Menikah karena keadaan bukanlah akhir dari segalanya. Bagi Arkana Najendra dan Hanifah Shafiqa, itu justru menjadi awal dari kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.
Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, mereka membeli sebuah rumah tua di ujung jalan. Rumah tusuk sate. Murah, tetapi dipenuhi cerita yang membuat orang enggan mendekat.
Saat kehilangan terbesar menghancurkan keluarga kecil mereka, satu per satu masalah mulai berdatangan. Tekanan keluarga, luka yang belum sembuh, hadirnya orang ketiga, hingga berbagai kejadian ganjil yang membuat mereka bertanya...
Benarkah rumah itu membawa kutukan?
Ataukah, kutukan sesungguhnya adalah ketika dua hati yang saling mencintai perlahan berubah menjadi asing di bawah atap yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 - Kabar yang Menghancurkan
Lorong rumah sakit mendadak terasa begitu sunyi. Arkana masih terduduk lemas di ubin putih yang dingin. Kalimat dokter beberapa saat lalu terus terngiang di kepalanya, menghantam kesadarannya tanpa ampun.
Kedua tangannya mengepal erat, bahunya bergetar hebat. "Ya Allah..." lirihnya dengan suara serak. "Maafkan aku... aku suami tidak becus."
"Yang sabar, Nak..." bisik Bu Sulastri lembut sambil berlutut dan mengusap bahu Arkana yang terguncang. "Ibu tahu ini berat, tapi Allah pasti punya rencana yang lebih baik."
"Maafkan Ayah... Eka, Dwi, Tri..." ratap Arkana, meremas rambutnya sendiri tanpa memedulikan ucapan Bu Sulastri.
Pak Hadi berdiri tak jauh dari mereka, menyandarkan tubuhnya ke dinding lorong dengan mata berbelas kasih. Ia menarik napas panjang, tak sanggup menyela duka yang begitu dalam.
Dengan tangan gemetar, Arkana merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel. Ia mengusap air matanya kasar, lalu mencari satu nama di daftar kontak: Ayah Hanifah.
Telepon berdering beberapa kali sebelum akhirnya tersambung.
"Assalamu'alaikum, Nak Arkana," panggil Ayah Hanifah dari seberang telepon dengan suara hangat.
Dada Arkana makin sesak mendengarnya. "Ayah..." suara Arkana langsung pecah seketika.
"Arkana? Kamu menangis? Ada apa, Nak?!" tanya Ayah Hanifah cepat, nada suaranya berubah panik.
Arkana memejamkan mata erat-erat, menahan napas yang memburu. "Hanifah... Hanifah sekarang di rumah sakit, Yah."
"Rumah sakit?! Kenapa dengan Hanifah?! Dia baik-baik saja, kan?!" cecar Ayah Hanifah bertubi-tubi.
"Hanifah pendarahan hebat..." balas Arkana dengan bibir bergetar. "Dan dokter... dokter tidak bisa menyelamatkan ketiga anak kami, Yah."
Hening seketika. Hanya terdengar suara helaan napas berat dan istigfar yang lirih dari seberang telepon.
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un..." bisik Ayah Hanifah terengah. "Lalu... bagaimana dengan kondisi Hanifah sekarang, Nak?"
"Alhamdulillah... Hanifah selamat, Yah. Tapi dia belum sadar," sahut Arkana mengusap air matanya.
"Syukurlah..." Ayah Hanifah mendesah lega. "Ayah dan Ibu akan langsung berangkat ke rumah sakit sekarang."
"Yah, boleh saya minta tolong?" potong Arkana cepat.
"Tentu, Nak. Minta tolong apa?"
"Ayah sama Ibu tolong ke rumah kami saja duluan," panggil Arkana memohon. "Di rumah sakit biar saya yang jaga Hanifah."
"Loh? Kenapa begitu, Nak?" tanya Ayah Hanifah heran.
Arkana menggigit bibirnya, menatap lurus ke dinding. "Saya takut, Yah. Di rumah masih banyak pakaian dan perlengkapan bayi di lemari. Saya takut Hanifah makin hancur dan menyalahkan dirinya sendiri kalau melihat barang-barang itu nanti."
Ayah Hanifah terdiam sejenak, lalu mengangguk paham di seberang sana. "Baik, Nak. Ayah sama Ibu langsung ke rumahmu sekarang. Kamu fokus temani Hanifah ya, rumah biar Ayah yang urus."
"Terima kasih banyak, Yah..." bisik Arkana lega. "Hati-hati di jalan."
"Arkana... semuanya ini musibah," tutur Bu Sulastri mengusap punggung Arkana saat telepon terputus. "Musibah tidak ada di kalender, kapan saja bisa datang. Cobaan ini menguji kalian berdua, seberapa ikhlas kalian menerima takdir."
Belum sempat Arkana membalas, ponsel di tangannya kembali bergetar tajam. Layar menampilkan nama: Ayah.
Arkana menatap layar itu dengan pandangan kosong, tangannya terlalu lemas untuk menggeser tombol hijau. Pak Hadi yang melihat hal itu segera melangkah mendekat.
"Arkana, biar Bapak saja yang bicara," tawar Pak Hadi pelan.
Arkana mengangkat wajahnya yang sembap, lalu menyerahkan ponsel itu tanpa bersuara. Pak Hadi menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya.
"Assalamu'alaikum, Pak," sapa Pak Hadi.
"Wa'alaikumsalam! Maaf, ini benar ponsel Arkana? Saya Ayahnya," sahut suara pria tua di seberang dengan nada cemas. "Ini siapa ya?"
"Saya Hadi, Pak. Tetangga Arkana dan Hanifah," jawab Pak Hadi tenang.
"Oh, Pak Hadi. Ada apa sebenarnya? Tadi keluarga Hanifah menelepon saya suruh segera ke rumah Arkana. Memang apa yang terjadi?" cecar Ayah Arkana kebingungan.
Pak Hadi melirik Arkana sekilas sebelum menjawab. "Istri Arkana di rumah sakit sekarang, Pak. Kami yang membawa Hanifah karena ia pendarahan. Dan... dokter baru saja menyampaikan kalau ketiga bayi mereka tidak berhasil diselamatkan."
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un..." bisik Ayah Arkana syok berat.
"Kalau Bapak berkenan, bisa langsung ke rumah Arkana ya, Pak," lanjut Pak Hadi cepat. "Kami tadi saat terburu-buru membawa Hanifah, rumah belum sempat kami kunci karena panik."
"Baik, Pak Hadi! Saya dan istri langsung meluncur ke rumah Arkana sekarang," tegast Ayah Arkana. "Tolong titip jaga anak saya ya, Pak."
"InsyaAllah, Pak. Mari, wa'alaikumsalam," jawab Pak Hadi mematikan sambungan.
Pak Hadi menyerahkan kembali ponsel itu pada pemiliknya. "Rumahmu sudah ada yang mengurus, Nak. Sekarang kamu fokus saja pada Hanifah."
Arkana menerima ponselnya dengan jemari gemetar. "Terima kasih banyak, Pak Hadi..."
...----------------...
Sekitar tiga puluh menit kemudian, langkah kaki berdegup kencang terdengar mendekat. Bibi Ratna berjalan tergesa-gesa menyusuri lorong dengan tas kerja dan map dokumen yang masih mendekap di dada.
Langkahnya melambat saat melihat deretan wajah muram di depan ruang tindakan. "Bagaimana? Apa kata dokter?!" tanya Bibi Ratna menuntut penjelasan.
Bu Sulastri hanya menunduk dalam-dalam sambil terus memutar tasbihnya. Pak Hadi mengalihkan pandangan ke luar jendela, sementara Arkana tetap membisu.
Bibi Ratna memejamkan mata rapat-rapat, menarik napas panjang.
"Sudah kubilang, kalau orang tua memberi nasihat itu dengarkan," batin Bibi Ratna sinis. "Jangan membeli perlengkapan bayi terlalu cepat, rumah tusuk sate itu juga dari awal membawa sial! Tapi mereka selalu membantah."
Bibi Ratna mengibaskan tangannya pelan, lalu berjalan menuju kursi paling ujung tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia melipat tangan di dada, duduk dengan wajah datar.
Klek.
Pintu ruang perawatan mendadak terbuka. Dokter keluar bersama seorang perawat, membuat semua orang spontan berdiri.
"Dokter! Bagaimana kondisi istri saya?!" buru Arkana memotong jalan sang dokter.
Dokter menatap Arkana dengan senyum tipis. "Ibu Hanifah sudah sadar, Pak."
"Alhamdulillah..." desah Bu Sulastri mengelus dadanya lega.
"Namun kondisi beliau masih sangat lemah karena kehilangan banyak darah," lanjut dokter mengimbau. "Beliau butuh istirahat total."
"Saya boleh masuk menemani, Dok?" panggil Arkana tidak sabar.
"Boleh, tapi hanya satu orang secara bergantian ya," izinkan dokter. "Dan tolong, jaga agar pasien tidak mengalami tekanan emosional."
"Baik, Dok," janji Arkana mengangguk cepat.
Dokter menahan langkah Arkana sejenak dengan memegang bahunya. "Ada satu hal lagi, Pak..."
"Ada apa lagi, Dok?" tanya Arkana kembali tegang.
"Sampai saat ini, Ibu Hanifah belum mengetahui keadaan ketiga bayinya," jelas dokter berhati-hati. "Sebelum sadar penuh tadi, beliau terus memegangi perutnya. Kemungkinan besar beliau akan langsung menanyakan keadaan anak-anaknya pada Bapak."
Arkana menelan ludah kasar, tenggorokannya terasa tersumbat. "Saya... saya yang harus bicara, Dok?"
"Bapak yang paling memahami kondisi beliau," bisik dokter menepuk pelan bahu Arkana. "Sampaikan dengan sangat perlahan. Jangan dipaksa jika beliau belum siap."
Arkana mengangguk pelan dengan dada yang terasa kembali dihantam beban berat. Ia berbalik melangkah menatap pintu ruang perawatan di depannya.