Aline terpaksa menyamar sebagai pengasuh polos demi menyelidiki kematian misterius kakaknya di kediaman seorang leader mafia kejam sekaligus CEO, bernama Adrian. Di sana, ia harus mengurus anak kembar Adrian yang sangat genius namun manipulatif. Masalah rumit muncul ketika anak-anak tersebut justru sengaja menjebak Aline dan Adrian agar menikah, sementara Adrian mulai mencurigai identitas asli Aline yang ternyata memegang kunci rahasia masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Pagi yang Panas di Ruang Makan
Bab 17: Pagi yang Panas di Ruang Makan
Pagi itu, atmosfer di ruang makan utama Mansion Dirgantara terasa seperti medan perang yang baru saja diguyur hujan es. Kejadian di gudang bawah tanah semalam telah menyebar di kalangan pelayan senior berkat kepanikan Pak Yusuf yang hampir terkena serangan jantung melihat pemandangan intim majikannya.
Aline berdiri di dekat meja saji dengan kemeja pelayan baru yang kaku dan apron krem yang disetrika rapi. Lensa kacamatanya sengaja dibuat agak buram oleh bedak tipis agar matanya terlihat sembap, memperkuat akting seorang gadis desa yang syok dan ketakutan karena merasa telah lancang tertidur bersama sang "Tuan Besar."
Di ujung meja makan kayu ek panjang, Adrian duduk dengan kemeja sutra abu-abu gelap yang terkancing rapi hingga ke leher. Wajahnya datar, dingin, dan benar-benar tanpa ekspresi—topeng mafia sempurnanya telah kembali terpasang. Namun, Pak Yusuf yang berdiri di sampingnya menyadari satu hal yang tidak biasa: Adrian tidak menyentuh koran paginya sama sekali. Sepasang mata elangnya hanya menatap lurus ke arah cangkir kopi hitamnya dengan keheningan yang berbahaya.
Sementara itu, di sisi kiri meja, si kembar Kenzo dan Keira duduk di kursi tinggi mereka dengan kepolosan anak-anak yang teramat palsu.
Kenzo dengan tenang mengunyah roti panggang menteganya sembari sesekali melirik Aline dengan binar respek yang tersembunyi rapi. Di sebelahnya, Keira sibuk memutar-mutar garpu kecilnya dengan senyum licik yang sangat menggemaskan. Rencana mereka semalam berjalan 100% sukses, namun bagi dua monster kecil ini, progress romansa Daddy mereka masih terlalu lambat.
"Kak Aline," panggil Keira dengan suara melengking imutnya, memecah keheningan yang mencekam di ruangan itu. "Bisa tolong ambilkan selai stroberi yang baru di lemari atas? Selai yang ini sudah agak asam, Keira ndak suka."
"B-Baik, Nona Muda," cicit Aline, membungkuk pelan lalu berbalik menuju area dapur bersih di belakang meja makan.
Begitu punggung Aline menghadap ke arah meja, Keira langsung memberikan kode kedipan mata yang sangat cepat kepada Kenzo. Sang peretas cilik menangkap sinyal itu dalam waktu kurang dari setengah detik.
Kenzo dengan sengaja menggeser siku tangan kanannya ke samping, berpura-pura hendak meraih segelas susu almon miliknya. Namun, gerakan sikunya justru menghantam nampan perak kecil tempat teko porselen berisi kopi hitam pekat milik Adrian berada.
Takkk!
Teko porselen itu terguling di atas permukaan meja, mengirimkan aliran cairan hitam yang masih mengepulkan uap panas langsung ke arah pangkuan Adrian.
"Eh! Daddy, maaf! Kenzo ndak sengaja!" jerit Kenzo dengan nada datar yang dibuat-buat panik.
Adrian memiliki refleks tempur seorang pembunuh profesional. Dalam waktu sepertiga detik, ia langsung berdiri dari kursinya untuk menghindari tumpahan air panas tersebut. Namun, luapan kopi hitam yang masif itu tetap berhasil membasahi bagian depan kemeja abu-abu mahalnya, menyisakan noda gelap yang besar dari dada hingga ke perutnya.
"Gusti Allah! Tuan Besar!" Aline yang baru saja berbalik membawa selai stroberi langsung menjatuhkan botol kaca tersebut ke atas karpet (yang untungnya tidak pecah) dan berlari mendekat dengan wajah super panik yang sangat natural.
Sesuai dengan insting pelayan desa yang ceroboh namun penuh tanggung jawab, Aline langsung meraih selembar kain serbet kain putih bersih dari atas meja. Tanpa memikirkan hierarki atau batas jarak aman, ia merangsek maju ke dalam zona satu meter Adrian dan mulai mengusap dada bidang sang mafia dengan gerakan yang terburu-buru dan panik.
"Aduh, maaf Tuan Besar! Kemejanya jadi kotor sekali! Ini panas ndak, Tuan? Duh... kulit Tuan ndak melepuh toh? Maafkan Tuan Muda Kenzo, dia beneran ndak sengaja..." cerocos Aline dengan logat desanya yang kental, tangannya bergerak cepat menyeka cairan kopi di dada Adrian.
Namun, di balik kepanikan konyolnya, jemari tangan kiri Aline yang terlatih secara militer sedang melakukan gerakan penyusupan yang teramat halus.
Saat tangan kanannya sibuk mengusap kemeja Adrian dengan serbet, ujung jari telunjuk dan jari tengah tangan kirinya dengan presisi menyelinap ke dalam celah saku kecil di bagian dalam jas hitam Adrian yang sengaja digantung di sandaran kursi makan tepat di belakang pria itu.
Sebuah gerakan sehalus embusan angin.
Dapat, batin Aline.
Sentuhan kulit jarinya merasakan sebuah benda kecil berbentuk persegi panjang dengan tekstur logam dingin yang dilapisi karet tipis—sebuah kunci enkripsi fisik pintar (hardware token security) milik Adrian yang digunakan untuk mengakses komputer ruang kerja pribadinya yang terisolasi dari jaringan internet luar. Benda inilah yang dicari Aline selama seminggu terakhir. Dengan menyalin kode frekuensi dari token ini, ia bisa menembus database kasus kematian Kak Rena malam ini juga.
Aline dengan cepat menarik kembali tangannya, menyembunyikan token kecil itu di dalam lipatan apron kremnya dengan gerakan makro yang tertutup oleh kibasan serbet.
"Nona Sanyoto. Hentikan," sebuah suara bariton yang teramat rendah dan dingin memotong gerakan Aline.
Aline membeku, mendongak menatap wajah Adrian yang kini jaraknya hanya terpaut sepuluh sentimeter dari wajahnya. Jantung Aline berdesir tajam saat ia menyadari bahwa tangan kekar Adrian telah mencengkeram pergelangan tangan kanannya yang memegang serbet dengan kekuatan yang sanggup meremukkan tulang pelayan biasa.
Mata elang Adrian menyipit tajam, menatap lurus ke dalam lensa kacamata tebal Aline. Kedekatan ini membuat Adrian kembali menghirup aroma melati liar yang semalam menemaninya tidur di gudang bawah tanah. Ada kilat kecurigaan yang membara di manik mata pria itu, namun anehnya, ada juga sejenis penolakan emosional yang membuat Adrian tidak tega untuk menghempaskan tangan gadis di hadapannya ini.
"Pergi ke kamarku. Ambilkan kemeja pengganti di lemari sisi kanan," perintah Adrian, suaranya bergetar halus menahan sesuatu yang bergejolak di dalam dadanya. Ia perlahan melepaskan cengkeramannya dari pergelangan tangan Aline.
"B-Baik, Tuan Besar... Saya permisi dulu," cicit Aline, langsung berbalik dan melangkah tergesa-gesa keluar dari ruang makan dengan kepala menunduk, menyembunyikan senyuman kemenangan taktisnya.
Di meja makan, Keira menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap punggung Aline yang menjauh dengan mata berbinar-binar penuh kelicikan romantis. "Wah... Daddy galak sekali sama Kak Aline. Padahal kan Kak Aline cuma mau bantu bersihkan baju Daddy yang kotor."
Kenzo tidak bersuara. Ia hanya menatap ke arah jas hitam ayahnya yang sedikit bergeser posisinya di sandaran kursi. Sebagai sesama peretas, Kenzo menduga ada sesuatu yang baru saja berpindah tempat, namun ia memilih diam. Aliansi semalam dengan Aline jauh lebih menarik daripada membongkar rahasia sang pengasuh di depan Daddy mereka yang membosankan.