Arya Sena adalah seorang anak yang tidak diketahui publik dari pasangan Tunggul ametung dan seorang wanita yang merawatnya ketika dia mengalami luka parah akibat perintah penguasa Kediri yang memerintahkannya untuk menumpas pemberontakan disuatu daerah, setelah terluka Tunggul Ametung dirawat oleh seorang perempuan didesa bersama beberapa orang setianya, dan disaat itu mereka tidak sengaja jatuh cinta, ketika sudah benar-benar pulih, Tunggul Ametung menyuruh gadis itu untuk melupakannya, ditambah dihatinya hanya ada istrinya Dedes, lalu tanpa diketahui perempuan itu mengandung, setelah kurang lebih sembilan bulan lahirnya anak di kandungnya seorang laki-laki, tapi tak lama bayi itu kemudian meninggal tak kuasa menahan kesedihan tanpa suami sekarang ditinggal anak yang baru dilahirkan, perempuan itu kemudian juga meninggal, lalu jiwa dari timeline modern merasuki tubuh bayi itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon subspace_illusion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BENTURAN DUA KEKUATAN
Lembah Buta yang tadinya penuh dengan jeritan mendadak senyap, tergantikan oleh tekanan udara yang mencekik.
Di seberang Sena, Ken Arok tidak lagi terlihat seperti manusia. Dikuasai oleh amarah dan kepanikan akibat provokasi Mpu Parwa, aura perlindungan gaib Arok meledak. Cahaya keemasan yang menyilaukan memancar ganas, menciptakan siluet samar sesosok dewa berkepala empat di belakang punggungnya. Tanah di bawah kaki Arok hangus dan retak hanya karena hawa murninya.
Di balik penutup wajahnya, otak modern Sena bekerja gila-gilaan. "Kecepatan, sudut tebasan, titik buta"
Belum selesai Sena memproses algoritma tempurnya, Arok sudah menghilang dari pandangan. Bukan dengan ilmu meringankan tubuh, melainkan murni daya ledak otot yang gila.
Arok muncul tepat di depan Sena. Pedang bajanya menebas dari atas, membawa gelombang energi keemasan yang menyapu udara.
Sena secara refleks menyilangkan kedua lengannya, memanggil pertahanan absolut Lembu Sekilan. Namun, apa yang terjadi selanjutnya di luar kalkulasi matematis nya.
Dinding gaib Lembu Sekilan yang seharusnya menahan serangan sejengkal dari kulit, bergetar hebat dan retak. Tenaga murni Arok terlalu besar, terlalu kacau untuk diredam sepenuhnya. Hantaman energi itu bocor, menghantam dada Sena layaknya gada besi raksasa.
Sena terpental belasan tombak ke belakang, menghancurkan sisa-sisa tenda pemberontak sebelum akhirnya menghentikan lajunya dengan menancapkan tumit ke tanah.
"Ukh!" Sena terbatuk, darah segar menetes dari balik kain penutup wajahnya. Tulang rusuk kirinya terasa retak.
"Kalkulasi sialan," batin Sena sambil meringis. "Tenaganya murni chaos. Berhadapan langsung dengan monster ini sama saja bunuh diri."
"Hanya segitu kemampuanmu, tikus penyusup." raung Arok. Tanpa memberi ampun, sang raja kembali melesat, kali ini melepaskan tebasan beruntun yang membentuk jaring-jaring cahaya mematikan.
Sena tahu ia tidak bisa bermain aman. Jika ia terus bertahan, Arok akan mencabik nya perlahan. Satu-satunya cara menembus insting dewa Arok adalah dengan mengorbankan umpan.
Sena membuang semua pikiran rasionalnya. Ia memusatkan perpaduan api Lebur Saketi dan petir Gelap Ngampar ke ujung dua jari tangan kanannya, memadatkannya hingga titik batas kompresi tertinggi, lalu membiarkan dirinya terbuka.
Arok melihat celah itu. Insting membunuhnya langsung merespons. Sambil mengaum, Arok melepaskan tebasan horizontal bertenaga penuh yang ditujukan untuk memenggal kepala Sena.
Sena tidak mundur. Di sepersekian detik sebelum pedang baja itu menggores lehernya, Sena menunduk tajam ke kiri, sengaja mengarahkan tubuhnya ke jalur lintasan aura pedang Arok.
Aura pedang keemasan itu merobek jubah Sena, membelah zirah pelindung ringan di balik dadanya, dan mengoyak bahu kirinya dalam-dalam. Darah menyembur ke udara. Rasa sakit yang luar biasa menyengat sistem saraf Sena, membuat pandangannya mengabur sesaat.
Namun, pengorbanan itu sepadan. Jarak mereka kini nol
Dengan sisa kesadaran dan posisi bahu kiri yang terkoyak, Sena menusukkan dua jari tangan kanannya yang telah berkilat biru kemerahan langsung ke bawah tulang rusuk kanan Arok titik simpul chakra yang sengaja dibiarkan terbuka saat sang raja menebas bertenaga penuh.
Dua jari Sena menembus daging dan zirah emas Arok. Tidak ada ledakan luar, energi kompresi mematikan itu meledak secara impulsif di dalam jaringan organ batin sang raja.
Paru-paru Arok serasa diisi timah mendidih. Jaringan saraf gaibnya hangus dalam seketika. Hawa keemasan di tubuh "Titisan Wisnu" itu mendadak padam perlahan.
"ARGGHH!" Arok memuntahkan darah hitam pekat dalam jumlah mengerikan, menjatuhkan pedangnya, dan ambruk bertumpu pada satu lututnya. Sang raja memegangi perutnya yang serasa hancur lebur, napasnya tersengal-sengal di ambang kematian.
Di depannya, kondisi Sena tidak jauh lebih baik.
Pemuda itu terhuyung mundur sambil memegangi bahu kirinya yang terus mengucurkan darah segar. Napas Sena memburu parah, pandangannya mulai berkunang-kunang. Kalau saja ia salah perhitungan beberapa milimeter, pedang Arok tadi benar-benar sudah membelah dadanya.
Para senopati Tumapel yang sedari tadi terlempar oleh tekanan energi mulai bangkit. Melihat raja mereka tumbang, mereka langsung menarik senjata dan bersiap menyerbu Sena dari segala arah.
Sena mendecih pelan, menyeka darah dari dagunya. "Misinya selesai. Kalau aku memaksa bertarung sekarang, aku yang mati konyol."
Mengabaikan rasa sakit yang merobek dada dan bahunya, Sena memaksa sisa tenaga batinnya untuk merapal Ajian Saipi Angin. Dengan gerakan terhuyung yang dipertahankan sekuat tenaga agar tak terlihat lemah oleh musuh, Sena melompat ke atas punggung kuda hitamnya.
"Raja kalian tinggal menunggu waktu," teriak Sena ke arah prajurit arok, suaranya dingin meski tubuhnya gemetar menahan sakit.
Sena memacu kudanya menembus kelamnya hutan, meninggalkan Ken Arok yang merintih kesakitan dengan luka dalam permanen yang tidak akan pernah bisa disembuhkan membuka jalan lapang bagi keris Mpu Gandring yang sesungguhnya dikemudian hari.
Malam semakin larut ketika kuda hitam Sena mendekati pelataran padepokan Mpu Parwa dengan langkah gontai. Begitu sampai di depan pendopo, Sena tidak sanggup lagi menahan beban tubuhnya. Ia merosot jatuh dari pelana, mendarat dengan lutut menghantam tanah berpasir.
Jubah hitamnya robek di bagian dada, dan bahu kirinya basah kuyup oleh darah segar yang terus merembes. Luka tebasan aura keemasan Ken Arok meninggalkan efek panas membakar yang merusak jaringan ototnya.
Mpu Parwa yang sedari tadi mondar-mandir cemas langsung bergegas menghambur keluar, dibantu oleh Rabu Tilawang.
"Astaga, Sena. Lukamu parah sekali," seru Mpu Parwa panik, langsung memapah Sena masuk ke dalam bilik pengobatan.
Namun, sebelum mereka sempat merebahkan Sena, pintu bilik bergeser terbuka dengan terburu-buru. Dewi Rimbu, yang kamarnya memang berada di sayap dalam padepokan, keluar karena mendengar keributan.
Langkah kaki gadis bangsawan itu langsung terhenti. Matanya membelalak lebar melihat sosok pemuda pujaannya yang baru saja menyelamatkannya beberapa hari lalu kini pulang dalam kondisi bersimbah darah, dengan luka robek menganga di bahu dan wajah pucat.
"Kang... Sena." pekik Dewi Rimbu, menutup mulutnya dengan tangan yang bergetar hebat.
Tanpa memedulikan status kebangsawanannya atau teguran sang kakek, Rimbu langsung berlari menghampiri. Ia berlutut di samping Sena, air matanya seketika tumpah membasahi pipinya. Rasa panik, takut, dan cinta yang membuncah melebur menjadi satu.
"Kau... kau kenapa?! Siapa yang membuatmu terluka separah ini?!" isak Rimbu, suaranya bergetar hebat saat ia dengan hati-hati meraba darah yang mengalir dari bahu Sena.
Sena yang sedang menahan rasa sakit luar biasa di dadanya hanya bisa meringis getir. Ia mendongak, menatap gadis yang sedang menangis histeris di sisinya putri kandung dari orang yang membuatnya terluka begini.
Ironi tingkat dewa.
Orang yang mati-matian ia buat terluka parah adalah Ken Arok, sang ayah. Dan orang yang sekarang menangis histeris, membersihkan darahnya, serta merawat luka-lukanya dengan penuh kasih sayang justru adalah anak kandung Ken Arok sendiri.
"Sialan... plot twist macam apa ini," batin Sena meringis di tengah kesadarannya yang mulai menipis.
Dengan tangan bergetar, Dewi Rimbu merobek ujung kain baju sena untuk dijadikan perban darurat, lalu dengan telaten menekan luka di bahu Sena sembari terus terisak menangis.
Mpu Parwa hanya bisa mengelus jenggotnya, menatap nanar sekaligus geli pada takdir absurd yang sedang bermain-main di hadapannya. Sena akhirnya menyerah pada rasa sakit, membiarkan dirinya dirawat dan disuapi ramuan obat oleh Dewi Rimbu putri tiran yang cepat atau lambat akan menjadi saksi kehancuran tahta keluarganya sendiri.