Bisa menikah dengan laki-laki yang kita cintai adalah sebuah keberuntungan. Tapi bagaimana jadinya, jika kita terpaksa menikah dengan laki-laki yang sudah beristri? Seperti halnya Nazwa yang terpaksa menikah dengan Adnan, laki-laki yang saat itu berstatus kakak iparnya. Ya, Nazwa dan Adnan menikah karena keinginan Salsa, kakak tiri sekaligus istri pertama Adnan. Tapi lebih tepatnya, mereka menikah karena terpaksa. Karena itu, Adnan meminta Nazwa untuk menyetujui surat perjanjian pernikahan dengan beberapa syarat. Salah satunya adalah mereka akan bercerai jika Salsa menginginkan mereka untuk berpisah. Sadar tidak sadar, syarat itu sudah seperti taklik talak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nhay_23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mantan Pacar Adnan
Untuk pertama kalinya, Nazwa menginjakkan kakinya di tempat yang di juluki negeri singa itu. Semuanya tampak asing baginya. Nazwa sudah seperti anak kucing yang mengekor induknya. Langkah kaki Adnan yang lebar membuat Nazwa harus berlari kecil untuk menyamai langkah kakinya. Sejujurnya, bukanlah kebohongan jika Nazwa mengatakan rindu pada Salsa.
Sebelum pergi ke apartemen Salsa, Adnan dan juga Nazwa menyempatkan diri untuk makan siang. Keluar dari restoran, Adnan menajamkan matanya ke arah lain. Tidak salah lagi, yang dia lihat adalah Salsa. Tapi yang membuatnya heran, Salsa tengah bergelayut manja pada lengan kekar seorang laki-laki yang tak asing bagi Adnan.
Kecurigaan Adnan semakin menjadi, manakala beberapa hari lalu dengan tak sengaja dia menemukan pil kontrasepsi di kamar apartemen yang di tinggali oleh Salsa. Kebetulan, saat Adnan datang Salsa tidak ada di apartemen. Sedangkan selama setahun ini, Adnan tidak pernah menyentuh Salsa lebih dari cumbuan semata.
Mereka pergi menaiki mobil, entah tujuannya kemana. Yang jelas, nalurinya sebagai suami tentu mengikutinya menggunakan mobil yang telah di sewanya sebelum makan siang bersama Nazwa.
“Ada apa mas?” Nazwa yang penasaran karena melihat Adnan menahan emosinya.
“Kamu akan tahu. Aku harap kamu nggak kaget sama apa yang akan kamu lihat.” Ucap Adnan dengan nada bicara yang rendah.
Adnan mengendarai mobilnya dengan jarak aman, pikirannya saat ini melayang kemana-mana. Apalagi melihat mobil yang di tumpangi Salsa tengah menuju ke apartemennya. Adnan yakin Salsa membawa laki-laki itu masuk ke dalam apartemen yang di tinggali oleh Salsa.
Adnan tidak langsung turun, tapi dia berusaha mengatur emosinya. Karena tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan olehnya.
Adnan sudah menyuruh Nazwa untuk tetap tinggal di mobil, meskipun Nazwa tidak tahu apa yang tengah dilakukan Adnan. Tapi perempuan itu tetap mengekor di belakang Adnan.
Dengan menaiki lift, Adnan dan Nazwa naik ke lantai dimana unit apartemen yang diberikannya pada Salsa berada. Jari tangannya mulai menekan password pintu masuk unit apartemennya.
Begitu masuk, Adnan tidak mendapati siapapun di ruang tengah. Matanya kini tertuju ke arah pintu kamarnya yang tertutup. Meski awalnya sempat ragu, bagaimanapun perempuan itu adalah istri yang selama ini di cintainya.
Pintu kamar terbuka dengan sekali gerakan dari tangan Adnan, matanya langsung disuguhkan adegan tidak sepantasnya secara live di depan mata kepalanya sendiri.
Salsa dan juga Fauzan yang tengah bergumul dengan panasnya, begitu terkejut dengan ke datangan Adnan. Mereka sama sekali tidak menyangka, akan ketahuan dalam keadaan keduanya setengah telanjang. Nazwa hanya berdiri mematung, melihat pemandangan yang seharusnya tak pernah di lihatnya.
Jika itu bukan Adnan, mungkin Fauzan akan babak belur di hajar dengan habis-habisan. Bagaimana dia bisa setega ini? Orang yang dianggapnya sahabat, nyatanya tidak lebih dari pagar yang makan tanaman.
Mata Adnan terlihat memerah karena menahan amarah. Tangannya terkepal, dia hanya berdiam diri memperhatikan keduanya yang saat ini tengah sibuk berpakaian kembali.
“Keluar dari apartemenku!” Pekik Adnan.
Menyadari perkataan itu di tunjukkan padanya, Fauzan yang masih berusaha mengenakan kemejanya langsung menyambar jasnya kemudian pergi tanpa sepatah katapun.
Bukan hanya Fauzan yang terperanjat dengan suara lantang Adnan, tapi Nazwa juga. Menyadari suami dan istri itu butuh privasi, Nazwa meninggalkan mereka dan kembali ke mobil.
Tinggalah Salsa terduduk di atas kasur, yang sebelumnya di buat berantakan akibat ulah mereka.
“Jelaskan semuanya!” Ucap Adnan sambil duduk memangku tangan di sofa yang berada di kamarnya.
Salsa bergeming, perempuan itu hanya berdiam diri. Bahkan tidak ada setetes air mata penyesalan pun keluar dari matanya. Entah terbuat dari apa hatinya.
“Aku bilang jelaskan!” Suara Adnan yang menggema di ruangan itu cukup membuat Salsa ketakutan.
Marahnya orang sabar lebih menyeramkan di bandingkan dengan orang yang kesehariannya lebih mudah marah. Entah dari mana Salsa harus memulai semua ceritanya. Karena dia sama sekali tidak tahu apa yang akan di lakukan oleh laki-laki yang masih berstatus suaminya itu setelah mendengar penjelasannya.
.
.
.
Semenjak pulang dari pertemuannya dengan Salsa, Adnan tidak pernah sekalipun membahas tentang Salsa. Biasanya sebulan dua kali atau sebulan sekali laki-laki itu akan pergi menemui istri pertamanya selama seminggu.
Hari-harinya di lewati begitu saja, meskipun raut wajahnya jelas sekali menyimpan masalah yang besar. Selama dua bulan ini Nazwa membiarkan suaminya dengan tidak bertanya apapun.
Tapi tidak dengan hari ini, Nazwa bertekad untuk membuat suaminya itu membagi beban masalahnya dengannya.
Hampir tengah malam, Nazwa menunggu suaminya untuk bercerita dengan sendirinya. Hatinya yang gelisah, membuat tubuhnya terus bergerak ke sana kemari di atas tempat tidur.
“Ada apa?” Suara Adnan cukup membuatnya terkejut.
Apa aku menganggu tidur mas Adnan? Gumamnya dalam hati.
Laki-laki itu membalikkan tubuhnya menghadap pada istrinya yang sejak tadi tidak bisa diam. Ya, semenjak Nazwa sakit, Andan mulai tidur seranjang dengan Nazwa. Meskipun tidak terjadi apa-apa di antara mereka.
“Apa mas Adnan belum tidur?” Nazwa bertanya dengan Ragu.
“Gimana aku bisa tidur, dari tadi ada gempa bumi.” Laki-laki itu terkekeh kecil.
“Gempa bumi apanya.” Nazwa mengerucutkan bibirnya karena merasa di sindir oleh suaminya.
Adnan mengulurkan tangannya, mengusap kepala Nazwa juga menyelipkan anak rambut kebelakang telinga, karena terurai menyentuh pipinya yang mulus.
“Ada apa?” Tanya Adnan lagi.
“Apa aku boleh bertanya mas?”
“Hmmm.” Adnan menganggukkan kepalanya.
“Mas Adnan ada masalah? Apa boleh aku tahu?” Nazwa sedikit ragu dengan pertanyaannya.
“Apa kamu yakin, bisa mendengar semua masalahku?” Matanya menatap hangat ke arah Nazwa.
Nazwa pun mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan suaminya.
Sedikit demi sedikit Adnan mulai menceritakan masalahnya, tapi tujuan Adnan menceritakan masalahnya bukan untuk mencari pembenaran untuk dirinya. Melainkan untuk memberikan kepercayaan pada Nazwa, bahwa dia juga berhak tahu karena Nazwa adalah istrinya. Di tambah lagi masalah ini menyangkut dengan kakaknya.
Enam bulan sebelum Salsa memintanya menikah dengan Nazwa, Salsa pernah bertemu dengan teman sekelas Adnan semasa SMA dulu, yaitu Viona yang saat ini juga menjadi seorang artis. Mereka bertemu pada saat casting sebuah film baru. Adnan juga baru tahu saat Salsa ketahuan selingkuh bersama Fauzan.
Viona tidak pernah menyangka bahwa Adnan yang begitu bucin pada pacarnya dulu, bisa menikah dengan orang lain. Terlebih yang Viona tahu, ternyata mantan pacarnya Adnan adalah adik tirinya Salsa.
Salsa begitu marah pada Adnan, dia bertanya kenapa pada saat perkenalan keluarga Adnan dan juga Nazwa seolah-olah adalah orang asing yang baru bertemu.
“Apa semenyenangkan itu kalian berbohong padaku?” Teriakan Salsa begitu terngiang sampai saat ini.
Jujur saja, Adnan dan juga Nazwa tidak pernah berniat untuk membohongi keluarganya termasuk Salsa. Hubungan mereka hanyalah masa lalu, meskipun hubungan mereka berakhir dengan tidak baik. Bisa saja, masih menyisakan perasaan yang sulit untuk di gambarkan.
kasihan Nazwa hanya diperalat Salsa