NovelToon NovelToon
Takhta, Cinta, Dan Rahasia

Takhta, Cinta, Dan Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:408
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Raffi adalah anak di luar nikah dari Mahesa Pratama, Presiden Direktur Pratama Group Hotel, hasil hubungannya dengan Maya Indira. Meski lahir tanpa status yang diakui keluarga, Raffi mewarisi kecerdasan, bakat kepemimpinan, dan naluri bisnis yang membuat Mahesa diam-diam berniat menjadikannya penerus kerajaan bisnisnya.

Namun, keputusan itu memicu amarah istri sah Mahesa. Demi memastikan putra kandungnya, Julian, menjadi satu-satunya pewaris Pratama Group Hotel, ia menyusun berbagai rencana licik untuk menyingkirkan Raffi. Berbagai fitnah, pengkhianatan, hingga perebutan hak waris membuat Raffi kehilangan segalanya dan dipaksa memulai hidup dari nol.

Dengan tekad yang tak pernah padam, Raffi membangun kembali kariernya dari bawah. Ia berjuang membuktikan bahwa kesuksesan bukan ditentukan oleh status kelahiran, melainkan kerja keras, kemampuan, dan keteguhan hati. Langkah demi langkah, ia bangkit untuk merebut kembali tempat yang seharusnya menjadi miliknya dan cintanya dengan dewi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

luka yang tidak bisa dibeli

Naura memarkir mobilnya di halaman rumah keluarga Pratama dengan perasaan gelisah. Sejak turun dari kendaraan, ia sudah menyiapkan berbagai alasan di dalam kepalanya. Semalaman tidak pulang tanpa memberi penjelasan yang jelas pasti akan mengundang kemarahan Bu Ratih. Ia bahkan membayangkan mertuanya akan langsung menyindirnya begitu ia melangkah masuk.

Namun, dugaan itu sama sekali meleset.

Begitu pintu rumah terbuka, Bu Ratih justru menyambutnya dengan senyum hangat.

"Naura, akhirnya pulang juga. Ibu tadi sengaja membuatkan ramuan herbal untuk menyegarkan badan. Minumlah selagi masih hangat."

Naura terdiam beberapa saat. Tatapannya berpindah dari wajah Bu Ratih ke cangkir berisi minuman hangat yang disodorkan kepadanya. Sikap ramah itu terasa begitu asing hingga membuatnya semakin bingung.

"Ibu... tidak marah?" tanyanya hati-hati.

Bu Ratih tersenyum lembut. "Marah untuk apa? Duduklah dulu."

Naura perlahan duduk di sofa sambil menggenggam cangkir itu. Jantungnya masih berdegup cepat. Semua alasan yang telah ia susun sejak di perjalanan tiba-tiba terasa tidak berguna.

"Maaf, Bu. Semalam saya menemani teman yang sedang sakit," ucap Naura berusaha terdengar tenang. "Suaminya baru berangkat ke luar negeri untuk bekerja, jadi dia sendirian. Saya tidak tega meninggalkannya."

Bu Ratih mengangguk pelan tanpa sedikit pun menunjukkan rasa curiga.

"Kamu memang anak yang berhati baik," katanya sambil menepuk pelan tangan menantunya. "Menolong orang yang sedang kesusahan adalah perbuatan yang mulia. Ibu justru bangga punya menantu seperti kamu."

Naura memaksakan senyum, meski di dalam hatinya muncul rasa tidak nyaman. Ia sama sekali tidak menyangka kebohongannya diterima begitu saja.

"Terima kasih, Bu."

"Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Minumlah ramuannya. Ibu membuatnya khusus agar badanmu tetap segar. Sebentar lagi kamu juga harus menyusul Mahesa ke vila membawa berkas yang dia butuhkan."

Mendengar nama Mahesa disebut, tangan Naura yang memegang cangkir sempat menegang. Ia segera menyembunyikan kegugupannya dengan menyesap minuman hangat itu.

Sementara Bu Ratih memandangi menantunya dengan senyum penuh harapan. Di dalam hatinya, ia teringat kembali ucapan sang cenayang tentang kabar baik yang akan segera datang. Karena itulah, pagi itu ia memilih memperlakukan Naura dengan penuh perhatian, tanpa menyadari bahwa di balik senyum menantunya tersimpan rahasia besar yang perlahan mengancam keharmonisan keluarga Pratama.

Setelah menghabiskan ramuan hangat yang dibuat Bu Ratih, Naura mengira dirinya bisa segera berangkat ke vila. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat meja makan yang dipenuhi berbagai hidangan bergizi. Semangkuk sup ayam kampung, ikan kukus, sayuran hijau, buah-buahan segar, hingga segelas susu hangat telah tersaji dengan rapi.

Naura menatap semua makanan itu dengan heran.

"Ibu... ini untuk siapa?" tanyanya.

Bu Ratih tersenyum lebar. "Tentu saja untuk kamu. Duduklah dan makan yang banyak."

Naura masih belum memahami maksud mertuanya.

"Ibu sengaja menyiapkan makanan yang bergizi supaya tubuhmu tetap bugar. Di vila nanti kamu dan Mahesa bisa menikmati waktu berdua dengan tenang. Kalian sudah lama tidak memiliki kesempatan seperti ini."

Kalimat itu membuat tangan Naura yang hendak mengambil sendok seketika terhenti.

Bu Ratih melanjutkan ucapannya dengan wajah penuh harapan.

"Ibu berharap perjalanan kali ini menjadi bulan madu kedua bagi kalian. Lupakan dulu pekerjaan dan segala kesibukan. Fokuslah membangun kebahagiaan rumah tangga. Siapa tahu sepulang dari vila, kalian membawa kabar yang selama ini paling Ibu nantikan."

Jantung Naura berdetak semakin cepat. Ia menatap Bu Ratih dengan mata membulat, berusaha menyembunyikan keterkejutannya.

"Kabar baik?" tanyanya pelan.

Bu Ratih mengangguk penuh keyakinan.

"Iya. Ibu berharap keluarga ini segera dikaruniai cucu. Sudah terlalu lama Ibu menunggu. Melihat kalian berangkat berdua ke vila, hati Ibu merasa kali ini akan menjadi awal yang baik."

Naura memaksakan senyum, meski hatinya mulai diliputi kegelisahan. Setiap ucapan Bu Ratih terasa seperti beban yang menekan dadanya. Andai saja mertuanya mengetahui bahwa selama ini rumah tangganya tidak seindah yang terlihat, tentu senyum penuh harapan itu akan berubah menjadi kekecewaan.

"Terima kasih, Bu," ucap Naura lirih.

Bu Ratih mengusap lembut punggung tangan menantunya.

"Jangan lupa makan sampai habis. Tubuh yang sehat akan membuat perjalanan kalian lebih nyaman. Ibu akan menunggu kalian pulang membawa kebahagiaan."

Naura hanya mampu menganggukkan kepala. Di balik senyum tipis yang ia tampilkan, pikirannya justru dipenuhi kecemasan. Ia sadar, perjalanan ke vila kali ini bukan sekadar mengantarkan berkas untuk Mahesa, tetapi juga menjadi awal dari rahasia-rahasia yang perlahan mulai saling bertabrakan.

Maya mengurung diri di kamar sejak pagi. Ia duduk di tepi ranjang sambil memeluk kedua lututnya. Tatapannya kosong mengarah ke jendela yang memperlihatkan hamparan pepohonan hijau. Udara pegunungan yang sejuk sama sekali tidak mampu menenangkan pikirannya. Semakin ia berusaha melupakan kejadian semalam, bayangan itu justru semakin jelas memenuhi benaknya. Air mata kembali mengalir tanpa suara. Di dalam hatinya hanya ada satu keinginan, segera meninggalkan vila dan melupakan semua yang telah terjadi.

Di luar vila, Mahesa memilih menghubungi beberapa karyawan untuk membantu membersihkan halaman dan merapikan taman. Ia merasa perlu menyibukkan diri agar kepalanya yang masih berdenyut tidak terus dipenuhi tanda tanya. Tak lama kemudian, beberapa pekerja datang membawa peralatan kebersihan.

Karena tidak memiliki agenda lain sebelum kedatangan Naura, Mahesa ikut turun tangan. Jas kerjanya telah berganti dengan pakaian santai. Sesekali ia mengangkat pot bunga, memangkas ranting yang mengering, dan membantu menyapu dedaunan yang berserakan. Melihat atasannya bekerja bersama mereka, para karyawan pun merasa lebih santai.

"Pak Mahesa, semangat sekali hari ini," canda salah seorang pekerja sambil tertawa. "Pasti karena sebentar lagi Ibu Naura datang. Wah, bisa dibilang ini bulan madu kedua, ya, Pak."

Beberapa karyawan lain ikut tertawa kecil. Suasana yang semula santai berubah hangat oleh gurauan ringan.

Mahesa ikut tersenyum tipis, tetapi senyum itu hanya bertahan sesaat.

Kalimat bulan madu kedua tiba-tiba menghantam pikirannya. Dalam sekejap, potongan-potongan ingatan yang semalam kabur mulai bermunculan. Ia teringat dirinya memanggil seseorang dengan nama Naura. Ia juga teringat mengucapkan keinginan untuk menjalani bulan madu agar segera memiliki anak.

Napas Mahesa mendadak tertahan.

Bukan Naura...

Wajah yang muncul dalam ingatannya perlahan menjadi jelas.

Itu Maya.

Seketika wajah Mahesa memucat. Sapu yang berada di tangannya terlepas dan jatuh ke tanah. Para karyawan menoleh heran melihat perubahan ekspresinya yang begitu drastis.

"Pak... Bapak tidak apa-apa?" tanya salah seorang pekerja.

Mahesa tidak segera menjawab. Dadanya terasa sesak, sementara rasa bersalah mulai menghantam tanpa ampun. Kini ia mulai mengerti mengapa Maya menangis, mengapa gadis itu ingin pergi, dan mengapa tatapan kebencian itu begitu nyata saat ditujukan kepadanya.

"Astaga..." bisiknya lirih.

Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Kepalanya terasa semakin berat, bukan lagi karena sisa alkohol, melainkan karena penyesalan yang perlahan menggerogoti hatinya. Ia tidak pernah membayangkan sebuah malam yang nyaris hilang dari ingatannya justru meninggalkan luka sebesar itu pada seseorang yang selama ini begitu menghormatinya.

Tanpa memedulikan tatapan bingung para karyawan, Mahesa melangkah cepat menuju pintu vila. Di dalam benaknya hanya ada satu tujuan, menemui Maya. Namun, semakin dekat langkahnya ke kamar Maya, semakin besar pula ketakutan yang menyelimuti hatinya. Ia sadar, ada kesalahan yang mungkin tidak akan pernah bisa diperbaiki hanya dengan sebuah permintaan maaf.

Pintu kamar perlahan terbuka. Maya melangkah keluar dengan wajah pucat dan mata yang masih sembap. Begitu mengangkat pandangan, langkahnya langsung terhenti. Mahesa berdiri beberapa meter di depannya dengan wajah penuh penyesalan. Tatapan mereka bertemu dalam keheningan yang terasa begitu berat.

Mahesa menarik napas panjang. Kini, potongan-potongan ingatan semalam telah kembali memenuhi kepalanya. Semakin jelas yang ia ingat, semakin besar rasa bersalah yang menghimpit dadanya.

"Maya..." suaranya terdengar serak. "Aku sudah mengingat semuanya. Aku... benar-benar minta maaf."

Maya tidak menjawab. Tatapannya kosong, tetapi sorot matanya menyimpan luka yang begitu dalam.

"Aku tidak akan mencari alasan atas apa yang terjadi," lanjut Mahesa sambil menundukkan kepala. "Apa pun yang kamu rasakan sekarang, aku mengerti kalau itu akibat perbuatanku. Aku sungguh menyesal."

Air mata Maya kembali menggenang.

"Penyesalan Bapak tidak akan mengembalikan ketenangan saya," ucapnya lirih.

Mahesa mengepalkan kedua tangannya. "Aku akan bertanggung jawab. Aku tidak akan lari dari kesalahan ini."

Maya menggeleng pelan. Senyum pahit terukir di bibirnya.

"Bertanggung jawab?" bisiknya. "Bagaimana caranya? Bapak sudah memiliki istri. Saya hanya pegawai."

Ucapan itu membuat Mahesa terdiam. Ia tahu tidak ada kalimat yang mampu menghapus luka di hadapannya.

Setelah beberapa saat diliputi kebimbangan, Mahesa berbicara kembali dengan suara yang jauh lebih pelan.

"Aku juga memohon... untuk sementara, jangan sampaikan masalah ini kepada Naura ataupun Ibu. Beri aku waktu untuk memikirkan jalan keluarnya."

Maya masih diam.

Mahesa menelan ludah sebelum melanjutkan.

"Aku akan memastikan kebutuhanmu terpenuhi. Kalau kamu kehilangan pekerjaan atau membutuhkan biaya untuk memulai hidup baru, aku siap membantu secara finansial."

Belum sempat Mahesa menyelesaikan kalimatnya, wajah Maya berubah. Tatapan sedihnya seketika dipenuhi kemarahan.

"Jadi menurut Bapak..." suaranya bergetar, "...semua ini bisa diselesaikan dengan uang?"

Mahesa langsung menggeleng.

"Bukan begitu maksudku. Aku hanya ingin—"

Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Mahesa. Suaranya memecah kesunyian vila.

Mahesa tidak membalas. Ia tetap berdiri mematung, menerima tamparan itu dengan kepala tertunduk.

Air mata Maya kini mengalir tanpa bisa dihentikan.

"Saya memang bukan orang kaya," katanya dengan napas tersengal. "Tapi saya masih punya harga diri. Jangan pernah berpikir bahwa luka seseorang bisa diukur dengan uang."

Setiap kata yang keluar dari bibir Maya terasa menghantam hati Mahesa.

"Saya datang ke sini untuk bekerja dengan jujur," lanjut Maya. "Bukan untuk diperlakukan seolah hidup saya bisa dibeli."

Mahesa memejamkan mata. Rasa bersalah yang sejak tadi memenuhi dadanya kini berubah menjadi penyesalan yang jauh lebih dalam. Ia menyadari bahwa niatnya untuk memberikan bantuan justru terdengar seperti penghinaan bagi seseorang yang sedang terluka.

Dengan suara lirih, ia hanya mampu berkata, "Maaf... Aku salah. Bahkan dalam caraku mencoba memperbaiki keadaan."

Maya menghapus air matanya dengan punggung tangan. Tanpa mengatakan apa pun lagi, ia melangkah melewati Mahesa. Sementara itu, Mahesa tetap berdiri di tempatnya, membiarkan langkah Maya menjauh, dihantui kesadaran bahwa ada luka yang tidak dapat dipulihkan hanya dengan penyesalan atau harta sebanyak apa pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!