Xue Yao, murid pertama Sekte Yiyuan, kehilangan segalanya ketika Raja Iblis menghancurkan sektenya. Sebagai satu-satunya yang selamat, ia melarikan diri membawa pusaka sekte, Cincin Zhutian, demi membalas dendam.
Namun saat dikepung musuh, ia menghancurkan kultivasi dan memecah kesadarannya sendiri. Takdir justru membuat seluruh serpihan kesadarannya terserap ke dalam Cincin Zhutian dan tersebar ke berbagai dunia. Setelah hampir seratus tahun tertidur, Xue Yao terbangun dan mendapati setiap serpihan hidup dalam penderitaan akibat keterikatan batin yang dapat melahirkan iblis hati.
Kini, dengan kekuatan Cincin Zhutian, ia harus kembali ke setiap dunia untuk menyelamatkan, mengumpulkan, dan menyatukan kembali seluruh serpihan jiwanya. Namun, mampukah Xue Yao mengembalikan dirinya yang utuh... atau justru kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhu Ge Liang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takdir yang Tertukar³
"Apa? Bagaimana mungkin ini bisa dilakukan? Bagaimana bisa A Ling disuruh pergi? Memang benar ia jatuh ke air, tetapi bukankah Xue Yao juga jatuh? Bagaimana bisa semuanya disalahkan kepada A Ling?"
Xue Mo menatap ayahnya dengan wajah penuh ketidakpercayaan.
Apa maksudnya mengusir Xue Ling? Apa maksudnya melarangnya muncul lagi dikeluarga Xue?
Ia adalah nona keluarga Xue. Meskipun sekarang secara administratif ia sudah tidak tercatat sebagai anggota keluarga Xue, kelak ia tetap akan menikah dengannya. Bukankah itu berarti ia tetap bagian dari keluarga Xue?
Ayah Xue mengusap pelipisnya dengan ekspresi pusing.
"Masalah ini diberitahukan langsung oleh kakek. Ini pemberitahuan, bukan untuk didiskusikan."
Setelah berkata demikian, ia menoleh kearah Xue Ling yang duduk disofa sambil tersedu-sedu. Dan untuk pertama kalinya muncul sedikit ketidak puasan diwajahnya.
"Kau juga sama saja. Mengapa harus menarik Xue Yao dan melompat kedanau? Dan bahkan sampai dilihat oleh Su Chen! Kalau ini hanya urusan dalam keluarga, mungkin masih bisa ditutup-tutupi. Tetapi kau justru membuatnya terjadi didepan orang luar!"
Mata Xue Ling memerah karena menangis, kepalanya digelengkan dengan keras.
"Bukan begitu, Ayah. Xue Yao yang mendorongku. Dalam kepanikan aku yang menariknya, sehingga kami berdua jatuh kedanau. Aku akan menjelaskan kepada kakek, aku juga akan menjelaskan kepada kak Su Chen, ya?"
Xue Ling sama sekali tidak menyangka bahwa satu insiden jatuh ke air, justru membuat kakek yang jarang terlihat itu turun tangan secara langsung.
Bahkan, beliau langsung mengeluarkan ultimatum agar dirinya angkat kaki dari vila keluarga Xue.
Disampingnya, ibu Xue menggenggam tangan Xue Ling dengan wajah penuh rasa iba. "Benar, seharusnya kita menjelaskan kepada ayah. A Ling ini cucu yang telah ia sayangi selama delapan belas tahun. Bagaimana bisa ia begitu kejam?"
"Diam!"
Ayah Xue langsung membentak.
"Kalian masih belum mengerti juga? Apapun penyebabnya, A Ling sama sekali tidak terluka. Sedangkan Xue Yao hampir kehilangan nyawanya. Itu saja sudah cukup untuk membuat ayah murka! Bahkan aku sendiri dimarahi habis-habisan olehnya. Bagaimana mungkin beliau mau mendengarkan penjelasan kalian!?"
Mengingat kata-kata kakek ditelepon saja sudah membuatnya merasa malu.
Kakek berkata bahwa Su Chen meneleponnya dan menjelaskan seluruh kejadian. Bahkan sempat bercanda bahwa Xue Ling bisa dikirim belajar mendayung perahu naga karena tampaknya kekuatan lengannya cukup baik dan berbakat.
Benar-benar mempermalukan keluarga sampai ke akar-akarnya.
Setelah menghela napas panjang, ayah Xue menatap ibu dan anak yang menangis disofa.
"Bukankah kita masih punya satu unit apartemen besar dikawasan Guomao, dekat dengan kantor pusat Grup? Biarkan A Ling tinggal disana untuk sementara. Setelah situasi mereda, aku akan coba melihat apakah masih bisa memohon kepada ayah. Sekarang beliau sedang sangat marah, siapapun yang memohon hanya akan bernasib buruk."
Pada akhirnya, karena masih menyayangi 'putri' yang telah dibesarkan selama delapan belas tahun, ia memawarkan solusi yang dianggap paling aman.
Ibu Xue mengangguk ragu.
Saat ini, memang hanya itu satu-satunya jalan.
Namun, Xue Ling yang bersandar dipelukan ibu Xue justru mendadak berubah ekspresinya menjadi dingin.
Ia tidak boleh meninggalkan keluarga Xue.
Terakhir kali ia pergi, ia harus bersusah payah dan akhirnya menggunakan siasat menyakiti diri sendiri agar bisa kembali.
Kali ini dikatakan hanya menunggu sementara, tetapi berapa lama sebenarnya? Jika kakek tidak pernah meredakan amarahnya, apakah berarti ia tidak akan pernah bisa kembali?
Ia tidak bisa bergantung pada ayah dan ibu Xue. Namun, ia masih memiliki Xue Mo.
Keesokan harinya.
"Xue Yao dirawat disini, kakek menyuruh paman Zhang menjaga dia. Nanti aku akan mengalihkan perhatian paman Zhang, kau masuk sendiri. Hati-hati jangan sampai Xue Yao menyakitimu."
Xue Mo menggenggam tangan Xue Ling sambil berpesan dengan penuh kehati-hatian.
Tadi malam, Xue Ling mendatanginya dan mengatakan bahwa ia tidak ingin meninggalkan keluarga Xue, tidak ingin berpisah darinya. Karena itu, ia memutuskan untuk menemui Xue Yao dan meminta maaf, berharap mendapat pengampunan darinya. Jika Xue Yao memaafkannya, kakek tentu akan membiarkannya tetap tinggal.
Meskipun sebenarnya Xue Yao yang mendorongnya kedalam air, demi masa depan mereka berdua, ia rela menelan hinaan dan merendahkan diri.
Xue Mo sangat tersentuh, ia merasa Xue Ling benar-benar berkorban demi masa depan mereka. Karena itulah, hari ini ia membawa Xue Ling kerumah sakit.
Xue Ling mengangguk, "Kak A Mo, tenang saja. Aku akan melindungi diriku. Aku pasti akan mendapatkan pengampunan Xue Yao, percayalah."
Ia telah membawa alat perekam suara ditubuhnya. Nanti, ia hanya perlu menggiring pembicaraan agar Xue Yao mengatakan hal-hal yang menguntungkannya. Sehingga Xue Yao sendiri yang akan menanggung tanggung jawab atas insiden jatuh ke air. Dengan begitu, ia dapat menukar semua itu dengan kesempatan untuk tetap tinggal.
Ia tidak takut Xue Yao tidak mau berbicara.
Bagaimanapun, Xue Yao selalu berkepribadian lemah dan tidak pandai berbicara. Jika tidak, tidak mungkin dengan status sebagai putri kandung bisa jatuh ke keadaan seperti sekarang.
Memang reaksi Xue Yao saat insiden jatuh keair cukup mengejutkannya. Tetapi watak seseorang mana mungkin berubah drastis dalam sekejap?
Adapun soal dirinya mengapung diair, Xue Ling diam-diam telah mencobanya lagi dikolam renang setelah itu dan kejadian aneh itu tidak pernah terulang.
Ia pun menyimpulkan bahwa semua itu hanya karena pakaian yang dikenakannya hari itu.
Hanya sial saja, sehingga Xue Yao bisa lolos kali itu.
Namun, hari ini tidak akan sama. Dengan senyum penuh keyakinan, Xue Ling mendorong pintu ruang rawat Xue Yao.
Didalam, wajah Xue Yao tampak pucat. Ia berbaring diranjang sambil membaca buku.
Begitu melihat Xue Ling masuk, tubuhnya tampak gemetar seketika.
"Adik, aku datang menjengukmu. Bagaimana keadaanmu?" tanya Xue Ling dengan nada lembut penuh kepedulian. Namun, diwajahnya justru tersirat ejekan dan kekejaman yang kentara.
"Mengapa kau datang? Dimana paman Zhang?"
Xue Yao menatap gadis didepannya yang berusaha mempertahankan ekspresi jahat yang kikuk itu. Dalam hati ia sama sekali tidak terkejut, tetapi diwajahnya ia tetap memasang ekspresi ketakutan.
"Adik, apa sekarang kau bahkan tidak ingin bertemu denganku? Tenang saja, meskipun soal jatuh keair itu adalah kesalahanmu... Aku tidak akan mengatakan apapun kepada siapapun. Apapun yang kau lakukan, aku akan memaafkanmu."
Sambil mengucapkan kata-kata yang membolak-balikkan hitam dan putih, Xue Ling perlahan duduk ditepi ranjang Xue Yao, menggenggam tangannya dengan sikap seolah penuh kasih sayang sebagai saudari.
"Bukan, jelas-jelas itu-"
"Aku tahu, kau cemburu karena ayah, ibu, dan kakak lebih memperhatikanku. Sehingga kau melakukan hal-hal yang tidak seharusnya. Tetapi adik, kau adalah putri kandung mereka. Mana mungkin aku bisa dibandingkan denganmu?"
Memotong ucapan Xue Yao, Xue Ling tanpa ragu menimpakan tuduhan iri hati kepadanya.
Sedikit lagi, hanya perlu beberapa kalimat tambahan. Rekaman ini akan sepenuhnya menetapkan kesalahan Xue Yao.
Bahkan jika kali ini ia tetap dipaksa pergi oleh kakek, ia akan memastikan Xue Yao dikirim kerumah sakit jiwa.
Seorang anak perempuan yang karena iri hati berkali-kali berusaha membunuh orang lain. Keluarga Xue pasti tidak akan berani menerimanya lagi.
Jadi, masih cara-cara ini juga?
Diluar tampak polos dan tak bersalah, tetapi dibaliknya penuh kelicikan. Mengandalkan citra bunga putih yang rapuh serta kesan yang telah ia bangun selama delapan belas tahun di hati keluarga Xue, untuk menghancurkan mental Xue Yao yang rapuh.
"Xue Ling, ada beberapa trik yang jika terlalu sering digunakan, pada akhirnya akan kehilangan efeknya." Xue Yao berbisik sangat pelan didekat telinganya.
Kemudian, dibawah tatapan terkejut Xue Ling, Xue Yao tiba-tiba mengerahkan kesadaran spiritualnya.
Gelombang kesadaran itu membuat alat-alat medis yang terhubung dengannya mendadak mengeluarkan bunyi nyaring yang menusuk telinga.
Saat berada diambulans, Xue Yao sudah menyadari bahwa gejolak kesadaran spiritualnya dapat memicu perubahan drastis pada data pemantauan alat medis.
Dimata orang awam, kondisinya tampak seperti berada diambang kematian.
Karena sudah mengetahuinya, tentu ia akan memanfaatkan hal ini sepenuhnya.
Bukankah kau suka menangis?
Bukankah kau suka berpura-pura sebagai bunga putih yang lemah?
Xue Yao ingin melihat, apakah air mata tanpa bukti itu lebih berguna, ataukah kondisi tragis yang nyata ini yang lebih meyakinkan.
Terlebih lagi, setelah kakek ikut campur dalam urusan ini.
Xue Ling tertegun mengangkat kepala, menatap alat-alat yang meraung tajam, menatap para tenaga medis yang bergegas masuk, menatap senyum sinis Xue Yao yang diarahkan kepadanya—lalu Xue Yao memejamkan mata dan kembali pingsan.
"Nona Xue Ling, mengapa anda berada disini?" suara seorang pria paruh baya terdengar dari belakang.
Xue Ling juga segera disingkirkan kesamping oleh tenaga medis yang sibuk melakukan penyelamatan, karena dianggap menghalangi.
Alat perekam suara yang disembunyikan disakunya, jatuh kelantai dengan suara keras.
Dalam suasana penyelamatan yang tegang, Xue Ling menoleh dengan pandangan kosong kearah pintu.
Yang berdiri disana adalah Zhang Xu, kepala pelayan kepercayaan kakek.
Saat ini, ia menatap Xue Ling dan alat perekam dilantai dengan ekspresi serius.
Disisi lain, Xue Mo berdiri dengan wajah kebingungan. Menatap semua yang terjadi diruang rawat.
A Ling, sebenarnya apa yang telah kau lakukan?