Lunaria Wulandari terpaksa menggantikan kakaknya yang kabur di hari pernikahan. Demi menyelamatkan nama keluarga, ia harus menikah dengan Alex Lucas Dimitri—pria dingin dan penuh rahasia yang sejak awal tidak pernah menginginkan dirinya.
Awalnya Luna hanya dianggap pengganti. Namun semakin lama bersama, hubungan mereka berubah menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan. Sayangnya, saat hati mulai saling menerima, masa lalu datang menghancurkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Kepanikan Kecil di Tengah Liburan
Perjalanan kembali ke hotel berlangsung tenang.
Salju masih terlihat menutupi pegunungan di kejauhan, sementara matahari sore mulai tenggelam perlahan.
Alex sedang fokus menyetir.
Sedangkan Luna duduk diam di kursi penumpang.
Terlalu diam.
Sangat diam.
Biasanya wanita itu akan sibuk mengambil foto, mengobrol, atau mengomentari apa pun yang dilihatnya.
Namun sejak meninggalkan vila tadi pagi, Luna terlihat berbeda.
Dan Alex menyadarinya.
"Kamu kenapa?"
Luna langsung tersentak.
"Hah?"
"Dari tadi diam."
"Nggak kok."
Alex melirik sekilas.
"Kamu nggak bisa bohong."
Luna langsung memalingkan wajah ke jendela.
Justru itulah masalahnya.
Ia sedang memikirkan sesuatu.
Sesuatu yang membuat jantungnya tidak tenang sejak pagi.
---
Semalam mereka akhirnya benar-benar mengakui perasaan masing-masing.
Tidak ada lagi jarak.
Tidak ada lagi keraguan.
Dan meskipun Luna merasa bahagia, ada satu hal yang tiba-tiba terlintas di pikirannya saat bangun pagi tadi.
Hal yang membuatnya hampir jatuh dari tempat tidur karena panik.
"Aduh..."
gumamnya pelan.
Alex kembali melirik.
"Nah kan."
"Nah kenapa?"
"Ada yang kamu pikirin."
Luna menggigit bibir bawahnya.
Haruskah dia mengatakannya?
Tapi rasanya memalukan.
Sangat memalukan.
---
Sepuluh menit berlalu.
Luna masih gelisah.
Sampai akhirnya ia memberanikan diri.
"Alex."
"Hm?"
"Kita bisa berhenti sebentar nggak?"
Alex mengernyit.
"Kenapa?"
"Aku mau ke apotek."
Alex langsung menoleh.
"Kamu sakit?"
"Nggak."
"Masuk angin?"
"Nggak."
"Demam?"
"Nggak juga."
Alex mulai bingung.
"Terus?"
Luna langsung menutupi wajahnya.
Ya Tuhan.
Kenapa ini susah sekali dijelaskan?
---
Beberapa saat kemudian mobil berhenti di depan sebuah apotek kecil.
Alex mematikan mesin mobil.
"Kamu tunggu di sini?"
tanya Alex.
Luna menggeleng cepat.
"Nggak."
"Kenapa?"
"Aku malu."
Alex semakin tidak mengerti.
Namun akhirnya ia ikut turun.
"Kita masuk sama-sama."
Luna justru makin panik.
"Jangan."
"Kenapa?"
"Pokoknya jangan."
Alex menatap istrinya beberapa detik.
Lalu sesuatu seperti kesadaran mulai muncul di wajahnya.
"Sebentar."
Luna langsung ingin menghilang dari muka bumi.
Karena sepertinya Alex mulai memahami apa yang sedang ia pikirkan.
---
Wajah Alex berubah sedikit kaku.
Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, pria itu terlihat salah tingkah.
"Kamu khawatir?"
tanyanya pelan.
Luna langsung mengangguk.
Sangat pelan.
Alex menghela napas panjang.
Kemudian mengusap wajahnya.
Dan itu membuat Luna tahu.
Pria itu baru menyadari hal yang sama.
---
"Kita bahas di mobil."
kata Alex akhirnya.
Mereka kembali masuk.
Beberapa saat suasana hening.
Luna bahkan tidak berani menatap suaminya.
"Maaf."
ucap Alex tiba-tiba.
Luna langsung menoleh.
"Hah?"
"Aku harusnya lebih memperhatikan."
Luna tidak menyangka Alex akan mengatakan itu.
Pria itu terlihat benar-benar serius.
Tidak defensif.
Tidak menghindar.
Justru bertanggung jawab.
"Aku juga nggak kepikiran semalam."
kata Luna jujur.
Alex mengangguk.
Lalu untuk pertama kalinya mereka membahas hal itu dengan tenang dan dewasa.
---
Setelah berdiskusi cukup lama, mereka memutuskan untuk mencari informasi yang tepat dan mempertimbangkan langkah yang diperlukan sesuai waktu dan kondisi yang ada.
Pikiran Luna perlahan mulai tenang.
Karena sebelumnya ia hanya panik sendirian.
Sekarang setidaknya mereka menghadapinya bersama.
Dan itu terasa jauh lebih baik.
---
Dalam perjalanan kembali ke hotel, Alex tiba-tiba berkata,
"Kamu takut?"
Luna terdiam sesaat.
"Lumayan."
"Takut kenapa?"
Luna menatap pemandangan di luar.
"Aku baru lulus kuliah."
Alex mengangguk.
"Aku belum kerja."
Alex kembali mengangguk.
"Aku juga belum siap jadi ibu."
Suara Luna semakin pelan.
Alex memahaminya.
Sangat memahami.
Karena sejujurnya, ia juga belum pernah membayangkan menjadi seorang ayah dalam waktu dekat.
Namun setelah beberapa saat berpikir, pria itu berkata pelan,
"Kalau suatu hari itu terjadi..."
Luna menoleh.
"...kita hadapi sama-sama."
Jantung Luna langsung terasa hangat.
Kalimat itu sederhana.
Namun entah kenapa membuat semua ketakutannya berkurang.
---
Malam harinya mereka duduk di balkon hotel.
Pemandangan pegunungan Alpen terlihat sangat indah di bawah cahaya bulan.
Luna menyandarkan dagunya di atas lutut.
Sedangkan Alex duduk di sampingnya.
"Kamu masih khawatir?"
tanya Alex.
"Sedikit."
Alex mengangguk.
Lalu tanpa banyak bicara, ia menggenggam tangan Luna.
Refleks Luna menoleh.
Pria itu tidak sedang melihatnya.
Tatapannya masih lurus ke depan.
Namun genggaman tangannya terasa hangat.
Menenangkan.
"Aku ada di sini."
ucap Alex pelan.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, Luna tersenyum.
---
Malam terakhir mereka di Swiss berakhir jauh lebih tenang dari yang ia bayangkan.
Tidak ada lagi kepanikan.
Tidak ada lagi pikiran berlebihan.
Karena apa pun yang akan terjadi nanti, mereka akan menghadapinya bersama.
Sebagai suami dan istri.
Sebagai pasangan.
Dan mungkin untuk pertama kalinya sejak pernikahan itu dimulai, Luna benar-benar merasakan arti dari kata "bersama".
Sementara di sampingnya, Alex memandang langit malam yang dipenuhi bintang.
Lalu tanpa sadar tersenyum kecil.
Karena sekarang, ketika memikirkan masa depan, ia tidak lagi melihat dirinya sendirian.
Ada Luna di sana.
Dan entah kenapa, itu membuat masa depan terlihat jauh lebih indah.