Sama seperti bosnya, Adnan juga punya hobi mengambil foto dengan kameranya. Namun hobinya berubah jadi obsesi ketika dia ketagihan mendapatkan job 'fotografer p|us-p|us'. Semua itu berawal saat Adnan menemukan kamera tua milik mendiang ayahnya di lemari.
Kamera tua itu mampu membuat Adnan melihat dalam mode tembus pandang, lalu mode menampilkan yang tak kasat mata, bahkan sampai mode ronsen yang digunakan dalam kedokteran. Gilanya lagi, kamera itu mampu bisa membuat wanita klepek-klepek pada Adnan. Bagaimana bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9 - Klien Kedua
Adnan mengarahkan lensa kamera ke sekitar lokasi kebakaran. Layar hanya menampilkan gambar normal seperti biasanya. Tidak ada tulisan merah, tidak ada informasi aneh, dan tidak ada petunjuk apa pun mengenai apa yang baru saja terjadi. Padahal beberapa menit lalu kamera itu mampu menunjukkan identitas dua korban yang hangus terbakar. Adnan mengernyit kebingungan. Semakin lama dia menggunakan kamera tersebut, semakin banyak misteri yang belum bisa dijelaskan.
Meski penasaran, Adnan akhirnya memilih menyimpan kembali kamera itu ke dalam tasnya. Saat ini ada hal yang jauh lebih penting untuk dipikirkan. Liza dan Fajar masih terduduk di pinggir jalan dengan wajah penuh kelelahan setelah mengalami guncangan emosional yang luar biasa. Keduanya baru saja mengira telah kehilangan kedua orang tua mereka, sebelum akhirnya mengetahui bahwa Wildan dan Glenda ternyata masih hidup.
Adnan berjalan menuju warung kecil yang berada tidak jauh dari lokasi kebakaran. Ia membeli beberapa botol air mineral lalu kembali menghampiri kakak beradik itu. "Minum dulu," ujarnya sambil menyerahkan masing-masing satu botol.
"Makasih, Kak Ad," ucap Fajar pelan.
Adnan mengangguk sambil tersenyum tipis. Sementara itu, Liza menerima botol yang diberikan tanpa banyak bicara. Matanya masih sembab akibat terlalu banyak menangis. Sesekali gadis itu menatap puing-puing rumahnya yang kini hanya menyisakan rangka bangunan hangus. Sulit baginya menerima kenyataan bahwa rumah tempat ia tumbuh sejak kecil kini telah musnah dalam waktu kurang dari satu hari.
Suasana di antara mereka sempat hening beberapa saat. Sesekali terdengar suara petugas yang masih melakukan pemeriksaan di sekitar lokasi kebakaran. Beberapa wartawan mulai berdatangan untuk meliput kejadian tersebut, sementara warga sekitar masih berkerumun di balik garis polisi.
"Kak Ad..." panggil Fajar memecah keheningan.
"Hm?"
"Kalau rumah kita sudah kayak gini, nanti kita tinggal di mana?"
Pertanyaan itu membuat Liza ikut menoleh. Adnan sempat berpikir sejenak sebelum menjawab. "Pasti Mas Wildan sudah punya rencana. Yang penting sekarang kalian berdua tenang dulu. Rumah memang bisa dibangun lagi, tapi syukurlah Papa dan Mama kalian selamat."
Fajar mengangguk pelan. Kalimat itu sedikit membuatnya merasa lebih baik. Liza juga tidak membantah. Untuk pertama kalinya sejak mereka mengenal satu sama lain, gadis itu tampak terlalu lelah untuk berdebat dengan Adnan.
Sekitar empat puluh menit kemudian, sebuah SUV hitam memasuki area yang sudah dipenuhi kendaraan petugas. Begitu melihat mobil tersebut, Liza langsung berdiri. Matanya membesar ketika mengenali kendaraan milik keluarganya.
"Itu mobil Papa!" serunya.
Tak lama kemudian Wildan keluar dari kursi pengemudi, disusul Glenda dari sisi lainnya. Wajah keduanya tampak panik dan kelelahan. Mereka jelas baru saja menempuh perjalanan panjang setelah menerima kabar mengenai kebakaran tersebut.
"Papa!"
Liza langsung berlari menghampiri ayahnya. Wildan membuka kedua tangannya dan memeluk putrinya erat. Tangis Liza yang sempat mereda kembali pecah. Fajar pun ikut bergabung dalam pelukan itu. Tak lama kemudian Glenda juga memeluk kedua anaknya sambil menangis haru.
Melihat keluarganya masih utuh dan selamat, Wildan tampak mengembuskan napas lega. Beberapa menit mereka hanya saling berpelukan tanpa memedulikan orang-orang di sekitar. Setelah suasana sedikit lebih tenang, Wildan akhirnya menghampiri Adnan.
"Terima kasih, Adnan," ucapnya tulus.
Adnan segera menggeleng. "Saya nggak melakukan apa-apa, Mas."
"Kamu menjaga anak-anak saya. Itu sudah lebih dari cukup."
Glenda ikut mengangguk. "Kalau bukan karena kamu, kami nggak tahu bagaimana keadaan mereka sekarang."
Adnan tersenyum canggung. Ia tidak terbiasa menerima pujian seperti itu. Namun sebelum sempat menjawab, seseorang tiba-tiba berdiri di hadapannya.
Liza menatap Adnan beberapa saat sebelum akhirnya berkata, "Makasih ya, Ad."
Adnan sampai berkedip beberapa kali karena mengira dirinya salah dengar. Selama ini Liza hampir selalu bersikap ketus kepadanya.
"A-apa?"
"Aku bilang makasih..." ulang Liza.
"Kamu nggak demam?" Adnan keheranan. Karena rasanya mustahil mendengar kalimat itu keluar dari mulut Liza.
Wajah Liza langsung berubah kesal. "Dasar nyebelin!"
Meskipun begitu, kali ini tidak ada kemarahan sungguhan dalam suaranya. Bahkan sudut bibirnya sempat terangkat membentuk senyum tipis. Melihat itu, Wildan dan Glenda saling bertukar pandang sambil tersenyum kecil.
Tak lama kemudian Wildan menjelaskan rencana mereka. Untuk sementara waktu keluarga Narendra akan tinggal di apartemen milik mereka yang berada di pusat kota sampai rumah selesai diperbaiki dan penyelidikan kebakaran berakhir.
"Kamu pulang saja dulu, Nan," kata Wildan. "Hari ini pasti melelahkan buatmu. Bawalah mobil itu untuk sementara. Untuk selanjutnya aku kabari lagi."
Adnan baru menyadari betapa letih tubuhnya. Sejak pagi dia nyaris tidak memiliki waktu beristirahat. Terlalu banyak hal terjadi dalam satu hari, mulai dari urusan pekerjaan, kemacetan panjang, kejar-kejaran dengan Iwan, ditilang polisi, hingga kebakaran rumah keluarga Narendra.
"Baik, Mas," jawabnya akhirnya.
Sebelum pergi, Adnan sempat menatap keluarga Narendra sekali lagi. Meski rumah mereka telah hancur, setidaknya mereka masih memiliki satu sama lain. Itu jauh lebih berharga daripada bangunan semegah apa pun.
Dengan perasaan lega, Adnan berjalan menuju mobil. Bersamaan dengan itu, ponselnya berdering. Ia kembali mendapatkan panggilan dari nomor tak dikenal.
"Halo?" Adnan segera menjawab panggilan itu.
"Halo? Apa benar ini jasa fotografer p|us-p|us di iklan itu?" tanya seorang wanita dari seberang telepon.
"Benar sekali, Mbak. Apa Mbak mau memakai jasa saya?" tanggap Adnan.
"Iya! Aku ingin memakai jasamu malam ini! Bisa kan?"
Adnan terdiam sejenak. Dia mengingat jadwalnya nanti malam. Ia ingat tak punya kesibukan apapun. Meski agak lelah, Adnan memutuskan mengambil pekerjaan itu.
"Bisa, Mbak! Dimana kita--"
"Kita ketemu di hotel Gardena kamar vip nomor sepuluh!" potong wanita itu, lalu langsung mengakhiri panggilan.
Adnan kini hanya bisa tercengang. Mendengar hotel dan kamar, pikirannya jadi berlarian kemana-mana.