Azka yang biasanya duduk di bangku cadangan saat pertandingan basket, tiba-tiba ada yang merasuki tubuhnya dan memberinya kekuatan. Dia menjelma menjadi pemain basket profesional.
Raga Azka kini dikuasai oleh jiwa lain. Bagaimana jika jiwa itu adalah mantan dari mamanya yang telah meninggal dua puluh tahun lalu?
Masalah apa yang belum dia selesaikan di dunia ini hingga membuat jiwanya menetap di dunia? Apa dia memang diutus untuk menjaga Azka dan meraih impiannya melalui raga Azka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Hampir semalaman Azka terus berjaga di dekat Amira. Dia tidak ingin makhluk-makhluk itu mendekati Amira lagi agar Amira bisa tidur dengan nyenyak. Dia menatap leher Amira yang masih memar membiru, pasti rasanya masih sakit ketika digerakkan.
Kemudian Azka memasang alarm di ponselnya lalu dia menempelkan kepalanya di dekat tangan Amira dan tertidur. Hingga pagi hari, saat alarm di ponselnya berbunyi, Azka tak juga mendengarnya. Hingga akhirnya ada sebuah tepukan kecil di bahu Azka.
"Azka."
Azka akhirnya membuka kedua matanya. Dia menekan lehernya yang kaku karena semalam tidur dengan posisi telungkup di brankar Amira.
"Om, Tante. Maaf aku tidak tahu kalau Om dan Tante sudah datang." Kemudian Azka mengambil ponselnya. Dia terkejut saat jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul enam. "Maaf, aku harus pulang sekarang biar tidak terlambat ke sekolah." Azka berdiri dan memasukkan ponsel ke dalam sakunya.
"Terima kasih ya sudah menjaga Amira."
"Iya, Tante. Saya pulang dulu." Azka segera keluar dari ruangan Amira dan berjalan jenjang menuju tempat parkir.
"Aku jadi kesiangan gini gara-gara semalam jadi pawang hantu. Semoga saja gak ada hantu yang dekati Amira sebelum dia pulang karena rumah sakit ini memang angker." Azka memakai helmnya lalu naik ke atas motor. Kemudian dia segera melajukan motornya menuju rumah.
Azka semakin menambah kecepatan motornya, tak peduli dengan jalanan yang mulai dipadati kendaraan lain. Setelah sampai di depan rumahnya, dia melepas helmnya dan berlari masuk ke dalam rumah.
"Azka, Mama kira hari ini libur," kata Airin sambil menyiapkan makanan di atas meja dan melihat Azka yang berlari menaiki tangga.
"Masuk, Ma," jawab Azka. Dia kini masuk ke dalam kamarnya dan mandi secepat kilat. Setelah itu dia segera memakai seragamnya. "Aduh, buku pelajaran hari ini belum aku siapkan lagi."
Azka mencari buku-buku mata pelajaran hari itu lalu memasukkan ke dalam tas. "Udahlah, ada PR urusan nanti saja." Kemudian dia menyisir rambutnya. Dia menatap pantulan dirinya di cermin. Perban yang melekat di dahinya sudah dia buka meskipun bekas luka itu masih terlihat. Dia menata rambutnya seperti gaya rambutnya di masa lalu. Sedikit berdiri dan teracak ke samping.
Setelah itu dia memakai jaketnya lalu sepatunya. "Jangan sampai terlambat. Aku belum print proposal juga."
Azka keluar dari kamarnya dan melihat adiknya yang sudah selesai sarapan dan berangkat.
Azka menuruni tangga dengan cepat lalu meminum segelas susunya. "Aku berangkat dulu Ma, sudah kesiangan."
"Kamu gak sarapan dulu?"
Azka menggelengkan kepalanya.
"Nih, Mama sudah siapkan bekal double." Airin membuka tas Azka lalu memasukkan bekal itu ke dalam tasnya. "Orang tua Amira sudah datang kan?"
Azka menganggukkan kepalanya lalu dia mencium punggung tangan Airin sebelum berangkat ke sekolahnya.
Airin menahan lengan Azka sesaat. Dia menatap lekat wajah Azka. "Azka ...."
"Iya, Ma."
"Eh, tidak. Kamu hati-hati ya. Adik kamu sudah bawa motor sendiri. Kamu awasi dia dari belakang, dia baru saja berangkat."
"Iya, Ma." Kemudian Azka berpamitan pada Papanya lalu dia keluar dari rumah.
"Kenapa, Ma?" tanya Revan saat melihat Airin masih bengong menatap punggung Azka yang kian menjauh.
Airin kembali duduk di samping Revan. "Papa merasa tidak kalau Azka itu berubah setelah kecelakaan?"
Revan menganggukkan kepalanya. "Iya, tingkah laku dan gelagatnya mirip sekali dengan Azka Wahyudi. Aku kira cuma aku saja yang berpikir begitu, ternyata Mama juga."
"Mungkin hanya perasaan kita saja ya," kata Airin. Dia kini membereskan piring yang ada di atas meja.
"Atau jiwa Azka sudah kembali dan masuk ke tubuh anak kita," goda Revan sambil tertawa.
Seketika Airin ikut tertawa. "Tidak mungkin kayak gitu. Azka sudah tenang di sana." Meski tidak bisa dipungkiri, Airin memikirkan apa yang dikatakan Revan barusan. Apa mungkin hal itu bisa terjadi?
...***...
"Untung gak telat." Azka melepas helmnya lalu dia turun dari motornya. Baru beberapa langkah memasuki sekolah, Tio sudah menyusul langkah kakinya.
"Azka, gue gak nyangka Nadia psychopath. Lo gak papa kan?" Tio kini berjalan sejajar di samping Azka.
"Gue gak papa. Amira yang hampir dibunuh."
"Semua murid di sini sangat heboh. Katanya Nadia kena gangguan jiwa."
"Wah, kalau kena gangguan jiwa, dia gak dipenjara. Jangan sampai dia keluar karena dia bisa mengancam nyawa Amira." Azka menjadi was-was jika hal itu terjadi.
Tio justru tertawa dan menjotos lengan Azka. "Sepertinya udah jatuh cinta beneran sama Amira. By the way, gimana proposal lo, udah selesai?"
"Tinggal print, nanti saat istirahat gue print."
Saat di koridor kelas, tiba-tiba ada yang menghadang langkah kaki mereka berdua. Azka menatap Rendi dan Adam yang berdiri di depannya dan seperti ingin menantangnya
"Gue dengar lo mau bentuk tim basket sendiri? Berani sekali lo!"
Azka malas menjawab pertanyaan itu. Dia mendorong Rendi yang menghalangi jalannya.
"Gue pastiin, tim basket lo gak akan berjalan."
"Kita lihat saja nanti, tim basket gue atau tim basket kalian yang akan maju." Kemudian Azka melanjutkan langkah kakinya bersama Tio ke kelas.
"Gimana kalau mereka berhasil?" tanya Adam karena dia juga melihat sendiri kemampuan Azka yang meningkat drastis.
"Kita samperin Ezra." Rendi dan Adam berjalan jenjang menuju kelas Ezra, lalu mereka menarik tangan Ezra agar mengikutinya. Mereka bertiga kini berada di belakang kelas.
"Apa-apaan kalian!" Ezra menepis tangan Adam yang masih menahan tangannya.
"Lo harus gagalkan Azka membentuk tim baru!" kaya Adam.
Ezra hanya menatap tajam kedua teman satu timnya itu, lalu membalikkan badannya. "Gagalkan saja sendiri! Gue udah gak buat dia masuk tim inti. Soal ini bukan urusan gue." Ezra akan melangkahkan kakinya tapi berhenti setelah mendengar ancaman dari kedua temannya itu.
"Kalau lo gak gagalkan Azka, lo berhenti saja menjadi kapten basket dan beasiswa lo akan dicabut."
Ezra hanya mengepalkan tangannya. Kedua temannya itu memang anak donatur tetap di sekolah itu. Mereka yang selalu mengaturnya, karena menggunakan kekuasaan orang tuanya agar tetap menjadi pemain inti di tim basket sekolah. "Terserah kalian! Gue sudah muak!" Ezra melangkahkan kakinya dan berjalan kembali ke kelas.
"Kak Ezra."
Langkah Ezra berhenti mendengar panggilan itu. Dia kini menatap Vania yang memakai baju olahraga, pasti Vania mengikutinya setelah berganti seragam di toilet. "Ada apa? Lo dengar semuanya? Kalau iya, tidak perlu lapor sama kakak lo!" Kemudian Ezra pergi meninggalkan Vania.
"Kak Ezra, aku tahu sebenarnya kamu orang baik." Kemudian Vania memutar langkahnya dan kembali ke kelasnya.
💞💞💞
Like dan komen ya...