Bagaimana perasaan kalian bila harus bekerja menjadi seorang pembantu di rumah musuh bebuyutan kalian,bekerja dengan seseorang yang paling kita benci di dunia?.
Itulah yang di alami Mentari saat dia tahu siapa yang akan menjadi majikannya.
Oscar sang majikan musuh bebuyutannya saat dirinya masih duduk di bangku SMA.
Mampukan mentari melewati siksaan dari Oscar yang mengambil kesempatan membalas dendam kepada Mentari di saat dirinya menjadi pelayan pribadinya?.
Akankah benih-benih cinta akan tumbuh di hati mereka mengingat seringnya mereka bersama,apakah perasaan benci mereka berdua bisa berubah menjadi cinta?
Kita ikuti saja kisahnya yuk...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Baiklah Oscar
Sore itu Oscar dan Tari sudah bersiap di ruang latihan setelah melakukan sedikit pemanasan keduanya bersiap melakukan komite mereka berdua sudah bersiap dengan posisi masing-masing.
Abi ikut menyaksikan latihan sore ini boleh di bilang dia khawatir dengan Oscar karena biar bagaimana pun Tari itu sudah termasuk pro bukan amatir lagi,sedangkan Oscar latihan hanya untuk agar bisa melindungi dirinya,bukan untuk jadi atlet apalagi petarung seperti Tari.
"Ayo tuan muda jagan segan karena aku pun tidak akan segan menyerang anda bila sudah mengenakan dogi"tatapan Tari begitu tajam dan menantang.
Oscar mendengus.
"Sombong sekali kau ini"ucapnya ketus.
Tapi itulah yang di tunggu Oscar semangat Mentari yang seperti ini lah yang sangat dia rindukan.
Keduanya bersiap untuk saling menyerang dan Tari dengan gerakan cepat dan bertenanga tak segan dia memukul dada Oscar yang tanpa pelindung apapun.
Bag...big...bug....
Dengan kecepatan dan tenaga Tari menyerang Oscar tanpa ampun Oscar langsung terkena tiga pukulan yang mendarat di dadanya,terlihat Oscar meringis kesakitan tapi karena masih kesal dengan Oscar Tari masih menyerangnya lagi bahkan saat ini kakinya sudah mengudara dan akan melayangkan tendangan ke wajah tampan tuannya itu.
Namun refleks Oscar sangat bagus dan langsung bisa menangkis tendangan Tari dan langsung membalas Tari Oscar langsung mendaratkan pukulan keras di wajah manis itu hingga Tari sempat hilang fokus karena Oscar memukulnya keras dan mendarat di pipi dekat bibirnya alhasil bibirnya mengeluarkan darah di ujung bibirnya,Oscar yang menyadari hal itu langsung panik,saat Tari ingin menyerangnya lagi,Oscar menghentikan latihan tersebut.
"Berhenti sudah cukup Tari"ucap Oscar setengah berteriak.
"Kenapa kita kan baru mulai tuan muda"Tari nampak kecewa karena Oscar tiba-tiba menghentikan latihan ini.
"Kau terluka karena aku"Oscar merasa bersalah.
"Tidak apa-apa tuan ini sudah biasa"jawab Tari santai.
Dia tak tahu perasaan Oscar saat ini yang merasa bersalah karena melukainya.
"Kau terluka Tari...aku tak mau latihan lagi"bentak Oscar.
"Ck...tuan muda anda tidak asik"Tari berdecak dan duduk bersila di lantai lapangan dan dia pun mengusap ujung bibirnya yang berdarah itu.
Oscar keluar dari tempat latihan Tari melihatnya kesal dia pun bangun dari duduknya dan melepas doginya tapi tiba-tiba dia teringat Oscar juga terkena pukulan kerasnya.
Tari pun mengambil kantung kompresan dan mengisinya dengan air hangat.
"Dadanya pasti memar karena aku memukulnya keras tadi ck...heuh...kenapa aku jadi merasa bersalah padanya begini sih...heeuh menyebalkan"
Tari berjalan ke lantai dua tempat kamar Oscar dia mengetuk pintu dan terdengar suara Oscar menyuruhnya masuk.
Oscar nampak bingung saat melihat Tari masuk kekamarnya dengan membawa kantung kompresan dan baskom.
"Ada apa dan kenapa kau membawa itu?"tanyanya ketus Oscar belum melepas doginya.
"Maaf"ucap Tari pelan namun masih bisa di dengar Oscar.
"Kenapa minta maaf?"Oscar bingung.
Tari mendekat ke arah Oscar yang sedang duduk di sisi ranjang,membuat Oscar semakin bingung.
Dia ini kenapa sih?
Batin Oscar.
"Bukalah baju mu"
Oscar terkejut saat Tari menyuruhnya membuka bajunya.
"Ck...Oscar...buka baju lu gue tahu elu pasti kesakitan"Tari akhirnya menggunkan bahasa santainya pada Oscar.
Oscar menyipitkan matanya saat mendengar perkataan Tari.
Tari kesal dan memukul dada Oscar lagi namun tidak keras dia hanya memastikan Oscar kesakitan atau tidak tapi Oscar mengaduh saat Tari menekan bagian dadanya.
"Tuh kan sakit kan?mangkanya buka baju lu biar gue kompres"Tari menunjukan kantong kompresan itu di depan wajah Oscar.
Oo jadi itu maksudnya.
Oscar pun melepas doginya dan terlihatlah beberapa memar di dadanya akibat pukulan Tari.
Tari yang melihat itu jadi merasa bersalah pada Oscar.
"Maaf ya..."ucap Tari saat menempelkan kantung kompresan di dada putih milik Oscar.
Oscar meringis dan tersenyum tapi Tari tak melihatnya karena dia masih menatap dada Oscar
"Tidak apa-apa"ucap Oscar lembut.
gue emang kesel sama elu sampe ngelampiasin kaya tadi tapi kenapa gue nyesel ya...aneh?
Saat Tari sedang melamun sambil mengopmres dada Oscar tiba-tiba Oscar memegang ujung bibir Tari yang terluka olehnya.
"Kamu juga sakit kan?kenapa tidak kau obati dulu bibir mu ini?"tanya Oscar lembut membuat Tari jadi salah tingkah.
"Hehe nggak apa-apa aku suda biasa seperti ini resiko latihan"Tari cengengesan dan berusaha menormalkan gaya bicaranya walau detak jatungnya yang berdisko tak kenal arah.
Oscar membelai pipi Tari lembut membuat Tari jadi bingung harus bagaimana karena jantungnya yang berdebar.
Kenapa berdebar sih.
"Coba kamu ambil kotak obat di laci itu"tunjuk Oscar pada nakas yang ada di samping kiri ranjang.
Tari menuruti Oscar dia membuka laci nakas dan mengeluarkan kotak obat dari sana,sementara tangan kirinya masih mengompres dada Oscar.
Oscar mengambil kotak obat tersebut dan mengeluarkan salep kecil kemudian membukanya dan mengeluarkan sedikit isinya dan mengoleskan di luka Tari.
Tari tertegun saat Oscar mengoleskan salep itu di ujung bibirnya.
"Eh...tuan sudah tak perlu repot saya bisa sendiri"Tari malu-malu dia pun menunduk.
"Diam lah kau pun sedang mengobati ku kan? Dan karena itu juga aku pun ikut mengobati mu karena kau terluka karena pukulan ku kan?"Oscar ketus lagi.
Dan Tari pun terdiam meski jantungnya tak terkendali detaknya di dalam rongga dadanya.
Bukan begitu kadal burik masalahnya ini baru pertama kali kita sedeket ini hufff huff...jatung ku...kenapa ini.
Telari tersenyum canggung pada Oscar saat Oscar memandang wajahnya,entah kenapa jadi slow mostion begini saat dia mengoleskan salep di bibir itu,mata mereka saling bertemu beberapa detik kemudian Tari memalingkan wajahnya ke arah lain wajahnya terasa panas.
"Tari..."tegur Oscar lembut.
"Eh...i..iya tuan"jawab Tari gugup.
Aaaaaa kenapa dia memegang dagu ku.
Oscar memegang dagu Tari.
"Bisakah bila kita sedang berdua seperti ini kau tidak berbicara formal?"ucap Oscar lembut.
"Maksudnya?"Tari bingung.
"Bicara seperti biasa saja seperti dulu saat kita masih sekelas di SMA"pinta Oscar.
"Tapi saya kan bekerja disini Tu..."Ucapan Tari terputus saat Oscar menaruh jari telunjuknya di bibir Tari.
"Panggil aku Oscar saja bila kita sedang di luar jam kerja,atau saat kita sedang berdua seperti ini,ini perintah Tari"Oscar akhirnya ketus lagi.
Dia kesal karena Tari tidak mau menurutinya.
"Baiklah Oscar bila itu membuat mu senang"Tari canggung.
Oscar tersenyum ingin rasanya dia memeluk Tari saat ini namun itu tak mungkin dia lakukan karena Tari bisa ilfil dengannya.
Tanpa mereka sadari sedari tadi tuan Atalarik dan nyonya Amira mengintip mereka berdua di depan pintu,menyaksikan iteraksi mereka berdua yang masih canggung namun terlihat lucu di mata mereka berdua.
...♡♡♡♡♡♡♡
...