NovelToon NovelToon
Aku Transmigrasi Menjadi Istri Mafia Pengkhianat

Aku Transmigrasi Menjadi Istri Mafia Pengkhianat

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Mafia
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: ocha Via

Kirana adalah gadis pekerja keras yang hidup sederhana, rela lembur sampai larut malam demi menabung untuk masa depan yang lebih baik. Suatu malam saat hujan deras mengguyur kota, ia melihat seekor anak kucing terlantar di tengah jalan. Tanpa ragu ia menolongnya, namun justru ia yang tertabrak truk melaju kencang. Di detik-detik terakhir hidupnya, Kirana memohon dengan sekuat tenaga agar diberi kesempatan hidup sekali lagi.

Saat terbangun, ia tidak lagi berada di jalan raya atau rumah sakit. Ia kini menempati tubuh Elena—istri dari Leonid, seorang pemimpin kelompok mafia yang ditakuti banyak orang. Elena asli dikenal wanita yang licik, kejam pada anak kandungnya sendiri yang baru berusia empat tahun bernama Alvaro, serta diam-diam menjalin hubungan gelap dan merencanakan pelarian membawa harta suaminya.

Kini Kirana harus bertahan hidup dengan menyamar sebagai Elena. Ia berj

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tatapan yang Mulai Luruh

Bab 3

Pelan tapi pasti, pelukan itu terasa begitu hangat. Elena membiarkan Alvaro menangis sepuasnya di pelukannya, mengusap punggung kecil anak itu lembut berulang kali, berbisik pelan bahwa semuanya akan baik-baik saja mulai sekarang. Di sudut ruangan, Leonid masih berdiri diam, matanya tak lepas dari mereka berdua. Hatinya yang selama ini tertutup rapat oleh dinding es yang tebal, perlahan merasakan sesuatu yang asing namun menenangkan—sesuatu yang sudah lama sekali tidak ia rasakan di rumah ini.

Setelah beberapa saat, tangis Alvaro perlahan mereda. Ia menyandarkan kepalanya yang berat di bahu Elena, napasnya masih tersengal pelan, tubuh kecilnya masih sesekali bergetar sisa tangis. Elena mengangkat wajah anak itu perlahan, mengusap sisa air mata dan kotoran yang menempel di pipinya dengan ibu jari yang bergetar namun lembut.

"Kamu lapar?" tanyanya pelan, suaranya sengaja dikecilkan agar tidak mengejutkan anak itu.

Alvaro mengangguk sangat pelan, lalu segera menunduk dalam seolah baru ingat kalau ia tidak boleh mengeluh atau meminta sesuatu. "Tidak... tidak apa-apa, Mama. Nanti saja..."

Hati Elena terasa seperti diremas sakit mendengar jawaban itu. Anak seusia empat tahun seharusnya berani menangis kalau lapar, berani merengek kalau ingin sesuatu. Tapi Alvaro sudah diajari rasa takut sedemikian rupa sampai ia berani menahan rasa laparnya sendiri.

Elena menatap Leonid yang kini mulai melangkah mendekat perlahan. "Dia belum makan kan? Sejak kemarin sore?"

Leonid mengangguk pelan, rahangnya mengeras kuat menahan amarah yang kembali muncul. "Aku tahu dia dikurung di gudang. Aku tahu kau sering marah padanya. Tapi aku tidak pernah menyangka... aku tidak tahu kau tega membiarkannya kelaparan begitu." Suaranya tercekat, penuh rasa bersalah karena selama ini ia tidak pernah benar-benar mengecek keadaan anaknya sendiri.

"Sekarang tolong ambilkan makanan," ucap Elena tegas namun tidak membentak. "Makanan yang lunak, bubur ayam sedikit saja, dan susu hangat. Jangan banyak dulu, takut perutnya kaget."

Pelayan yang menunggu di luar segera bergegas pergi setelah mengangguk hormat. Leonid kemudian duduk di tepi tempat tidur, tidak terlalu dekat tapi juga tidak menjauh. Matanya menatap wajah Elena lekat-lekat, seolah sedang mencoba menghafal setiap garis wajah yang kini terasa begitu berbeda, begitu lembut dibandingkan Elena yang ia kenal selama ini.

"Kau benar-benar berubah," ucapnya pelan, hampir seperti bisikan yang hanya terdengar untuk dirinya sendiri.

Elena mengusap rambut Alvaro yang berantakan pelan. "Aku sadar betapa salahnya aku, Leonid. Aku tidak tahu kenapa dulu aku bisa begitu jahat pada darah dagingku sendiri. Seolah ada yang menutup mataku dari kebaikan. Tapi sekarang... semuanya akan berbeda. Aku janji demi nyawaku sendiri."

Leonid terdiam lama sekali. Ribuan pertanyaan berdesakan di kepalanya—apa yang membuatnya berubah? Kenapa tiba-tiba seolah menjadi orang lain? Tapi melihat Alvaro yang kini mulai berani menyandarkan kepala di lengan Elena, ia memilih menahan semua pertanyaan itu. Untuk hari ini, melihat mereka berdua bisa duduk berdampingan tanpa rasa takut sudah cukup baginya.

Tak lama kemudian pelayan kembali membawa nampan berisi mangkuk bubur yang masih mengepul hangat dan segelas susu. Elena mengambil mangkuk itu perlahan, meniupnya sebentar sebelum menyuapkan sesendok kecil ke mulut Alvaro. Anak itu menatapnya ragu sejenak, lalu membuka mulutnya pelan. Saat rasa hangat itu masuk ke perutnya, matanya kembali berkaca-kaca, tapi kali ini ia tidak menangis.

Pelan demi pelan Elena menyuapinya, sesekali berbicara hal-hal sederhana yang tidak pernah ia ucapkan dulu. Tentang bunga, tentang burung, tentang mainan yang mungkin disukai Alvaro. Alvaro hanya diam mendengarkan, tapi perlahan tangannya yang kecil mulai berani memegang ujung lengan baju Elena setiap kali ibunya hendak mengambil sendok lagi.

Leonid hanya memperhatikan dari samping, diam tanpa kata. Sesekali ia mengambil alih memegang gelas susu saat tangan Elena terasa sedikit gemetar, atau mengelap mulut Alvaro dengan tisu. Tidak ada bentakan, tidak ada tatapan sinis, untuk pertama kalinya di rumah besar yang dingin itu, suasana terasa hangat, terasa seperti keluarga yang sebenarnya.

Setelah Alvaro kenyang, Elena mengajaknya berbaring sebentar di sampingnya. Anak itu tampak sangat kelelahan, matanya berat sekali, namun tangannya masih erat mencengkeram baju Elena seolah takut ibunya akan hilang begitu ia terpejam.

"Tidur yang nyenyak ya sayang. Mama ada di sini. Mama tidak akan pergi ke mana-mana," bisik Elena sambil terus mengelus kepala anak itu dengan lembut.

Perlahan napas Alvaro menjadi teratur dan tenang. Elena menarik tangannya perlahan agar tidak membangunkan anak itu, lalu berbalik dan mendapati Leonid masih duduk di tempat yang sama. Tatapan pria itu kini tidak lagi sedingin es seperti saat pertama kali masuk tadi. Ada rasa lelah yang mendalam, kecewa yang belum hilang, namun ada secercah harapan yang mulai tumbuh perlahan.

"Kau benar-benar ingat semua perbuatanmu dulu?" tanya Leonid tiba-tiba, suaranya berat dan serak.

Elena menelan ludah susah payah. Ia mengangguk pelan. "Aku ingat semuanya. Setiap tetes air matanya, setiap ketakutannya... aku ingat semuanya. Dan aku malu sekali pada diriku sendiri."

Leonid berdiri perlahan, melangkah mendekat hingga jarak mereka tinggal sejengkal. Ia tidak menyentuhnya, hanya menatap dalam ke dalam mata Elena seolah ingin membaca apa yang tersembunyi di balik sana.

"Aku pernah mencintaimu lebih dari apa pun di dunia ini," ucapnya perlahan, setiap kata terasa berat saat diucapkan. "Aku memberimu nama, kedudukan, harta sebanyak apa pun yang kau minta. Aku berikan seluruh duniaku di kakimu. Tapi kau menghancurkan semuanya. Kau menghancurkan hatiku, dan yang paling menyakitkan... kau menghancurkan masa kecil anak kita sendiri."

Air mata kembali menetes deras di pipi Elena. "Aku tahu aku tidak pantas dimaafkan. Aku tahu aku sudah terlalu jauh melangkah. Tapi aku mohon... beri aku kesempatan untuk memperbaikinya. Demi Alvaro. Jangan biarkan dia merasakan kesepian yang sama seperti dulu lagi."

Leonid terdiam. Tangan besarnya yang kasar perlahan terulur, namun bukannya mencengkeram leher atau mendorongnya, ujung jarinya justru menyeka air mata yang jatuh di pipi Elena dengan sangat hati-hati, seolah takut istrinya akan hancur seketika. Sentuhan itu hangat, namun penuh keraguan yang mendalam.

"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu," ucapnya dengan suara bergetar pelan. "Entah kau sadar dari kebodohanmu, atau ada hal lain yang tak kumengerti... tapi ingat satu hal. Jika kau berani menyakiti anakku walau sedikit saja lagi... aku tidak akan segan-segan menghabisimu sendiri, tak peduli apa pun alasannya."

Ancaman itu terdengar nyata dan tegas, namun di balik kata-kata itu terselip rasa takut kehilangan yang begitu besar. Elena mengerti itu. Ia mengangguk mantap sambil menatap lurus ke manik mata Leonid.

"Aku rela mati di tanganmu sendiri kalau sampai aku menyakitinya lagi."

Leonid menarik tangannya perlahan, berbalik menatap jendela yang masih tertutup tirai tebal. "Istirahatlah. Dokter akan datang sebentar lagi memeriksa kondisimu. Aku harus pergi sebentar mengurus urusan yang tertunda. Tapi aku akan kembali. Dan aku akan memantau setiap gerak-gerikmu."

Sebelum melangkah menuju pintu, ia berhenti sejenak tanpa menoleh ke belakang. "Terima kasih... untuk tadi. Terima kasih sudah mau menjadi ibunya sebentar saja."

Pintu pun tertutup perlahan, menyisakan bunyi klik pelan saat terkunci dari luar. Kini tinggal Elena sendirian di kamar yang luas itu. Ia menjatuhkan diri duduk di tepi tempat tidur, menatap wajah tenang Alvaro yang sedang tidur pulas. Hatinya masih berdeup kencang sekali, campuran antara rasa lega karena berhasil melewati percakapan itu, rasa takut akan bahaya yang mengintai, dan beban tanggung jawab yang kini dipikulnya sendirian.

Ia tahu jalan di depan tidak akan mulus. Leonid mungkin mulai melunak sedikit, tapi ia belum sepenuhnya percaya. Orang-orang di rumah ini pasti masih mencurigai perubahannya. Belum lagi kekasih gelap Elena asli yang pasti akan datang menagih janji dan rencana yang belum selesai. Dan yang paling berat, ia harus terus berpura-pura menjadi Elena di hadapan semua orang, menyembunyikan siapa dirinya yang sebenarnya.

Namun saat melihat senyum kecil yang terukir di bibir Alvaro saat tidur, Elena menguatkan hatinya. Apapun yang akan terjadi nanti, bahaya sebesar apa pun yang datang, ia tidak akan mundur. Ia akan berjuang melindungi anak kecil ini, memperbaiki semua kesalahan masa lalu, dan mencoba meyakinkan Leonid bahwa ada hal yang berharga yang masih bisa diselamatkan dari reruntuhan rumah tangga mereka yang hancur.

Elena menarik selimut lebih tinggi menutupi tubuh Alvaro, lalu duduk diam di tepi tempat tidur menjaganya. Ia tidak akan membiarkan siapa pun lagi menyakiti anak ini. Dan ia tidak akan membiarkan nasibnya yang baru ini berakhir dengan cara yang sama seperti saat ia masih menjadi Kirana dulu. Kali ini ia akan bertahan, sekuat tenaganya.

 

Bersambung...

1
ocvia
🤣baik kak
Susi Nugroho
Nanti bikin Elena mengandung kembar.... Lanjut....
yula
👍
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
ocvia: siap kak
total 1 replies
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu.... Semangat
ocvia: baik kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!