NovelToon NovelToon
Anti Myth

Anti Myth

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Robot AI / Spiritual / Sci-Fi / Tamat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Sizzz

Novel ini merupakan lanjutan dari Novel:

Chase the Dreams & Petualanganku sebagai hantu di dunia lain

Berawal dari sebuah legenda yang menjelaskan:

Mereka bilang, dulu kami sama

Dewa dan Dewi kedudukannya setara, menciptakan dunia dengan napas yang sama. Laki-laki dan perempuan berjalan berdampingan, bahu boleh sama tinggi

Lalu datanglah Hari Keretakan

Tak ada yang tahu pasti apa yang memicunya

Yang jelas, perang saudara para penguasa alam itu berlangsung lama tanpa henti

Yang tersisa hanya tiga Dewi. Dan sebagai tanda kemenangan abadi, mereka melakukan sesuatu pada realita

Sejak saat itu, setiap anak laki-laki yang lahir akan tumbuh lebih pendek dari saudara perempuannya. Bahu mereka tak akan selebar leluhur mereka

Suara mereka tak akan menggema seperti para pendahulu mereka. Mereka hidup dalam dunia yang didominasi perempuan, bukan hanya dalam kekuasaan, tapi juga dalam postur, dalam kekuatan fisik, dalam segala hal yang kasatmata dan tidak kasatmata

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sizzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehidupan baru Rey

Sany terdiam, takjub sekaligus merasa sedikit takut dengan penjelasan yang baru saja didengarnya.

Melihat ekspresi Sany, Bianca tahu bahwa penjelasannya kurang meyakinkan. Dia bukanlah pembicara yang ulung seperti Mystera.

Tiba-tiba, terdengar ketukan di pintu. Bianca segera berdiri, mendekati pintu, membuka kuncinya, lalu menariknya.

Sany tetap duduk, matanya penuh rasa ingin tahu, siapa yang datang?

Ternyata yang datang adalah perempuan yang diselamatkan Sany kemarin.

Kini, dia mengenakan seragam khusus dari kerajaan, setelan prajurit elite yang rapi dan berwibawa, lengkap dengan lencana dan detail yang menunjukkan bahwa dia adalah pasukan khusus kerajaan.

Melihat kehadirannya, Sany segera membersihkan sisa makanan di mulutnya dan berdiri dari kursi.

Dia lalu berjalan mendekati perempuan itu.

Sebelum perempuan itu sempat berkata apa pun, dia sudah melihat Sany yang sedang menghampirinya.

"Oh, kau di sini rupanya," ucap perempuan itu yang terkejut melihat Sany.

"Bianca, bolehkah aku mengobrol dengannya sebentar?" tanya Sany sambil meminta izin.

Karena Bianca lebih tinggi dari mereka berdua, Sany harus sedikit mendongak saat berbicara di dekatnya.

"Boleh. Aku akan menunggu di sini," izin Bianca dengan ramah sebelum kembali duduk di kursinya.

Bianca pun berbalik dan kembali ke kursinya.

"Ayo," ajak Sany kepada perempuan itu, mengajaknya ke tempat lain untuk berbicara.

Mereka kemudian berdiri di lobi istana yang luas.

"Jadi... apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya perempuan itu yang penuh rasa ingin tahu.

"Oh, iya. Kemarin kita tidak sempat berkenalan, kan? Aku lupa menanyakan namamu," jawab Sany sambil tersenyum.

Perempuan itu langsung merespons dengan menyodorkan tangannya untuk bersalaman.

"Kenalkan, namaku Rey," ujar dia memperkenalkan diri.

"Aku Sany. Senang berkenalan denganmu," balas Sany sambil menjabat tangan Rey, senyum mengembang di wajahnya.

Meski Sany tersenyum, ekspresi Rey tetap datar, bahkan tampak tak terlalu senang. Menyadari hal itu, Sany merasa bersalah atas kejadian kemarin malam dan berniat membicarakannya.

"Omong-omong, soal kemarin..."

"Aku sudah tahu semuanya," potong Rey, menoleh ke arah lain seolah tak ingin melanjutkan topik itu.

Melihat sikapnya yang dingin, Sany pun mengurungkan niatnya.

"Baiklah," ucap Sany pendek, mencoba memahami perasaannya.

Karena Rey tak ingin membahas kejadian kemarin, Sany pun mengalihkan pembicaraan.

"Oh, ya. Tadi kau mau apa menemui Bianca?" tanya Sany, mengingat tujuan awal Rey.

Mendengar Sany menyebut nama Bianca, Rey langsung menoleh tajam ke arahnya.

"Justru aku yang harus bertanya, apa hubunganmu dengan dia?" balas Rey dengan nada tegas.

Mendengar ketegasan Rey, Sany hanya tersenyum ringan.

"Sederhana, aku sangat berarti baginya," jawab Sany dengan santai, seolah jawabannya tak mengandung masalah apa pun.

"Sangat berarti, ya," ucap Rey dengan nada tak percaya, matanya menyipit penuh kecurigaan.

"Iya, kalau kau meminta bantuan dariku, itu sama saja dengan meminta bantuan darinya," jelas Sany sambil tersenyum.

Mendengar itu, Rey jadi ingin mencoba, sekaligus menguji kebenaran perkataan Sany.

"Kalau begitu, apa kau bisa memperbaiki teknologiku yang rusak?" tantang Rey langsung, sambil mengamati reaksi Sany.

"Teknologi yang itu ya?" tanya Sany yang mencoba mengingatnya.

"Iya, emangnya yang mana lagi?" balas Rey dengan tegas.

Sany berpikir sejenak, tapi sebenarnya ia sudah menemukan solusinya.

"Aku tahu toko yang bisa memperbaiki apa pun, asal berkaitan dengan senjata," ucap Sany dengan penuh keyakinan.

"Kalau begitu, antarkan aku ke sana," pinta Rey, ingin segera membuktikan kebenaran ucapan Sany.

"Tentu," jawab Sany sebelum bertindak.

Sany langsung memegang tangan Rey dan menggunakan sihir berpindah tempatnya.

Mereka berdua tiba-tiba muncul di depan sebuah toko penempaan senjata. Kedatangan mereka yang mendadak nyaris membuat seorang perempuan yang sedang melangkah menuju toko itu kehilangan keseimbangan.

"Hei! Jangan tiba-tiba muncul begitu!" seru perempuan itu dengan nada suara kesal.

Sany langsung menoleh ke arah sumber suara.

"Maaf, aku terburu-buru tadi," ucap Sany sambil meminta maaf.

Teman perempuan itu mendekat dan menepuk pundaknya.

"Tenang, tujuan kita ke sini bukan untuk cari masalah dengan mereka," ucap teman perempuan sambil mengingatkannya.

Mendengar itu, perempuan yang marah tadi hanya melontarkan tatapan tajam ke arah Sany sebelum akhirnya pergi.

"Maaf soal temanku tadi," kata perempuan yang satunya sambil tersenyum minta maaf, lalu mengikuti temannya masuk ke toko.

Sany tak membalas. Dia hanya memperhatikan kedua perempuan itu masuk ke dalam toko.

"Mereka tadi siapa?" tanya Rey yang menyaksikan seluruh kejadian.

"Entahlah," jawab Sany sambil menoleh ke arahnya.

"Yang penting, toko yang kumaksud ada di sana," tambahnya sambil menunjuk ke arah sebuah toko di dekat mereka.

Mereka berdua pun berjalan menuju toko tersebut. Sesampainya di depan pintu, Sany langsung membukanya dan mempersilakan Rey masuk.

Di dalam toko, berjejer berbagai jenis senjata yang dijual. Mulai dari panah, senapan, tombak, hingga senjata-senjata dengan bentuk yang unik dan asing.

Rey yang baru pertama kali datang ke tempat seperti ini, mulai mendekati salah satu senjata, matanya penuh rasa ingin tahu dan meneliti setiap detailnya.

Sany yang memperhatikannya segera mendekat dan menarik lengan Rey dengan lembut.

"Bagaimana, toko ini menarik bukan?" tanya Sany sambil tersenyum.

"Harus kuakui... toko ini memang menarik," jawab Rey, meski ekspresinya berusaha tak terlihat terlalu kagum.

"Tunggu sebentar. Katamu toko ini bisa memperbaiki teknologiku? Tapi bagaimana caranya?" tanya Rey yang mengingat janji Sany.

"Lihat antrian di sana, antrian kanan yang pendek itu untuk menyerahkan pesanan, dan Yang kiri yang panjang itu untuk mengambil pesanan yang sudah selesai," jawab Sany sambil menunjuk ke arah antrian.

"Oke, aku akan ambil antrian kanan," kata Rey yang langsung paham dan mulai bergerak mengikuti antrian.

Saat mengantri, Rey tak sengaja mendengar percakapan dari antrian sebelah kiri. Ia pun menoleh ke arah sumber suara.

Yang ia lihat membuatnya terpana, berbagai ras dan makhluk dengan penampilan yang tak pernah ia lihat sebelumnya berkumpul di sana.

"Aku ingin mengambil senjata api yang di-upgrade jadi senapan plasma," kata Alien sambil menyerahkan selembar kertas ke meja

Pegawai toko perempuan itu mengambil kertas tersebut dan berbalik menuju ruangan belakang.

Rey memperhatikan dengan seksama proses pengambilan pesanan alien itu, sekaligus penasaran dengan hasilnya.

Tak lama, pegawai toko kembali sambil membawa sebuah senapan plasma yang canggih dan meletakkannya di atas meja.

Alien itu dengan cermat memeriksa senjata tersebut.

"Bagus, sesuai pesanan," ucap Alien yang puas.

Kemudian ia menaruh sebuah kantong kecil di atas meja. Pegawai toko mengambil dan memeriksa isi kantong itu dengan alat khusus.

"Pembayaran diterima. Datang lagi ya," ucap pegawai toko dengan ramah.

Alien itu pun pergi dengan wajah puas, meninggalkan antrian.

Rey yang mengamati seluruh proses itu mulai memahami bagaimana cara mengambil pesanan di toko ini.

Bersambung...

1
T28J
baiklah saya baca novel pertamanya dulu kak 👍
Dania
semangat tor
Dania: sama"kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!