Ini adalah novel religi pertamaku. Banyak banget yang butuh perbaikan sana sini. jika ada yang tidak sesuai, othor terima banget masukannya.
Tiba-tiba dilamar oleh seorang Ustad, membuat Arin berpikir dan melakukan berbagai cara untuk membatalkan pernikahan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17
"Wirda ke mana sih? Kenapa chat aku dari tadi nggak dibales juga?" gumamku sembari memandangi ponsel. Hari ini aku berencana untuk kembali pergi ke pondok pesantren. Seperti biasa, aku ingin mengajak Wirda untuk menemaniku. Tapi sayangnya Wirda tidak bisa dihubungi. Aku sudah mengirimkan pesan berkali-kali, tapi aku tak kunjung mendapatkan balasan dari Wirda.
"Apa aku langsung ke rumahnya aja, ya?" gumamku sebelum berangkat menuju ke pondok pesantren.
Tidak seperti sebelumnya, pakaianku terlihat lebih rapi saat aku hendak berangkat ke pondok. Meskipun aku belum mengenakan hijab, tapi setidaknya aku tidak mengenakan kaos atau pun pakaian yang kurang pantas. Aku memutuskan untuk mengenakan kemeja flanel dan juga celana jeans. Menurutku tampilan ini sudah lebih baik, meskipun aku tidak menutup kepala.
Aku pun segera berangkat menuju pondok dengan mengendarai motorku. Sebelum ke pondok, aku menyempatkan diri mampir ke rumah Wirda. Siapa tahu Wirda ada di rumah. Namun, sayangnya rumah Wirda juga kosong. Aku tidak dapat menghubungi Wirda, ditambah lagi aku juga tak bisa menemukan temanku itu di rumahnya.
"Ya udah, deh! Aku pergi sendiri aja!" gumamku segera melajukan motorku menuju ke kampung Tubansari. Untuk pertama kalinya aku pergi ke pondok sendirian seperti ini. Semoga saja aku bisa langsung bertemu dengan Huda di sana.
Setelah melewati perjalanan panjang, akhirnya aku tiba juga di pondok pesantren. Aku segera mencari keberadaan Huda di pondok, tapi sayangnya aku masih belum bisa berjumpa dengannya.
"Huda di mana sih? Nggak mungkin dia nggak ada di pesantren, kan?" gerutuku mulai jengkel mencari-cari Huda sejak tadi.
Bukannya bertemu dengan Huda, aku justru berpapasan dengan ibu dari Huda, yaitu Nyai Rosyidah. Mau tak mau, aku harus menyapa orang tua dari pria yang melamarku itu.
"Eh, Arin? Kok mau ke sini nggak bilang-bilang dulu?" sapa Nyai Rosyidah padaku dengan ramah.
Wanita berwajah teduh dengan hijab besar itu menyambutku dengan sumringah. Padahal aku sudah bersikap tidak sopan pada acara lamaran kemarin, tapi keluarga Huda masih tetap bersikap baik padaku dan menyambutku dengan santun.
"Assalamualaikum, Nyai!" ucapku sembari mencium punggung tangan Nyai Rosyidah.
"Waalaikumsalam, Arin. Sini masuk!" ajak nyai Rosidah untuk masuk ke salah satu ruangan yang ada di pondok.
"Kamu datang sendiri ke sini? Atau kamu ada yang nemenin?" tanya Nyai Rosyidah berbasa-basi.
"Saya datang kemari sendiri, Nyai," ungkapku dengan suara lirih.
Nyai Rosyidah tersenyum padaku. Beliau juga menjamuku dengan banyak makanan dan minuman meskipun aku bertamu secara mendadak. "Ayo diminum dulu, Nak Arin! Kamu pasti capek ya naik motor sendirian sampai ke sini?" cetus Nyai Rosyidah.
"Terima kasih banyak, Nyai. Maaf saya merepotkan," sahutku.
"Kamu nggak perlu sungkan. Kamu ke sini pasti mau cari Huda, ya?" tanya Nyai Rosyidah.
Aku menganggukan kepala. Memang tujuanku kemari ingin mencari Huda. Tapi bertemu dengan Nyai Rosyidah juga bukan hal yang buruk. Lagipula maksudku datang ke sini untuk menanyakan tentang lamaran dari keluarga Huda tempo hari. Aku ingin tahu apa alasannya mereka memilihku. Meskipun aku tidak bertemu dengan Huda saat ini, aku bisa menanyakan perihal ini pada Nyai Rosyidah.
"Huda lagi nggak ada di pondok sekarang. Kebetulan Huda lagi keluar sama temannya," ungkap Nyai Rosyidah.
"Nggak apa-apa, Nyai. Saya sendiri emang nggak membuat janji sama Mas Huda," timpalku.
Suasana menjadi amat canggung antara aku dengan Nyai Rosyidah. Aku dan Nyai Rosyidah sendiri memang belum saling mengenal. Rasanya tidak nyaman sekali duduk berhadapan dengan orang asing dalam suasana hening seperti ini.
"Apa Nak Arin punya sesuatu yang ingin disampaikan ke Huda? Nanti biar Ibu yang sampaikan ke Huda," ujar Nyai Rosyidah.
"Nggak perlu repot, Nyai. Bukan hal yang penting," jawabku.
"Kalau memang ada hal penting yang pengen kamu sampaikan ke Huda, bilang aja sama Ibu. Nanti Ibu bantu ngomong ke Huda," cetus Nyai Rosyidah.
"Sebenarnya maksud kedatangan saya ke sini ...."
semangat up nya thor 💪💪💪