Dua cerpen menarik dari dua genre berbeda, horor dan juga psikologi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Regina Maharani Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ego Penghalang Doa 7
"Don, Doni. Bangun hei. Fatah, bangun," Aku menyentuh keduanya dan berusaha membangunkan. Setelah usaha yang cukup lama, keduanya membuka mata.
"Kak Nyx? Ngapain sih ngebangunin? Masih malem gini, rese banget sih!" sentak Doni.
Aku menghembuskan nafas panjang. Rasa takut yang semula mendominasi, sedikit demi sedikit digantikan rasa kesal. "Bangun! Liat baik-baik, kita bukan lagi di tenda."
Doni duduk dan menegakkan badannya, "Ini kita di mana sih Kak? Kapan kita pindah tidur di tempat ginian?" tanyanya.
"Bangunin Fatah, nanti aku ceritain semua," balasku.
Doni membangunkan Fatah dengan menepuk pipi pemuda itu berkali-kali. Dan seperti yang sudah kuduga, Fatah juga memaki saat sudah sepenuhnya bangun.
"Apaan sih Don?! An*jing banget ngebangunin jam segini!" makinya keras.
Aku beristigfar dalam hati. Jika mengikuti adatku, sudah dari awal mulut kasar mereka kutonjok.
"Cepet Kak, ceritain ada apa. Mana Kak Galih sama Kak Putra?!" ketus Doni.
Aku menyuruhnya diam dan menceritakan semua kejadian sesaat setelah mereka memasuki tenda untuk tidur. Keduanya menyimak ceritaku dengan muka tegang. Aku berharap keduanya percaya dan bisa diajak bekerja sama untuk keluar dari sini bersama-sama. Sayangnya, setelah selesai bercerita, keduanya tertawa terbahak dan menuduhku mengalami halusinasi.
"Diam!"
Entah sejak kapan sosok yang membawaku ke sini sudah berada di depan kami. Ia meminta kami berdiri dan kembali membawa kami ke suatu tempat.
***
Kami sampai di sebuah bangunan yang terlihat sangat mewah, bisa dibilang bangunan ini menyerupai istana kecil. Di hadapan kami berdiri beberapa orang berparas elok rupawan dengan baju kebesaran yang indah dilihat.
Sosok yang membawa kami menghadap ke salah satu sosok yang terlihat paling berwibawa. Saat beliau menatap ke arah Doni dan Fatah, beberapa sosok yang berada di belakang kami mendorong kedua pemuda itu hingga persis di depan sosok berwibawa tersebut. Wajah Doni dan Fatah sudah terlihat pias.
"Dari awal kalian menjejak kaki di gunung ini, kalian sudah melanggar peraturan. Tau kesalahan kalian di mana?"
Doni dan Fatah menggeleng.
"Kalian masuk tanpa ijin, membuat kerusakan, mengotori gunung, dan berlaku tidak sopan."
"Maaf, maafkan kami. Tolong maafkan dan lepaskan kami. Orang tua kami menunggu di rumah," Fatah mulai memohon. Tidak berapa lama, Doni melakukan hal yang sama seraya menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Perbuatan kalian sudah membuat para leluhur penunggu gunung ini marah. Kemarahan mereka tidak bisa ditebus dengan kata maaf. Seharusnya kalian menggunakan adab di manapun kalian berada, sekalipun di gunung yang mungkin menurut kalian sepele."
Sosok berwibawa tersebut mengalihkan pandangan ke arahku. Matanya menatap tajam dan membuatku menunduk.
"Kenapa kamu bisa berada di sini?" tanyanya dengan suara menggelegar.
"Untuk menjemput kedua teman saya," ucapku lirih.
"Teman?" tanyanya. "Teman macam apa yang kamu miliki ini? Di saat takut pun mereka memohon dalam hati untuk diselamatkan seorang diri."
Doni dan Fatah terlihat menunduk.
"Ego mereka terlalu tinggi, makhluk yang merasa lebih baik dari makhluk lain adalah ego itu sendiri."
Aku hanya terdiam dan berusaha mencerna perkataan sosok berwibawa itu.
"Aku akan memberikan kalian kesempatan untuk pulang ke dunia kalian. Kali ini kalian aku lepaskan."
Doni dan Fatah jatuh berlutut dan mengucapkan terima kasih. Sedangkan aku masih diam karena firasat yang tidak menyenangkan mulai terasa.
Sosok yang membawa kami ke tempat ini kembali memberi isyarat untuk mengikutinya. Dengan perlahan aku berjalan di belakang Doni dan Fatah. Kami di antar sampai ke tempat di mana aku terbangun dan melihat suasana pasar. Begitu sosok itu menghilang, aku merasakan kehilangan kekuatan menopang pada tubuh. Doni dan Fatah sepertinya merasakan hal yang sama. Keduanya ikut luruh di sampingku. Beberapa saat kemudian, atmosfer terasa menekan, aku mencoba untuk tetap sadar namun kegelapan pekat menelan pandanganku.
***
Aku mengerjapkan mata beberapa kali dan tersentak ketika kembali melihat hiruk pikuk pasar di depan mata. Sosok Doni dan Fatah tidak terlihat berada di sisiku. Rasa takut kembali merajai hati dan tanpa sadar aki berteriak. Perbuatan yang bo*doh. Semua mata memandangku dengan tatapan dingin. Mereka kembali ke wujud asli mereka yang tidak menyenangkan. Dari belakang, sebuah tangan pucat dengan jari panjang serta kuku yang tajam menyentuh wajahku pelan. Kengerian memenuhi mataku saat melihat jika tangan itu tidak bertubuh. Dalam ketakutan yang amat sangat, kegelapan kembali mendominasi mataku.