NovelToon NovelToon
Pembalasan Sang Figuran

Pembalasan Sang Figuran

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Idola sekolah
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bearbee

Alma setelah kematiannya mengetahui bahwa sebenarnya dia hanyalah salah satu karakter sampingan di novel yang semua takdir kehidupannya sudah di tentukan oleh penulis.

Penderita yang telah dia lalui sebenarnya tidak lain dan tidak bukan hanyalah kata-kata yang tertulis untuk mempromosikan plot tentang protagonis wanita di novel.

Dia marah, dan kecewa tidak menerima semua takdir itu, dia ingin membalas rasa sakit yang dia terima dari orang-orang yang telah menyakitinya.

Dan kesempatan itu muncul, dia di hidupkan kembali , hari di mana semua penderitaannya belum terjadi.

Dan dia bersumpah akan membalas setiap inci perbuatan mereka padanya menghancurkan mereka secara perlahan.

Alma ingin mereka membayarnya dengan lunas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bearbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17

Kaiden duduk di kursinya di ruang peristirahatan. Punggungnya sedikit bersandar, satu tangan memutar pena di antara jemarinya, sementara matanya terpaku pada layar laptop yang masih menyala. Gambar dari CCTV di kelas Alma terpampang jelasmenampilkan sosok gadis itu yang tengah serius mencatat, kepalanya sedikit menunduk, rambutnya bergerak lembut setiap kali ujung penanya menari di atas kertas.

Bukan sekali dua kali ia memantau gadis itu seperti ini. Awalnya ia menganggap hal itu hanya rasa ingin tahu yang wajar. Namun, semakin lama ia menyadari bahwa kebiasaan ini sudah berubah menjadi rutinitas yang tidak bisa ia hentikan.

Senyum tipis muncul tanpa ia sadari. Wajah kecil itu, sorot matanya, dan ketekunan yang jarang ia lihat pada orang lain selalu berhasil menarik perhatiannya.

Dia bahkan tidak tahu kalau setiap langkahnya ada yang mengawasi. Dia tidak tahu bahwa ada seseorang yang siap menyingkirkan siapa pun yang berani menyentuhnya.

Kaiden mengingat kejadian kemarin, menyingkirkan dua keluarga yang berani membuat Alma menderita. Itu bukan perkara sulit baginya. Cukup dengan satu kalimat ancaman, keduanya langsung ciut, seperti tikus yang basah kuyup terjebak di sudut gelap.

Bunyi pintu terbuka memutus lamunannya. Refleks, Kaiden menutup laptop dan mengangkat kepalanya. Sosok Leon berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan pandangan yang dingin dan menusuk.

Tanpa membuang waktu untuk basa-basi, Leon melangkah masuk.

"Kau mengenal Alma?" tanyanya langsung. Suaranya datar, namun nadanya mengandung ketegangan. Pertanyaan itu terasa seperti bilah pedang yang diarahkan tepat ke leher.

Kaiden tidak segera menjawab. Ia hanya menatap Leon, memerhatikannya dari ujung kepala hingga kaki, lalu menghela napas perlahan. Tawa samar keluar dari mulutnya. "Aku mengenalnya…" ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang terdengar menantang, "…lebih baik daripada dirimu."

Rahang Leon mengeras. Otot-ototnya tampak menegang, sorot matanya berubah lebih tajam. "Apa hubungan kalian?" tanyanya lagi, kali ini dengan tekanan lebih berat.

Kaiden membalas tatapan itu tanpa sedikit pun rasa gentar. "Dia gadis yang dijodohkan denganku," ucapnya ringan, seolah pernyataan itu tidak memuat beban apa pun.

Leon tertawa pendek, nada sinisnya memotong udara. "Sejak kapan kau begitu mempedulikan gadis yang dijodohkan denganmu?

Kaiden membalas cepat. "Pertanyaan itu juga berlaku untukmu. Sejak kapan kau peduli pada orang lain? Apalagi Alma."

Keheningan yang menekan menyelimuti ruangan. Dua pasang mata itu saling mengunci, seakan keduanya tengah mengukur seberapa jauh mereka bisa saling mendorong sebelum salah satu pecah. Udara di ruangan terasa mengental, membuat ruang itu seolah menyempit.

Langkah kaki terdengar dari arah pintu, diikuti suara pintu yang kembali terbuka. Calvin masuk sambil membawa setumpuk berkas. Tatapannya langsung tertuju pada kedua pria itu.

"Wow… atmosfer macam apa ini?" ujarnya sambil bersiul pelan. "Serius, kalian membuatku merasa seperti baru saja masuk ke pemakaman."

Tidak ada yang menjawab. Kaiden tetap duduk, jemarinya terkepal di atas meja, sementara Leon berdiri tegak dengan kedua tangan di saku celananya.

Calvin mengangkat alis, mencoba memecahkan ketegangan. "Oke… jelas kalian sedang bertengkar. Tapi kali ini tentang apa? Jangan bilang ini karena seorang gadis."

Tatapan Kaiden dan Leon sekilas beralih ke Calvin, namun keduanya kembali saling menatap, seolah kehadiran orang ketiga itu sama sekali tidak berarti.

Calvin mengangkat kedua tangannya, memberi isyarat bahwa ia tidak ingin ikut campur. "Baiklah, lupakan saja. Tapi kalau sampai ada meja terbalik atau kaca pecah, aku keluar dari sini."

Kaiden memiringkan kepalanya sedikit, suaranya rendah namun penuh ancaman. "Aku peringatkan satu kali saja, Leon. Jangan pernah mendekatinya."

Leon mengangkat dagunya sedikit, senyum tipis namun dingin tersungging di wajahnya. "Kalau kau berpikir aku akan mundur hanya karena peringatanmu, berarti kau benar-benar tidak mengenalku."

Pandangan mereka bertemu lagi, lebih tajam daripada sebelumnya. Seperti dua pedang yang sudah diangkat, siap bertarung kapan saja. Bara itu belum meledak, tetapi ketegangan yang ada cukup untuk membuat siapa pun yang berada di ruangan itu merasa sesak.

Calvin hanya bisa menghela napas pelan, menatap kedua sahabatnya itu dengan campuran rasa cemas dan tidak percaya. Ia tahu, apapun yang menjadi sumber pertengkaran ini, seorang gadis adalah pusatnya. Dan itu berarti masalah ini tidak akan berakhir begitu saja.

Dia cukup penasaran dengan identitas gadis itu. Yang mampu membuat pertikaian di antara Kaiden dan Leon.

Haruskah dia mencari tau?

🥀🥀🥀

Siang itu, koridor luar perpustakaan sekolah teramat sunyi. Cahaya matahari menerobos lewat kaca jendela tinggi, menebarkan cahaya keemasan di sepanjang lantai marmer yang dingin. Hanya suara langkah sepatu Alma yang terdengar, ritmenya teratur namun perlahan melambat.

"Kenapa kau mengikutiku?" Suaranya datar, nyaris tanpa intonasi, namun cukup untuk memecah keheningan.

Alma menghentikan langkahnya. Ia berbalik, mendapati Leon berdiri hanya satu meter darinya. Pandangan matanya tenang, namun dari tatapan itu, Alma tahu lelaki itu sudah membuntutinya sejak ia meninggalkan kelas.

Tanpa banyak bicara, Alma mundur selangkah, lalu satu langkah lagi, memperlebar jarak di antara mereka. "Jangan mengikutiku lagi. Aku tidak ingin kekasihmu salah paham." Suaranya pelan, hampir seperti bisikan yang tertelan udara siang, tetapi mengandung getir yang sulit disembunyikan.

Ucapan itu seperti mencubit jantung Leon. Ada rasa sakit yang tak kasatmata di balik nada Alma dan ia tahu, secara tidak langsung, dirinya adalah salah satu penyebabnya.

Ketika Alma berbalik untuk melanjutkan langkah ke arah pintu perpustakaan, Leon spontan mencekal pergelangan tangan kirinya. Jemarinya terasa hangat, namun genggaman itu cukup kuat untuk menghentikan langkah gadis itu.

"Dia bukan kekasihku…" ucap Leon cepat, seolah takut Alma menghilang sebelum ia sempat menjelaskan.

Alma tersenyum tipis, senyum yang lebih seperti benteng daripada kehangatan. Perlahan, ia melepaskan genggaman Leon. "Meskipun begitu, dia menyukaimu. Dan aku tidak ingin terseret dalam urusan kalian."

Leon menggeleng, tatapannya tajam. "Tidak, Alma. Bagiku dia sama saja seperti gadis-gadis fanatik lainnya. Tidak berarti. Jika kau mau, aku bisa membuatnya menghilang dari sekolah ini… bahkan dari dunia ini." Nada bicaranya penuh tekad, namun justru membuat udara di koridor itu terasa berat.

Alma tertegun, sedikit tercengang oleh kalimat ekstrem itu. "Leon, ucapanku mungkin tak penting bagimu, tapi… menganggap nyawa seseorang hanya sebagai mainan itu sangat keterlaluan."

Alih-alih tersinggung, Leon justru menundukkan kepala sedikit, seolah menikmati teguran itu. "Baiklah," ujarnya kemudian. "Aku akan menjaga perkataanku… tapi dengan satu syarat."

Alma mengerutkan kening. "Syarat?" Ia tak mengerti mengapa hal sederhana seperti itu harus dinegosiasikan.

"Jangan lagi mencoba menjaga jarak dariku. Mengerti?" Nada Leon melembut, nyaris seperti permohonan, namun tetap mengandung tekanan yang membuat Alma tahu ia tidak main-main.

Menghela napas, Alma memilih tidak memperpanjang. "Terserah kau saja." Toh ia juga menyadari, menghindari lelaki sekeras kepala Leon bukan perkara mudah.

Ia melangkah masuk ke dalam perpustakaan. Ruangan itu beraroma khas buku, sejuk, dan diterangi cahaya matahari yang menyusup dari jendela-jendela tinggi. Leon mengikuti dari belakang, tanpa suara, seperti bayangan yang tak mau berpisah.

Alma berjalan hingga ke bagian terdalam, melewati lorong rak-rak buku yang menjulang. Ia mengambil sebuah novel dari rak yang letaknya sudah dihafal, lalu menuju sudut favoritnya, tempat dengan karpet tebal dan bantal kecil yang ia simpan sebagai sandaran punggung. Dari sudut itu, jendela Prancis tinggi menampilkan panorama hutan sekolah yang rimbun, dedaunannya bergoyang diterpa angin siang.

Ia duduk, bersandar santai, lalu membuka buku ke halaman yang telah ia beri pembatas. Leon, tanpa membawa buku, duduk di sebelahnya. Pandangannya tak lepas dari Alma.

Setengah jam berlalu dalam keheningan yang anehnya terasa nyaman. Hanya suara gesekan lembut halaman yang dibalik dan deru angin di luar. Saat Alma menutup bukunya, terdengar desahan pelan dari bibirnya.

"Kau menyukai buku itu?" Leon bertanya.

Alma mengangguk tipis. "Sayangnya, aku tidak bisa menemukan buku kedua dan ketiganya."

Novel di tangannya adalah Climax, karya Vetro Evans, terbitan awal 2000-an. Crime thriller langka yang bercerita tentang seorang detektif lokal memburu pembunuh berantai. Buku itu sudah lama tak beredar, menjadi incaran para kolektor. Alma tak menyangka menemukannya di perpustakaan sekolah, meski hanya satu jilid. Rasa penasarannya pada kelanjutan cerita menggantung di dadanya.

"Aku punya buku kedua dan ketiganya," ucap Leon tiba-tiba.

Alma menoleh cepat. "Benarkah?"

"Tentu. Keduanya tersimpan baik di ruang belajarku di rumah. Kalau kau mau, aku bisa meminjamkannya padamu." Suaranya tenang, namun sorot matanya jelas ingin melihat reaksi Alma.

Sedikit ragu namun tergoda, Alma menjawab pelan, "Jika diperbolehkan…"

"Tentu saja. Apa yang tidak untukmu," balas Leon ringan.

Namun sebelum suasana bisa kembali mengalun tenang, suara lain memecah harmoni itu.

"Kau di sini rupanya."

Kaiden berdiri bersandar di ujung rak, tatapannya tajam menembus ke arah Leon meski bibirnya tersenyum tipis pada Alma.

"Kaiden? Ada apa?" Alma mengangkat kepala, sedikit terkejut. Senyum di wajah Leon langsung memudar.

"Mamah bilang ia merindukanmu dan meminta kau berkunjung ke rumah," ujar Kaiden, tetap menatap Leon, seakan menyampaikan pesan ganda yang tidak diucapkan.

Belum sempat Alma menanggapi, Leon menyela, suaranya terdengar seperti klaim kepemilikan. "Sayang sekali, Alma sudah ada janji denganku." Ia menutup kalimatnya dengan senyum kemenangan yang jelas-jelas memancing.

Kaiden mengangkat alis. "Lucu. Aku tidak mendengar satu pun dari pembicaraan kalian yang menyebutkan soal janji itu."

Ketegangan merayap di udara. Alma memandang keduanya bergantian, merasakan ada sesuatu yang lebih dari sekadar perselisihan biasa. Entah kenapa, ia yakin… ada sesuatu yang mereka sembunyikan, dan ia berada tepat di tengah pusaran itu.

🥀🥀🥀

Di dalam ruang interogasi kantor kepolisian, suasana begitu sunyi. Lampu kecil yang menggantung tepat di atas meja membuat cahaya jatuh tajam ke arah Violet, meninggalkan bayangan tebal di sekelilingnya. Udara terasa dingin, entah karena AC atau karena ketegangan yang memenuhi ruangan itu.

Violet duduk gelisah, kedua tangannya saling meremas di atas pangkuan. Matanya terus bergerak, menatap dinding, lantai, dan sesekali ke arah pintu. Seolah ingin mencari jalan keluar.

Pintu terbuka dengan bunyi engsel yang berdecit. Seorang wanita berseragam, Angel, melangkah masuk dengan langkah mantap namun tidak tergesa. Ia menarik kursi, lalu duduk tepat di hadapan Violet.

Angel menyunggingkan senyum tipis. Ia tahu, untuk menghadapi remaja seperti ini, ia tidak boleh terburu-buru. Tidak menekan terlalu keras.

"Hallo, kau Violet, kan?" suaranya terdengar hangat namun tetap tegas.

Violet hanya menatapnya sebentar, lalu mengangguk pelan.

"Baiklah, Violet. Terima kasih sudah datang kemari. Aku akan mengajukan beberapa pertanyaan… tidak akan lama. Boleh?"

Anggukan lagi.

"Apa kau mengenal Luci?"

"Iya… kami berteman," jawab Violet singkat, suaranya nyaris berbisik.

Angel mencatat sesuatu di buku kecilnya, lalu kembali menatap Violet. "Kapan terakhir kali kalian bersama?"

Violet mencoba mengingat. "Kemarin… di taman. Harusnya kami membuat janji untuk keluar hari ini. Tapi… karena ada masalah di rumah, janji itu dibatalkan."

Angel mencondongkan tubuh sedikit ke depan. "Masalah di rumah? Masalah seperti apa?"

Violet menggigit bibir, terlihat ragu. "Hanya… sedikit pertengkaran dengan ayah."

Angel memperhatikan gerak tubuh Violet, mencatat setiap perubahan ekspresi. "Baik… lalu, apakah kau juga mengenal Grace?"

"Ya," jawab Violet singkat.

"Seberapa dekat hubunganmu dengan Grace?"

Violet menatap ke bawah. "Tidak sedekat dengan Luci… tapi kami selalu bersama di sekolah."

Angel mengangguk pelan, lalu membuka lembar foto. Ia mendorong satu foto ke arah Violet. "Ini foto dari kamera pengawas dekat taman kota. Apakah ini kau dan Luci?"

Violet menatap foto itu dengan mata melebar, lalu mengangguk pelan. "Iya… itu kemarin siang."

"Dan siapa yang berdiri di belakang kalian di foto ini?" Angel mengetuk permukaan foto, menunjuk pada siluet samar seseorang.

Violet memicingkan mata, wajahnya semakin pucat. "Aku… aku tidak tahu. Waktu itu aku tidak menyadari ada orang di belakang kami."

Angel menatap Violet lama, seolah mencoba membaca pikirannya. "Violet… ada hal yang perlu kau ketahui." Ia menghela napas, suaranya melambat, memberi bobot pada kata-kata berikutnya. "Kami menemukan mayat Luci pagi ini. Dia menjadi korban pembunuhan."

Violet terdiam. Matanya membesar, napasnya tercekat. "A… apa?"

"Karena itu, setiap detail yang kamu ingat sangat penting," lanjut Angel. "Apakah Luci pernah mengatakan kalau dia merasa diikuti? Atau dia punya masalah dengan seseorang?"

Violet menelan ludah. "Kemarin di sekolah… dia bilang ada akun anonim yang mengirim pesan aneh ke media sosialnya. Tapi Luci cuma menganggapnya lelucon."

Angel langsung mencatat. "Pesan aneh seperti apa?"

Violet menggeleng. "Aku tidak tahu persis… dia tidak mau menunjukkan. Dia hanya bilang isinya membuatnya merasa… diawasi."

Angel menatapnya tajam. "Violet… aku butuh kau jujur. Karena kalau tidak, pembunuh itu mungkin masih berkeliaran… dan bisa mencari target berikutnya."

Violet terdiam lama, lalu dengan suara bergetar berkata, "Semalam… aku mendapat pesan dari nomor tak dikenal. Isinya cuma… Kau berikutnya."

1
Winda Napitupulu Moment
semangat trus yah thor... 💪💪💪💪
Lippe
apa alma ini karena trauma masa lau jadi punya kepribadian ganda?

atau alma dengan kesadaran penuh yang bunuh orang2 sebelumnya?
Rina Yuli
wow luarr biasa lu bikin cerita best thor 👍👍👍👍
Winda Napitupulu Moment
seru ceritanya thorr... ditunggu crazy updatenya...🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!