudah selesai dengan kardus ini." Dimas mengangkat kardus berisi beberapa peralatan dapur.

"Bagus. Taruh di dekat pintu dulu. Nanti kita kelompokkan berdasarkan barangnya."

"Baik, Bu." Dimas membawa kardus itu ke depan.

Rani muncul dari bagian dapur sambil membawa beberapa loyang. "Bu, loyang yang ini masuk kardus mana?"

"Yang itu gabungkan dengan peralatan dapur," jawab Viola.

"Siap, Bu." Rani kembali bekerja.

Suara lakban ditarik, kardus bergeser, dan langkah kaki mereka memenuhi toko yang selama dua hari terakhir sudah tidak menerima pelanggan.

Tidak ada aroma roti yang baru matang, suara pintu yang terbuka karena pelanggan, maupun suara pesanan yang dipanggil. Kini hanya ada suara mereka berempat yang sibuk mengemasi kenangan.

Viola berhenti sejenak, matanya menyapu ruangan. Etalase yang selama berbulan-bulan selalu dipenuhi cake dan roti kini kosong. Meja-meja pelanggan sudah dipindahkan, sementara dinding yang dulu dihiasi beberapa foto kue buatannya mulai terlihat kosong. Ada rasa sesak yang tiba-tiba muncul.

"Bu?" Suara Rani membuat Viola menoleh.

"Kenapa?"

Rani tersenyum kecil. "Ibu sedih?"

Viola terdiam sejenak lalu menggeleng pelan. "Tidak." Ia kembali mengambil gulungan lakban. "Kita bukan meninggalkan Sweet Cake. Kita hanya memindahkannya."

Rani mengangguk setuju.

"Bu Viola benar." Dimas yang sedang mengangkat kardus ikut menimpali. "Justru kita harus bekerja lebih keras di tempat baru."

"Kalian memang harus bekerja lebih keras." Viola tersenyum tipis. "Jangan kira pindah ke pusat kota berarti kita bisa santai."

"Siap, Bu!" Dimas ikut tertawa.

Siska dan Rani ikut tertawa. Tawa mereka membuat suasana yang sempat terasa berat menjadi lebih sedikit ringan.

Viola kembali menatap sekeliling. Tempat ini mungkin tidak lagi menjadi rumah Sweet Cake, tetapi tempat ini pernah menjadi awal. Di sinilah ia belajar berdiri lagi setelah meninggalkan kehidupan lamanya.

Di sinilah ia membuat adonan pertama, membakar kue, menerima pelanggan, dan mempekerjakan tiga orang yang kini berdiri di sampingnya.

"Bu, kardus terakhir!" Siska mengangkat tangan.

"Sudah selesai semua?" tanya Viola.

"Hampir."

"Kalau begitu periksa lagi." Viola berdiri. "Pastikan tidak ada barang kecil yang tertinggal di dapur, gudang, atau ruangan lain."

"Baik."

Ketiganya berpencar.

Viola berjalan menuju dapur. Tangannya menyentuh meja kerja yang sudah kosong. Ia mengusap permukaannya perlahan. Ada begitu banyak pagi yang ia habiskan di tempat itu, begitu banyak malam ketika ia masih sibuk membuat adonan sendirian, begitu banyak kegagalan yang akhirnya berubah menjadi resep baru, dan sekarang semuanya harus ditinggalkan.

Namun, kali ini ia tidak merasa kehilangan. Ia hanya sedang membawa Sweet Cake menuju tempat baru.

"Semoga kita bisa tumbuh lebih besar di sana." Viola bergumam pelan.

Rani yang kebetulan berada dekat pintu mendengarnya. "Kita pasti bisa, Bu."

Viola menoleh. "Kenapa kau yakin?"

"Karena selama Ibu masih membuat kuenya, pelanggan pasti datang."

Viola tersenyum. Kalimat sederhana itu justru membuat dadanya terasa hangat. "Kalau begitu, ayo cepat selesaikan."

"Siap!"

Mereka kembali bekerja.

Beberapa jam kemudian, hampir semua kardus sudah tertata. Viola berdiri di tengah ruko yang kini nyaris kosong. Ia memandang tempat itu sekali lagi.

Beberapa hari lagi, Sweet Cake akan membuka lembaran baru. Entah seperti apa kehidupan mereka di pusat kota nanti, tetapi satu hal yang Viola tahu. Kali ini ia tidak lagi berjalan sendirian. Ada Rani, Siska, dan Dimas yang ikut bersama dengannya.

****

Setelah menempuh dua jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di depan gedung baru Sweet Cake.

"Bu ... ini beneran tempat baru Sweet Cake?" Siska berdiri di depan bangunan dua lantai itu dengan mata berbinar. Pandangannya bergerak dari halaman yang luas menuju bangunan utama yang terlihat jauh lebih besar daripada toko mereka sebelumnya.

"Mulai sekarang kita bekerja di sini." Viola tersenyum kecil.

"Serius, Bu. Tempatnya besar sekali." Dimas ikut menatap sekeliling. "Parkirannya saja lebih luas daripada toko kita yang lama.

Rani tertawa kecil. " Jangan-jangan nanti pelanggan kita malah bingung mencari pintu masuk."

"Kalian akan terbiasa." Viola mengangkat salah satu kardus kecil yang baru saja diturunkan dari kendaraan. "Daripada terus berdiri di sini, lebih baik bantu angkat barang."

"Siap, Bu!"

Mereka bertiga langsung bergerak.

Bangunan itu memang jauh berbeda dari tempat lama mereka. Area depan cukup luas untuk dijadikan tempat pelanggan menikmati cake. Ruangan utama juga memungkinkan Viola membuat etalase yang lebih besar Bahkan bagian dapurnya jauh lebih besar.

Sweet Cake terasa seperti usaha yang siap untul tumbuh lebih besar.

"Nona Viola!"

Viola menoleh. "Asisten Kim?"

Asisten Kim berdiri beberapa langkah darinya. "Saya sudah menunggu sejak tadi."

"Anda datang untuk membantu?"

"Saya diperintahkan Tuan Han untuk memastikan proses kepindahan berjalan lancar."

Viola mengangguk. "Terima kasih. Tapi seharusnya tidak perlu repot seperti ini. Kami bisa mengurusnya sendiri."

"Sama sekali tidak merepotkan, Nona." Asisten Kim mengambil kardus dari tangan Viola. "Lagipula saya tidak datang sendiri."

Benar saja. Baru selesai Asisten Kim berucap, dari arah belakang bangunan muncul beberapa orang pria yang segera menghampiri dan membantu mengangkat barang-barang mereka.

Viola tersenyum kecil. "Kalau begitu, saya tidak akan menolak lagi."

Mereka kemudian berjalan memasuki bangunan depan.

"Bagaimana dengan bangunan belakang? Apa semua sudah dibersihkan?" Viola bertanya sambil menunjuk ke arah bangunan di belakang bangunan utama.

"Sudah, Nona. Semuanya sudah dibersihkan sebelum Anda datang." Asisten Kim mengangguk.

"Kalau begitu saya ingin melihatnya." Viola berjalan lebih dulu menuju bangunan belakang. Asisten Kim mengikuti beberapa langkah di belakangnya.

"Ruangan ini nantinya bisa digunakan sebagai tempat tinggal." Asisten Kim menunjuk salah satu ruangan.

Viola membuka pintunya dan melihat ke dalam. "Lebih luas dari yang saya bayangkan." Ia masuk beberapa langkah. Matanya menyapu ruang yang masih kosong. "Dan semuanya sudah bersih."

"Kalau ada bagian yang ingin dirubah, Anda bisa langsung memberi tahu saya." Asisten Kim berdiri di ambang pintu. "Saya akan mengurusnya."

"Terima kasih." Viola tersenyum kecil.

Mereka kemudian berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain. Asisten Kim kembali menjelaskan sekaligus memberi saran fungi setiap bagian bangunan. Sementara Viola menerima setiap saran yang Asisten Kim ucapkan.

"Asisten Kim." Viola berhenti berjalan. Ia kemudian menatap wajah pria berkacamata itu. "Tolong sampaikan terima kasih saya pada Tuan Han."

Asisten mengangguk pelan. "Saya akan menyampaikannya."

Viola tersenyum tipis. "Saya sudah begitu banyak merepotkannya." Ia berkata sembari kembali berjalan.

"Tuan Han tidak merasa direpotkan," jawab Asisten Kim.

"Jujur saja, awalnya saya merasa khawatir tidak akan menemukan tempat yang sesuai." Suara Viola terdengar pelan. "Saya sudah melihat beberapa bangunan, tetapi harga sewanya terlalu tinggi."

Viola berhenti di dekat jendela. "Sampat akhirnya Tuan Han datang menawarkan tempat ini." Senyum tipis terukir di sudut bibirnya. "Ia bahkan memberikan kebebasan soal harga sewanya."

"Tuan Han memang sangat bijaksana," ucap Asisten Kim. Pria itu sudah cukup lama bekerja dengan atasannya. Tentu saja ia tahu, dibalik sikap tegas seorang Han Seokjin, selalu terselip sebuah kebijaksanaan yang tidak banyak disadari orang lain.

Tanpa mereka sadari, tiga pasang mata sejak tadi memperhatikan dari kejauhan.

Rani yang sedang menyusun beberapa kardus melirik ke arah mereka. Siska pura-pura sibuk membuka lakban kardus, tetapi matanya sesekali mencuri pandang. Sementara Dimas bahkan berhenti mengangkat kardus selama beberapa detik.

"Mereka mengobrol terus." Rani berbisik.

Siska menahan senyum. "Wajah Bu Viola juga terlihat bahagia."

Dimas menggeleng kecil. "Kalian jangan mulai lagi."

"Tapi mereka kelihatan serasi." Rani berkata sembari menyusun barang. "Bu Viola jarang tersenyum seperti itu kalau bicara dengan orang lain."

"Aku yakin, mereka pasti punya hubungan khusus." Siska ikut menimpali.

Dimas tidak menjawab. Ia hanya kembali mengangkat kardus. Namun, kalian ini, matanya sempat mengikuti Viola yang berjalan bersama pria berkacamata itu.

Sementara Viola sendiri tidak menyadari apa pun. Ia masih tidak menyangka, kegelisahan yang sempat menderanya, kini terkikis dan tergantikan dengan sebuah harapan baru.

Tempat itu bukan sekedar bangunan baru. Bagi Viola, tempat itu adalah sebuah kesempatan untuk semakin mengembangkan usahanya.

*** Bersambung.

1
-Thiea-
viola gak kalah cantik kok sama Nara. semoga vio bisa membuat seokjin move on ya dari Nara..🫰
Lisa
Wah apa nih yg mau dibicarakan oleh Seokjin pd Nara..
〈⎳ FT. Zira
dalam hati "kenapa Vio gak nyapa.?" 🤣
Teteh Lia: Nyapa dia, kak. dansa bareng malah 🤭
total 1 replies
Lisa
Wah Viola cantik banget dgn gaun yg dr Seokjin..👍
mama Al
kalau di tengah kota emang mahal viola.
coba kalau jauh dari perkotaan, harga nya ga murah ga kemahalan juga.
mama Al
Hmmm bisa jadi di carikan tempat sekaligus di jadikan bini 🤭
ngarep boleh ya Thor
mama Al
tenang viola akang Seok jin lagi nyari tempat yang pas buat kamu
Lisa
Wah Seokjin perhatian banget nih sama Viola..sukses y Viola utk sweet cakenya..pasti deh byk pengusaha yg tertarik utk bekerja sama dgn sweet cake..
Lisa: wah ada pengorbanan juga y Kak
total 2 replies
Lisa
Senengnya sweet cake makin ramai dan byk pelanggan..sukses trs y sweet cake..semangat y Viola..aplg nanti sweet cake hadir dlm acara ultahnya Danubrata grup..pasti makin byk yg mengenal sweet cake..
Lisa
Oke Kak Lia ntar aq mampir di kisahnya Sagara & Nara juga 😊
Lisa: Sama² Kak Lia..aq suka ceritanya menarik Kak..
total 2 replies
Lisa
Puji Tuhan sweet cake rame lg.ada tamu spesial nih kayaknya..siapa y mereka..
mama Al
Apa Nara mengatakan sesuatu pada viola terkait bangunan itu.
mama Al
jangan mau viola, beda tempat beda rezeki
mama Al
ya wajar ngga di kabari soal undangan soalnya pemilik juga ga mau datang. menolak menyerahkan toko.
mama Al
setelah di bab kmarin aku ngira asisten Kim adalah perempuan dan sekarang terjawab sudah 😁
mama Al: bab sebelah maksudnya
total 1 replies
mama Al
hmmm jangan bilang dia mau mendekati viola supaya bisa mengambil alih ruko.
Lisa
👍👍 pasti sweet cake di hari kedua ini lebih rame..semangat y Viola..pelangganmu pasti tetap dtg meskipun tmptnya pindah.
Lisa
Selamat y Viola utk grand opening sweet cake nya..meskipun di hari pertama ini byk pembeli yg dtg atas saran dr Seokjin..moga utk hari² selanjutnya mereka tetap dtg bahkan semakin byk pelanggan lain yg dtg.
-Thiea-
jangan rendah diri viola. kamu pasti bisa menemukan seseorang yang menjadikan kamu orang terpenting dalam hidupnya.
Lisa
Wah tmptnya strategis banget Kak 👍👍 pasti sweet cake makin laris 😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!