Ini HIDUPKU dan yah ini KISAHKU.
Kisah yang diawali oleh ucapan ku sendiri, ucapan bukan sembarang ucapan melainkan sebuah ucapan yang mengikat janji pada diriku sendiri.
"Hanya karena cintai bukan berarti lu bisa jadi brengsek Dav..."
Nadzar (janji) yang berisikan tentang keputusan untuk sendiri dalam jangka umur 17tahun dan berakhir dengan perjodohan, hahaha... setelah menyelesaikan satu Nadzar harus menyelesaikan satu Nadzar yang lain.
Itulah hidupku yang dipenuhi dengan perjodohan Nadzar, hingga suamiku pun terikat oleh janji menjaga anak gadis orang lain.
~DEVIRA SINDI ALICIA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisrina Ulya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sah
"Bismillahirrahmanirrahim, Saudara FAREL ADITIA HERMAWAN bin bapak HERMAWAN Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan DEVIRA SINDI ALICIA binti bapak HERU CHANDRA PURNAMA dengan maskawinnya berupa seperangkat alat sholat, tunai.”
“Saya terima nikah dan kawinnya DEVIRA SINDI ALICIA binti bapak HERU CHANDRA PURNAMA dengan maskawin tersebut tunai.”
"Bagaimana para saksi sah?"
"Sah"
"Alhamdulillah" dilanjutkan dengan Do'a.
Sekarang seorang Farel Aditia Hermawan sudah berganti status menjadi seorang suami, Farel harap papanya bahagia disama karena Farel sudah memenuhi keinginan terakhir sang papa, walaupun menikah bukan dilandasi dengan cinta Farel bertekad akan membangun cinta dan terus berusaha mempertahankan pernikahan ini.
"Mama akan menjemput mempelai wanita" seorang wanita paruh baya beranjak untuk memanggil sang anak.
Tak lama terlihat seorang wanita yang amat sangat anggun keluar dari sebuah ruangan, gaun pengantin berwarna putih yang dipadukan dengan hijab syar'i nampak pas di tubuh rampingnya.
Satu kata yang menggambarkan wanita tersebut "PERFECT"
"Biasa aja lihatnya Rel" kata mami mengalihkan tatap Farel.
"Biasa kok mi." Ucap Farel diiringi cengiran.
Sindi berjalan pelan mendekati seseorang yang kini telah resmi menjadi suaminya, kanan kiri di apit oleh mama dan sahabatnya, mati matian Sindi menahan gugup, berkali kali mengalihkan pandangan dari seseorang yang menatapnya lapar di depan sana.
"Rileks Ci..." mama mengelus lengan anaknya.
Sindi berpindah ke sang Ayah dan di serahkan ke pada Farel.
"Jaga putri ayah Rel."
"Pasti yah." Farel mengangguk mantap sambil mengeratkan genggaman tangan Sindi.
Acara demi acara di lalui, haru bahagia terpancar di wajah kedua belah pihak keluarga, acara berlangsung dari sore hingga malam, ini adalah acara nikahan pewaris satu satunya keluarga Heru jadi tidak bisa dipungkiri bahwa acaranya begitu mewah.
"Apa lihat lihat." Sindi menatap Farel tajam.
"Copot tu mata, emangnya kenapa? Salah gue ngeliat istri sendiri?"
"Ngga salah tapi tatapan lu nyeremin tau kak... kaya mau makan gue."
"Salah siapa cantik." Ucap Farel santai.
"Bisa aja perkedel." Sindi menyenggol lengan suaminya.
"Udah berani nyenggol nyenggol ya..."
"Berani lah..." Sindi menyenggol Farel kembali.
"Berarti boleh dong gue tagih hutang lu..." Farel menyeringai.
"Hutang kiss, kiss, kiss dan kiss." Farel menunjuk pipi kanan, kiri, dahi dan terakhir bibirnya.
Sindi melotot "apaan enggak!."
"Hutang dibawa mati loh Ci... ya udah nanti di kamar di sini banyak orang." Farel mengedipkan sebelah mata genit.
"Perkedel omes!." Ucap Sindi kesal.
"Biarin sama istri perkedel juga."
"Nggak jelas." Sindi memutar bola matanya malas.
"Nih nih pengantin baru lagi senggol senggolan." Chika datang langsung mengarahkan handphone nya ke Sindi.
"Tataaaa...."
Sinta yang di seberang rasa melambaikan tangan.
"Pengen lihat muka lu katanya."
"Haii Ta... gue kangen sama lu, lu bisa dengarkan suara gue?" Tanya Sindi, Sinta mengangguk dengan mata yang berkaca kaca.
"Jangan cengeng, gue jadi ikut sedih, suara lu ngga kedengaran nanti kalo acaranya udah selesai gue telpon balik ya... gue kangen sama lu." Setelah mengucapkan itu Sindi langsung menyertakan handphone ke Chika.
Sindi rindu kebersamaan bersama Sinta, hampir satu tahun mereka tidak bertemu, sekuat tenaga Sindi menahan air matanya, kan ngga lucu kalo make up nya luntur, Farel yang mengetahui keadaan istrinya dengan sigap mengelus lengan Sindi.
Begitupula dengan Chika yang terlihat menghapus air di sudut matanya.
"Sekitar 15 menit acaranya mau mulai lagi, kalian mau gue ambilin makan?" Tawar Chika.
"enggak deh nggak laper, Kak Farel aja tuh" Sindi menolak
"Tapi lu dari kemaren belom makan kan?"
"Gue nggak mood makan Chik..."
"Kenapa nggak makan dari kemaren? Takut gaunnya nggak muat?." Tanya Farel.
"Deg deg kan kak jadi nggak napsu makan."
"Terus Lu kak mau gue ambilin?"
"Nggak usah"
"Makan gih kak entar Lu sakit" ucap Sindi.
"Gimana sama Lu? Lu aja nggak mau makan nyuruh gue makan, gue makan kalo Lu makan" Farel mengambil handphone nya untuk dia mainkan.
"Ck, ya udah tolong galantin 2 ya Chik." Sindi mengalah.
"Gue ambilin dulu."
Chika pergi meninggalkan pasangan pengantin baru beberapa jam, ia menuju ke deretan stand makanan, karena tubuhnya yang proporsional membuat Chika gampang menyelip di antara orang orang yang mengantri makanan.
Dua piring galantin sudah di tangan Chika buru buru mengantarnya ke Sindi.
"Babu ngapain disini?" Tanya seseorang menghadang Chika.
Chika memutar bola matanya malas melihat dua orang lemes didepannya lalu mengedarkan pandangan mencari sesuatu.
"KAK JOO... SINI..." panggil Chika.
"Dalem yang?" Tanya Jordi yang sudah di sampingnya.
"Minta tolong kasih Cia ya... aku ngurus dua lemes ini dulu." Chika menyerahkan dua piring itu ke pacarnya.
"Jangan macem macem lu berdua." Ucap Jordi sebelum meninggalkan mereka ber3.
"Ouhhhh gue tau... lu catering ya..." seseorang itu menunjuk Chika.
"Buka mata noh lihat siapa yang nikah." Chika menunjuk pelaminan dengan dagunya.
"Ck, catering kok nggak tau siapa yang nikah, dasar nggak pecus, gue kasih tau noh yang ada di pelaminan anaknya om Heru rekan bisnisnya bokap gue." Ucapnya dengan nada sombong di akhir.
"Udah sana deh lu kerja jangan maka gaji buta kalo nggak sana lu pulang nggak pantes tau nggak di sini, menuh menuhin tempat." Timpal seseorang yang satunya.
"Kalian yang nggak pantes di sini, ck ikut gue enek lama lama lihat muka songong kalian berdua." Chika menyeret dua orang itu ke pelaminan.
"Lepasin nggak!."
"Ci nih lihat siapa tamu yang nggak tau diri numpang makan disini." Ucap Chika setelah berada di pelaminan, untung para tamu sedang menikmati hidangan jadi mereka tidak menjadi pusat perhatian.
"Babu." Ucap kedua orang itu.
"Masih berani panggil babu..." Chika melotot.
"Udah Chik udah..." Ucap Sindi, Farel hanya diam melihat kejadian itu karena memang ia tidak mengetahui permasalahannya.
"Okta, Aknes apa kabar?" Tanya Sindi.
"Lu bener ketua babu itu." Aknes masih tidak percaya.
"Iya kenapa?" Sindi berdiri.
"Sekarang kelihatan siapa yang pantas dipanggil babu, di pecat bokap lu pada ******." Ucap Chika sinis.
"Uwes uwes..." Jordi membawa pacaran pergi untuk di tenangkan.
"Maafin gue ya Sin, maafin gue." Okta menangkupkan kedua tangannya.
"Gue juga minta maaf, please jangan pecat bokap gue." Aknes ikut memohon.
"Gue udah maafin kok, sans nggak ada kaitannya pekerjaan bokap kalian sama masalah kita." Baiknya istri Farel ini.
"Makasih Sin sekali lagi gue sama Okta mita maaf, semoga lu bahagia, kita pamit." Ucap Aknes di angguki Okta.
"Makasih ya udah dateng." Aknes dan Okta sedikit membungkuk setelah itu langsung turun dari pelaminan.
Prok prok prok
"Nggak salah milih istri." Farel tepuk tangan bangga.
"Tapi kayaknya gue yang salah milih suami." Sindi kembali duduk.
"Enak aja, belum tau kehebatannya babang Farel sih, by the way tadi masalah apa emang?" Tanya Farel kepo.
"Ceritanya panjang Cia ceritain nanti sekarang makan dulu keburu mulai."
{\_/}
( •.•)
/>❤
smga up ny g lama..
jga kshtan dan smngat nulis ny...
smngat ka nina,, d tunggu kelanjutn ny. 🤗
cerita nya bagus
Numpang promo ya, mampir juga ke novel pertamaku
Salam dari Calon Istri CEO