NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Konglomerat: Cinta Gila yang Tak Bisa Kulepaskan

Obsesi Sang Konglomerat: Cinta Gila yang Tak Bisa Kulepaskan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Transmigrasi ke Dalam Novel / Dark Romance
Popularitas:17.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Kiara terbangun di dunia yang bukan miliknya.

Satu detik sebelumnya, dia gadis biasa yang membaca novel romansa di ponselnya. Detik berikutnya, dia terperangkap di tubuh Kiara Tanuwijaya — aktris muda yang diperlakukan bagai sampah oleh keluarganya sendiri, difitnah oleh industri, dan ditakdirkan berakhir tragis dalam cerita.

Tapi yang paling menakutkan bukan keluarga yang membencinya, bukan pula musuh yang ingin menghancurkannya.

Yang paling menakutkan adalah Rayhan Purnawan.

Dalam novel, dia adalah villain — konglomerat kejam yang menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Tapi saat menatap Kiara, matanya yang dingin meleleh. Suaranya yang tajam melunak. Tangannya yang bisa menghancurkan kerajaan bisnis justru dengan lembut membelai rambutnya.

"Sayang, kamu kembali."

Kembali? Kiara baru saja tiba.

Atau... benarkah?

Di balik kelembutan Rayhan tersembunyi rahasia yang lebih gelap dari mimpi terburuknya: altar tempat dia berdoa 2352 hari, sketsa-sketsa yang tak seharusnya ada, dan sebuah obsesi yang melampaui batas dunia.

"Aku sudah menunggumu. Di dunia ini, di dunia mana pun — aku akan selalu menemukanmu."

Kiara tahu dia harus takut.

Tapi kenapa, saat dia bersembunyi di pelukan pria ini, justru rasa aman yang dia temukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 026

Di Balik Pintu Kaca

Rayhan tidak perlu menunggu lama.

Pukul sembilan lewat lima belas menit keesokan paginya, Chandra Kurniawan masuk ke Purnawan Tower dengan jas biru gelap, sepatu mengilap, dan senyum seorang pria yang yakin semua pintu pada akhirnya bisa dibuka dengan uang.

Di lobi marmer, staf resepsionis menyambutnya dengan sangat sopan. Tidak ada pengamanan kasar. Tidak ada drama. Bahkan lift khusus eksekutif sudah menunggu.

Chandra menyukai itu.

Di kepalanya, undangan mendadak dari Purnawan Group berarti satu hal: Rayhan Purnawan mungkin galak di depan perempuan, tetapi bisnis tetap bisnis. Orang seperti Rayhan tidak akan menolak angka besar jika angka itu diletakkan di meja yang tepat.

"Pak Rayhan sudah menunggu," kata staf itu.

Chandra tersenyum. "Saya juga tidak suka membuat orang penting menunggu."

Lift naik tanpa suara ke lantai empat puluh dua.

Pintu terbuka ke koridor kaca yang menghadap Jakarta. Langit pagi berwarna pucat setelah hujan semalam. Mobil-mobil di bawah tampak seperti titik kecil yang bisa dipindahkan dengan ujung jari.

Chandra menyukai pemandangan seperti itu.

Ia menyukai perasaan berada di tempat tinggi.

Sampai pintu ruang rapat terbuka, dan ia menyadari meja di dalam tidak disiapkan untuk negosiasi.

Rayhan duduk di ujung meja panjang. Adi berdiri di samping layar besar. Dua orang dari tim legal Purnawan Group duduk dengan map tertutup. Di sisi lain, ada seorang perempuan dewasa dengan wajah pucat, ditemani seorang pengacara muda. Perempuan itu menunduk, menggenggam segelas air dengan dua tangan.

Chandra mengenalinya.

Kandidat ketiga.

Untuk sepersekian detik, senyumnya tertahan.

Lalu ia tertawa kecil. "Wah. Rupanya pagi ini ramai."

Rayhan tidak berdiri menyambut.

"Duduk, Pak Chandra."

Nada itu bukan undangan. Itu perintah.

Chandra tetap duduk, karena meninggalkan ruangan sekarang akan terlihat seperti kalah.

"Saya kira kita akan membahas kemungkinan kerja sama."

"Benar," jawab Rayhan. "Kerja sama terakhir Anda dengan dunia bisnis Jakarta."

Adi menyentuh tablet.

Layar besar menyala.

Muncul salinan pesan dari asisten Chandra kepada klinik estetika privat, jadwal konsultasi, foto Kiara dari siaran langsung, foto perempuan yang duduk di ruangan itu, dan catatan singkat: target visual mendekati Kiara Tanuwijaya.

Perempuan di sisi meja menunduk lebih dalam. Jari-jarinya bergetar di gelas.

Wajah Chandra tidak banyak berubah, tetapi rahangnya mengeras.

"Pak Rayhan," katanya pelan, "Anda cukup berani memata-matai urusan pribadi saya."

"Anda cukup bodoh meninggalkan jejak pembayaran dari rekening perusahaan."

Salah satu tim legal membuka map. "Pembayaran awal dan draft kontrak eksklusif memakai entitas anak Kurniawan Lifestyle. Klinik yang dipilih juga sedang menjalani pemeriksaan izin praktik tambahan. Semua dokumen sudah diserahkan kepada kuasa hukum pihak yang dirugikan."

Chandra melirik perempuan itu.

"Dirugikan?" Ia tersenyum tipis. "Dia setuju dibayar."

Perempuan itu mengangkat wajah. Matanya merah, tetapi kali ini ia bicara.

"Saya setuju jadi model iklan privat. Saya tidak diberi tahu wajah saya akan diubah supaya mirip orang lain."

Senyum Chandra lenyap setengah.

Rayhan menatapnya tanpa ekspresi. "Manusia bukan properti custom."

Chandra bersandar di kursi, mencoba terlihat santai. "Kalimat moral seperti itu menarik keluar dari mulut seorang Rayhan Purnawan."

Udara di ruangan menipis.

Adi menunduk sedikit, seolah sudah terbiasa melihat orang menggali kuburnya sendiri.

Rayhan hanya berkata, "Kita lanjut."

Layar berganti.

Deretan nama proyek muncul. Properti campuran di Tangerang. Hotel butik di Bali. Pendanaan jaringan wellness center. Beberapa logo bank dan perusahaan investasi ikut tampil. Di sampingnya, status berubah satu per satu menjadi audit compliance, suspended, partnership review.

Chandra akhirnya duduk tegak.

"Apa maksudnya ini?"

"Tiga proyek Anda memakai pembiayaan sindikasi yang melibatkan jalur Purnawan Group. Sejak pukul delapan pagi, semua fasilitas dicabut sementara untuk audit etika dan risiko reputasi."

"Anda tidak bisa begitu saja mencabut..."

"Bisa," kata Rayhan.

Tidak keras. Tidak perlu.

Chandra menatap tim legal. "Saya akan melawan."

"Silakan," ujar salah satu legal Purnawan. "Semua klausul reputasi dan penyalahgunaan dana operasional ada di kontrak. Kami sudah menyiapkan ruang untuk negosiasi jika Bapak ingin membaca ulang."

Chandra menahan napas.

Layar berganti lagi.

Kali ini tampak daftar undangan gala bisnis, forum properti, dan pertemuan investor yang namanya dicoret satu per satu. Bukan oleh Purnawan Group secara terang-terangan, melainkan oleh asosiasi, sponsor, dan mitra yang tidak ingin nama mereka terseret dalam skandal pria kaya yang memesan wajah perempuan untuk menyerupai aktris muda yang sedang menjadi korban fitnah publik.

Itu lebih mengerikan daripada pukulan.

Pukulan hanya menyakiti tubuh.

Ini mencabut kursi dari setiap meja tempat Chandra biasa merasa berkuasa.

"Pak Rayhan," suara Chandra akhirnya turun. "Kita sama-sama tahu lingkaran kita tidak sebersih itu. Banyak orang melakukan hal lebih buruk."

"Mungkin."

"Lalu kenapa saya?"

Rayhan menatapnya.

Dalam mata itu tidak ada kemarahan yang meledak. Justru kosong. Dingin. Seperti ruang tertutup tanpa udara.

"Karena Anda melihat Kiara."

Chandra tertawa pendek, tidak percaya. "Hanya karena itu?"

"Karena Anda melihatnya seperti barang yang bisa Anda tiru, simpan, dan sentuh kapan pun Anda mau."

"Saya belum menyentuh dia."

"Karena tangan Anda belum sampai."

Kalimat itu membuat punggung perempuan kandidat meremang. Ia menatap Rayhan dengan takut, lalu menunduk lagi. Bahkan sebagai orang yang diselamatkan dari kontrak itu, ia bisa merasakan bahwa pria di ujung meja bukan sedang menegakkan keadilan biasa.

Ia sedang melindungi satu orang.

Dan ia tidak peduli berapa banyak dunia yang harus dibakar di sekelilingnya.

***

Kiara tiba di Purnawan Tower pukul sembilan lewat empat puluh.

Ia seharusnya tidak datang. Rayhan sudah mengirim pesan bahwa pagi ini ada rapat dan ia boleh sarapan santai di apartemen. Tetapi Santi menerima telepon dari Ci Lucy tentang revisi jadwal reading, lalu Kiara ingat dokumen karakter yang kemarin tertinggal di mobil Rayhan.

Alasan itu kecil.

Mungkin terlalu kecil.

Yang sebenarnya, Kiara terbangun dengan perasaan tidak enak setelah kalimat terakhir Rayhan semalam. Aku akan biarkan Pak Chandra datang kepadaku.

Ia tahu Rayhan tidak akan membicarakan detail jika ia bertanya lewat telepon.

Jadi ia datang.

Staf Purnawan Group mengenal wajahnya. Mereka menyapanya sebagai Nona Kiara, menawarinya teh hangat, lalu mengantar ke lounge eksekutif. Santi mengikuti di belakang dengan wajah ragu.

"Kak Kiara, Pak Rayhan bilang rapatnya belum selesai."

"Aku tunggu di lounge saja."

Namun saat melewati koridor kaca, Kiara mendengar suara Chandra dari ruang rapat yang pintunya tidak tertutup rapat.

"Anda gila kalau berpikir bisa menghapus saya dari Jakarta hanya karena seorang aktris kecil."

Langkah Kiara berhenti.

Santi ikut berhenti. "Kak..."

Kiara mengangkat tangan, meminta diam.

Dari celah pintu, ia melihat sebagian ruang rapat. Chandra berdiri dengan wajah merah. Di layar besar, ada foto seorang perempuan asing yang posturnya hampir mirip dengannya. Di sebelah foto itu, ada wajah Kiara dari siaran langsung.

Darah Kiara seperti turun ke ujung kaki.

Rayhan duduk di ujung meja.

Ia terlihat sangat tenang.

Terlalu tenang.

"Anda sendiri yang menyeret nama Anda ke kubangan," kata Rayhan. "Saya hanya menutup pintu keluarnya."

Chandra menunjuk layar. "Itu cuma rencana estetika. Tidak ada korban."

Perempuan di meja itu tersentak.

Rayhan akhirnya berdiri.

Gerakannya pelan, tetapi semua orang di ruangan ikut menahan napas.

"Mulai siang ini, klinik Anda pakai, perusahaan yang membayar, dan orang yang menandatangani kontrak akan masuk pemeriksaan. Perempuan itu sudah berada di bawah perlindungan hukum. Semua kerja sama Kurniawan dengan jalur Purnawan berhenti. Tiga bank sudah meminta klarifikasi. Dua mitra asing menunda penandatanganan. Besok pagi, nama Anda tidak akan lagi terdengar sebagai peluang. Hanya risiko."

Chandra menatapnya dengan mata membesar.

"Anda menghancurkan saya."

"Belum."

Satu kata itu membuat Kiara merasa dingin menjalar ke tulang belakang.

Rayhan melangkah mendekati Chandra. Tidak menyentuh. Tidak mengangkat tangan. Tapi Chandra mundur setengah langkah tanpa sadar.

"Kalau setelah keluar dari ruangan ini Anda masih mencari jalan ke Kiara," kata Rayhan, "saya akan pastikan tidak ada orang yang berani menjual pintu kepada Anda. Bukan di Jakarta. Bukan di Bali. Bukan di negara mana pun tempat nama Kurniawan masih ingin terdengar bersih."

Chandra memucat.

Kiara pernah membaca tentang Rayhan dalam novel. Kejam. Gila. Berbahaya. Villain yang membuat orang-orang takut hanya dengan namanya.

Tapi membaca dan melihat adalah dua hal yang berbeda.

Di dalam novel, kata kejam terasa seperti label.

Di balik pintu kaca ini, kejam punya suara rendah, kemeja rapi, dan mata yang tidak berkedip saat menghapus masa depan seseorang.

Santi menarik napas kecil di sampingnya.

Rayhan mendengar.

Atau mungkin ia memang selalu bisa merasakan Kiara.

Kepalanya menoleh ke arah pintu.

Mata gelap yang tadi membuat Chandra mundur jatuh tepat pada Kiara.

Untuk pertama kalinya pagi itu, wajah Rayhan berubah.

Suhu dingin di matanya pecah, digantikan sesuatu yang hampir panik.

"Kiara."

Semua orang di ruang rapat ikut menoleh.

Kiara berdiri di balik pintu setengah terbuka, satu tangan masih memegang map karakter Putri Mahkota. Wajahnya pucat. Bukan karena jantungnya kali ini, melainkan karena ia baru saja melihat bagian Rayhan yang selama ini selalu disembunyikan di belakang pelukan, obat, dan panggilan Sayang.

Rayhan bergerak ke arahnya.

Kiara tidak mundur.

Tapi ia juga tidak langsung tersenyum.

Ketika Rayhan sampai di depannya, tangannya terangkat seolah ingin menyentuh wajah Kiara. Lalu berhenti di udara.

"Kamu melihat?" tanyanya.

Kiara menatapnya.

Di belakang Rayhan, Chandra masih berdiri dengan wajah runtuh. Di layar besar, foto dirinya dan perempuan asing itu masih berdampingan seperti bayangan buruk.

Kiara menggenggam map di dadanya sampai ujung kertas menekan telapak tangan.

"Aku melihat," jawabnya pelan.

Rayhan menurunkan tangan.

Untuk pertama kalinya, pria itu tampak takut bukan pada musuh, melainkan pada mata Kiara.

Dan Kiara akhirnya mengerti.

Monster dalam mimpi itu tidak hanya hidup di masa lalu.

Ia berdiri di depannya, menahan napas, menunggu apakah ia akan lari.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!