NovelToon NovelToon
MENANTU IBU 2

MENANTU IBU 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Aliansi Pernikahan / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:308.5k
Nilai: 5
Nama Author: Me Nia

Setelah menjadi istri Ardiaz Kavian, Tya semakin tahu karakter orang-orang di keluarga besar Kavian. Sebagai seorang insan yang biasa hidup tenang meski ekonomi pas-pasan, kini dirinya harus terbiasa dengan pasang surut permasalahan di keluarga suami yang tidak kekurangan harta tapi miskin ilmu agama.

"Yang penting suami dan mertua baik, yang sirik biarkan saja berisik."

MENANTU IBU 2

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Saran Hukuman

Diaz menyapukan pandangan dengan ekspresi datar. Kursi yang terguling, lukisan terhempas di lantai, pecahan guci berserakan, taplak meja teronggok di samping kakinya. Ruang apartemen benar-benar seperti kapal pecah. Apakah sengaja tidak segera dibersihkan agar dirinya melihat dulu? Diaz duduk di sofa tunggal, memandang sang ayah yang duduk sambil memijat pelipis dengan wajah tersirat banyak beban. Sementara Yandi duduk di sofa sebelah kiri dengan sorot mata yang sulit diterjemahkan dengan kata-kata.

"Ayah kenapa?"

Hilman menarik badannya hingga duduk lebih tegak. Membuang napas dengan kasar. "Adikmu, Diaz. Ayah nggak nyangka kelakuannya sejauh itu. Astaga!" Ia mengusap wajahnya dengan kasar.

"Aku nggak punya adik. Aku tuh anak tunggal," ralat Diaz dengan ketus. Sama sekali tidak ikhlas bersaudara anak-anak Selly.

Hilman menghela napas tanpa bisa marah mendengar sanggahan Diaz. Lebih ke sadar diri jika selama ini ia memperlakukan anak-anak dengan beda. "Leony anak Ayah, berarti adikmu juga Diaz. Ayah manggil kamu karena mau minta tolong. Kamu anak Ayah yang paling dewasa pemikirannya. Ayah butuh sharing."

"Yah, pastiin dulu kalau Leon dan Boby beneran anak Ayah. Jadi nggak tes DNA nya?"

"Sudah, Diaz. Boby dan Leony beneran anak Ayah."

Diaz mendengus dan memasang wajah masam. Kecewa mendengar fakta yang disampaikan sang ayah. Apalagi kini Yandi mengulurkan amplop dengan logo rumah sakit yang diambil dari nakas di samping sofa. Ia menggeleng. Isyarat enggan membuka amplop itu. Sama hanya tak sudi bersaudara dengan Boby dan Leony. Apa boleh buat, fakta tak bisa disangkal lagi.

"Ada yang ngirim video soal Leony. Ayah ingin nggak percaya tapi video itu fix bukan editan. Sialnya lagi, Ayah kenal sama laki-laki bangsat dalam video itu."

Diaz mengernyit. Aktingnya telah terlatih sejak menjadi wayangnya Ibu Suri. "Video macam apa?"

Hilman mengurut lagi pelipisnya. Mendadak berubah ragu memperlihatkan video yang diterimanya dari nomor tak dikenal yang bahkan tidak aktif saat mencoba dihubungi. "Yan, kasih lihat!" Pada akhirnya ia kembali dengan tujuannya meminta Diaz datang.

Diaz mengambil ponsel yang diulurkan Yandi dengan ekspresi penasaran. Tak sampai satu menit, ponsel milik sang ayah itu dikembalikan dengan ekspresi yang berubah kaget dan menggeram marah. "Menjijikan. Yah! Gimana bisa kelakuan Leon di luar ekspektasi gitu?"

"Ayah juga nggak nyangka, Diaz. Ayah percayakan mendidik anak pada setiap istri. Fokus Ayah nyari nafkah biar kalian semua hidup senang tanpa kekurangan. Mata Ayah baru terbuka sekarang. Hanya ibumu yang baik dalam mendidik anak."

"Makanya jadi laki-laki harus pandai bersyukur. Udah punya berlian malah mungut kerikil dari got. Dipoles emas pun tetap aja dalamnya kerikil. Sekali murahan tetap murahan."

Ingin sekali kata-kata itu diteriakkan di hadapan sang ayah. Menghakimi dengan puas. Akan tetapi teringat nasihat ibunya untuk tidak melawan, lebih baik diam agar suatu saat nanti ayahnya itu bisa menilai dan menyesali perbuatannya. Dan terbukti beberapa menit yang lalu betapa seorang Hilman Kavian telah menunjukkan penyesalan yang mendalam.

"Apa kabar ibumu, Diaz?" tanya Hilman yang melihat Diaz masih tetap mengatupkan bibir. Tiba-tiba rindu pada istri pertamanya itu. Lisan berat untuk mengatakan mantan.

"Ibu baik. Makin cantik setelah jadi janda." Diaz bicara sejujurnya sekaligus untuk memanasi sang ayah yang raut wajahnya berubah murung. Sangat kentara gurat penyesalan. Tetapi ayahnya itu memilih diam tak menanggapi lagi.

"Jadi sekarang tindakan Ayah gimana? Terlalu kalau Ayah nggak ngasih hukuman sama Leon!" Diaz memilih mengembalikan topik pembahasan. Ia ingin segera pulang. Lebih baik bersantai di rumah bermesraan dengan Tya meski ujung-ujungnya kepala pusing karena tidak tuntas.

"Sopir lagi jemput Leon. Ayah sengaja minta kamu ke sini buat ikut menasihati Leon biar dia malu dan insaf."

"Harusnya Ayah sama ibunya Leon. Bukan sama aku."

"Mana bisa dia nasihatin anak. Dirinya aja kelakuannya gitu. Sudah jangan bahas dia. Temani Ayah sampai Leon datang."

Diaz membuka soft drink yang baru disajikan salah seorang bodyguard di meja yang kemudian keluar lagi. Ruang keluarga yang berantakan kembali berisikan tiga orang. Ia minum sambil berpikir. Masa tunggu ini tak boleh berlalu sia-sia.

"Yah, kalau video itu sampai ke publik, habis sudah nama besar Kavian. Ini jadi keuntungan buat rival."

"Itu dia, Diaz. Tapi orang yang yang kirim video tidak ngasih ancaman apa-apa. Sama seperti yang ngirim video Selly."

"Nomornya sama?"

"Beda. Yandi udah lacak, lokasinya di Tangerang tapi sulit dilacak lebih jauh karna nomornya sepertinya sekali pakai."

"Hm...tidak minta duit ya. Kira-kira apa motifnya?" Diaz menyapukan pandangan pada sang ayah dan Yandi. Semoga tidak ada seorang pun yang mencurigai dirinya yang berperan sebagai dalang.

"Izin berpendapat. Kalau menurut hemat saya, bisa jadi orang itu pro Pak Hilman. Ingin Pak Hilman sadar jika kelakuan anak dan istrinya di luar batas. Maaf, Pak, Mas."

"Pak Yandi nggak usah minta maaf. Aku tidak tersinggung malah malu." Diaz beralih menatap sang ayah yang wajahnya semakin muram. "Harusnya Ayah ngasih nama belakang Kavian hanya pada anak permaisuri saja, bukan pada anak selir juga. Mana mereka trouble maker semua. Apa aku aja yang ganti nama belakang?"

"Jangan nambah pusing Ayah, Diaz. Kau anak kebanggaan Ayah. Nggak boleh ganti nama."

Peluang berdebat terbuka lebar. Tetapi Diaz memutuskan diam dan beralih membuka ponsel sambil menunggu kedatangan putri kesayangan ayahnya itu.

Tak berselang lama, bel pintu terdengar disertai pintu yang didorong dari luar. Leony masuk dengan girang. Tetapi langkahnya menuju Ayah Hilman terhenti setelah menyadari keadaan ruangan sangat berantakan lalu tatapannya bersirobok dengan Diaz. Tak ada senyum, yang ada malah Diaz memalingkan muka.

"Ayah, aku kangen." Leony duduk dan memeluk Hilman dari samping, lalu menggelayut di lengan sang ayah dengan manja.

Yandi beranjak dari duduknya dengan penuh kesadaran. Penghakiman yang akan berlaku tak butuh kehadirannya. Ia keluar, entah akan menunggu di mana.

"Berdiri kamu!" Dengan intonasi marah, Hilman mendorong bahu Leony. Telunjuknya menunjuk ke ujung sofa.

"Ayah, kenapa..."

"Berdiri Ayah bilang!"

Leony terperanjat setelah mendengar suara sang ayah yang menggelegar. Berdiri dengan bahu mengkerut. Intonasi yang melengking itu mengingatkan pada ibunya yang malam itu menerima kemarahan yang sama.

"Ada hubungan apa kamu sama Frederick?"

"Frederick siapa, Ayah?" Leony menelan ludah. Tubuhnya mulai menegang, wajahnya pias.

Hilman mengambil ponsel yang ada di meja. "Lihat sendiri!"

Leon mendengar nada notifikasi setelah sang ayah melempar ponsel ke samping badan. Segera melihat video yang masuk. Mulutnya menganga dengan bola mata yang hendak loncat.

"Ayah...ini...ini pasti editan," sangkal Leony sambil geleng-geleng kepala.

"Lo masih aja ngeles, Leon. Lo pikir kita-kita ini bodoh." Diaz ikut meninggikan suara. Sudah kesal lebih dari satu jam berada di apartemen sang ayah. Sudah tidak sabar ingin mendengar sang ayah memberi hukuman. Terutama sudah tidak sabar ingin segera pulang.

"Sekali lagi mengelak, Ayah pukul kamu. Lihat! Kamu mau dibanting kayak guci itu?"

Leony menciut saat mengikuti arah telunjuk Ayah Hilman. Kembali menelan ludah.

"Jadi apa hubunganmu sama Frederick?"

"Om Frederick...pacar aku, Yah."

Hilman menggeleng. Frustasi. Tak habis pikir. "Si Frederick itu udah punya istri. Dia playboy. Lagian kamu kenapa bertingkah kayak ja lang, Leon.

Ayah nggak pernah larang kamu main ke manapun. Kamu bebas isi masa muda sama main sepuasnya. Astaga, Leon! Kamu malah..." Hilman tak kuasa melanjutkan ucapannya. Ingin mengumpat dan berkata kasar tapi masih ada rasa sayang di hatinya untuk anak putri satu-satunya itu.

"Maaf, Yah."

"Minta maaf gampang, Leon. Sekarang kamu udah jadi perempuan tak berharga. SMA aja belum lulus. Masa depanmu mau jadi apa, hah! Bikin malu nama besar Kavian."

"Ayah..." Leony maju dan berjongkok di hadapan Hilman. Mulai berurai air mata sambil meminta maaf lagi.

Diaz menarik satu sudut bibir melihat pemandangan itu. Si anak angkuh itu kini memelas-melas meminta ampun melihat Ayah memegang tongkat.

"Diaz, menurutmu hukuman apa yang pantas buat ini anak?"

Diaz melipat kedua tangan di dada. Menatap Leon yang disuruh berdiri lagi oleh sang ayah sambil menghadap ke arahnya. "Inginnya dicambuk 100 kali. Tapi aku masih punya nurani. Mulai detik ini cabut semua fasilitas. Cabut dari sekolah. Masukkan ke pesantren yang ketat yang ada di desa."

1
Rosyani Rini
pak Husein CEO kah dia
Rosyani Rini
wahhh curiga 🤣🤣🤣
Rosyani Rini
malah di pancing kata nya jangan dulu..
Ni'matul Jannah
Terimakasih up nya teh Nia..
Sehat selalu 🤲🏻
Ni'matul Jannah
Eee..ternyata..pak Husein ceo yang menyamar.
Pak Husein kan..yg sebenarnya punya pekerbunan sawit itu?
Koi rela menunggu ibu suri sampai segitunya pak?
cerita dong pak..🤭😄
Ni'matul Jannah
Waahh..ibu suri tampil paripurna.
Ada something sama pak Husein ini pasti, semoga segera bersatu ya..ibu suri dan pak Husein😁
Nur aprilia adiah
duh si ibu lagi puber kedua tuh mas..ya ampun Diaz bucin Banget deh..
Nur aprilia adiah
mungkin pak Husein CEO yg tersembunyi 😄
Mujib
/Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good/
Mujib
/Pray//Pray//Pray//Pray//Pray//Pray//Pray//Pray//Pray//Pray/
Mujib
/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Mujib
/Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt/
Mujib
/Sun//Sun//Sun//Sun//Sun//Sun//Sun//Sun//Sun//Sun/
Mujib
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Mujib
/Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool/
Mujib
/Angry//Angry//Angry//Angry//Angry//Angry//Angry//Angry//Angry//Angry/
Mujib
/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
Mujib
/Casual//Casual//Casual//Casual//Casual//Casual//Casual//Casual//Casual//Casual//Casual/
Mujib
/Frown//Frown//Frown//Frown//Frown//Frown//Frown//Frown//Frown//Frown/
Mujib
/Smile//Smile//Smile//Smile//Smile//Smile//Smile//Smile//Smile//Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!