Sama seperti bosnya, Adnan juga punya hobi mengambil foto dengan kameranya. Namun hobinya berubah jadi obsesi ketika dia ketagihan mendapatkan job 'fotografer p|us-p|us'. Semua itu berawal saat Adnan menemukan kamera tua milik mendiang ayahnya di lemari.
Kamera tua itu mampu membuat Adnan melihat dalam mode tembus pandang, lalu mode menampilkan yang tak kasat mata, bahkan sampai mode ronsen yang digunakan dalam kedokteran. Gilanya lagi, kamera itu mampu bisa membuat wanita klepek-klepek pada Adnan. Bagaimana bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25 - Saran Liza
Adnan terdiam cukup lama, menatap jalanan yang mulai ramai kembali namun terasa begitu asing baginya. Pertanyaan Liza yang tulus itu justru membuat dadanya semakin sesak. Selama ini ia berpikir ia berjuang sendirian, namun kini gadis yang dulunya begitu dingin dan menjauh tiba-tiba berdiri di sisinya, tanpa ragu menggunakan kata "kita".
"Aku benar-benar tidak tahu," akunya akhirnya, suaranya pecah pelan. "Video itu tak bisa kuhapus. Aku takut jika kubawa ke polisi, mereka justru akan menganggapku gila atau bagian dari mereka. Dan aku takut... jika Gladys tahu aku menyimpan bukti itu, dia tak akan segan-segan menghabisiku."
Adnan menatap tas kamera yang kini tergeletak diam di kursi penumpang, seolah benda itu adalah bom waktu yang siap meledak kapan saja. "Setiap kali mencoba menghapusnya, pesan yang sama selalu muncul. Seolah rekaman itu sudah menjadi bagian dari benda itu sendiri, tak bisa dipisahkan, tak bisa dimusnahkan. Aku tak tahu harus menyimpannya di mana, atau harus menyerahkannya kepada siapa."
Liza mendengarkan saksama, alisnya berkerut serius mencoba menyusun potongan teka-teki yang begitu mustahil namun nyata di hadapannya. Sebagai seseorang yang mempelajari jiwa dan perilaku manusia, dia tahu betul bahwa kekerasan dan ancaman jarang bisa dilawan dengan kekerasan yang sama, apalagi jika pihak lawan memiliki kekuatan yang tak masuk akal sekalipun.
Setelah berpikir sejenak, Liza menarik napas panjang, lalu menatap Adnan dengan tatapan yang lebih tenang dan mantap.
"Menurutku..." mulainya pelan namun tegas, "satu-satunya cara terbaik adalah kau menemui Gladys secara langsung. Bicaralah dengan baik-baik."
Adnan mendongak cepat, matanya membelalak tak percaya. "Apa? Kau gila? Kau lihat sendiri bagaimana mereka memandangku? Bagaimana Bastian menodongkan pisau? Kalau aku datang ke sana, aku bukan sedang menyelesaikan masalah, tapi menyerahkan nyawaku sendiri."
"Dengar dulu penjelasanku," potong Liza lembut namun tak terbantahkan. "Saat ini, mereka belum menyerangmu secara langsung. Mereka hanya mengawasi. Itu tandanya mereka masih memberi ruang. Jika kau bersembunyi, mereka akan menganggapmu musuh yang berniat mengkhianati dan membocorkan rahasia mereka. Tapi jika kau datang dengan niat baik, menunjukkan bahwa kau tidak berniat melawan atau melaporkan mereka... mungkin mereka akan berpikir ulang."
Liza mencondongkan tubuhnya sedikit, mencoba menenangkan kegelisahan pria itu. "Katakan saja bahwa kau tidak bermaksud merekam semua itu. Katakan kamera itu rusak dan kau tak bisa menghapusnya, tapi kau berjanji tak akan memperlihatkannya pada siapa pun. Buat mereka merasa aman, bukan terancam."
Adnan menggeleng keras, keringat dingin kembali menetes di pelipisnya. "Kau tidak mengerti sifat mereka, Liza. Itu bukan kelompok orang biasa. Mereka melakukan pemujaan pada sesuatu yang mengerikan. Bagi mereka, rahasia itu lebih berharga daripada nyawa siapa pun. Dan mereka tidak akan percaya pada alasan apapun."
"Aku tahu itu berisiko," akui Liza jujur, matanya menatap lekat wajah Adnan yang penuh ketakutan. "Tapi percayalah, berhadapan secara terbuka jauh lebih aman daripada terus berlari dan bersembunyi. Selama kau bersembunyi, kau yang selalu dalam bahaya. Kau yang akan terus dikejar. Tapi jika kau berani hadap mereka, kau mengambil kendali atas dirimu sendiri. Kau menunjukkan bahwa kau bukan buronan, melainkan orang yang meminta keadilan dan kepastian."
Suasana di dalam mobil kembali hening sejenak. Adnan merenungkan saran itu. Di satu sisi, logikanya menolak keras ide mendatangi sarang macan itu dengan sukarela. Namun di sisi lain, ia sadar bahwa terus berlari dan bersembunyi tidak akan menyelesaikan apa pun. Bahaya akan selalu mengintai di setiap sudut, di setiap langkahnya. Ia tidak bisa terus hidup seperti ini selamanya.
"Tapi..." Adnan menelan ludah yang terasa getir. "Jika mereka tetap menganggapku ancaman... kau tahu apa yang akan terjadi."
"Aku ikut," ucap Liza tiba-tiba, tegas dan mantap.
Kali ini giliran Adnan yang ternganga. "Apa? Tidak! Kau tidak boleh ikut. Ini bukan urusanmu. Aku tidak akan membiarkanmu terkena bahaya karena kesalahanku."
"Kau lupa aku sudah tahu semuanya?" potong Liza tajam namun penuh perhatian. "Sekarang aku juga terlibat, Adnan. Aku sudah tahu rahasia mereka. Dan jika mereka tahu kau sudah memberitahuku... aku juga tidak akan aman. Jadi lebih baik kita hadapi ini bersama-sama."
Liza meraih tangan Adnan yang dingin dan gemetar, meremasnya pelan namun penuh kekuatan. "Kau tidak sendirian lagi sekarang. Kita bicara baik-baik. Kita tunjukkan bahwa kita tidak bermusuhan. Itu satu-satunya jalan yang masuk akal."
Adnan menatap mata gadis itu, mencari jejak keraguan atau ketakutan yang mungkin ia sembunyikan. Namun yang ia temukan hanyalah keteguhan hati yang luar biasa. Di tengah segala kengerian yang mengelilinginya, Liza justru menjadi satu-satunya sandaran yang membuatnya merasa sedikit lebih kuat.
Dengan berat hati namun perlahan mulai menerima kenyataan, Adnan mengangguk pelan.
"Baiklah," ucapnya lirih. "Aku akan mencarinya. Aku akan mencoba bicara pada Gladys."
Namun jauh di dalam lubuk hatinya, Adnan tahu betul bahwa keputusan ini sama berbahayanya dengan memegang ujung pedang yang tajam.