Hai All, ini adalah karya keduaku.
Sesuai sama judul di atas kali ini aku akan membuat karya tentang dunia permantanan.
Willo, gadis pendiam dan terkesan cuek dan aromantis terkejut saat dia tau ternyata bos di tempatnya bekerja adalah Mantan "Pacarnya" yang super ngeselin.
Willo ingin menghindar dan resign dari tempatnya bekerja namun dirinya tak bisa lepas dari jeratan mantan.
So this is it , Willo story : Hi, Ex - Boyfriend ! 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SheisUgly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CALL ~ME~ BABY
Hai wanita lemah... Yang buka bungkus bumbu indomie aja pakai gunting.
🍉KaisangBayuAsmoro🍉
🌾🌾🌾🌾🌾🌾
Alasan Papa ngajakin aku ke Mall ternyata cuma tipu muslihat Papa.
Papa malah menggiringku masuk ke toko baju untuk membeli pakaianku.
"Anak Papa kan sekarang udah cantik, masa bajunya tetep model rocker begini. Kita akan beli baju untuk kamu kerja."
Aku cuma nurut aja di ajak belanja Papa, yang penting yang bayar Papa. Mengenai model pakaian kantor seperti apa, biar Papa yang milih. Aku enggak paham fashion.
Pokoknya iyain aja deh apa kata Papa, biar urusan cepet kelar dan aku bisa makan.
Aku laper banget.
Dengan 5 paperbag dan 3 kantong kresek yang aku dapatkan hasil berburu kali ini, aku merengek membujuk Papa untuk menyudahi berbelanja.
Aku mau ke foodcourt makanan cepat saji.
Dan Papa setuju.
"Ya udah Pa, papa pesen aja Willo mau naroh belanjaan di mobil ya??"
Aku pamit Papa untuk menaruh belanjaan di Mobil dan Papa aku suruh masuk ke areal foodcourt yang ada di Mall itu. Namun niatku ke parkiran menaruh belanjaan urung karena aku lihat Kai di sini.
Aku mengucek mata memastikan itu Bukan Kai tapi itu beneran Kai.
"Lo Will, kamu enggak jadi naroh belanjaan??" Papa keheranan saat akan melangkah masuk ke foodcourt.
Ya Tuhan.. alesan apa dong aku.
"Pah, aku pengen makan rujak cingur Bude Sum. Kita pulang aja ya?" Aduh, terpaksa deh alesan ini padahal aku laper banget perut keroncongan
"Loh, katanya mau makan spagetti??"
Aku segera menarik lengan Papa untuk menjauh dari sini sebelum Kai tau aku ada di sini.
"Hello Willo sayangggg...."
JEGERRRRR !!! Kai melambaikan tangan disertai senyumannya yang manis bak marshmellow. Dia terlihat berjalan ke arahku.
Aku melempar tatapan tanda mengusir.
LO ENGGAK LIAT GUE LAGI SAMA BOKAP??
Dan apes banget Papa denger panggilan Kai dan merasa penasaran ada yang manggil anaknya sayang.
"Dia siapa kamu??" Papa menatap tajam aku.
"Mantan"
"Pacar!"
Aku dan Kai berbarengan menyahut pertanyaan dari Papa. Papaku menatap kami bergantian.
Beberapa menit kemudian aku seperti di medan peperangan, nyawaku mau terlepas dari badan.
Papa ngajak Kai makan di foodcourt cepat saji itu.
Aku duduk di samping Papa dan Kai berhadapan dengan Papa.
"Nama kamu siapa??" Aku yang mendengar Papa melempar pertanyaan pada Kai hanya bisa pasrah dan menunduk. Kenapa sih ketemu Kai segala. Kan ribet jadinya?????
"Nama Saya Kaisang Om." Jawab Kai tersenyum manis.
"Saya Papanya Willo nama saya Binsar Siregar"
Aku lihat Kai membelalakkan mata baru tau kalau laki-laki paruh baya yang sering memberi perhatian padaku adalah Papaku sendiri. Kai kan pernah bilang kalau aku suka om-om. Rasain lu !!!
Kai hanya mengangguk seraya tersenyum.
"Sejak kapan kamu pacaran sama anak saya??" Aku menatap tajam Kai yang ada di depanku untuk jangan memberi jawaban aneh.
"Saya pacaran sama Willo dari semenjak kami kuliah. Saya senior Willo di kampus"
Aku yang tak terima dengan jawaban Kai menendangkan kakiku ke kaki Kai di bawah meja.
Kai tersentak dan menutupinya dengan senyuman. Dasar tukang kibul.
Pacaran cuma sebulan itupun dia nembak karena terpaksa. Dia cuma nyakitin aku Papa. Andai kata-kata ini lolos dari bibirku, Kai bisa di bunuh Papa.
"Berarti udah lama dong." Nah kan, Papa ku itu kritis.
"Ya Om, tapi saya terpaksa jauh Dari Willo dulu untuk merantau jauh"
Aku melirik Kai. Merantau jauh?? Andai Papa tau kalau Kai itu lulusan terbaik MIT (Massachusetts Institute of Technology) USA, Papa pasti seneng bukan main.
"Kamu di Jakarta tinggal sama siapa??"
Papa udah deh introgasinya. Enggak guna nanyain Bang Kai mah.
"Saya di Jakarta sendiri Om."
"Orang tua kamu??"
"Orang tua saya dua-duanya tinggal di Semarang."
"Saudara kandung kamu ada berapa??"
"Saya 4 bersaudara Om. Dua Kakak perempuan saya sudah menikah dan ikut suaminya. Sedangkan Kakak saya Laki-laki tinggal di luar negri"
"Jadi kamu anak bungsu?? Sama dong sama Willo"
Kenapa sih Papa membuka rahasia keluarga. Aku jadi cemberut.
"Kamu kerja apa??" Sebagai Bapak, Papa pasti menanyakan ini dan Kai mengaku sebagai pacarku. Papa sangsi dengan penampilan Kai yang saat ini terlihat biasa dan jauh dari kesan kalau dia bos di perusahaan tempat aku kerja.
Kai yang keagamaannya abu-abu dan sering mengumpat saat di kantor mendadak ngucap alhamdulillah??
"Alhamdulillah om saya kerja di sini jualan alat-alat kantor"
Aku ternganga, rahangku mau jatuh. Dia bilang kalau jualan?? Padahal kan dia jabatannya Bos. Aku hanya diam tak mau menanggapi jawaban Kai yang bohong banget. Karena Kai sekarang menatap teduh wajahku untuk percaya padanya. Aku melempar senyum tipis pada mantan pacarku ini.
"Wah, saya seneng kalau ada anak muda yang mau berjualan dan berusaha sendiri. Om dulu seusia kamu juga berdagang. Akhirnya yaa bisa lah buat sekolah anak."
Papa yang dari tadi menatap tajam Kai seolah menguliti kehidupan pria yang mengaku pacar anaknya ini mendadak bersemangat setelah tau pekerjaan Kai.
Papa suka banget sama cowok yang suka berwirausaha.
Aku menatap Kai sinis sedang ujung sepatu Kai mendorong ujung sepatuku yang ada di bawah meja. Aku melengos. Gini amat Ya Alloh hari ini.
"Willo di sini tinggal sendirian. Om sama keluarga Willo yang lain tinggal di Bogor. Tolong kamu jagain Willo ya?? Sekalian ajarin Willo berwirausaha biar enggak kerja terus di kantor orang.." Papa tersenyum lebar menitip pesan namun salah orang.
"Papa jangan gitu, Willo bisa jaga diri sendiri. Lagian kan dia bukan siapa-siapa." Kataku membela diri dengan omongan Kai yang melenceng dari realita.
"Dia kan pacar kamu Willo."
"Kan cuma pacar. Bukan suami Willo Pa."
Papa tertawa.
"Oh, jadi kamu udah ada pikiran buat nikah??"
Kai tertawa geli menatapku mengejek. Tatapannya seolah menyiratkan.
"Senjata makan tuan!"
"Enggak Pa, Willo masih pengen single."
"Om seneng ada pria yang mau mencintai Willo. Soalnya Willo itu enggak pandai bergaul. Dan cuma kamu yang Om tau bisa deket sama Willo."
Papa kalau ngumbar aib anaknya enggak kira-kira.
"Kamu kenapa bisa jadi pacar Willo?? Willo kan enggak pandai dandan. Malah om takut enggak ada yang suka sama Willo." Lanjut Papa kemudian.
"Saya suka Willo apa adanya Om. Saya bisa dengan mudah menyukai Willo." Ujar Kai. Dengan mudah?? Dengan mudahnya dirimu menipu dan mempermainkan aku.
Please, akhiri sandiwara mu yang kebablasan itu Bang Kai!!!!
"Lagipula, Willo pandai bahasa Polandia om. Itu yang membuat saya kagum" Aku langsung mendelik ke Arah Kai ngapain sih dia bahas aku yang bisa bahasa Polski.
"Oh, itu.. kami punya tetangga di Bogor. Namanya Beatrix, dia Warga Negara Polandia. Willo sering main sama anaknya Beatrix dan sekalian minta di ajarin Bahasa Polandia."
Kan aku pernah cerita kalau punya pacar Bule dan sekarang Papaku menceritakan tentang tante Beatrix sama Kai. Udah deh, kebohonganku terungkap sekarang. Kai tersenyum geli padaku.
Obrolan kami yang seperti di acara Mata Najwa telah berakhir. Aku lega tapi tiba-tiba Papa membicarakan hal yang membuat kesialanku belum berakhir.
"Kai, tolong antarin Willo pulang ke kosan ya?? Soalnya Om harus pulang ke Bogor. Keburu malam."
Aku menggeleng cepat enggak mau di anter Kai.
"Iya Om, saya akan antar Willo pulang ke kosan"
Papa pamit undur diri dan meninggalkanku dengan Bang Kai di depan areal foodcourt.
"Gue pulang sendiri aja Bang. Makasih..." Aku yang malas meladeni Kai berjalan dengan membawa belanjaan yang banyak.
"Sini belanjaan lo. Jangan jadi wanita lemah dong. Bawa belanjaan aja badan lo oleng" Kai menyambar beberapa barang yang aku bawa dan berjalan mendahului ku. Aku pun terpaksa mengikutinya.
Kita sudah sampai di parkiran basement Mall. Dan Kai memasukkan belanjaanku di jok belakang.
Aku menghela nafas pelan campur sebal.
"Makanya jangan cuma makan siomay aja, sekali-kali lo harus olah raga. Belum tua lo udah lemah" Cibir Kai seraya masuk ke mobil.
"Gue lemah karena banyak gaul ama lo yang nyebelin di kantor" Dengusku kesal seraya masang safety belt yang entah kenapa susah banget ngekliknya.
"Nah, masang safety belt aja enggak bisa. Ampun deh Willoooo !!" Kai berseru mengambil safety belt dan di pasangkannya di badanku.
Mobil melaju ke arah kosan. Tapi bentar-bentar...Ini kayak bukan jalan menuju kosanku.
"Bang, kayaknya ini bukan jalanan kosanku deh.." celetukku seraya menengok ke kanan kiri jalan.
"Kebetulan gue abis ngisi pertamax turbo full, kita muterin Jakarta dulu buang bensin dulu." Dia terkekeh.
Demi apa dia ngabisin bensin bikin polusi?? Enggak ngerti lagi deh sama Bang Kai.
"Itu tadi Papa lo, gue kira..."
"Apa?? Lo kira itu om-om senang gue?? Kenapa , Papa gue nyeremin??" Aku langsung ngegas motong omongan Bang Kai.
"Ya abisnya lo manja banget sama Papa lo, gue kira itu pacar tanda kutip."
"Kenapa sih lo ngaku kalau pacar gue?? Emangnya gue suka???!!!!! Tegasku dengan meyilangkan tangan di dada.
"Yah, gue kira itu pacar lo biar lo kena masalah gitu kalau gue ngaku pacar...." Kai berucap dengan nada rendah di ujung kalimatnya.
"Lo mau menghina gue suka sama om-om??" Aku masih tak terima penilaian sepihak Kai.
"Gue laper, pengen makan dessert." Kai pun membelokkan mobil ke cafe yang menjual kue-kue cantik.
"Udah lo pesen sana" Kata Kai yang sudah duduk manis di meja pengunjung.
"Mau makan apa lo??" Tanyaku.
"Terserah lo deh. Gue laper enggak bisa mikir"
Aku mengehentak kaki, kesal karena sikap Kai yang masih aja nyebelin dari dulu.
"Mbak, saya pesan cake yang ini ya, yang satu toppingnya coklat kacang dan yang satu lagi toppingnya cream cheese ya mbak. Cuma satu yang pakai kacang. Minumnya 2 ice green tea ya mbak."
Setelah memesan aku duduk berhadapan dengan Kai di pinggir jendela kaca cafe.
"Udah??" Tanya Kai. Aku mengangguk.
"Jadi Papa lo nyuruh lo rubah penampilan??" Kai melempar pertanyaan padaku karena melihat penampilanku yang lebih rapi kali ini. Aku hanya mengangguk malas dan melengos ke arah jendela.
"Gue bilang juga apa. Gue itu ngatain penampilan lo sesuai dengan fakta yang ada. Papa lo aja bisa nilai sama kayak gue. Gue bener kan??"
Aku langsung menatap horor Kai yang lagi-lagi bahas soal penampilan.
"Bisa enggak lo bahas yang lain. Jangan ngomentarin gue aja. Lo sendiri Gimana?? Gaya pakaian lo enggak jelas. Lo kayak Pak Pandu dong, dikantor pakai setelan jas. Lo keren waktu lo mengahdiri jamuan di Kominfo kemarin"
Ups !! Aku keceplosan mengagumi dia yang penampilannya resmi kemarin.
Dia hanya tersenyum kecil.
"Lo diam-diam mengagumi gue kan??"
"Nokomen gue !!" Jawabku sinis.
"Kalau gue suka begini gimana dong?? Gue nyaman"
"Itu juga berlaku bagi gue. Gue nyaman dengan penampilan gue..."
Kalau aja Mbak pelayan Cafe enggak datang kita terus berdebat. Kue bertabur toping manis sudah tersaji di meja. Aku melihat pesananku dan juga Kai. Kok sama ya??? Aku segera menarik piring berisi kue Milik Kai sebelum memakannya.
Kai cuma bengong menatapku.
Aku segera memanggil mbak pelayan cafe yang tadi.
"Mbak, tadi kan saya pesen satu toping kacang coklat dan satu toping cheese cream. Kenapa jadi toping kacang semua mbak??" Aku protes. Mbak nya mau bicara dan langsung aku potong.
"Mbak, pacar saya alergi makan kacang. Tolong di ganti ya Mbak.." Mbak pelayan cafe itu mengambil piring Kai untuk di ganti yang baru.
Kai tersenyum manis padaku. Apa???
"Lo masih inget kalau gue alergi makan kacang??"
Aku terkesiap, tentu saja aku masih Ingat. Aku dulu maksa dia makan siomay dan akhirnya dia masuk rumah sakit dan aku hampir kehilangan Kai. Aku trauma.
"Gue enggak mau lo masuk rumah sakit gara-gara gue.." Ucapku lirih seraya menunduk.
"Dan lo bilang lo pacar gue??"
"Oh, itu gue cuma kebawa akting lo yang kelewatan tadi." Aku berkilah menutupi perasaanku yang lagi deg degan. Ku comot langsung kue itu dan aku makan.
Jangan bahas soal ini lagi. Please Bang Kai !!!
🍉🍉🍉🍉
Selamat siang yorobun para readers dan author. Jangan lupa like ya..makasih....
tadi diawal juga ada. situasinya lagi tegang/kaget tp tiba tiba ada kata tergelak.
sejauh ini sukaa😍 semangat kakk