Kael Valmont adalah pewaris sekaligus pemimpin muda Shadow Crown, organisasi mafia yang mengendalikan segalanya dari balik bayangan. Dikenal kejam dan tak terkalahkan, tidak ada yang berani mengkhianatinya.
Namun suatu malam, seseorang berhasil menyusup ke dalam organisasinya. Pengkhianatan itu membuat Kael terluka parah dan menghilang tanpa jejak.
Di sebuah desa terpencil bernama Desa Sekar, Hana, seorang dokter muda, menemukan pria misterius yang terdampar di pesisir pantai dalam keadaan sekarat. Tanpa mengetahui identitasnya, Hana berjuang menyelamatkan nyawa pria tersebut.
Saat semua orang mengira ia hanyalah korban biasa, sebuah rahasia perlahan terungkap. Seseorang sedang mencarinya. Bukan untuk menolongnya, melainkan untuk memastikan ia tidak pernah bangun lagi.
Siapa sebenarnya pria misterius yang ditemukan di tepi pantai itu? Dan rahasia apa yang tersembunyi di balik lambang mahkota hitam yang terukir di tubuhnya?
Ketika masa lalu mulai mengejarnya, Desa Sekar yang damai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 17 Suara yang Kembali
Pagi hari di Desa Sekar berjalan seperti biasa.
Mentari hangat menyinari atap-atap rumah panggung. Para nelayan baru saja kembali dari laut membawa hasil tangkapan, sementara anak-anak desa berlarian menuju sekolah darurat dengan wajah ceria.
Namun di balik ketenangan itu, Kael masih membawa sisa mimpi semalam. Bayangan tentang Arin kembali membuka luka lama yang selama ini berusaha ia kubur. Meski begitu, ia menyimpan semuanya rapat-rapat di balik wajah tenangnya yang dingin.
"Pak Guru!" seru beberapa murid yang berlari menyambutnya di depan pintu.
"Pak Guru, hari ini kita belajar apa?" tanya seorang anak laki-laki dengan mata berbinar.
"Jangan matematika lagi ya, Pak!" timpal yang lain, memicu gelak tawa riuh dari teman-temannya.
Kael hanya menggelengkan kepala pelan. Tatapannya melembut menatap murid-muridnya. "Kalian bahkan belum melangkah masuk ke dalam kelas."
"Tapi kami sudah takut duluan sama angkanya, Pak," sahut salah satu murid sambil nyengir, membuat tawa anak-anak kembali pecah.
Kael ikut tersenyum tipis, sebuah garis senyum langka yang perlahan menghalau kabut kelam di benaknya.
Di bawah pohon ketapang yang rindang tidak jauh dari kelas, Rani duduk diam memperhatikan kegiatan belajar. Ia masih memegang bukunya mulai menarik sebuah sketsa dan memerhatikan Kael dari jarak jauh. Cukup lama akhirnya Rani tersenyum melihat hasil lukisannya yang indah.
Saat jam istirahat tiba, beberapa murid perempuan berjalan menghampiri Rani.
"Mau ikut main lompat tali?" tanya salah satu anak perempuan sambil mengulurkan tangan.
Rani sempat membeku gugup. Ia meremas ujung bajunya, namun setelah beberapa detik yang menegangkan, ia mengangguk pelan.
Anak-anak itu langsung tersenyum lebar. Mereka menarik lembut tangan Rani menuju halaman sekolah yang ramai. Dari kejauhan, Kael perhatian interaksi itu tanpa bersuara. Namun, seulas binar bangga tepercik di matanya.
Siang hari, Dokter Hana datang berkunjung membawa beberapa kotak vitamin dan perlengkapan kesehatan. Kehadirannya langsung disambut antusias oleh anak-anak.
Saat sedang membagikan vitamin, pandangan Hana tanpa sengaja tertuju pada Kael yang sibuk memperbaiki meja kayu yang rusak di sudut halaman. Lengan kemeja pria itu tergulung hingga siku, mengekspos bekas-bekas luka lama di kulitnya. Hana terdiam sesaat, lalu melangkah mendekat.
"Kau selalu tahu cara membuat barang mati kembali berguna," ujar Hana. Ia melipat kedua tangan di dada dengan seulas senyum ramah yang terukir di wajahnya.
Kael tidak langsung merespons. Ia memukul paku terakhir dengan satu ketukan mantap, baru kemudian mendongak. "Hanya perbaikan kecil. Sayang kalau harus dibuang," kata Kael datar. Ia menyeka keringat di dahi, membuat beberapa bekas luka di lengan bawahnya terekspos jelas di bawah sinar matahari.
Hana memandangi guratan parut yang rumit itu dengan tatapan sendu.
"Melihat luka-luka itu... kadang aku berpikir seberapa mengerikannya kecelakaan yang membuatmu sampai kehilangan ingatan," bisik Hana lirih. Ia menatap Kael dengan rasa simpati yang dalam, mengira pria di depannya masih berjuang mencari jati dirinya.
"Pasti rasanya sangat berat, hidup tanpa tahu siapa dirimu yang sebenarnya sebelum terdampar di sini."
Kael langsung menarik turun gulungan kemejanya dengan gerakan cepat, menyembunyikan kembali seluruh identitas aslinya yang sebenarnya sudah ia ingat sepenuhnya. "
Aku tidak terlalu memikirkannya lagi, Dok. Menjadi guru di sini sudah lebih dari cukup," jawab Kael dingin, menyembunyikan kilat bersalah di matanya karena harus berbohong.
"Kau tidak perlu berpura-pura kuat di depanku, Kael," kata Hana lembut. Ia melangkah satu langkah lebih dekat, menatap mata Kael dengan tulus.
"Aku tahu ingatanmu belum kembali. Tapi ingatlah, kau tidak harus menanggung rasa bingung dan kesepian itu sendirian di desa ini. Kami semua ada untukmu."
Kael tertegun melihat ketulusan di mata Hana. Dadanya berdenyut aneh ia merasa bersalah karena membiarkan wanita sebaik Hana terus mengkhawatirkan amnesia-nya, padahal ia ingat setiap detail darah dan pembantaian di masa lalunya.
"Terima kasih atas kepeduliannya, Dok. Anak-anak pasti senang dengan vitaminnya," ucap Kael pelan, memilih untuk berbalik dan merapikan peralatan pertukangannya demi menyudahi percakapan sebelum topengnya retak.
✨✨✨
Menjelang sore, anak-anak masih asyik bermain di halaman sekolah, termasuk Rani. Tiba-tiba, sebuah layang-layang putus tersangkut di dahan pohon ketapang yang cukup tinggi. Seorang anak laki-laki spontan berteriak sambil menunjuk ke atas.
"Rani! Bantu bilang ke Pak Guru supaya ambilkan layang-layangnya!" teriak anak itu.
Seketika Rani membeku. Puluhan pasang mata anak-anak kini langsung tertuju padanya, menunggu. Gadis kecil itu mulai panik, napasnya memburu dan jemarinya meremas kain bajunya dengan sangat kuat. Dulu, situasi tertekan seperti ini pasti akan membuatnya langsung lari bersembunyi.
Namun kali ini berbeda. Rani melirik ke arah Kael yang sedang menyapu daun kering di dekatnya. Kael tidak melangkah mendekat untuk mengambil alih situasi, tidak juga mendesaknya.
Pria itu hanya menghentikan kegiatannya, berjongkok setinggi tubuh Rani, lalu menatapnya dengan pandangan mata yang tenang dan teduh memberikan ruang serta keberanian penuh dari jarak dekat.
Rani menarik napas panjang yang terasa berat. Jantungnya bertalu-talu di dalam dada. Di bawah tatapan hangat Kael, bibir mungilnya yang berbulan-bulan terkunci rapat mulai bergerak gemetar.
"...Ka..." bisik Rani.
Halaman sekolah mendadak sunyi senyap. Anak-anak lain langsung menghentikan obrolan mereka, menahan napas. Rani memejamkan mata erat-erat, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya saat ia memaksa tenggorokannya bekerja.
"...Ka...el..." Suara itu terdengar sangat kecil, serak, dan terputus-putus. Namun, nama itu terdengar sangat jelas di telinga semua orang.
Kael terpaku di tempatnya berlutut. Matanya membelalak lebar, badannya kaku seketika. Rani baru saja memanggil namanya. Untuk pertama kalinya.
"Rani bicara!" teriak salah satu anak memecah keheningan.
"Rani bisa bicara! Dia panggil Pak Guru!" seru yang lain bersorak kegirangan.
Halaman sekolah langsung berubah riuh. Anak-anak melompat-lompat gembira, merayakan keajaiban kecil itu. Sementara Rani langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, tangisnya pecah seketika diiringi air mata bahagia yang mengalir deras di pipi.
Kael mengusap pelan puncak kepala Rani dengan tangan kasarnya. Tatapan matanya melembut sepenuhnya.
"Kau hebat."
Hanya dua kata, namun itu sudah cukup untuk membuat Rani menangis semakin keras di pelukan Bu Ratih yang mendadak muncul karena mendengar keributan. Itu adalah tangis kelegaan yang selama ini tersumbat di dadanya.
✨✨✨✨
Malam harinya, kabar gembira itu menyebar cepat ke seluruh pelosok Desa Sekar. Bu Ratih bahkan tidak bisa berhenti menangis haru di sudut rumah panggung mereka, bersyukur mendengarkan cucunya akhirnya melangkah maju. Di dalam rumah sederhana itu, tawa tulus yang hangat memenuhi ruangan, mengusir dinginnya angin malam.
Ketika malam semakin larut dan semua orang telah terlelap, Kael kembali duduk sendirian di beranda. Ia mendongak, menatap hamparan bintang yang bertebaran di langit luas.
Jemarinya bergerak menyentuh kalung perak peninggalan Arin yang menggantung di lehernya. Entah mengapa, malam ini rasa sesak yang biasanya mencengkeram dadanya terasa sedikit berkurang.
Melihat Rani berhasil bersuara, Kael merasa hidupnya yang penuh kepalsuan dan pelarian ini mulai memiliki arti baru.
Namun, di tengah kedamaian Desa Sekar yang melenakan, Kael tidak menyadari bahwa di tempat yang sangat jauh dari sana, roda takdir yang berlumuran darah perlahan-lahan mulai bergerak kembali. Masa lalu yang ia ingat dengan sangat jelas namun dikira hilang oleh orang-orang desa belum sepenuhnya mati.
Bersambung...