NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Hati

Reinkarnasi Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:969
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Setelah bertahun-tahun menanti buah hati, badai besar menghancurkan rumah tangga Lani.
Ia diceraikan oleh suaminya, Alex, yang berselingkuh dengan sahabat karib Lani sendiri.
Di tengah usaha menyembuhkan luka hati dan bangkit dari keterpurukan, takdir mempertemukan Lani dengan Afrain—pria berjiwa bebas yang merupakan mantan suami dari kakak Alex.
Sama-sama membawa trauma masa lalu, pertemuan tak sengaja itu perlahan berubah menjadi ikatan emosional yang dalam.
Afrain menjadi tempat bersandar yang memahami kepedihan Lani, dan benih-benih cinta pun mulai tumbuh di antara mereka. Namun, hubungan baru ini berada di lingkaran keluarga yang rumit dan penuh kecanggungan.
Di hadapan restu yang dipertanyakan dan bayang-bayang masa lalu yang saling berkaitan, akankah Lani berhasil melepaskan diri dari jerat trauma dan menemukan kebahagiaan sejatinya bersama Afrain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Mira menggeliat malas di balik selimutnya yang berantakan.

Rasa silau dari celah jendela kamar membuat matanya terpaksa terbuka.

Ia meraba-raba nakas, mencari ponselnya untuk melihat jam.

Begitu layar menyala, mata Mira seketika membelalak bulat.

"Sudah jam satu siang! Astaga, sudah siang banget," gumamnya pelan.

Kepalanya masih terasa agak berat karena semalaman suntuk bermain ponsel.

Sambil menguap lebar, ia bangkit dari tempat tidurnya dan segera berjalan menuju kamar mandi.

Guyuran air dingin berhasil mengembalikan kesadarannya, meski perutnya kini mulai berdemo menyuarakan rasa lapar yang teramat sangat.

Mengingat di dapur kontrakannya sama sekali tidak ada makanan karena ia malas memasak, Mira dengan cepat mengenakan pakaian kasualnya.

Pikirannya langsung tertuju pada satu tempat: rumah sang ibu mertua.

Setelah menempuh perjalanan singkat, Mira sampai di depan rumah Ibu Narti.

Tanpa mengetuk pintu atau mengucap salam dengan sopan, ia langsung masuk dan mendapati Ibu Narti sedang merapikan ruang tamu.

"Bu, aku mau makan di sini," ucap Mira tanpa basa-basi, langsung melangkah menuju ke arah meja makan dengan wajah tanpa dosa.

Ibu Narti yang melihat kedatangan menantu kesayangannya itu langsung berkacak pinggang.

Wajahnya berubah ketus seketika. "Ehh, enak saja! Seharusnya kamu itu masak sendiri di rumahmu! Datang-datang bukannya bawa makanan atau bantu mertua, malah cuma mau numpang makan!" omel Ibu Narti, mengingat tabungan Alex yang mulai menipis akibat gaya hidup Mira yang boros.

"Ah, Ibu pelit banget sih. Aku kan lagi malas masak, Bu!" gerutu Mira tak mau kalah.

Brak!

Ibu Narti mendorong tubuh Mira keluar dari ambang pintu dan langsung menutup pintu rumahnya dengan sangat keras, tepat di depan wajah menantunya itu.

"Sial!!" umpat Mira setengah menjerit.

Ia menghentakkan kakinya ke lantai dengan perasaan kesal dan malu yang luar biasa, tidak menyangka bahwa mertua yang dulu selalu memanjakannya kini mulai berubah drastis sejak ia dipecat dan Alex hidup pas-pasan.

Sementara itu, di tempat lain yang bernuansa jauh lebih mewah dan tenang, Afrain dan Lani sedang menikmati makan siang mereka di sebuah restoran VIP yang telah dipesan oleh Pak Firman.

Hidangan steak premium dan minuman segar tertata rapi di atas meja.

Suasana di dalam ruangan itu tampak sangat hangat.

Pak Firman tertawa kecil dengan Afrain, membahas beberapa anekdot lucu tentang pengalaman mereka di dunia bisnis serta betapa kagumnya Pak Firman terhadap ketelitian Lani saat rapat tadi.

Lani yang duduk di sebelah Afrain hanya tersenyum anggun, sesekali ikut menanggapi dengan sopan.

Di tengah pembicaraan, Lani meletakkan sendok dan garpunya dengan perlahan, lalu meminta izin.

"Pak Firman, Pak Afrain, saya ke kamar mandi dulu sebentar," ucap Lani dengan nada lembut.

Afrain menoleh, menatap Lani dengan pandangan yang teduh lalu menganggukkan kepalanya.

"Iya, Lan. Hati-hati."

Lani bangkit dari duduknya dan melangkah keluar dari ruangan VIP menuju koridor arah toilet.

Tanpa ada yang menyadari, sepasang mata sejak tadi terus mengawasi gerak-gerik mereka dari balik sekat meja luar.

Alex, yang sengaja ikut ke restoran dengan dalih mendampingi Pak Firman sebagai staf pembawa dokumen, melihat kesempatan emas ini.

Begitu memastikan Pak Firman dan Afrain masih asyik mengobrol di dalam ruangan, Alex dengan cepat berdiri dan berjalan mengendap-endap, mengikuti langkah Lani dari belakang.

Lani baru saja hendak mendorong pintu kamar mandi wanita ketika sebuah langkah kaki yang tergesa-gesa mendekat, disusul oleh suara sinis yang sangat ia kenal.

"Jadi ini yang kamu rencanakan, Lani? Kamu berselingkuh dengan mantan suami Sisil? Jahat kamu, Lani!" tuduh Alex dengan napas memburu, menatap Lani dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan menghakimi.

Lani menghentikan gerakannya. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menoleh ke arah Alex.

Alih-alih ketakutan seperti dulu, tatapan mata Lani kini begitu dingin dan tajam.

"Aku selingkuh?" Lani terkekeh sumbang, menatap mantan suaminya dengan pandangan tidak percaya.

"Mas, apakah kamu sudah hilang ingatan? Kamu yang bermalam dan tidur dengan Mira, dan keesokan paginya kamu menjatuhkan talak kepadaku tanpa belas kasihan. Dan bukankah kamu sudah menikah siri dengan Mira, Mas? Lalu sekarang kamu menuduhku berselingkuh?"

Wajah Alex seketika memerah, terpojok oleh fakta yang telanjang bulat.

Ego lelakinya yang terluka membuat akal sehatnya hilang.

Ia menatap pakaian berkelas yang melekat di tubuh Lani dengan rasa iri yang membakar dada.

"Cihh! Jangan sombong kamu dengan apa yang kamu pakai sekarang! Mau sekaya apa pun kamu sekarang, kamu tetap wanita mandul yang tidak bisa memberikan keturunan!" desis Alex dengan kalimat yang teramat kejam, sengaja menyerang titik paling rapuh dalam hidup Lani.

Plakkk!

Satu tamparan keras mendarat telak di pipi kanan Alex, membuat wajah pria itu menoleh ke samping.

Napas Lani memburu, tangannya bergetar hebat setelah melayangkan tamparan itu.

Air mata kemarahan mulai menggenang di pelupis matanya.

Tanpa memperdulikan Alex yang masih syok memegangi pipinya yang terasa panas, Lani langsung berbalik, masuk ke dalam kamar mandi, dan mengunci pintunya rapat-rapat dari dalam.

Alex yang panik melihat reaksi Lani segera menggedor pintu kayu tersebut dengan tidak tahu malu.

"Lani! Buka, Lan! Ayo kita rujuk, Lan. Aku khilaf. Kalau kita rujuk, aku janji akan melupakan semuanya. Aku akan memaafkan hubunganmu dengan Afrain, kita mulai dari awal lagi!" seru Alex dari luar, memohon dengan nada egois seolah-olah dirinyalah yang paling suci di sini.

Di dalam kamar mandi, Lani menyandarkan punggungnya pada pintu yang terkunci.

Ia merosot hingga terduduk di lantai yang dingin. Pertahanan yang sejak pagi ia bangun dengan kokoh akhirnya runtuh seketika.

Kata-kata "mandul" dari mulut Alex merobek kembali luka lama yang belum mengering.

Sambil memeluk kedua lututnya, Lani menangis sesenggukan di dalam keheningan kamar mandi, berusaha meredam suara tangisnya agar tidak terdengar sampai ke luar.

Afrain merasa curiga karena Lani sudah terlalu lama izin ke toilet.

Perasaan tidak tenang mulai menggelitik hatinya. Akhirnya, ia bangkit dari duduknya, meminta izin sebentar kepada Pak Firman, lalu melangkah lebar menuju lorong arah kamar mandi.

Saat berbelok di koridor, samar-samar ia melihat punggung seorang pria yang sangat ia kenal sedang mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi wanita dengan tidak sabar.

Alex yang sedang fokus membujuk Lani tiba-tiba

mendengar suara langkah kaki tegas yang mendekat.

Karena panik dan takut ketahuan oleh atasan atau Afrain sendiri, Alex buru-buru berbalik dan bersembunyi di dalam kamar mandi pria yang berada tepat di sebelah kamar mandi wanita.

Afrain mempercepat langkahnya hingga sampai di depan pintu kayu itu.

"Lani... Lani, apakah kamu di dalam sana?" panggil Afrain dengan nada cemas yang kentara.

Keheningan koridor membuat indra pendengaran Afrain menangkap sesuatu yang menyayat hati.

Afrain mendengar suara Lani yang sedang menangis sesenggukan dari balik pintu, mencoba menahan suaranya namun gagal.

"Lani, buka pintunya..." pinta Afrain selembut mungkin, mengetuk pintu itu dengan pelan agar tidak membuat Lani semakin takut.

Di dalam, Lani yang mengenali suara bariton yang meneduhkan itu perlahan bangkit dari duduknya di lantai.

Dengan tangan gemetar, ia menyeka air matanya dan memutar kunci pintu.

Ceklek!

Pintu terbuka. Afrain seketika terenyak melihat kondisi Lani.

Riasan tipis di wajah cantiknya sedikit luntur karena air mata, dan tubuhnya tampak bergetar hebat.

"Lan, apa yang terjadi? Siapa yang melakukan ini?" tanya Afrain dengan sorot matanya kilat memancarkan kemarahan, menebak bahwa Alex pasti telah melakukan sesuatu sebelum ia tiba.

Lani tidak sanggup menceritakan kata-kata kejam Alex.

Ia hanya mendongak menatap Afrain dengan mata yang sembap.

"A-aku mau pulang..." bisiknya dengan suara serak yang terputus-putus.

Melihat kerapuhan wanita di hadapannya, Afrain tidak mau memaksanya berbicara sekarang.

Afrain menganggukkan kepalanya dengan pasti. Tanpa ragu, ia merengkuh tubuh Lani dan membopong tubuh Lani yang lemas ke dalam pelukannya untuk melindunginya dari pandangan orang luar.

Afrain membawa Lani kembali ke ruang VIP sebentar.

Dengan satu tangan tetap mendekap Lani, ia mengambil tas milik Lani yang tertinggal di kursi, lalu menatap Pak Firman yang langsung berdiri dengan raut wajah kebingungan.

"Apa yang terjadi pada Lani, Pak Afrain?" tanya Pak Firman terkejut melihat sekretaris pribadi kliennya itu menangis di dalam gendongan.

Afrain tidak menjawabnya. Rahangnya mengeras menahan amarah, dan ia langsung melangkah pergi meninggalkan ruangan, membawa Lani menjauh dari tempat terkutuk itu.

Ia berjalan cepat menuju parkiran, membuka pintu depan, dan langsung memasukkan Lani ke dalam mobil dengan sangat hati-hati, memastikan wanita itu merasa aman di dalam dekapannya.

1
Dew666
🪭🪭🪭🪭
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Dew666
💟💟💟
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Dew666
🌹🌹🌹
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Dew666
🌹🌹🌹🌹
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Dew666
🔮🔮🔮🔮
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!