NovelToon NovelToon
Dinikahi Sang Ahli Forensik

Dinikahi Sang Ahli Forensik

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

Sebagai wedding planner, Cala Danendra percaya pada kisah bak dongeng. Namun, hidupnya berubah mencekam dalam semalam setelah ia tak sengaja merekam aksi pembunuhan di pesta kliennya.

​Demi melindunginya dari kejaran pembunuh bayaran, kepolisian menawarkan solusi ekstrem: menyembunyikan Cala dalam ikatan pertunangan palsu dengan Dr. Ronan Maheswara, ahli forensik jenius yang dingin dan antisosial. Kini, Cala si perangkai romansa harus hidup di apartemen Ronan yang steril bagai ruang operasi, lengkap dengan aturan ketat dan foto TKP yang berserakan.

​"Cinta itu hanyalah lonjakan hormon oksitosin dan reaksi kimiawi di otak yang akan memudar dalam waktu empat tahun," ucap Ronan datar tanpa mengalihkan pandangan dari mikroskopnya. "Dan tolong, sepatumu mengontaminasi karpetku."

​Cala memutar bola matanya. "Kalau begitu, mari kita lihat reaksi kimiawi apa yang terjadi kalau aku nekat memelukmu sekarang, Dokter."


​Namun, ketika ancaman maut semakin mendekat, batas antara sandiwara dan k

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​Bab 17: Kencan di Restoran Lumina

​"Berhenti memanggilku dengan sayang kalau wajahmu masih kaku seperti papan kayu," sungut Cala seraya menarik kerah gaunnya ke atas. "Orang buta pun tahu kamu sedang bersandiwara."

​Cala berdiri tegak di depan cermin besar ruang tamu. Ia baru saja mengganti pakaian kerjanya dengan gaun malam berbahan sutra merah marun yang diantarkan secara khusus oleh layanan butik kilat pesanan Ronan. Gaun itu sangat pas membalut lekuk tubuhnya, menonjolkan kesan elegan sekaligus mematikan. Cincin platina berharga fantastis itu melingkar pas di jari manisnya, memantulkan kilau cahaya lampu dengan sangat mencolok.

​Pintu kamar utama terbuka pelan. Suara langkah kaki beradu dengan lantai marmer terdengar mendekat.

​"Kemampuan rekayasa ekspresiku jauh di atas rata-rata manusia biasa," sanggah Ronan dari arah belakang.

​Cala memutar tubuhnya untuk membalas ucapan sombong pria itu, namun kata-katanya mendadak tertahan di pangkal tenggorokan. Matanya membelalak pelan tanpa bisa dicegah.

​Pria gila kebersihan yang biasanya hanya memakai kemeja kaku atau jas laboratorium itu kini terlihat sangat berbeda. Ronan mengenakan setelan jas potongan khusus berwarna biru gelap yang menempel sempurna di tubuh tinggi bidangnya. Kemeja putih di dalamnya dibiarkan sedikit terbuka di bagian kerah tanpa ikatan dasi, memberikan kesan santai namun sangat berbahaya. Rambutnya disisir rapi ke belakang, menonjolkan garis rahangnya yang keras dan tegas. Tampilan visual pria itu meningkat drastis, nyaris menyerupai model sampul majalah bisnis kelas dunia.

​"Kenapa diam? Apakah jas ini salah warna menurut teori desain manjamu?" tanya Ronan dengan nada datar yang sangat menyebalkan, sukses besar merusak pesona visualnya dalam sekejap.

​Cala menelan ludah, buru-buru membuang muka untuk menutupi rasa gugupnya yang tiba-tiba muncul. "Tidak. Kamu terlihat lumayan untuk ukuran pria yang hidup dari meneliti bakteri pembusuk. Ayo kita pergi sebelum aku berubah pikiran."

​Mereka turun ke garasi bawah tanah dan langsung masuk ke dalam mobil sedan sport perak milik Ronan. Perjalanan membelah hiruk pikuk lalu lintas kota terasa sangat menegangkan. Sepanjang jalan, Ronan terus memantau layar di dasbor mobilnya, memastikan tidak ada mobil van hitam atau kendaraan mencurigakan yang berani mengikuti mereka dari belakang.

​Restoran Lumina berdiri sangat kokoh di kawasan elit pusat kota. Fasad bangunannya didominasi kaca tebal antipeluru sesuai fakta yang diucapkan Ronan sebelumnya. Penjagaan keamanan sangat ketat di pintu masuk utama. Tidak ada sembarang orang yang bisa melenggang masuk tanpa reservasi khusus bernilai jutaan rupiah.

​Ronan menyerahkan kunci mobil pada petugas parkir. Ia berjalan mengitari bagian depan mobil, membukakan pintu untuk Cala, dan tanpa ragu langsung melingkarkan lengan kokohnya di pinggang ramping wanita itu. Sentuhan jas Ronan terasa dingin, namun genggaman tangan pria itu di pinggangnya sangat erat dan protektif.

​"Tersenyum," bisik Ronan tepat di daun telinga Cala.

​Cala menarik napas panjang dan langsung memamerkan senyum paling manis yang ia miliki. Mereka berjalan berdampingan layaknya pasangan konglomerat yang sedang dimabuk cinta luar biasa. Petugas penerima tamu menunduk hormat, memeriksa nama Ronan di daftar reservasi khusus, lalu mengantar mereka melangkah masuk.

​Suasana Restoran Lumina sangat tenang dan berkelas. Alunan musik jazz mengalun lembut. Lampu kristal berpendar keemasan, menyorot deretan meja bundar yang diisi oleh para tamu berjas mahal. Aroma mentega cair dan daging sapi panggang berkualitas tinggi menguar memenuhi udara ruangan.

​"Kita ambil meja sudut bagian tengah. Area ini punya sudut pandang tiga ratus enam puluh derajat ke seluruh ruangan, tapi punggung kita terlindungi oleh pilar marmer," gumam Ronan pelan setelah mereka duduk dan pramusaji pergi meninggalkan buku menu bersampul kulit.

​Mata tajam Ronan menyapu setiap pelayan yang berlalu-lalang, menghitung jumlah langkah dan posisi mereka seperti radar militer.

​"Berhenti bertingkah seperti kamera pengawas," tegur Cala seraya membuka buku menunya lebar-lebar untuk menutupi wajah. "Pesan makananmu dan bersikaplah seperti calon suami yang normal. Apa yang mau kamu makan?"

​"Aku akan memesan daging sapi tanpa lemak tambahan yang dimasak sangat matang," jawab Ronan tanpa perlu melihat gambar di dalam buku menu.

​Cala langsung menurunkan buku menunya ke atas meja. Matanya melotot menatap Ronan seolah pria itu baru saja mengucapkan penghinaan besar bagi umat manusia.

​"Sangat matang? Kamu memesan daging sapi premium di restoran bintang lima dan memintanya dimasak sampai menjadi karet gosong?" seru Cala tidak percaya.

​"Daging mentah atau daging setengah matang mengandung potensi patogen mematikan, bakteri merugikan, dan parasit cacing pita yang bisa merusak sistem pencernaan manusia secara permanen," urai Ronan panjang lebar dengan wajah tanpa dosa. "Tingkat kematangan penuh adalah satu-satunya cara mutlak membunuh mikroorganisme tersebut seratus persen."

​"Ini daging impor kelas A, Dokter Sombong! Sapi-sapi ini dirawat bagai raja," protes Cala gemas. "Memasaknya sampai sangat matang adalah sebuah kejahatan kuliner tingkat tinggi. Kamu merusak mahakarya sang koki. Pesan tingkat kematangan sedang, atau aku tidak akan mau makan bersamamu di meja ini."

​Ronan menyandarkan tubuhnya santai ke sandaran kursi empuk. "Kamu memprioritaskan kenikmatan lidah sesaat dibandingkan keselamatan organ vital ususmu?"

​"Aku memprioritaskan kewarasan! Kamu tidak bisa menikmati hidup kalau terus hidup dalam ketakutan pada hal mikroskopis," balas Cala pantang menyerah. Ia menopang dagunya dengan tangan kiri, sengaja memamerkan cincin platinanya agar berkilau terkena cahaya lilin di atas meja. "Sebagai tunanganmu, aku yang akan memesankan makanan hari ini. Dua porsi daging sapi premium dengan tingkat kematangan sedang. Tidak ada bantahan medis lagi."

​Perdebatan kecil dan tajam itu mengalir begitu saja. Tanpa mereka sadari, tarik ulur argumen tersebut justru membuat mereka terlihat sangat natural di mata orang lain. Tidak ada kecanggungan kaku seperti saat mereka diam di dalam apartemen steril. Mereka benar-benar terlihat persis seperti sepasang kekasih yang sedang meributkan hal sepele di tengah kencan romantis nan mahal.

​Ronan menatap Cala lurus-lurus. Cahaya lilin memantul di dalam iris mata tajam pria itu, membuat aura dinginnya sedikit mencair. Pria itu menggeser tangan kanannya melintasi meja, lalu menggenggam jemari Cala yang bebas dengan gerakan sangat pelan dan lembut.

​Cala terkesiap. Ia menatap Ronan bingung, jantungnya mendadak berdegup kencang lagi menabrak logika. Ini sama sekali bukan instruksi skenario awal yang mereka rencanakan di markas.

​"Tanganmu dingin sekali," ucap Ronan pelan, suaranya jauh lebih berat dan lembut dari biasanya. Ibu jarinya mengusap perlahan punggung tangan Cala, menciptakan sensasi hangat yang membuat bulu roma Cala meremang seketika.

​"AC restoran ini terlalu dingin," gagap Cala. Otaknya mendadak buntu. Kenapa pria gila kebersihan ini tiba-tiba bertingkah semanis ini tanpa peringatan aba-aba?

​"Pertahankan senyummu. Tatap mataku. Ada yang terus mengawasi gerak-gerik meja kita dari arah dapur sejak kita duduk tadi," bisik Ronan sepelan embusan angin.

​Peringatan itu langsung menarik Cala kembali menghantam bumi. Ini masih murni sandiwara mematikan. Sindikat hantu itu benar-benar ada di sekitar mereka, mengawasi setiap tarikan napas.

​Cala segera membalas genggaman tangan Ronan dengan erat. Ia tertawa pelan nan manja, mencoba terlihat rileks meskipun keringat dingin ketakutan mulai merembes membasahi punggung gaunnya. Di sela-sela tawanya, Cala melirik sekilas melalui sudut matanya ke arah dapur terbuka di ujung ruangan restoran.

​Dari arah dapur mewah tersebut, seorang pelayan pria berseragam rompi hitam berjalan perlahan mendekati meja mereka. Langkah pelayan itu terlihat agak kaku dan dipaksakan. Tangannya memegang sebuah nampan logam bundar yang berisi dua gelas minuman pembuka berwarna merah pekat.

​Cala menyipitkan matanya tajam. Ia adalah perencana pernikahan kelas atas yang terbiasa mengawasi ratusan pramusaji profesional di lapangan. Gerakan pelayan yang sedang berjalan ke arah mejanya ini sangat menyalahi standar keseimbangan restoran mewah.

​Pelayan itu berjalan semakin dekat. Cala bisa melihat dengan sangat jelas tangan pria itu sedikit gemetar saat menahan beban nampan logamnya. Namun yang paling membuat insting bahaya Cala berteriak kencang adalah arah pandangan mata pelayan tersebut.

​Alih-alih menatap ramah ke wajah tamu atau fokus menjaga keseimbangan gelas di atas nampannya, mata pelayan itu terus melirik liar. Pandangannya terpaku tajam ke arah tas selempang milik Cala yang diletakkan manis di atas kursi kosong sebelah kirinya. Seolah tas kecil itu adalah satu-satunya target utama malam ini.

1
Watie Zack
wow keren, serasa ikut didalam cerita👍
Anbu Hasna
Tanteku punya hotel. dan benar, dia lebih jujur ke pihak WO biar printilan pesta bisa masuk tanpa menganggu pelanggan, daripada ke pihak paspampres. masa bodo sama keselamatan presiden, biarkan dia lewat pintu depan 🤣🤣
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
ronan takut terjadi sesuatu pada cala. dia takut gagal dalam melindungi cala.
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
puyeng aq
ElHi
seruuu euyyy....kyk detective conan🔥🔥
Savana Liora: maacii
total 1 replies
Nor aisyah Fitriani
uppp truss thirt
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
mulai terkuak semoga saja cepat tertangkap ya mereka" yg jahat sama Cala biar mereka mendekam dlm sel penjara dan di hukum mati 😡😡
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
wajarlah Ronan kesel sama kepolisian karna nyawa mereka td dipertaruhkan untung Ronan bisa menghindar dan saksi satu"nya malah di bawa pergi lelet banget atasan dan bawahannya 😏😏
Watie Zack
semoga kebongkar dalangnya
Watie Zack
wow Ronan aku padamu😍
Watie Zack
ada apa dgn tasnya Cala????
Watie Zack
awalnya drama lama² kecantol beneran nih si Rolan
Watie Zack
jgn² orang dekat cala ada yg terlibat😄
Watie Zack
semakin penasaran semangat Thor
Deasy Suryandari
ikut deg²qn bacanya
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
bagus Ronan kamu sdh antisipasi dngn menancapkan alat pelacak ke pelayan palsu itu 👍👏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
ayo bawa ke markas Ronan biar th dalang semuanya
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
gerakan Ronan gercep banget sigap kl enggak pasti Cala dlm bahaya oleh cairan itu 🤗🤗
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Cala bawa tas mu dr sana
Fariedha Rahman Khan
suka bngett
berasa nonton adegan action
Fariedha Rahman Khan: mesame kak
semngt trus up nya ya
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!