NovelToon NovelToon
I'M THE ANTAGONIST

I'M THE ANTAGONIST

Status: tamat
Genre:Penyeberangan Dunia Lain / Epik Petualangan / Masuk ke dalam novel / Chicklit / Tamat
Popularitas:78k
Nilai: 4.9
Nama Author: Widya_Kim02

Apa jadinya jika kau bertransmigrasi ke tubuh salah satu karakter sampingan di sebuah novel?

Hal inilah yang dirasakan oleh gadis bernama Melinda!

Mampukah ia mengubah karakter yang awalnya hanya dimanfaatkan menjadi seorang antagonis yang membalaskan dendam?

ataukah justru alur cerita pada novel tersebut tetap berjalan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widya_Kim02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17| Jebakan Elena

Sudah setengah tahun Melinda mendiami tubuh Elena. Semakin hari pula gadis itu memikirkan cara untuk segera mengakhiri semua ini.

    "Hari ini ada pertemuan antar para bangsawan dan membicarakan mengenai warga desa. Aku harus bergegas bersiap jika tidak akan terlambat.

Setibanya di sana, Elena di sambut dengan sopan. Ternyata bukan hanya para bangsawan yang hadir, tetapi juga rakyat biasa yang kebetulan memiliki takdir bagus hingga ia menjadi istri putra mahkota.

Mereka mulai membicarakan mengenai kemajuan dan keluhan apa saja yang diberikan oleh para warga desa.

   "Sejauh ini warga desa tak ada yang protes setelah kejadian teror waktu itu. Saya rasa mereka baik-baik saja!" ucap Elena dengan penuh kepercayaan diri.

Lily yang melihat itu, menggeram kesal. Sejak kejadian waktu itu, Max selalu menghiraukan dirinya. Bahkan pertanyaan dari mulut busuknya pun tak pernah mendapatkan balasan.

   "Gara-gara kau, Max sampai tak mempedulikanku dan sibuk dengan tugasnya yang sebentar lagi menjadi raja!" batinnya kesal, hingga tak sadar tangannya mengepal hebat.

Jangan kira Elena tak tahu, dia menyeringai membuat Lily kesalnya berlipat-lipat ganda.

   "Maaf sebelumnya atas kelancangan saya yang mulia. Saya dengar sebentar lagi anda akan memberikan gelar raja kepada putra mahkota, apa itu benar?" Pertanyaan Elena sedikit membuat raja dan Max terkejut.

   "Saat perjalanan ke mari, banyak warga desa yang bergosip demikian. Kalau saya salah, mohon maafkan saya!"

   "Ah, yang kau katakan itu memang benar. Aku juga sudah semakin berumur jadi harus melepaskan gelar rajaku."

Elena tersenyum penuh arti.

   "Saya senang anda akhirnya melepas gelar itu."

Sontak saja seisi ruangan menjadi tegang.

   "Jangan salah paham yang mulia. Saya tahu anda dan yang mulia ratu selama ini telah bekerja keras untuk menjaga perdamaian, anda juga selalu berkontribusi untuk kebutuhan warga desa. Akhirnya anda bisa beristirahat dan menghabiskan waktu bersama yang mulai ratu."

Ada jeda sebentar dari ucapan Elena hingga akhirnya dia kembali berkata.

   "Ratu pernah bilang pada saya bahwa ketika nantinya ratu melepaskan gelarnya, beliau ingin sekali menikmati waktu berdua hanya dengan anda dan juga pergi melihat-lihat tempat yang indah."

Ucapan Elena membuat raja tersipu malu, yah dia memang harus pandai mengambil hati orang lain.

    "Sepertinya kau lumayan dekat dengan ratu, terima kasih juga telah menjadi teman curhatnya. Ekhem ... Kenapa kita membicarakan masalah lain."

Suasana mendadak canggung, inilah saatnya bagi Elena beraksi.

   "Maafkan saya yang mulia, sepertinya saya sedang tidak enak badan. Sebelum ke mari, saya sempat pingsan mungkin karena terlalu lelah. Apakah saya bisa pamit undur diri untuk beristirahat?" tanyanya dengan menunjukan raut wajah seperti orang yang tak sehat.

Mendengar itu, Max sigap ingin membantu Elena keluar, tetapi di tahan oleh Lily.

   "Mintalah pada pelayan untuk membawamu ke kamar tamu, kau juga sudah jauh-jauh datang ke mari untuk melaporkan terkait warga desa."

Elena pun pamit undur diri, sebelum itu dia menyempatkan diri untuk tersenyum getir ke arah Max, hingga hal itu memprovokasinya.

Di kamar, Elena sedang menunggu kedatangan seseorang dengan sabar. Hingga yang ditunggu pun tiba.

   "Elena, kau baik-baik saja?"

Sebuah uluran tangan mendarat di dahi gadis itu, badannya hangat.

   "Beristirahatlah. Jika kau butuh sesuatu, katakan saja padaku!"

Saat dia akan pergi, Elena buru-buru mencekal tangannya dan meremasnya pelan.

   "Max!"

Suara serak itu berhasil membuat Max berhenti dan menoleh. Dia lantas berjongkok tepat di sebelah Elena dan bertanya.

   "Ya? Ada yang kau butuhkan? Katakan saja!" ucapnya cemas. Oh ayolah, sekarang lihat siapa yang terbakar api cemburu di balik pintu kamar.

Dia terkejut kala Elena menarik kerah baju Max dan mendekatkan wajah keduanya. Dia mengepalkan tangan, lalu membuka pintu dengan paksa.

   "Elena, sialan kau!" umpatnya membuat Max tersentak.

   "Apa yang sudah kau lakukan dengan suamiku?" tanyanya murka. Terlihat jelas bahwa Lily sekarang ingin mengeluarkan segala emosinya.

   "Apa-apaan, kau? Masuk ke kamar orang tanpa mengetuk dulu!" Max terihat kesal, apalagi dia menghancurkan moment spesial tadi.

Elena tadi menarik kerah baju Max dan membuatnya seolah mereka akan berciuman, memang benar Max juga berpikiran begitu, tetapi siapa sangka Lily menyelamatkan Elena.

Menyelamatkan dalam artian, ini hanyalah rencananya saja. Jika Lily sampai tak masuk secara kasar, maka Max pasti sudah mengambil ciuman pertamanya.

    "Kau pikir apa yang sedang kalian lakukan di depanku, ha? Kau itu sudah memiliki istri, aku!" teriaknya penuh rasa frustasi.

    "Bisa-bisanya kalian ingin berciuman. Elena, kau memang perempuan tidak tahu malu. Sini kau!"

Lily yang notebane telah dikuasai rasa emosi pun menjambak rambut ungu Elena dan menariknya hingga terjatuh dari atas ranjang.

   "Aagh! Lepaskan rambutku Lily, aku mohon ... Jangan lakukan ini padaku, apa salahku padamu?"

Saat akan menampar, justru pipi Lily lah yang mendapatkan tamparan dari Max. Suasana menjadi tegang, kejadian tadi menjadi tontonan gratis bagi para pelayan yang lewat dan penjaga, karena pintunya terbuka lebar.

   "Apa yang kau lakukan, Lily!" bentak Max sembari merebut Elena dan memeluknya. Tubuh gadis itu gemetar disertai isak tangis yang terdengar pilu.

   "Berani sekali kau menyiksa Elena. Memangnya kau punya hak untuk menyakitinya?"

   "M-Max ... Aku a-"

   "Cukup! Kau itu memang sudah keterlaluan. Tidak puas kau mendorong Elena waktu itu dan sekarang?"

Terlihat betapa kecewanya Max pada seorang Lily. Di sana, sebuah senyuman licik terukir jelas.

   "Max, a-aku akan meminta kak Lucas untuk menjemputku saja. Aku takut kalau harus berada di sini!" ucapnya dengan menatap Lily.

   "Aku akan mengantarmu." Max kini menatap Lily dengan murka. "Kau tunggu di sini untuk menerima hukumanmu. Dasar sialan!"

Elena dan Max pun meninggalkan meninggalkan Lily yang dipenuhi rasa dendam besar. Sebelum benar-benar pergi, Elena menyempatkan diri menatap Lily dan menunjukannya jari tengah sembari menjulurkan lidahnya.

    "Elena ... Kau benar-benar membuatku kesal. Lihat apa yang akan aku lakukan padamu!"  batinnya sembari berjalan keluar kamar.

Keduanya telah tiba di kediaman keluarga Javosca, nampak Lucas yang kebetulan baru saja selesai latihan, dikejutkan dengan kedatangan Max dan Elena.

Ia bergegas menemui keduanya dan memberi salam pada Max.

   "Kakak, bisakah kau antarkan aku ke kamar?" tanya Elena sembari berjalan tertatih dan memeluk lengan sang kakak.

   "Pangeran, apa yang terjadi pada Elena? Kenapa wajahnya kelihatan pucat?" tanyanya dengan menyentuh dahi sang adik.

   "Kak Lucas, maafkan aku. Ini semua karena aku tak bisa menjaga Elena dengan baik makannya Lily sampai berniat jahat padanya!"

   "Hah! Aku akan mengantarkan Elena ke kamar, pangeran bisa duduk dulu."

   "Tidak perlu, aku akan langsung pulang. Aku harus memberi hukuman pada Lily!"

Saat akan pergi, Lucas menahan tangan Max.

   "Jangan terlalu kasar padanya, mau bagaimana pun dia adalah istrimu!"

   "Tidak kak. Dia sudah mencelakai Elena dan aku tidak terima itu. Aku akan pergi sekarang, Elena semoga kau cepat sembuh!"

Sepergian Max, Elena pun melepaskan pelukan dan sedikit menjauh dari sang kakak.

   "Kak, aku akan beristirahat sekarang!"

Malam itu, kamar yang ditempati oleh Lily dan Max penuh dengan suara teriak kesakitan. Geramnya seorang Max bahkan bisa melukai istrinya sendiri. Lily juga meminta ampun berkali-kali, tetapi Max tak peduli.

Untuk pertama kalinya Max bersikap kasar padanya, padahal Lily mengira bahwa Max telah jatuh cinta kepadanya.

Padahal yang sebenarnya adalah Max tak benar-benar mencintai Lily, melainkan hanya menjalankan sebuah permintaan saja.

Ah, belum saatnya untuk diberitahu.

Bahkan seorang Lily pun sampai melupakan apa yang telah dia perbuat dulu, kesenangan yang dia dapatkan sekarang benar-benar membutakannya.

Bersambung...

1
Travel Diaryska
mantep
my+ng
/Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good/
Ervina
Luar biasa
𝓎𝑒𝑜𝓃𝓃𝒶
amazing
𝓎𝑒𝑜𝓃𝓃𝒶
aku suka yang begini ....ringkas ga terlalu banyak bab dan ga berbelit²... semangat thor
Ni Ketut Patmiari
Luar biasa
Sulati Cus
😂😂😂jd inget anak gadisku yg gemar sm anime masak pgn py cowok yg kyk anime mentang2 suka gambar anime😂
Mama Muda
tulisan kurang rapi, yang berbicara gak di sebut namanya, buat pusing baca nya sampe sini aja dulu
Sarah: iya bener, tapi storynya nice-nice aja sih
total 1 replies
🥰PencintaDuniaHalu🤪
Luar biasa
Sary Vya
cerita nya bagus
Nur Lela
luar biasa
Arie Susan92💜🇮🇩
ceritanya sangat bagus, sayang bgt cepat endingnya
Eka Nurmila
harus banyak berlatih sihir. biar ga cepat lelah
Narimah Ahmad
sesuai dgn gaya jln yg ringkas dan akhirnya bahagia
Narimah Ahmad
selasai akhirnya cerita mu Thor 👏👏👏 terima kasih cerita ya ringkas dan tak belit belit ucap ku semoga terus maju lagi kedepannya 👍
Lucy🌼: Aamiin, makasih doanya
dukung authornya selalu yaa
total 1 replies
Narimah Ahmad
cinta itu datang dgn sendiri tak di undang tapi hadirnya nyata aku tulis aku pun pusing kok 🤨🤔🤭
Narimah Ahmad
🤭🤭🤭
Narimah Ahmad
kebetulan pula ada cimilan dari pada terbuang ya lansung dimakan ☺️🤭
Narimah Ahmad
aku baru mulai ni
Kania Rahman
singkat padat jelas,💪💪👍👍🙏🙏, terimakasih banyak ceritanya sehat selalu Thor,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!