Di saat orang tua terlalu campur tangan dalam kehidupan rumah tangga anak-anaknya, maka kehancuran menunggu di ujung jalan.
______
Tidak ada pelakor di sini. Fokus cerita hanya tentang konflik sederhana yang sangat berpengaruh dalam keharmonisan sebuah rumah tangga.
Selamat membaca🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi Artikasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GDB 16
Sesampainya di gedung Bee Bee Care, kami langsung mengikuti kelas hamil di masing-masing ruangan. Karena usia kehamilan kami berbeda tiga bulan, maka kami pun di tempatkan pada kelas yang berbeda.
Mengikuti kelas hamil merupakan sebuah nikmat bagi diri. Di sini aku bisa melepaskan kepenatan batin dengan berbagai aksi menenangkan. Sebuah terapi fisik sekaligus batin secara tidak langsung. Maka dari itu, aku sangat menyukainya.
"Miss Zaira hadir?" tanya Aro, ketika kami bertemu di depan gedung. Kelasku sudah berakhir beberapa menit yang lalu.
Di taman ini, taman bunga di depan gedung Bee Bee Care adalah tempat favorit untuk menunggu.
"Iya, tadi dia yang jadi instruktur," jawabku seraya meminum air kelapa muda yang sudah kupesan di salah satu outlet makanan dan minuman yang berjejer di sekitar taman.
"Minggu lalu dia gak hadir tuh di kelasku." Aroha duduk di bangku kayu sebelahku. Lalu meletakkan tas selempangnya di atas meja. Aku hanya mengangguk sebagai tanggapan. "Kamu gak mau tanya gitu, kenapa dia gak hadir?" Dia melotot ke arahku.
Rasa nikmat dari air kelapa muda ini, cukup menawan perhatian dan mulutku, sehingga tak bisa berhenti meminumnya. Aku hanya menggeleng.
"Oh, ya ampun ... aku lupa kalau sahabatku ini bukan kang kepo." Ia menghempaskan kekesalannya ke udara. Seolah respon yang aku berikan benar-benar sebuah masalah besar.
"Minggu lalu, Miss Zaira nikah, Pril. Dan kita tidak diundang," jelasnya tanpa kuminta.
Sedotan masih setia menyumpal mulutku, aku rasa itu bukanlah kabar duka yang bisa menyebabkan lara. Ekspresi wajahku masih sama seperti sebelumnya. Sementara Aroha, dia tampak begitu antusias.
"Dan aku baru sadar kalau selama ini dia belum nikah, tapi kenapa dia bisa jadi instruktur kelas hamil, coba?" Aroha semakin menjadi.
Aku rasa emosinya mulai tak terkendali.
"Memangnya kenapa, Ro? Ada masalah?" Aku bertanya setelah menghabiskan satu cup air kelapa muda beserta isinya.
Dia mendelik ke arahku setelah aku membuka suara. "Pril, kamu gak ngerasa aneh gitu?" Ia menautkan kedua alisnya.
"Bukan urusan kita, Ro. Ayo pulang!" Aku berdiri dan menggamit tas selempangku.
"Hei, aku belum minum loh," protesnya, namun tetap ikut berdiri dan menyusul langkahku yang sudah lebih dulu meninggalkan taman.
-------
Mobil Aroha baru saja tiba di halaman rumah ketika sebuah mobil sedan hitam keluar dari gerbang.
Aku berkerut kening, karena merasa pernah melihat mobil itu. Tapi, dimana?
"Itu siapa?" Aroha tak bisa menahan rasa penasarannya.
"Entah, aku juga merasa pernah melihat mobil itu, tapi aku lupa dimana." Kedua tangan bergerak melepaskan sabuk pengaman. "Ro, makasih, ya." Kupeluk sahabatku itu sebelum keluar dari mobilnya. "Kamu hati-hati di jalan," pesanku sebelum ia meninggalkan halaman kediaman mertua.
Bersamaan dengan itu, Mas Labiq tampak berdiri di ambang pintu, menungguku.
"Tadi itu siapa?" Aku langsung bertanya ketika tubuhku berdiri sejajar di hadapannya.
"Theresia," jawabnya singkat. Lalu, merangkulku untuk masuk ke dalam.
"Ngapain dia ke sini?" Pertanyaan lanjutan dariku membuat Mas Labiq menghentikan langkah.
"Dia ...." Suamiku tampak menggaruk-garuk kepala.
Aku masih menunggu jawaban, namun tiba-tiba saja ibu mertua keluar dari kamarnya.
"April ... kamu udah pulang, Nduk." Beliau berjalan mendekati kami. Tentu saja, Mas Labiq pun tak bisa melanjutkan dialognya.
"Ada sesuatu yang mau ibu tunjukin ke kamu. Ayo ikut ibu!" Ibu mertua memberiku kode agar mengekori langkahnya. Sementara aku ... masih menatap suamiku dengan tatapan penuh tanya.
Mas Labiq langsung memintaku untuk mengikuti ibunya terlebih dahulu. Aku pun patuh. Ia mengambil alih tas selempangku, lalu membawanya masuk ke dalam kamar.
kembalikan dulu Labiq
Emang nenek-nenek cuma satu di dunia??
Rasanya gue paham
pantes aja sering ditindas
Otak anak juga butuh nutrisi, Mak. Apa perlu Penulis Keparat yang jadi pengamat gizi biar ibu mertua bisa mingkem
jagoannya dataaaaang 🤣
benar-benar meragukan pembaca 🤣