"Alzena Morgan" terpaksa harus meningal kan kekasih nya karena di paksa sang papa untuk menikah dengan laki-laki pilihan papa nya.
Sempat memberontak dan ingin kabur namun gagal karena di ancam oleh sang papa.
"Menikah lah dengan putri ku, hanya kau yang bisa aku percaya untuk memiliki nya" ucap tuan Morgan kepada Gara.
"Apa? Om, apa aku tidak salah dengar?" tanya Gara kaget sekaligus bingung.
"Hanya kau yang akan mencintai nya dengan tulus dan bukan karena dia pewaris tunggal kelaurga kami," ...
"Elgara Aidenio" seorang CEO di perusahaan xx grup, yang kerap di panggil tuan muda Gara pemilik perusahaan terbesar di kota x, ayah nya adalah sahabat dekat tuan Morgan, namun ayah nya Elgara Aidenio sudah lama meningal.
Bagaimana kah kisah rumah tangga Alzena selanjutnya dengan suami pilihan sang papa? Ayo ikuti kisah "Suami Pilihan Papaku"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab #17
"Nona, mau kah aku ajarkan membuat bubur yang enak?" tanya bibi pelayan lagi sambil tersenyum.
"Benar kah bibi mau mengajarkan aku?" tanya Alzena kaget karena sebelumnya begitu banyak maid di mansion Gara dan mansion papa nya, mereka tidak pernah mau mengajarkan Alzena untuk memasak makanan.
"Iya, sebagai seorang istri, nona muda tentu harus tau segalanya tentang masak memasak, agar sumi bisa lebih sayang terhadap nona, menurut ku kita mengambil hati seseorang itu berawal dari makanan," jelas Bibi pelayanan mulai menyiapkan bahan-bahan untuk memasak bubur.
"Tapi bi, aku ... Aku menikah bukan karena aku mencintai nya, aku di jodohkan, di paksa oleh papa ku," ucap Alzena sambil membantu bibi pelayan mengeluarkan beberapa sayur untuk bubur dari dalam kulkas.
Entah kenapa, Alzena merasa begitu nyaman dengan bibi pelayanan sehingga dia dengan santai mulai curiga dan bercerita banyak saat mereka mulai memasak.
"Bibi juga dulu menikah karena perjodohan non, jadi bibi tau banyak tentang pacaran setelah menikah, dulu ayah bibi ... memaksa bibi untuk menikah dengan pilihan nya," jawab bibi pelayan yang ternyata mempunyai nasip yang sama dengan Alzena.
"Hah? Benar kah bi? Lalu apa yang bibi lakukan?" tanya Alzena penasaran karena kebetulan nasip mereka ini seperti pinang di belah dua.
"Iya, begitu lah, bibi tidak mencintai suami bibi, namun dia begitu baik kepada bibi, lama kelamaan,bibi mulai nyaman dan jatuh cinta dengan nya, kami sama-sama orang kurang mampu dan kami bekerja sama dalam mencari nafkah, setelah bibi mencintai nya begitu dalam, suami bibi meninggal karena kecelakaan dan saat itu lah bibi hancur non, sangat hancur dan menyesal karena sudah terlambat mencintai nya," ucap bibi pelayan itu dengan air mata yang mulai mengalir.
Alzena yang sedang mencuci sayuran, melepas sayuran nya dan berjalan untuk menenangkan bibi pelayan yang sedang sedih karena cerita nya.
"BIbi jangan menangis, bibi tidak terlambat, bibi sampai sekarang pun masih mencintainya bukan? Jadi tidak ada kata terlambat meskipun sekarang dia sudah ada di atas di tempat yang sangat indah," bujuk Alzena sambil mengelus punggung sang bibi dengan perhatian.
"Pilihan orang tua tidak akan pernah salah non, jadi bibi ingin menasehati non, jangan sampai jadi seperti bibi, yang terlambat mencintai," ucap bibi pelayan tersebut.
"Aku mengerti bi, sebaiknya sekarang kita cerita yang baik-baik saja ya, aku tidak tega melihat bibi nangis karena mengingat masa lalu, ayo bi ajarkan aku bagaimana cara nya membuat bubur yang enak," ucap Alzena sambil tersenyum kepada bibi pelayan tersebut.
"Baik non, oh iya jika non mau besok bibi bisa membantu non lagi untuk belajar masak, agar non tidak hanya bisa masak bubur,bisa masak makanan enak yang lain nya juga." ucap bibi pelayan dengan semangat.
"Mau bi, mau aku sangat mau, dengan senang hati," jawab Alzena terlihat sangat bersemangat.
Mereka pun akhirnya mulai membuat bubur untuk Gara.
Satu jam pun berlalu, kini Alzena membawa bubur tersebut ke kamar untuk Gara.
"Makan lah, aku sudah membuat kan bubur untuk mu," ucap Alzena sambil menaruh nampan berisi bubur tersebut di atas nakas samping tempat tidur Gara.
"Mau bangun aja aku susah,badan ku terasa lemah, apalagi makan sendiri, apa kau tidak berniat untuk menyuapi aku? Itu juga terlihat sangat panas Alzena," lirih Gara sambil menatap Alzena dengan tatapan sendu.
Melihat itu Alzena pun jadi iba, dia kemudian duduk di tepi ranjang tempat Gara berbaring dan kemudian membantu nya untuk bersandar di ranjang.
"Ayo bangun dulu," ucap Alzena dengan wajah datar membantu Gara untuk sedikit bersandar agar lebih mudah untuk makan.
Alzena pun kemudian mengambil bubur tersebut dan mengaduk-aduk nya bener saat, setelah itu ia menyuapi Gara.
"Tiup,ini berasap," jawab Gara yang sengaja manja dan banyak maunya.
Alzena sempat kesal, tapi ya mau bagaimana lagi, tugasnya tetap lah tugas nya, ia pun meniup bubur tersebut dan kemudian menyuapi Gara.
Gara yang berhasil membuat istri nya menjadi penurut pun tersenyum kecil merasa menang.
"Mengapa kau tersenyum? Ingat aku melakukan ini hanya karena rasa bersalah, jadi jangan berfikir hal lain," ucap Alzena dengan wajah nya yang terlihat sangat kesal.
"Aku tidak peduli," ucap Gara yang tangan nya kini menyelusup ke dalam baju Alzena.
"Gara! Apa yang kau lakukan?" ucap Alzena melihat tangan Gara yang kini menempel di perut nya.
"Tidak ada, hanya kedinginan saja, perut mu ternyata gendut ya, apa kau sudah makan?" tanya Gara tampa rasa bersalah.
"Keluar kan tangan mu atau aku tumpahkan bubur ini ke wajah mu," ucap Alzena mulai risih karena Gara mencubit-cubit perutnya.
Bisa-bisa nya ada laki-laki seperti ini, sangat senang jahil dan main perut istri nya sendiri, penyakit gemas dari mana ini?
Itu lah yang ada dalam pikiran Alzena saat ini, dia hanya tau bahwa Gara benar-benar menyebalkan dari awal sampai sekarang.
"Astaga, geli!" ucap Alzena memegang tangan Gara yang begitu membuat nya tuh nyaman.
"Aku tidak akan menggelitik mu jika kau terus menyuapi aku, dan biar kan tangan ku di dalam sana," ucap Gara lagi.
"Kau mesum,aku benci itu," jawab Alzena lagi.
"Siapa yang mesum aku tidak melakukan apa-apa," bantah Gara.
Begitu lah perdebatan beberapa puluh menit sampai akhirnya bubur tersebut pun habis di makan oleh Gara.
"Selesai, sekarang minum obat sebelum tidur," ucap Alzena mengeluarkan obat nya Gara dari dalam laci nakas dan menyiapkan nya.
"Tidak, aku tidak akan minum aku tidak mau, itu pait," tolak Gara yang ternyata sangat takut minum obat.
"Apa-apaan kau ini? Tidak bisa, kau harus minum semua obat secara rutin sampai obat nya benar-benar habis, ini minum kalau tidak mau jangan harap aku melayani apapun yang kau inginkan lagi," ancam Alzena karena khawatir Gara akan lama sembuh jika tidak mau minum obat.
"Tapi ... Tapi aku tidak bisa," jawab Gara membantah.
Alzena yang kesal malah mencubit lengan Gara dengan tatapan tajam.
"Aduh, Alzena sakit, lepas kan ku mohon," ucap Gara meringis.
"Jika kau tidak mau minum obat nya jangan harap aku melepaskan ini," jawab Alzena marah.
"Cepat-cepat, berikan obat nya, tapi lepas kan dulu ini," ucap Gara meringis kesakitan.
"Hmm, ini," Alzena menyerah kan beberapa butir pil dan juga segelas air putih kepada Gara.
_"Wanita ini galak sudah seperti emak dengan anak saja," batin Gara takut sambil mencoba berhati-hati meminum pil tersebut._
Setelah beberapa menit, Gara pun akhirnya berhasil minum pil itu, meskipun di bawah tekanan yang begitu menakutkan dari Alzena istri nya.
Bersambung ....
penasaran ni...lanjut thorrr