Dokter playboy Vs gadis preman kampung.
Karena sering berbuat ulah Susi di jodohkan oleh ayahnya dengan anak sahabat yang terkenal playboy dan pecinta wanita dewasa.
Bagaimana nasib rumah tangga star Susi yang setiap harinya selalu bertengkar dan bertengkar?
Akankah mereka bercerai atau mereka berdamai dengan takdir yang mengikat mereka dalam sebuah pernikahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liana kiezia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berada Di Titik Terendah
★★★
Pagi hingga menjelang siang mama Divya merawat menantunya hingga tertidur di kursi kamar, sedangkan si Star tertidur di kamar Susi meninggalkan papanya yang macem setrikaan di tempat laundry yang tak diam-diam. Suami Susi itu susah tidur karena semalam tidur di kursi ruang tamu, sebenarnya ada kamar kosong tapi itu kamar mendiang mertuanya, seram kali bobok di kamar orang baru almarhum, si Star takut di cekik sama bapak mertuanya karena sudah berani memperawani istirnya.
Sedangkan posisi papa Dion berada di ruang tamu, “Wo, jangan kau intip-intip si Susi ya Wo! Jika kau tak punya pekerjaan di dalam kubur, kau cari aja tukang santet yang bikin Susi seperti ini!” kata papa Dion yang kalut. Ia begitu khawatir atas keadaan menantunya.
Papa Dion saat ini menunggu para dukun yang ia order pada pembantu di rumah ini.
Tok... Tok... pintu di ketuk, bapak si Star itu langsung membuka pintu, “Pak RT?” panggil papa Dion.
“Selamat siang pak Dokter,” sapa pak RT.
“Siang pak RT ada apa ini ya?” tanya papa Dion. Sebab tidak mungkin pengajian akan di lakukan di siang bolong, bukannya semalam udah.
“Anu pak, saya dengar-dengar si Susi kenak angin item!” kata pak RT.
“Angin hitam?” gumam papa Dion, “Santet maksudnya saya pak Dokter!” terang Pak RT. Lalu semua orang kampung menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan si pak RT, para pria dewasa mendengar Susi di kabarkan kenak santet langsung berbondong ke rumah almarhum pak Bowo.
‘Dari mana mereka tau ya?’ batin papa Dion, dokter Gendeng itu lupa bawah saat ini ia ada di kampung. Yang mana ucapan satu pasti jadi sekampung dengan sekejap.
“Ia pak, menantu saya tiba-tiba pendarahan padahal kemarin gak apa-apa!” kata papa Dion.
“Waduh kelasnya berat ini! Bisa-bisa perut si Susi ada paku, palu, beling serta ember-embernya!" kata salah satu warga..
“Ada kejang-kejang atau kerasukan gak pak?" tanya kakek-kakek yang rambutnya putih semua.
Papa Dion menggelengkan kepalanya, “Kami datang beramai-ramai datang untuk berjaga-jaga siapa tau Susi ngamuk!” jelas pak RT.
Di kampung-kampung masih banyak yang percaya hal mistis jika pak Bowo di santet dan sakit parah hingga mengakhiri hidupnya.
“Bisa mintak tolong membersihkan kawasan rumah ini gak pak, nanti saya bayar deh,” papa Dion menceritakan rencananya kepada pak RT dan yang lainya.
“Mari kita bersihkan rumah ini, yang lain bisa bantu beli bawang dan cabe ke pasar buat gelantungkan di jendela sebagi tolak balak!” kata pak RT, Pagi agak siang itu rumah pak Bowo di pel di bersihkan seperti masjid.
Tak lama kemudian dukun dari kampung sebelah datang membersihkan pekarangan dari pada demit, terkahir penaburan garam untuk membuang tolak balak di sekitar rumah Susi.
★★★
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Mama Divya terbangun tadi tidurnya karena perutnya lapar, ia butuh makan, sebelum itu ia mengecek terlebih dahulu keadaan Susi.
“Akhirnya demamnya turun, aku harus meminta helikopter untuk menjemput kami, Susi butuh pertolongan berlanjut, asal transfusi darahnya udah selesai dan keadaannya memungkinkan untuk di bawa pulang maka akan lebih baik segera di bawa ke markas saja!” gumam mama Divya. Wanita itu mengirim pesan ke markas organisasi WUXU lalu ia keluar dari kamar untuk mencari makanan yang bisa mengganjal perutnya.
Tanpa mama Divya tahu setetes air mata luruh dari pelupuk mata Susi.
Dibawah alam sadar gadis itu itu tengah duduk di pinggir danau. Di tangan gadis itu sebuah kantung yang berisikan batu kerikil yang sengaja ia lempar ke dasar danau.
Tuhan, Aku tak pernah meminta untuk di lahirkan, engkaulah yang mentakdirkan diriku menjadi seorang manusia di bumi ini.
Jika aku bisa memilih aku tak ingin di lahirkan hanya untuk menjadi alasan seorang manusia lain berpulang kepangkuanmu.
Jujur dalam hatiku teramat sedih. orang orang yang ku cintai pergi meninggalkan aku di usiaku yang masih dini ini. apalah arti hidup jika hanya sendiri di dunia ini.
★★
Tuhan apa itu definisi bahagia?
Apakah orang tertawa itu selalu bahagian?
*Jawabannya tidak kan Tuhan!
Terkadang tawa itu satu-satunya cara manusia menutup luka yang hatinya yang terdalam, begitulah aku, selalu tertawa, melucu bahkan seperti orang gila hanya untuk menutupi rasa sedihku atas rasa rinduku akan sosok ayahku yang selalu aku rindukan*.
Maafkan aku tuhan...
Karena aku sudah marah padamu, padahal aku tahu takdir dan hidup dan mati manusia ada di tanganmu.
Maafkan aku yang marah karena Kemarin kau cabut jiwa yang aku impikan tuhan, jiwa itu selalu ku rindukan dan jiwa itu yang ku inginkan sebagai tempat mengadukan nasib ku yang malang, aku ingin mengadu kepadanya bahwa suamiku tak mencintaiku.
Lantas pada siapa aku harus mengadu, kambing-kambingku tak bisa menjawab kepedihan menjadi seorang istri.
Apakah aku sanggup menerima jika...
Suamiku, milikku, bersama wanita lain.
Suami yang tanpa kasih memberikan nafkah batin yang akan membuatku trauma besar atas berhubungan suami istri.
Tuhan aku lelah, aku ingin tenggalam ke lautan mimpi indah yang ini, mungkin disini jauh lebih nyaman aku tempati sebab duniaku yang fana itu selalu tak berpihak pada ku.
“Sus... Susi, bangun nak!" panggil mama Divya panik, tubuh Susi kejang.
TBC