Penguasa Daratan Merah
Menceritakan tentang seorang Raja Daratan Merah yang diincar oleh ketiga dewa agung, karena membawa ramalan buruk tentang mereka.
Zhen Wu yang mengetahui tentang ancaman itu, mencoba melawan mereka dengan segala kemampuannya. Dia menggunakan sebuah skill khusus yang hanya dia sendiri yang memilikinya, skill tersebut bernama Jiwa Neraka. Skill yang dapat mampu memanggil para Hantu dan mayat hidup yang sudah mati.
Namun karena kecerobohannya, dia pun terbunuh oleh ketiga Dewa Agung tersebut. Untungnya dia bisa memanfaatkan kelengahan para dewa, dan berhasil membawa jiwanya ke alam dunia bawah.
Zhen Wu yang telah berhasil berpindah tubuh, kini mulai bertekad akan membalas dendam terhadap para dewa yang mengincarnya, dan membuat ramalan yang ditakuti oleh mereka menjadi kenyataan.
*diusahakan update 2 chapter sehari atau lebih
*maaf jika masih terdapat banyak kekurangan, nantinya akan terus saya perbaiki.
terima kasih sudah membaca 😁
ig : @man_gervis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Man Gervis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chp 17 : Ilmu Surga Neraka
Di satu sisi, Zhen Wu memang mampu mengimbangi Teng Gor, dikarenakan ilmu berpedang nya sudah berada di tingkat yang berbeda.
Namun satu hal yang tidak bisa dipungkiri, tubuhnya saat ini sulit untuk menahan setiap serangan yang dikerahkan maupun diterima olehnya.
"Tubuh ini masih terlalu lemah, jika aku menggunakan beberapa teknik tingkat tinggi, bisa bisa seluruh tubuhku akan langsung hancur. Sepertinya aku hanya bisa menggiringnya kedalam pertarungan stamina dan menaikan sedikit temponya." Batin Zhen Wu yang mencoba menganalisa, sembari terus bertukar serangan dengan Teng Gor.
Semakin lama pertarungan mereka semakin intens, setiap serangan milik Zhen Wu kini bisa menyamai kecepatan yang dimiliki oleh Teng Gor. Bahkan beberapa kali pedangnya dapat mampu menembus pertahanan Teng Gor yang terkenal cukup kuat.
Teng Gor melihat situasinya sekarang yang mulai terdesak, lantas memerintahkan para anak buahnya yang berjumlah 5 orang itu untuk membantunya.
"Hei kalian, cepat kemari dan bantu aku. Kita tidak boleh berlama lama disini. Kita harus mengalahkan mereka dengan cepat."
Melihat Teng Gor yang meminta bantuan, membuat para anak buahnya sempat saling pandang satu sama lain. Dikarenakan mereka tidak menduga bahwa bos mereka yang terkenal kuat dan tangguh itu, bisa ditekan oleh seseorang yang berada di ranah penempaan tulang.
Tak ingin berlama lama lagi, mereka pun langsung bergerak dan berniat untuk membantu Teng Gor. Namun, Zi Li yang tidak ingin tuannya terganggu, kini mulai menghadang kelima orang yang hendak menyerang Zhen Wu.
Untungnya para anak buahnya hanya berada di ranah Pembentukan Tubuh tahap menengah. Membuat Zi Li berpikir dapat mampu melawan mereka dengan seimbang tanpa harus melakukan perubahan hantu ke dalam bentuk sempurna.
Mereka berlima tidak mengetahui, bahwa melawan Zi Li dalam jumlah yang banyak, merupakan sebuah kesalahan yang besar. Karena hantu kecil itu terkenal sangat lincah di alam atas. Dia dapat mampu mengandalkan tubuh kecilnya untuk bisa menyerang lawan di balik lengahnya mereka.
Zi Li saat ini mulai menerjang kearah kelima orang itu, sambil memainkan pisau miliknya di jari jemarinya. Begitu dia sampai di depan mereka, Zi Li langsung melompat masuk melalui celah celah kaki yang terbuka dengan sangat gesit.
"Slash! Tusk! Slash!"
Kecepatan Zi Li di luar perkiraan, dia dengan cepat dapat mampu menebas mereka secara bergantian. Telinga, mata, hidung, mulut sampai alat vital mereka di hancurkan olehnya. Tak satupun dari mereka diberi waktu untuk mencerna apa yang terjadi.
"Argh! Argh! Argh! aku mohon ampu ...." mereka berteriak kesakitan karena tak kuasa menahan sakit dari hilangnya bagian tubuh mereka.
Zi Li kemudian berhenti dan melihat kearah seseorang.
"Huff! terlalu cepat, ini bahkan tidak membuat ku berkeringat. Masih lebih bagus saat melawan bandit biasa, dibandingkan kalian," ucap Zi Li mengeluh, yang diikuti oleh tumbangnya keempat orang itu satu persatu.
Di antara mereka berlima, kini tinggal menyisakan seorang saja yang masih tetap bertahan, meskipun keadaannya cukup memprihatinkan.
Son Jian dan para pengawal membuka mata lebar lebar, mereka kini hanya bisa terdiam melihat keganasan dari Zi Li yang mereka pikir hanyalah gadis kecil biasa.
Dalam hati kecil Son Jian, dia merasa bersyukur bahwa Zhen Wu dan Zi Li tidak menjadi lawan mereka, dan berakhir bekerja sama melalui kesepakatan yang dia tawarkan sebelumnya.
Anak buah Teng Gor yang tersisa berlari ke arah bos mereka, hendak meminta tolong padanya. Karena tidak sanggup untuk melawan Zi Li sendirian. "Bos! Tolong kami. Anak kecil ini terlalu kuat untuk bisa kami lawa ...." Salah satu anak buah Teng Gor yang masih bisa bergerak kini meminta tolong pada bos mereka.
Namun baru saja ingin berkata lebih banyak, Tiba tiba saja lidah miliknya terpotong menjadi dua. Hingga akhirnya orang tersebut mati karena kehabisan darah.
"Berisik, kenapa kau malah menjauh, aku jadi kesusahan saat mengejar mu," ucap Zi Li dengan tatapan dingin kepada mayat yang baru saja dia bunuh.
Teng Gor yang melihat semua anak buahnya terbunuh saat bertarung dengan Zi Li, membuatnya kini mulai merasakan kepanikan.
Karena fokus dirinya teralihkan melihat mayat anak buahnya, Teng Gor tanpa sadar mulai mengendorkan pertahanan diri. Akibat dari itu, serangan milik Zhen Wu berhasil merobek sedikit wajahnya hingga memotong sebagian telinga.
"Slash!"
Merasakan sakit di bagian wajah dan telinga, Teng Gor langsung bergerak menjauh dari sana. Kini dia memegang bagian telinga miliknya dan mendapati banyak darah mengalir disana. Ini tentu saja membuat Teng Gor merasa sangat tertekan, karena sekarang hanya tinggal dia sendiri saja yang masih hidup.
"Gawat! Aku harus lari sekarang. Aku tidak mau mati disini! Aku tidak mau mati!" gumam Teng Gor yang panik akan keadaanya.
Teng Gor pun mulai bergerak mundur dan hendak pergi meninggalkan Zhen Wu secepat mungkin.
Zhen Wu yang melihat Teng Gor mulai melarikan diri, kini berlari mengejarnya. Dia tidak ingin Teng Gor pergi begitu saja. "Hei, kenapa kau ingin pergi? Pertarungan kita belum selesai."
"Minggir kau bocah! Aku akan membiarkanmu menang kali ini. Tapi lain kali, awas saja kau!" Teng Gor mencoba menebas Zhen Wu sekuat tenaga agar dirinya bisa melarikan diri dengan selamat.
"Menang? Kau sebut ini menang? Aku bisa merasa menang jika sudah berhasil membunuhmu. Jadi kau tidak akan kubiarkan pergi." Zhen Wu juga mulai membalas serangan Teng Gor dengan segenap kekuatannya.
Teng Gor yang merasa dirinya sulit untuk bisa keluar dari situasi ini, hanya bisa menggertak kan giginya yang emosi dengan perkataan yang diucapkan oleh Zhen Wu.
"Sial!! Sial!! Sial!!" Teng Gor mulai menyerang Zhen Wu lagi dengan emosi yang tidak stabil.
Dari setiap serangan yang dilancarkan oleh Teng Gor, Zhen Wu dapat melihat banyak celah yang dapat dia manfaatkan, ketika melihat serangan membabi buta tersebut. Serangan terus menerus diarahkan pada setiap celah yang berhasil ditembus Zhen Wu, kini mulai terlihat banyak luka di sekujur tubuh Teng Gor akibat terkena sayatan pedang.
"Akh... Sial! Saking paniknya, aku sampai lengah. Ini terlalu sulit," gumam Teng Gor.
"Kalau sudah tidak kuat, lebih baik mati saja." Zhen Wu menatap Teng Gor yang mulai mundur kebelakang akibat banyak menerima serangan langsung. "Tenang saja, jika kau mati, ada beberapa temanku yang sudah siap untuk menghiburmu di neraka," ucapnya tersenyum mengejek.
Teng Gor yang merasa perkataan Zhen Wu seperti menghina dirinya, kini dia mulai tak dapat mampu lagi menahan amarah.
"Cukup sudah!! Aku tidak tahu siapa kau, tapi yang pasti aku harus membunuhmu sekarang, meskipun dengan mengorbankan nyawaku." Teng Gor terlihat mulai serius kali ini.
"Ohh... Benarkah?" tanya Zhen Wu mengejek.
Teng Gor menggertak kan giginya mendengar ejekan dari Zhen Wu. Tanpa berlama lama dia kemudian menyerang dengan kecepatan penuh sembari mengayunkan pedangnya secara menyilang. Kali ini serangan Teng Gor lebih terarah dan memiliki daya hancur yang kuat.
Zhen Wu yang merasakan keseriusan dari Teng Gor, mulai mencoba menepis serangan yang datang kearahnya.
Begitu pedang mereka saling berbenturan, sebuah suara nyaring terdengar sangat keras, hingga membuat salah satu dari mereka terlempar jauh kebelakang.
"Trang!!"
Zhen Wu terlempar akibat serangan penuh yang dibuat oleh Teng Gor. Bahkan pedang yang saat ini dia gunakan hancur dikarenakan berusaha menahan serangan langsung tersebut.
Son Jian dan lainnya yang melihat pertarungan tersebut, hanya bisa terdiam dibuatnya. Mereka tidak menyangka satu serangan yang dibuat oleh Teng Gor dapat mampu melempar Zhen Wu sepanjang 200 meter dan membuat pedang miliknya hancur.
Akibat dari pertarungan tersebut, beberapa pengawal lainnya mulai merasakan khawatir. Mereka ragu Zhen Wu bisa menang melawan Teng Gor yang kekuatan aslinya baru saja dia perlihatkan.
Son Jian merasakan hal yang sama. Jika seandainya Zhen Wu kalah melawan Teng Gor, maka dia tidak memiliki kesempatan lagi untuk bertarung. Karena kekuatannya dan para pengawal yang lain sudah mencapai batasnya.
Namun dia kemudian melihat kearah Zi Li, yang menurutnya gadis kecil itu dapat mampu mengalahkan Teng Gor jika dia bekerja sama dengan Zhen Wu.
"Hei gadis kecil, kenapa kau tidak membantu temanmu? Dia akan dalam bahaya jika kau tidak menolongnya sekarang," tanya Son Jian menatap Zi Li yang tak jauh dari posisinya.
"Ku beritahu ya padamu, dia adalah tuanku! Dan apa katamu tadi, Bahaya? Coba kau lihat bagian mananya yang bahaya," balas Zi Li menunjuk kearah Zhen Wu yang mulai bangkit kembali.
Zhen Wu perlahan mulai berjalan pelan setelah menerima serangan telak milik Teng Gor. Bukannya merasakan sakit di tubuhnya, Zhen Wu malah terlihat tertawa dengan keras.
"Hahaha!! Ini sungguh menyenangkan, belakangan ini aku sangat bosan karena hanya melakukan penyerangan secara bersandiwara. Kali ini aku bisa menikmati pertarungan seperti ini, sungguh nikmat rasanya." Zhen Wu sangat menikmati pertarungannya dengan Teng Gor sekarang.
Teng Gor yang melihat Zhen Wu seperti itu merasa ada yang aneh. Namun dia sekarang tidak memiliki pilihan lain selain melawan Zhen Wu dengan seluruh kekuatannya.
"Maju sini kau, bocah brengsek! keluarkan lagi pedang milikmu. Akan ku hancurkan semuanya," ucap Teng Gor yang sudah sangat geram.
Zhen Wu tidak langsung terlihat menyerang, dia hanya diam sesaat sebelum kemudian aura dari tubuhnya berubah jauh mengerikan. Tadinya Zhen Wu hanya memakai aura hantu hanya sekitar 20 persen saja, namun kali ini dia memakainya sampai 50 persen.
Teng Gor yang merasakan tekanan aura tersebut menjadi lebih waspada. Pasalnya dia tidak pernah merasakan aura milik Zhen Wu tersebut dimana pun dia berada.
Tanpa mengeluarkan senjata lagi dari cincin ruangnya, Zhen Wu kini mulai berlari kearah Teng Gor dengan cepat.
Merasa heran dengan Zhen Wu yang tiba tiba menyerang tanpa mengeluarkan lagi pedang miliknya. Teng Gor semakin waspada dengan Zhen Wu yang semakin mendekat kearahnya.
"Apa yang anak ini lakukan? Apa dia memiliki trik lain lagi? Aku harus berhati hati, jangan sampai terkecoh lagi olehnya." Teng Gor mulai mencoba menyerang dengan serangan yang dia gunakan sebelumnya, namun kali ini kekuatannya jauh lebih besar dan sangatlah kuat.
Zhen Wu tak gentar melihat serangan penuh yang akan dilancarkan oleh Teng Gor kepadanya. Dia malah lebih mempercepat larinya dan hendak memakai sebuah teknik yang dia ketahui.
"Sudah lama sekali aku ingin mencoba kembali teknik ini. semoga saja tubuhku tidak hancur dibuatnya." batin Zhen Wu berpikir.
Keduanya kini hanya tinggal berjarak beberapa meter saja. Teng Gor yang sudah sangat siap dengan serangan miliknya, berniat bisa membunuh Zhen Wu dengan satu serangan penuh.
"Matilah kau dasar bocah BODOH!!" teriak Teng Gor yang menghempaskan satu ayunan penuh kearah Zhen Wu.
Melihat serangan yang datang kearahnya secara cepat, Zhen Wu langsung membuat sebuah gerakan aneh.
“Ilmu Surga Neraka - Membalik Keputusasaan.”
Setelah melakukan sebuah gerakan kecil itu, Qi di tubuh Zhen Wu menjadi terkumpul di satu tempat.
Tak lama kemudian, Zhen Wu langsung terkena serangan telak dari tebasan penuh milik Teng Gor. Zhen Wu yang yang terkena serangan tersebut, langsung terlempar jauh kebelakang, sekaligus banyak darah yang keluar dari arah bagian dada miliknya.
Zhen Wu kini terbaring lemah dan hampir tidak sadarkan diri. Beruntung Zi Li yang melihat itu langsung berlari menolongnya. Dia kemudian membaringkan Zhen Wu di kedua pahanya. "Tuan, bertahanlah," ucapnya yang terlihat sedih saat melihat keadaan Zhen Wu.
Zhen Wu lalu memegang pipi Zi Li dengan lemas, kemudian berkata dengan pelan, "Tenang lah, tak usah khawatir Zi Li. Aku akan baik baik saja. Bisakah kau membantuku duduk?"
Zi Li yang melihat Zhen Wu menyentuh pipi kirinya itu, perlahan memegang tangan Zhen Wu dengan lembut. "Tentu tuan," jawabnya sambil tersenyum kembali.
Son Jian dan para pengawal lain begitu ketakutan melihat hasil dari pertarungan antara Teng Gor dan Zhen Wu. Namun Yang membuat mereka begitu ketakutan bukanlah melihat Zhen Wu yang terkena serangan telak milik Teng Gor. Melainkan sesuatu yang berada di luar akal sehat mereka.
Kini disisi yang berlainan dengan Zhen Wu, terdapat seorang mayat yang tubuhnya telah terbagi dua secara menyilang.
Yaa, mayat tersebut adalah Teng Gor, yang sekarang tersisa bagian kaki sampai perutnya saja yang masih tetap berdiri. Sedangkan tubuh bagian atasnya terpisah cukup jauh dengan keadaan yang mengenaskan.
Zhen Wu yang telah berhasil duduk dengan dibantu oleh Zi Li, kini melihat kearah Teng Gor yang hanya tersisa tubuh bagian bawahnya saja. Tak lama muncul sebuah senyuman puas dari balik wajahnya.
"Hei Teng Gor. Serangan mu hampir membunuhku, sialan," ucapnya, yang kemudian mencoba memulihkan diri.
Selanjutnya>>>
Tokoh villain nya kapan muncul ya? Semoga villainnya cukup keren dan sebanding. Jangan ngebadut. Jadi perjuangan MC lebih terasa gitu. Ga melulu OP.