Keira Lo bukan siapa-siapa.
Yatim piatu, lulusan SMA, hidup dari upah serabutan di desa kecil Jawa Tengah. Satu-satunya alasan dia masih bertahan: Kiara — kembaran-nya yang mengalami kerusakan otak setelah diserang tiga tahun lalu. Keira butuh uang. Banyak. Dan satu-satunya jalan adalah menjadi pengasuh bayi di kediaman keluarga Ciu — konglomerat terkaya di Jakarta yang terkenal kejam.
Dia datang dengan koper lusuh dan tangan penuh luka. Mereka menatapnya seperti debu yang tersasar ke istana marmer.
Tapi ketika bayi keluarga Ciu nyaris meninggal di tangan pengasuh berpengalaman — dan Keira yang menyelamatkannya dengan tangan gemetar — segalanya berubah.
Empat pewaris. Empat hati yang berbeda. Semua jatuh pada gadis yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14: Tiga Nyonya
"Dia lebih pintar dari yang sebelumnya," ucap Melissa pelan kepada seseorang di seberang sana. Senyumnya tetap manis. "Kita bisa memakainya."
Keira tidak mendengar kalimat itu.
Beberapa hari setelah pertemuan dengan Nyonya Ketiga, ia hanya merasakan akibatnya.
Namanya semakin sering dipanggil.
Pagi ia membantu Stephanie dan bayi. Siang ia kadang diminta mengawasi Jayden saat pengasuh lamanya kewalahan. Sore ia mengisi catatan tidur, makan, dan suasana hati dua rumah kecil yang sama-sama rapuh, kamar Stephanie dan ruang bermain Jayden.
Luka di lengannya mulai mengering, tetapi setiap kali ia mengganti perban, ia teringat ruang laundry.
Ningsih tidak lagi menyentuhnya.
Namun tatapan perempuan itu di dapur berubah menjadi lebih tenang. Bukan menyerah. Lebih seperti orang yang memilih menunggu waktu yang lebih aman untuk menyerang.
Pada hari kelima, Bi Sari memanggil Keira ke ruang servis dekat aula kaca.
"Hari ini arisan keluarga," katanya. "Kau bantu sajikan teh dan makanan kecil. Jangan banyak bicara. Dengarkan hanya kalau ditanya."
Keira mengangguk. "Baik, Bi Sari."
Aula kaca menghadap taman belakang. Di luar, rumput dipotong rapi dan kolam ikan memantulkan cahaya siang. Di dalam, meja panjang dipenuhi kue lapis legit, risoles kecil, pastel, potongan buah, dan cangkir porselen tipis. Perempuan-perempuan keluarga Ciu datang dengan kebaya modern, gaun ringan, tas mahal, dan senyum yang terdengar lebih tajam daripada suara sendok.
Keira berdiri di sisi meja minuman.
Ia belum pernah melihat kekuasaan dibuat selembut ini.
Vivienne duduk di kursi utama, tidak perlu diumumkan tetapi semua orang tahu. Kebayanya warna biru tua, rambutnya tersanggul rendah. Wajahnya tetap anggun, tetapi dari dekat Keira melihat kantong tipis di bawah matanya. Nyonya Besar itu tampak seperti orang yang sudah terlalu lama memegang rumah besar dengan dua tangan yang tidak boleh gemetar.
Melissa duduk di sisi kanan, sedikit lebih maju daripada yang sopan tetapi tidak cukup jelas untuk disebut melangkahi. Ia tertawa paling hangat, menuangkan pujian paling manis, dan selalu berhasil membuat percakapan berputar ke tempat yang menguji Vivienne.
Di sisi kiri, seorang perempuan lain duduk hampir tanpa suara.
Celeste Sim.
Nyonya Kedua.
Keira mengenal namanya dari buku aturan dan bisik staf. Istri Albert Ciu. Mama Ko Kevin. Perempuan yang jarang meminta apa pun dan hampir tidak pernah terlihat di keramaian.
Celeste mengenakan baju warna abu muda. Tidak ada perhiasan mencolok selain cincin tipis. Wajahnya lembut, tetapi kelembutan itu bukan hangat. Lebih seperti porselen yang sudah lama disimpan di lemari, utuh dari jauh, retak halus dari dekat.
"Teh oolong untuk Nyonya Besar," bisik Bi Sari.
Keira membawa cangkir dengan dua tangan.
Vivienne menerimanya tanpa menatap lama. "Terima kasih, Keira."
Beberapa mata langsung bergerak.
Nama Keira diucapkan langsung oleh Nyonya Besar. Bagi keluarga ini, satu panggilan bisa lebih keras daripada pengumuman.
Seorang tante berkalung mutiara tersenyum kecil. "Dengar-dengar Nyonya Besar baru merekrut pengasuh baru. Masih muda sekali ya. Cantik lagi."
Udara di meja berubah tipis.
Keira menundukkan pandangan, tetap memegang nampan.
Kalimat itu tampak ringan, tetapi ujungnya tajam. Muda. Cantik. Dua kata yang bisa membuat kemampuan perempuan berubah menjadi kecurigaan.
Vivienne menaruh cangkirnya di atas tatakan. "Saya merekrut orang karena kemampuan, bukan karena wajah."
Tante itu tertawa halus. "Tentu saja, Nyonya Besar. Saya hanya kagum. Sekarang pengasuh bayi pun seperti lulusan luar negeri."
Melissa menutup bibir dengan jari, seolah menahan tawa. "Justru bagus, kan? Rumah sebesar ini memang butuh darah muda. Kalau semua hanya mengandalkan orang lama, kadang kita tidak tahu mana yang pengalaman, mana yang sudah malas belajar."
Beberapa perempuan tersenyum.
Keira menangkap arah pisau itu.
Kalimat Melissa terdengar membela Keira, tetapi sebenarnya mengingatkan semua orang pada Mbak Ratih. Mengingatkan bahwa kesalahan di rumah Vivienne baru saja hampir mencelakai bayi.
Vivienne menatap Melissa.
Senyumnya tetap ada. "Betul. Karena itu setiap cabang keluarga juga sebaiknya tidak hanya mengandalkan orang yang pandai bicara."
Melissa tertawa lebih cerah. "Aduh, Ci Vivienne, kalau yang pandai bicara tidak dipakai, arisan bisa sepi."
Tidak ada suara yang naik.
Tidak ada yang memukul meja.
Tetapi Keira merasakan tekanan di antara dua perempuan itu seperti benang yang ditarik terlalu kencang.
Lalu Celeste mengangkat cangkir.
Gerakannya kecil, tetapi semua orang menoleh.
"Rumah yang terlalu ramai juga melelahkan," katanya pelan.
Hening.
Kalimat itu tidak menunjuk siapa pun. Namun justru karena tidak menunjuk, semua orang merasa tersentuh.
Melissa menatap Celeste dengan senyum yang sedikit berhenti. Vivienne mengalihkan pandangan ke taman, seperti ada sesuatu di sana yang tiba-tiba lebih penting daripada percakapan.
Keira menunduk lebih dalam.
Ia mulai mengerti.
Vivienne memegang posisi. Melissa mencari celah. Celeste seperti tidak bertarung, tetapi sekali bicara, semua orang ingat bahwa diam pun bisa menjadi batas.
Arisan berlanjut dengan pembicaraan tentang donasi yayasan, rencana Imlek, gaun untuk acara amal, dan seorang sepupu yang baru pulang dari Singapura. Keira bergerak dari satu sisi ke sisi lain, menuang teh, mengganti piring kecil, mengambil tisu. Ia hampir tidak bicara, tetapi ia menyerap terlalu banyak.
Di rumah ini, perempuan tidak selalu menikam dengan pisau.
Kadang mereka memakai cangkir porselen, senyum, dan kalimat yang terdengar seperti pujian.
Menjelang sore, para tamu mulai pulang. Melissa menjadi orang terakhir kedua yang keluar, meninggalkan aroma parfum manis di udara.
"Keira," panggilnya saat melewati Keira. "Besok Jay mungkin mencarimu. Dia masih bilang tidak suka, tapi tadi pagi dia bertanya kamu ada di mana."
Keira menunduk. "Baik, Nyonya Ketiga."
Melissa tersenyum. "Anak kecil jujur. Mereka sering membenci orang yang mulai mereka butuhkan."
Kalimat itu membuat Keira tidak nyaman, tetapi Melissa sudah berjalan pergi.
Aula kaca akhirnya sepi.
Keira membantu mengumpulkan cangkir. Bi Sari pergi sebentar untuk mengantar Vivienne ke ruang dalam. Staf lain membereskan kursi di sisi taman.
Saat Keira mengangkat nampan terakhir, ia sadar Celeste masih duduk di kursi kiri.
Perempuan itu menatap taman.
Keira mendekat pelan. "Nyonya Kedua, apakah masih ingin teh?"
Celeste menoleh.
Matanya berhenti di wajah Keira.
Lama.
Keira menahan nampan dengan kedua tangan. "Nyonya Kedua?"
Celeste seperti baru sadar. Ia menggeleng pelan.
"Kamu..." Suaranya sangat lembut. "Mirip seseorang."
Keira tidak tahu harus menjawab apa.
"Maaf, Nyonya?"
Celeste menatapnya beberapa detik lagi, lalu senyum kecil yang sangat lelah muncul di bibirnya.
"Tidak apa-apa. Mungkin aku salah lihat."
Ia berdiri, merapikan selendang di bahunya, lalu berjalan keluar dari aula kaca tanpa menunggu pengantar.
Keira tetap berdiri di tempat.
Nampan porselen di tangannya terasa lebih berat daripada sebelumnya.