NovelToon NovelToon
Gairah Membara Seorang Wanita Simpanan CEO

Gairah Membara Seorang Wanita Simpanan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Percintaan Konglomerat / Kaya Raya / CEO
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Initial Be

"Tandatangani kontrak ini, maka seluruh utang keluargamu lunas dan ibumu akan mendapatkan perawatan terbaik malam ini juga."
Bagi Viona (23 tahun), dunia ini tidak pernah ramah. Demi menyelamatkan nyawa ibunya dari ancaman rentenir kejam, dia terpaksa membuang harga dirinya sedalam mungkin. Di bawah guyuran hujan badai, dia menjual kebebasannya kepada seorang pria asing yang ternyata adalah penguasa bisnis paling ditakuti di ibu kota—Arkan Mahendra (29 tahun).
Arkan adalah pria berwajah dewa yang berhati es. Baginya, Viona hanyalah mainan eksklusif yang dia beli untuk memuaskan obsesi dan gairahnya. Hubungan mereka adalah rahasia mutlak. Di siang hari, Viona hanyalah staf administrasi biasa yang tak terlihat. Namun di malam hari, dia adalah wanita yang terkurung dalam pesona membara sang CEO dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: Dinding Es yang Retak

Malam kian larut, namun sisa-sisa ketegangan dari pertengkaran hebat tadi masih menggantung pekat di udara kamar utama penthouse. Viona Adeline duduk bersandar di kepala ranjang dengan kedua lutut yang ditekuk ke dada. Gaun malam hitam yang dikenakannya tampak sedikit kusut. Matanya yang bulat besar menatap kosong ke arah jendela kaca besar yang menampilkan kerlip lampu kota Jakarta, sementara jemarinya bergerak perlahan mengusap pergelangan tangan kirinya—tempat gelang berlian pemberian Arkan melingkar dingin.

Rasa perih di hatinya akibat bentakan Arkan barusan masih terasa nyata. Status sebagai wanita simpanan kontrak benar-benar mengikis habis seluruh sisa harga dirinya, membuatnya merasa bagai burung dalam sangkar emas yang tidak memiliki hak atas kebebasannya sendiri. Namun, yang membuat dadanya kian sesak adalah kenyataan bahwa hatinya mulai goyah. Ia benci mengakui bahwa pelukan posesif Arkan dan kecemburuan pria itu telah memicu getaran aneh yang seharusnya tidak boleh ada dalam hubungan transaksi ini.

Pintu kamar mandi terbuka perlahan. Arkan Mahendra melangkah keluar dengan celana panjang hitam dan kemeja santai abu-abu yang kancing atasnya dibiarkan terbuka. Rambut hitamnya sedikit berantakan, dan rahang tegasnya tidak lagi sekaku beberapa jam lalu. Pria berusia 29 tahun itu tidak langsung mendekati ranjang, melainkan berdiri di dekat meja rias, menatap Viona melalui pantulan cermin besar dengan sepasang mata kelam yang tak terbaca.

Suasana hening yang mencekam kembali menyelimuti mereka. Viona memilih untuk mengalihkan pandangan, menolak beradu netra dengan sang CEO yang telah menjungkirbalikkan hidupnya.

Melihat penolakan diam-diam dari Viona, Arkan menghela napas rendah—sebuah helaan napas yang jarang ia tunjukkan di depan siapa pun. Langkah kakinya yang tegap terdengar mendekati ranjang, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma maskulinnya yang pekat kembali merayap masuk ke indra penciuman Viona. Arkan duduk di tepi ranjang, membuat kasur empuk itu sedikit ambles di bawah bobot tubuh atletisnya setinggi 187 cm.

"Sampai kapan kau akan terus mendiamkanku seperti ini, Viona?" tanya Arkan dengan suara baritonnya yang rendah, tidak lagi meledak-ledak seperti saat ia melihat foto Viona bersama Reno sore tadi.

Viona tetap bergeming, enggan bersuara.

Sifat posesif Arkan yang menuntut kendali penuh langsung terusik melihat respons dingin wanita di depannya. Ia mengulurkan tangannya yang kokoh, meraih pergelangan tangan kiri Viona dan menariknya perlahan agar wanita itu berputar menghadapnya. Cengkeramannya tidak kuat, namun cukup tegas untuk mengunci pergerakan Viona.

"Lepaskan saya, Tuan Mahendra," ucap Viona akhirnya, suaranya terdengar serak dan sarat akan kerapuhan. "Bukankah kewajiban saya untuk malam ini sudah selesai? Anda sudah meluapkan kemarahan Anda, dan saya sudah menerima hukumannya. Tolong biarkan saya istirahat."

Mendengar panggilan 'Tuan Mahendra' yang kembali diucapkan dengan nada formal dan dingin, ada sesuatu yang berdenyut tidak nyaman di dada Arkan. Ego angkuhnya berontak, namun di sisi lain, melihat air mata yang kembali menggenang di pelupuk mata sendu Viona membuat dinding es di hatinya sedikit meretak. Trauma pengkhianatan di masa lalu selalu membuatnya menganggap hubungan pria-wanita hanyalah sebatas transaksi, namun kehadiran Viona di bawah kontraknya secara perlahan mulai merusak kendali isu yang ia miliki.

"Aku tidak suka kau menatapku dengan pandangan penuh kebencian seperti itu, Viona," bisik Arkan rendah, jemarinya bergerak naik menyentuh dagu Viona, mengangkatnya perlahan agar sepasang mata bulat itu terpaksa menatap langsung ke dalam manik matanya yang kelam.

"Lalu saya harus menatap Anda seperti apa, Tuan?" balas Viona dengan senyuman getir yang mengiris hati. "Apakah saya harus tersenyum manis penuh cinta pada pria yang telah membeli kebebasan saya dengan uang? Pria yang siang hari mengabaikan saya demi tunangan resminya, lalu malam hari mengurung saya karena cemburu buta pada masa lalu saya?"

Kata-kata Viona laksana tamparan keras yang telak mengenai ego Arkan. Pria itu terpaku sejenak. Sebelum egonya kembali mengambil alih dan membalas dengan kata-kata tajam, Arkan justru menarik tubuh ramping Viona ke dalam dekapannya, menyembunyikan wajah wanita itu di dada bidangnya yang hangat.

Viona terkejut dengan tindakan tiba-tiba ini. Ia mencoba mendorong dada Arkan dengan kedua tangannya, namun Arkan justru mempererat pelukannya, mengunci tubuh Viona tanpa celah.

"Diamlah, Viona. Hanya malam ini... jangan membantahku," gumam Arkan pelan di dekat telinga Viona, suaranya terdengar sangat lelah.

Mendengar nada suara Arkan yang melembut tanpa ada intimidasi, detak jantung Viona bertalu kencang, melakukan kesalahan yang coba ia hindari selama ini. Kehangatan fisik di antara mereka malam itu kembali menyulut gairah tersembunyi, sebuah ketegangan konstan yang kian mengaburkan batasan kontrak yang mereka buat. Perlahan, Viona menghentikan perlawanannya, membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan dominan sang CEO posesif yang perlahan mulai meruntuhkan dinding pertahanannya sendiri.

Keesokan paginya, suasana di kantor pusat Mahendra Group berjalan dengan ritme yang sangat sibuk. Sebagai staf administrasi junior di Divisi Manufaktur, Viona menenggelamkan diri di balik tumpukan berkas laporan anggaran bulanan. Kemeja kerjanya yang berwarna biru muda dikancing rapi hingga ke atas leher, menyembunyikan rapat-rapat jejak kepemilikan Arkan dari malam sebelumnya.

Di tengah fokusnya memeriksa angka-angka di layar komputer, atmosfer di sekitar kubikelnya mendadak berubah riuh. Bisik-bisik para staf wanita kembali terdengar, memicu kecurigaan konstan yang selalu membuat adrenalin Viona berpacu cepat.

"Kalian tahu tidak? Hari ini akan ada rapat besar di lantai atas antara Tuan Arkan dan perwakilan keluarga konglomerat Clarissa," bisik salah seorang staf di kubikel sebelah dengan nada heboh. "Kudengar rapat ini akan menentukan tanggal pasti pengumuman pertunangan resmi mereka di media massa."

"Wah, pantas saja dari pagi aura di lantai eksekutif terasa sangat tegang. Ini benar-benar pernikahan bisnis terbesar tahun ini!" sahut yang lain.

Mendengar potongan percakapan tersebut, dada Viona kembali berdenyut nyeri, menghadirkan rasa angst yang mendalam di ulu hatinya. Ia dipaksa menelan pil pahit berulang kali, menyadari bahwa apa pun yang terjadi di dalam penthouse mewah di malam hari tidak akan pernah bisa mengubah kenyataan pahit di siang hari. Arkan adalah milik Clarissa di hadapan dunia, sedangkan dirinya hanyalah rahasia terlarang yang tidak boleh terlihat.

"Viona, tolong fotokopi dokumen revisi ini sebanyak sepuluh rangkap dan antarkan ke ruang rapat divisi di sebelah," panggil senior divisinya, memecah lamunan getir Viona.

Viona buru-buru mengangguk dan mengambil dokumen tersebut. "Baik, Mbak. Saya kerjakan sekarang."

Saat berdiri di depan mesin fotokopi yang terletak di sudut koridor, Viona mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Namun, langkah kaki yang tergesa-gesa mendekat membuatnya menoleh. Wajahnya seketika memucat saat melihat sosok Reno kembali muncul di area divisinya, melewati meja resepsionis dengan ekspresi penuh kepanikan.

"Viona!" seru Reno begitu melihatnya. Pria itu melangkah cepat mendekat, mengabaikan tatapan heran dari beberapa karyawan yang ada di sekitar koridor.

"Reno? Kenapa kau nekat datang ke mari lagi?" bisik Viona dengan suara bergetar karena panik dan takut. Risiko rahasianya terbongkar di tempat kerja kini berada di titik tertinggi. "Aku sudah katakan semalam, jangan pernah menemuiku lagi!"

Reno mencengkeram kedua tangan Viona dengan cemas, matanya memancarkan luka yang mendalam. "Aku tidak bisa membiarkanmu terus terikat dengan pria kejam itu, Vio! Aku tahu keluargamu hancur karena utang bisnis mendiang ayahmu, tapi menjadi wanita simpanan CEO arogan itu bukan jalan keluarnya! Ikutlah bersamaku, aku akan membantumu melunasi segalanya!"

Mendengar kata 'wanita simpanan' diucapkan dengan cukup keras di koridor kantor, jantung Viona seolah berhenti berdetak. Beberapa pasang mata di sekitarnya mulai menatap mereka dengan penuh kecurigaan.

Sebelum Viona sempat melepaskan cengkeraman Reno dan membantah kata-katanya, sebuah suara bariton yang dingin dan sarat akan otoritas mutlak menggema dari ujung koridor, membekukan seluruh pergerakan di ruangan tersebut.

"Lepaskan tanganmu dari stafku sekarang juga, Tuan Reno."

Arkan Mahendra berdiri di sana bersama sekretaris utamanya. Setelan jas hitam sempurnanya memancarkan aura kepemimpinan yang luar biasa mengintimidasi, namun sepasang mata hitam kelamnya kini menatap Reno dengan kilat kemarahan dan kecemburuan yang siap meledak. Pria egois itu melangkah maju dengan ritme yang konstan, siap menghancurkan siapa saja yang berani mengusik wilayah kekuasaannya.

1
Aysah Meta
Ya tuhan Buu..bisanya kau nolak anak mu,Viona!!Banyak hal sdh dia lalui..Krn km,dia melakukan ini semua.
bener sih kecewa sama perbuatan anak,tapi semua itu buat nyambung hidup mu.
Aysah Meta
Akhirnyaa up juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!