Demi menghindari aib, Naresta dan Elvan memilih meninggalkan keluarga mereka dan memulai hidup baru di sebuah desa. Dengan kerja keras, mereka berhasil membangun sebuah toko yang berkembang pesat dan menjadi sumber penghidupan mereka.
Namun, kesuksesan itu tak membuat mereka diterima. Elvan yang merupakan penyandang autisme terus menjadi sasaran hinaan dan cemoohan warga. Meski begitu, Naresta tetap setia berada di sisinya, membuktikan bahwa cinta sejati tidak pernah memandang kekurangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lepas Ketenangan
"Mas Elvan, sabar ya. Aya lagi mencari bantuan," ucap Bu RT sambil berusaha menenangkan Elvan.
"T-tolong... i-istriku," ucap Elvan dengan suara bergetar.
Air matanya terus mengalir. Kedua tangannya memeluk tubuh Naresta yang masih terkulai lemas di pangkuannya.
"S-sayang... b-bangun."
Elvan menepuk pelan pipi istrinya.
"N-Naresta..."
Namun, Naresta sama sekali tidak memberikan respons.
Elvan mulai kehilangan ketenangannya. Napasnya semakin cepat, sementara tangannya gemetar hebat.
"T-tolong... j-jangan t-tinggalkan a-aku."
"Mas Elvan, Naresta cuma pingsan. Kita tunggu bantuan dulu, ya," ujar Bu RT lembut.
Elvan menggelengkan kepalanya berkali-kali.
"T-tapi d-dia t-tidak b-bangun."
"Iya, Mas. Sebentar lagi bantuan datang."
"T-tolong b-bangunkan i-istriku..."
Bu RT ikut merasa sesak melihat keadaan Elvan. Pria yang biasanya selalu tenang dan memilih diam ketika dihina kini benar-benar kehilangan kendali saat melihat istrinya tidak sadarkan diri.
Tak lama kemudian, terdengar suara Aya dari luar toko.
"Bu RT!"
Aya berlari masuk bersama seorang pria yang dimintainya bantuan.
"Saya sudah dapat mobil! Kita bawa Mbak Naresta ke klinik sekarang!"
Elvan langsung mengangkat wajahnya.
"K-klinik?"
"Iya, Mas. Kita bawa Mbak Naresta sekarang."
Pria yang datang bersama Aya segera mendekat untuk membantu mengangkat Naresta.
Namun, Elvan justru memeluk tubuh istrinya semakin erat.
"J-jangan!"
"Mas Elvan, kami mau membantu," ucap Bu RT.
Elvan menatap pria itu dengan penuh ketakutan.
"A-aku y-yang b-bawa i-istriku."
"Mas sanggup?"
Elvan langsung mengangguk berkali-kali.
"S-sanggup."
Dengan bantuan pria tersebut, Elvan perlahan berdiri sambil menggendong Naresta.
Kepala Naresta bersandar lemas di dadanya. Elvan menatap wajah istrinya yang pucat.
"S-sayang... s-sebentar l-lagi k-kita k-ke d-dokter."
Air matanya kembali jatuh.
"K-kamu h-harus b-bangun, y-ya."
Aya segera membuka jalan menuju pintu.
"Ayo, Mas. Mobilnya sudah di depan."
Elvan tidak menjawab lagi. Ia hanya memeluk tubuh Naresta semakin erat sebelum membawanya keluar dari toko.
Untuk pertama kalinya, Elvan tidak memedulikan tatapan siapa pun. Tidak ada rasa takut terhadap orang-orang di sekitarnya.
Tidak ada keinginan untuk bersembunyi. Yang ada di pikirannya saat itu hanya satu. Istrinya harus baik-baik saja.
"Aya, tokonya kunci dulu. Semuanya ditutup dulu. Nanti kamu baru menyusul ke sana. Biar saya temani mereka, sekalian menjaga barang-barang Naresta," ucap Bu RT dengan tergesa-gesa.
"Baik, Bu," jawab Aya sambil menganggukkan kepalanya.
Bu RT segera menyusul Elvan yang sudah membawa Naresta menuju mobil.
Sementara itu, Aya berdiri di depan pintu toko.
"Bapak, Ibu, maaf ya. Tokonya kami tutup dulu."
"Iya, Mbak. Nggak apa-apa."
"Semoga Mbak Naresta baik-baik saja."
"Aamiin. Terima kasih."
Aya menunggu seluruh pelanggan keluar terlebih dahulu. Setelah memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal, ia segera masuk kembali untuk mematikan beberapa peralatan listrik dan mengamankan meja kasir.
Tangannya bergerak cepat meski pikirannya masih tertuju kepada Naresta.
"Mbak Naresta pasti nggak apa-apa," gumamnya mencoba menenangkan diri.
Setelah semuanya aman, Aya menutup pintu toko dan menguncinya.
Ia mengecek kembali gembok tersebut beberapa kali untuk memastikan toko benar-benar aman.
Tak lama kemudian, Aya mengeluarkan ponselnya dan segera mencari kendaraan agar bisa menyusul Naresta, Elvan, dan Bu RT ke klinik.
**
Setelah beberapa menit kemudian.
Akhirnya, mobil yang membawa Naresta tiba di klinik.
Begitu mobil berhenti di depan pintu masuk, Elvan langsung membuka pintu dengan wajah panik.
"T-tolong! I-istri s-saya!"
Dua petugas klinik yang mendengar teriakan itu segera berlari menghampiri sambil membawa brankar.
"Pak, tenang dulu. Biar kami bantu."
Elvan menganggukkan kepalanya berkali-kali.
"T-tolong... c-cepat."
Dengan hati-hati, petugas memindahkan tubuh Naresta dari gendongan Elvan ke atas brankar.
"S-sayang..."
Elvan terus menggenggam tangan istrinya.
Brankar segera didorong masuk ke dalam klinik. Elvan mengikuti di sampingnya tanpa mau melepaskan tangan Naresta sedikit pun.
"Pak, kami bawa istrinya ke ruang pemeriksaan dulu."
"A-aku i-ikut."
"Boleh, Pak. Tapi tunggu sebentar di depan ruangan, ya. Dokter perlu memeriksa kondisi istri Bapak."
Elvan langsung menggeleng panik.
"T-tidak... a-aku m-mau s-sama i-istriku."
Bu RT yang baru turun dari mobil segera menghampirinya.
"Mas Elvan."
Elvan menoleh dengan mata yang masih dipenuhi air mata.
"Biarkan dokter periksa Naresta dulu, ya. Kalau Mas ikut masuk dan panik, nanti dokternya malah kesulitan."
"T-tapi..."
"Saya di sini sama Mas. Kita tunggu Naresta di depan."
Elvan menatap tubuh istrinya yang semakin menjauh.
"S-sayang..."
Pintu ruang pemeriksaan akhirnya tertutup.
Elvan berdiri terpaku di depannya. Kedua tangannya gemetar, sementara pandangannya tidak pernah lepas dari pintu tersebut.
Bu RT mengusap pelan bahunya.
"Sabar ya, Mas."
Elvan perlahan duduk di kursi tunggu.
"A-aku t-takut..."
Bu RT ikut duduk di sampingnya.
"Naresta perempuan kuat. Kita doakan dia baik-baik saja."
Elvan menundukkan kepala sambil meremas kedua tangannya.
Untuk pertama kalinya sejak menikah, ia merasa begitu takut kehilangan satu-satunya orang yang selalu berdiri di sisinya.
Satu menit Naresta berada di dalam ruang pemeriksaan. Kini Aya tiba dengan napas ngos-ngosan sambil membawa tas kecil milik Naresta.
"Bu RT!"
Bu RT yang sedang duduk di samping Elvan langsung berdiri.
"Aya, kamu sudah sampai?"
"Iya, Bu," jawab Aya sambil berusaha mengatur napasnya. "Bagaimana Mbak Naresta?"
"Masih diperiksa dokter."
Aya langsung menoleh ke arah pintu ruang pemeriksaan.
"Ya Allah... semoga Mbak Naresta nggak apa-apa."
Ia kemudian menghampiri Elvan yang sejak tadi hanya duduk menunduk dengan kedua tangan saling menggenggam erat.
"Mas Elvan..."
Elvan perlahan mengangkat wajahnya. Matanya terlihat sembap karena terlalu banyak menangis.
"I-istriku... b-belum k-keluar."
"Sebentar lagi, Mas. Dokternya sedang memeriksa Mbak Naresta."
Aya duduk di sampingnya, lalu menunjukkan tas kecil yang dibawanya.
"Ini tas Mbak Naresta juga saya bawa. Dompet, ponsel, sama barang-barangnya ada di dalam."
Elvan hanya menganggukkan kepalanya.
"M-makasih..."
"Sama-sama, Mas."
Bu RT kembali duduk di samping mereka.
"Tokonya sudah aman, Aya?"
"Sudah, Bu. Semua sudah saya matikan dan pintunya juga sudah saya kunci."
"Alhamdulillah."
Aya mengembuskan napas lega, tetapi pandangannya tetap tertuju ke pintu ruang pemeriksaan.
Sementara Elvan kembali menundukkan kepalanya.
Jemarinya terus bergerak gelisah.
"S-sayang... c-cepat b-bangun..."
Aya dan Bu RT saling berpandangan. Keduanya sama-sama tahu bahwa orang yang paling ketakutan saat ini adalah Elvan.