Andra yang jatuh cinta pada pandangan pertama saat bertemu dengan Mila, perempuan yang telah bersuami itu mampu menggetarkan hatinya hingga membuat dia mencari tahu seperti apa kehidupan yang sedang di jalani Mila bersama suaminya. "Mila, kau tak pernah bahagia kan hidup bersama suamimu itu?" tanya Andra menatap serius Mila. "Bapak tidak perlu tahu urusan rumah tanggaku!" sentak Mila. "Ceraikan saja suamimu dan jadilah istriku, kau akan kujadikan ratu dalam hidupku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PandaMaiden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Sakit Jantung
Bab 17
Sakit Jantung?
"Mama mau masak?" Tanya Vio menghampiri.
"Masak apaan. Berasnya saja tidak ada," ketus bu Lisa.
"Kak, sana beli beras. Nanti kita tidak makan kalo mama tidak masak," perintah Vio.
"Uang Kakak habis. Mau beli pake apa?" Ucap Arjun.
"Ya ampun, Kak. Kakak kan habis ketemu mbak Mila. Masak tidak minta duit, sih." Kata Vio.
"Jangan nyalahin kakak, kamu sana yang beli. Kamu kan ada ada uang," usul Arjun.
"M-mana ada aku uang, uang dari mana," gagap Vio.
Perdebatan pun terjadi dan akhirnya Arjun yang mengalah. Dia mengeluarkan uang sisa-sisa yang ada. Terkumpul lah untuk membeli beras sekilo beserta telur dan mie instan.
*
Pagi itu Mila berusaha menutupi lebam di wajahnya dengan make up. Akan tetapi serapi mungkin dia menutupi masih tetap terlihat bengkak. Telepon pakai gas pergi ke kantor pas hari ini akan berangkat ke luar kota untuk meninggalkan lokasi bersama tim dan juga bosnya.
Sedangkan Andra yang baru selesai sarapan menerima laporan dari orangnya yang mengawasi Mila dari jauh.
"Kurang ajar, berani-beraninya dia menyakiti Mila ku." Andra menggebrak meja saking kesalnya.
Pria itu pun bergegas meraih kunci mobil untuk menuju ke kontrakan bila dia melihat jam masih cukup untuk menuju ke sana.
Tak butuh waktu lama anta pun tiba di kontrakan Mila. Tepati saat itu pula, wanita yang sedang dia jemput sedang mengunci pintu.
Saat berbalik badan Mila sedikit terkejut saat melihat Andra ada di belakangnya.
"Loh! Bapak ngapain pagi-pagi ke sini?" Tanya Mila heran.
"Saya ingin menjemput kamu agar kamu baik-baik saja tidak seperti kemarin saat diikuti seseorang saat di jalan."
"Tapi saya merasa tidak enak," segan Mila.
"Kalau tidak enak bisa kamu kasihkan ke kucing," balas Andra.
Pria itu membukakan pintu untuk Mila dan bila pun akhirnya masuk ke kursi penumpang dan anda pun menjalankan mobilnya menuju ke kantor.
Dalam perjalanan itu baik Andra maupun Mila tidak ada yang membuka obrolan sama sekali alias suasana di dalam mobil hening.
Andra sibuk menatap wajah Mila yang tampak bengkak tapi dia tidak ingin bertanya secara langsung dan akan tetap menunggu agar Mila yang menceritakan semuanya nanti.
"Kau sudah sarapan?" Tanya Anda pada akhirnya karena dia tidak tahan jika hanya terus diam saja.
Bibirnya terasa gatal jika tidak ada obrolan di antara mereka karena Andra merasa sangat sunyi jika tidak mendengar suara wanita itu.
"Belum pak," jawab Mila jujur.
Pagi ini badan Mila terasa pegal-pegal dan juga perih. Bahkan dia pun tidak sempat untuk membuat sarapan atau hanya sekedar mengambil roti yang ada di kulkas untuk mengganjal perut.
"Kalau begitu kita beli sarapan dulu," putus Andra.
"Bapak tidak perlu repot-repot, nanti di kantor saya bisa sambil makan roti," tolak Mila.
Namun bukan Andra namanya jika dia menerima penolakan. Tidak ingin yang jauh Andra pun berhenti di warung bubur ayam. Pria itu turun dan memesan bubur ayam untuk Mila.
"Nih, sarapan dulu."
Andra menyerahkan kotak bubur bersama teh hangat. Mila tampak sungkan, tapi pada akhirnya dia menerima sarapan tersebut dan Andra menantinya untuk wanita itu makan.
"Makanlah nanti kita telat ke kantor," titah Andra.
"Sambil jalan saja pak saya makan," kata Mila.
"Baiklah," kata Andra.
Pria itu menuruti perkataan Mila. Aroma semerbak bawang goreng dari bubur tersebut memenuhi ruangan mobil.
Tapi demi Mila Andra tidak mempermasalahkannya. Dia tetap melajukan mobil sambil sesekali melirik Mila yang sedang fokus makan.
Hingga mereka pun akhirnya tiba di kantor. Saat Mila turun bersamaan dengan Andra beberapa pasang mata menatap mereka. Namun tidak ada yang berani menegur kebersamaan tersebut.
"Sini." Andra meminta bungkusan sampah di genggaman Mila dan dia membuangnya di tong sampah menuju ke lift.
Hal kecil seperti itu saja mampu membuat Mila kagum pada sosok Andra. Pria itu selalu saja perhatian.
Mereka pun tiba di ruangan dan mengambil beberapa berkas untuk dibawa sementara Andra pergi menuju ke ruang meeting untuk menyampaikan beberapa informasi sebelum mereka berangkat.
Meeting berlangsung singkat, setelah itu mereka turun kembali untuk langsung menuju ke lokasi yang ada di luar kota.
Tim menaiki mobil kantor, sedangkan Mila yang ingin masuk ke dalam langsung di tarik oleh Andra untuk ikut dengannya saja.
"Pak, kenapa?" Mila menatap lengannya yang di genggam lembut oleh Andra.
"Kamu ikut dengan saya kenapa harus naik mobil itu," ungkapnya.
"Tapi pak, saya tidak enak jika hanya berdua saja dengan bapak." Mila menjelaskan.
"Kamu takut terjadi sesuatu?" Goda Andra.
"Lebih tepatnya seperti itu pak,"
Andra tersenyum, "biar saya halalkan kamu kalau begitu,"
Degh
Apa?
Mila merasa dia salah dengar, apakah bosnya ini sedang mabuk atau error pikirannya sehingga setiap kata yang keluar dari bibirnya menimbulkan rasa aneh menurut Mila.
"Pak? Bapak sehat? Kalau sakit, biar kami saja yang kelapangan. Bapak pulang dan istirahat," kata Mila.
Dia sangat heran dengan tingkah Andra yang terkadang membuatnya bergetar dan berdebar.
"Coba tolong kamu periksa Mil, Saya takut kalau saya beneran sakit," ujar Andra.
Dan Mila reflek menempelkan punggung tangannya ke kening Andra. Dia merasa biasa saja tidak ada yang panas ataupun hangat dari suhu tubuh pria itu.
Tapi ketika tangan Mila turun dari keningnya Andra menahannya dan menggenggam tangan wanita itu lalu dia tempelkan ke dadanya.
Mila dapat merasakan detak jantung Andra, "Bapak sakit jantung?" Cemas Mila.
Karena debaran di dada Andra terasa lebih kencang dari ukuran normal menurut Mila yang pernah dia ingat di pelajaran saat sekolah dulu.
Andra ingin tertawa melihat wajah Mila yang berubah panik, tapi dia hanya mengulas senyum. Ternyata asik juga mengerjai wanita di sisinya ini.
"Tidak sakit jantung, tapi sakit hati," gumam Andra tapi cukup terdengar jelas di telinga Mila.
"Sakit hati?" Mila membeo.
Hari ini dia benar-benar tidak memahami maksud dari setiap perkataan Andra.
"Iya, hati saya sakit saat melihat kamu di sakiti olehnya. Sementara kamu tidak mau menceritakannya pada saya," kata-kata itu hanya Andra ucapkan dalam hati.
"Sudah aman, kita fokus saja. Jika kamu perlu sesuatu katakan saja. Atau jika ingin periksa kesehatan terlebih dahulu, kita bisa mampir k rumah sakit terdekat," kata Andra.
"Ya, sebaiknya kita ke rumah sakit dulu pak. Saya yang khawatir dengan kondisi jantung anda karena saya merasa tidak normal." Usul Mila.
Dia tidak ingin bosnya kenapa-napa nanti di jalan. Bahkan dia juga tidak mengerti jika yang di maksud oleh Andra itu adalah dia. Andra khawatir dengan kondisi Mila yang di tutupi rapat seperti itu.