Tahun pertama pernikahanku bersama mas Abim kehidupan kami sangat harmonis dan bahagia, manakala diriku sudah mengandung buah hati dari cinta kita.
Tapi siapa sangka, tahun kedua pernikahanku di landa badai yang amat dasyat saat aku melahirkan seorang putri cantik yang justru di benci oleh ibu mertuaku yang menginginkan seorang penerus berjenis kelamin laki-laki.
Siapa sangka, diam-diam suamiku telah menikah dengan mantan sahabatnya. Yang merupakan wanita pilihan ibunya. Dan ibu mertuaku memintaku untuk menerima pernikahan kedua suamiku dan madunya itu.
Apakah yang harus aku lakukan? Bertahan atau melepaskannya? Ikuti kisahku..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AniitaLee_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prasangka
Sudah hampir seharian Inara termenung memikirkan sikap Bu Retno, ibu mertuanya itu nampak ketara memperlakukan Jenita berbeda saat berhadapan dengannya.
Entah sudah berapa lama suaminya dengan wanita bernama Jenita itu bersahabatan. Terlihat Bu Retno begitu menyukai Jenita, bahkan sangat memanjakan wanita itu seperti putri kandungnya sendiri. Pemandangan itu cukup mengundang iri dalam lubuk hati Inara.
Bahkan membuat Inara merasa insecure di hadapan Jenita yang memang terlihat cantik secara fisik. Diam-diam Inara memuji Jenita yang begitu pandai merawat diri. Tidak seperti dirinya yang baru saja melahirkan. Tubuhnya masih di penuhi dengan lemak-lemak membandel. Karena untuk saat ini waktu Inara masih tersita akan perhatian untuk putrinya. Untuk sekedar perawatan tubuh, Inara hanya melakukan ala kadarnya saja.
“Please Inara, positif thinking ya!”
Inara terus memprovokasi hatinya untuk tidak berfikir yang macam-macam tentang ibu mertua dan sahabat suaminya itu.
Mungkin pemandangan itu terlihat karena saking lamanya mereka tidak bertemu. Sehingga, Bu Retno memperlakukan Jenita begitu istimewa terlihat di mata Inara saat ini.
Bu Retno nampak begitu bahagia dan bisa tertawa lepas di hadapan Jenita. Sedangkan di hadapannya, Bu Retno selalu memasang wajah datar dan ketus.
“Inara! Awas! Itu gosong!” hardik Bu Retno yang baru saja memasuki dapur usai berbincang dengan Jenita.
“Akh! Astaga!” dengan gugup Inara mematikan kompor yang ia gunakan untuk menggoreng daging ayam.
“Aish! goreng daging ayam saja tidak becus! Kenapa sih kamu Inara? Jangan buang-buang makanan seperti ini, mubazir!”
“Maafkan Inara bu, Inara tidak fokus tadi.”
“Maaf, maaf. Pinteran dikit kenapa! Astaga! Mimpi apa aku bisa punya menantu seperti dirimu ini!” keluh Bu Retno sambil memijat pelipisnya yang di rasa berdenyut.
Tak lama Jenita pun datang, saat mendengar huru hara di dapur.
“Ada apa bu? Kenapa ini ruangannya kok banyak asap? Uhuk, uhuk!” tanya Jenita sambil terbatuk-batuk.
“Jenita sayang, kenapa kamu kesini? Lihat ini semua kelakuan istri Abim yang tidak becus masak ini! Dapur ibu jadi bau asap semuanya, bagaimana bisa Abim jatuh cinta pada wanita tidak becus masak sepertinya!” tuding Bu Retno ke arah Inara.
Inara hanya bisa menunduk mendengar tudingan Bu Retno yang nyatanya memang benar adanya.
“Sudah ya bu, ibu jangan marah-marah nanti darah ibu naik. Biar Jenita aja nanti yang pesan makanan buat makan malam.”
“Kamu memang wanita yang pintar sayang, kapan-kapan kita masak bareng ya? Ibu akan ajarkan kamu masak kesukaan Abim.”
Tatapan ramah Bu Retno langsung berubah datar saat menatap ke arah Inara.
“Inara! Cepat bereskan semua kekacauan ini! Ibu nggak mau asap gosong itu masih memenuhi dapur ibu!”
“Baik, bu.”
Selepas kepergian Jenita dan juga Bu Retno. Tubuh Inara pun merosot ke lantai. Selama ini Bu Retno memang selalu acuh tak acuh akan hadirnya, namun sekalinya berkata Bu Retno kini menjatuhkan mentalnya.
Bahkan Bu Retno terang-terangan mengatainya sebagai menantu yang tidak becus di hadapan orang asing yang baru saja ia tahu sebagai sahabat suaminya itu. Rasanya malu itu begitu menggerogoti diri.
“Apa aku setidak becus itu Tuhan?”
Inara pun kembali tersenyum masam. Sepertinya Bu Retno sudah menemukan pawangnya. Jika sudah seperti ini, tiada tempat lagi untuknya mengambil hati wanita paruh baya itu. Prasangka yang tidak-tidak pun kini menghinggapi pikiran dan hatinya.
Keinginan untuk segera pindah tempat tinggal pun semakin menggebu. Mungkin dengan pisah tempat, hatinya tidak akan di landa cemburu terus menerus melihat kedekatan Jenita dengan ibu mertuanya itu.
Inara kembali teringat akan status wanita itu, sebentar lagi suaminya Abim pulang. Mungkin Inara akan menanyakan semua hal tentang siapa sebenarnya Jenita sekedar sahabat atau mantan masa lalu suaminya? Karena kedekatan Jenita dengan Bu Retno terasa begitu ganjil di mata Inara.
Malam harinya...
“Ibu, Abim pulang!” sapa Abim dengan lantang. Senyum Abim yang awalnya merekah perlahan menyurut begitu matanya bersitatap dengan mata Jenita.
“Jenita! Kamu masih di sini!” Abim terkejut saat masih melihat Jenita di rumah ibunya. Padahal Abim sudah berusaha menghindari istri keduanya itu dengan beralasan lembur agar Jenita cepat pulang.
“Iya mas, mas baru pulang?”
Rupanya perkiraan Abim salah, kini Jenita malah duduk berdua dengan ibunya di atas meja makan. Jenita pun bangkit dan langsung menyambut kedatangan Abim sambil mengulurkan tangannya hendak mengambil tas kerja yang pria itu bawa. Namun Abim menolaknya, dan berusaha tetap menggenggam tasnya itu.
“Dimana Inara bu? Kenapa Inara tidak ikut makan dengan kalian?”
“Ibu tidak tahu, palingan juga di kamarnya.”
“Mbak Inara di kamarnya mas, tadi lagi menyusui Jelita,” ucap Jenita menimpali.
Abim pun memilih mengabaikan keberadaan Jenita dan lebih mencari keberadaan sang istri tercinta. Hal itu sontak membuat Jenita merasa kesal, namun wanita itu berusaha menutupinya di hadapan Bu Retno.
“Kamu yang sabar yang Jenita, sebentar lagi perhatian Abim juga hanya untukmu,” celetuk Bu Retno sambil makan.
“Maksud ibu?”
“Nanti kamu juga tahu sayang, yaudah mending kamu habisin makan malamnya. Habis ini temani ibu nonton televisi ya?”
“Iya bu.”
Di dalam kamar..
Dengan berpakaian masih lengkap usai kerja, Abim pun menyambangi kamar istrinya yang juga kamar miliknya itu. Abim pun mengulurkan tangan hendak mengetuk pintu. Namun sudah 3x ketukan tidak ada jawaban, Abim pun memilih masuk begitu tahu pintu tidak di kunci dari dalam oleh istrinya.
“Assalamua'allaikum, sayang?”
Begitu masuk, Abim melihat istrinya tengah mengeloni putrinya Jelita. Hati Abim menghangat melihat pemandangan nan damai itu. Di hampirinya sang istri dan di kecup puncaknya kepala sang istri yang kini berbaring membelakanginya dengan lembut.
“Terima kasih ya sayang, sudah menjaga putri kita dengan baik. Maafkan mas,” bisik Abim dengan lembut di telinga Inara.
Selepas berucap penuh makna itu, Abim memilih segera membersihkan diri dan hendak mengganti pakaian kerjanya dengan piyama yang nyaman. Melihat anak dan istrinya sudah tertidur pulas, membuat Abim ingin segera menyusul keduanya. Baru saja hendak memejamkan mata, sebuah suara memaksa Abim untuk tersadarkan kembali.
“Mas Abim, ceritakan dengan jujur siapa sebenarnya Jenita itu mas?”
Bersambung....
Selamat buat Inara dan Indra pny anak kembar dan jelita
DinDut itu Pacarku ngasih iklan
DinDut Itu Pacarku ngasih iklan
Inara hrs mengusut sampai tuntas
DinDut Itu Pacarku ngasih iklan
DinDut Itu Pacarku ngasih iklan
klo indra tidak selamat malas lanjut baca nya
DinDut Itu pacarku ngasih iklan
Buk Retno bnr2 pembuat masalah nih
DinDut Itu Pacarku ngasih iklan
DinDut Itu Pacarku ngasih iklan