SEOLAH SEMUA INI MIMPI!!
YA, INI PASTI HANYA MIMPI!
Aku terbangun dari tidurku dan mendapati bahwa aku sudah berubah status dari gadis biasa menjadi seorang istri pria tua buruk rupa yang lebih pantas kupanggil paman atau bahkan ayah!!
Namun sial!
Nasibku sejak lahir tidak sebaik nasib kedua kakakku yang cantik jelita dan disayang Ayah dan Ibu. Kelahiran ku tidak pernah direncanakan. Katanya saat aku lahir seluruh bisnis keluarga kami hancur berantakan. Padahal bukan kesalahanku, tapi mereka (ayah,ibu, kedua kakak bahkan sampai nenek buyutnya pamanku) menyebut aku sebagai anak pembawa sial.
Selama tujuh belas tahun hidup, aku diasingkan di gubuk tua yang jauh di belakang rumah. Dan hebatnya, saat aku diasingkan, bisnis keluarga kami kembali membaik. Apa mungkin aku benar benar seorang pembawa sial?
Kesialan itu tidak berakhir, hingga aku dipaksa menikahi seorang pria tua yang datang ke rumah untuk melamar. Kenapa aku dipaksa? padahal aku anak kandung mereka juga!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Harsie Alive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17 Sayang Maaf Aku Egois
Ruby menatap Gama sambil senyum-senyum sendiri. Dia tidak pernah berpikir kalau Paman yang menolongnya kemarin adalah suaminya hari ini.
"Kenapa menatapku terus!? Apa kau mau mengajak bertengkar lagi bocah kematian!?" ketus Gama.
Dia masih ingat betul bagaimana Ruby mengancam akan membunuhnya saat di gubuk tua hari itu.
Kecil kecil begitu, tenaga dan keberanian Ruby tak bisa dianggap remeh!
Ruby menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil,"Ruby senang hehehe!" balasnya lalu duduk di samping Gama, di atas kasur itu.
Pria itu mengeluarkan sebuah amplop dari dalam laci nakas yang ada di sisinya.
Sebuah amplop cokelat terang berukuran portofolio tampak dia buka
Pria itu memberikan beberapa dokumen pada Ruby," Beberapa hari lagi kau akan belajar privat dan mengikuti ujian kesetaraan setelah dianggap lulus," terang Gama.
"Apa ini artinya Ruby akan sekolah!?" tanya gadis itu sambil menatap Gama dengan mata berbinar-binar.
Gama mengangguk pada gadis itu.
"wahahh yeaaayyyy hahahha... Ruby senang!! Ruby senang wohooo!!!! Ruby sekolah!!!" seru gadis itu sambil melompat-lompat kegirangan di dalam kamar itu.
Gama menatapnya sambil mengulum senyum, senyum tipis yang terlihat tidak terlalu tulus.
Dia seperti sedang merawat seorang anak perempuan yang hiperaktif.
Padahal kalau diingat-ingat, semalam gadis itu menangis sampai pingsan saat menceritakan tentang dirinya.
Tetapi sekarang, seolah dia sudah melupakan semua kesedihan itu.
"Dasar remaja labil!" batin Gama yang terbawa situasi. Dia tersenyum dengan tingkah Ruby yang menggemaskan.
Wajar saja Ruby begitu, di masih anak remaja yang dipaksa dewasa oleh keadaan.
Gama sudah merencanakan pendidikan untuk gadis itu. Tentu saja status Ruby sebagai istrinya akan dia sembunyikan dari publik.
Tetapi bukan berarti dia tidak mengakui gadis itu sebagai istri yang kini menjadi tanggung jawabnya.
Ruby tampak sangat bahagia, satu langkah Gama berhasil. Ini satu langkah lebih dekat dengan semua rencana yang dia susun di kepalanya.
Wajah mendiang istrinya terbayang di kepalanya," Sayang, maaf aku egois, tapi aku akan melakukan segala cara untuk mengungkap siapa yang membunuhmu,"
"Tidak peduli jika gadis ini akan jadi korban, selama aku tahu bajingan mana yang berusaha mempermainkan hidup kita!" batin Gama.
Tanpa sepengetahuan siapapun, Gama telah menyusun rencana besar dalam kepalanya untuk membalaskan dendam atas kematian istrinya.
Ruby menatap Gama sambil tersenyum manis lalu menghampiri pria itu.
Sungguh dia hanyalah seorang gadis remaja yang begitu polos. Arti dari sepasang suami istri pun dia anggap hanya sekedar dia orang yang tinggal serumah dan tidur sekamar.
Entah bagaimana perasaan Ruby nanti jika sampai dia tahu, bahwa Gama menikahinya hanya untuk menjadikannya sebagai umpan memancing pembunuh istrinya.
"Paman, kenapa baik sekali pada Ruby!?" tanya gadis itu heran.
Dia belum pernah diperlakukan seperti ini oleh orang lain.
"Kau adalah istriku, sudah sewajarnya,'"ucap Gama tanpa menatap Ruby, dia hanya fokus pada tabel tabel grafik di laptopnya.
Ruby menatap Gama, garis berwarna-warni itu membuatnya penasaran.
"Paman, ini apa!?" tanya Ruby seraya menyentuh layar laptop itu.
Tetapi Gama langsung menepis tangan Ruby dari laptop itu dan segera menutup benda itu dan menjauhkannya dari Ruby seolah Ruby akan merusaknya.
Wajahnya berubah dingin dan datar lalu dalam hitungan detik dia tersenyum ke arah Ruby seolah tidak ada apa-apa.
"itu namanya laptop, kalau Ruby Mau, nanti akan ku belikan," ucap Gama sambil tersenyum.
Ruby mengangguk paham, tetapi dia sudah merasakan gelagat aneh yang ditunjukkan oleh Gama barusan.
Lama tinggal di hutan membuat gadis itu mudah membedakan ekspresi orang-orang. Dia terbiasa menilai dan menganalisa perasaan orang lain melalui gerak tubuhnya, ekspresi dan cara bicaranya.
"Sepertinya benda itu sangat berharga buat paman, lain kali tidak akan ku pegang," batinnya seraya mengusap pergelangan tangannya yang terasa berdenyut karena Gama mencengkram nya dengan kuat.
"Paman, Ruby lapar, " ucap gadis itu sambil turun dari kasur dan menjaga jarak dengan Gama.
Entah apa yang membuatnya bersikap demikian, tetapi instingnya mengatakan bahwa Gama memiliki banyak rahasia yang dia sembunyikan.
"Ahh tentu kau lapar, kita ke bawah saja, sekalian bertemu yang lainnya," ucap Gama sambil turun dari kasur dan menyimpan rapat semua barang-barang nya. Dia memasang kembali topengnya, agar rahasianya tetap tersimpan dengan aman.
Dia memisahkan barang miliknya jauh di tempat yang tak tergapai Ruby. Semuanya terpisah, pakaian Gama disimpan di lemari sisi kanan sedang milik Ruby di sisi kiri.
Jelas sekali di dalam kamar itu, Gama memasang pembatas tak kasat mata, sebagai tanda bahwa dia menjaga jarak dengan Ruby.
Bahkan selimut pun mereka terpisah.
Ruby mengamati Gama, dia mengamati kamar itu, senyuman Gama tadi terasa asing baginya.
"Paman ini punya banyak rahasia," batin Ruby.
Stelah Gama menyelesaikan urusannya, mereka berdua keluar dari dalam kamar.
Saat sampai di pintu keluar, Gama terlihat menarik nafas dalam-dalam sejenak lalu menoleh pada Ruby dan tersenyum (paksa).
"Ayo," ucapnya sambil menggenggam tangan gadis itu.
Ruby tahu, Gama memaksakan dirinya," pembohong!" ucap Ruby pelan sambil menatap genggaman tangan itu.
"Apa katamu tadi?" tanya Gama yang samar samar mendengar suara Ruby.
Gadis itu cepat-cepat menggelengkan kepalanya sambil tersenyum," Nggak ada tuh, Paman salah dengar pasti!" ucap Ruby.
Keduanya turun dari lantai dua sambil bergandengan tangan, menunjukkan pasangan suami istri yang sangat harmonis di depan keluarga besar Falcon.
"Wahh menantu Mama sudah bangun, gimana keadaan kamu sayang?? Sudah baikan?" tanya Nyonya Mita menghampiri Ruby dan menarik Ruby dari tangan Gama.
"Ruby baik nyonya," ucap gadis itu dengan sopan sambil tersenyum.
"Maaf kalau semalam Ruby malah pingsan, Ruby kaget karena kalian semua begitu baik," tuturnya.
Meski merasakan kepalsuan sikap Gama, Ruby tetap bersyukur kalau rasa sayang dan keramahan keluarga Falcon padanya tidak dibuat-buat.
Setidaknya ada yang mau menerimanya di rumah itu.
"Sepertinya mereka lebih jujur daripada paman ini, sebaiknya aku bergaul dengan mereka saja!" batin Ruby.
Tampak di hadapan mereka tuan besar Breta, tuan Baron, Johan, si kecil Leroy, Angel dan si genit Robin tengah duduk menikmati sarapan pagi mereka di hari Minggu itu.
Karen ini hari Minggu, Robin sudah biasa nongkrong di kediaman keluarga Falcon daripada harus makan bersama ternak-ternak peliharaannya di peternakan.
"Wahh selamat pagi boneka cantik!!" seru Robin seraya melambai ramah pada Ruby.
Gadis itu menatap ke arah Robinson. Pria yang wajahnya unik dan tampan tapi berambut panjang berwarna perak itu terlihat sangat ramah dan jujur akan ekspresinya, bukan seperti seseorang di sampingnya yang berpura-pura senang.
"Selamat pagi paman rambut perak!" seru Ruby sambil tersenyum manis.
Robin dan yang lainnya terhenyak, seketika gelak tawa terdengar dalam rumah itu.
"Hahahaha.... Jangan panggil aku paman, panggil saja kakak!" ucap Robin.
Ruby mengangguk dan tersenyum lagi sepertinya pipinya sudah sakit karena tersenyum terus menerus.
"Rumah ini sangat nyaman, mereka semua mau menerimaku, kecuali paman bertopeng, kenapa dia harus berpura-pura?" batinnya seraya melirik Gama yang sejak tadi sudah duduk di meja makan tanpa mempedulikan interaksi keluarganya dengan istrinya.
Gadis yang instingnya begitu kuat, tahu ada yang tidak beres dengan Gama. Dia tahu, pembohong besar itu tidak benar-benar tulus menerimanya di rumah itu.
"Hemmm... Apa otak paman sudah rusak? Dia tidak normal, dia sama seperti big Mama, haihh...manusia manusia ini memang aneh dan melelahkan, lebih baik berteman dengan hutan dan penghuninya, mereka semua jujur dan baik!" batin Ruby yang merindukan hutan kesayangannya.