NovelToon NovelToon
Laut Merah (Izam, Roki & Martin)

Laut Merah (Izam, Roki & Martin)

Status: tamat
Genre:Mafia / Pembunuhan / Tamat
Popularitas:40k
Nilai: 5
Nama Author: Herwanti

Persahabatan tiga cowok yaitu Izam, Roki dan Martin disekolah menengah.cerita ini sudah direvisi silakan para pembaca untuk datang menikmati kisahnya. Jika ada kesalahan penulisan atau kata, saya meminta maaf. Ayo datang meriahkan kisah fantasi ini.Terima kasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saling Menyapa di Tengah Badai

Angin sore berhembus kencang, membawa serta debu dan bau tanah basah. Suara teriakan Martin yang terpendam terasa seperti desingan pisau. Teriakan hati yang saling mengaduh di dalam dadanya akhirnya meledak. Kakinya terhuyung, dipicu oleh trauma dan amarah. Martin yang tidak bisa menahan dirinya lagi, mulai melepaskan semua tekanan yang menyesakkan. Seluruh amarah yang ia miliki terhadap para penculik itu ia kumpulkan, siap dilepaskan dalam satu serangan brutal.

“Kalian salah besar jika harus menculik kakakku!” raung Martin, suaranya sarat akan rasa sakit dan kemarahan. Ia melompat, melepaskan tendangan lurus yang sangat cepat dan bertenaga.

“Siapa kamu!” teriak Erik, pimpinan Naga Hitam, yang berusaha keras menahan tendangan Martin dengan kedua lengannya. Wajahnya menegang, merasakan kekuatan yang mengerikan itu.

"Siapa aku tidak ada gunanya sekarang!" balas Martin, matanya menyala. Ia tidak peduli dengan identitas, hanya ada satu tujuan, memastikan mereka membayar mahal. Martin bersiap membunuh mereka berdua.

Karin, pimpinan Mawar Hitam, yang kini terluka, berteriak memperingatkan, "Jika kamu membunuh kami, kamu tidak akan bisa kabur dari pimpinan kami! Mereka akan memburumu!"

Martin justru tertawa. Tawa yang kering, gila, dan penuh dendam. Sebelum ia sempat membalas, sekelebat bayangan datang.

“AMBIL ITU!” teriak Rendi, suaranya keras, saat ia melemparkan sebuah pistol otomatis kepada Martin.

Martin bergerak refleks, tangannya sigap menangkap benda dingin itu. Dalam sekejap tanpa basa-basi, Martin mengarahkan moncong senjata itu ke dua pimpinan yang sudah terluka dan terkejut.

DOR! DOR!

Dua tembakan tajam memecah keheningan sore itu. Martin menembak mereka tanpa belas kasih. Ia menoleh ke belakang, napasnya tersengal. Wajahnya yang semula penuh amarah kini dipenuhi kekosongan yang menakutkan.

“Itu akibatnya jika kalian mencari masalah denganku,” katanya pelan, suaranya kembali datar, sebuah ketenangan yang menakutkan setelah badai.

Martin mulai berjalan, berusaha keras menenangkan hatinya yang sudah kacau. Ia menoleh ke arah Rendi dan kelompoknya.

“Bereskan tempat ini,” perintah Martin dengan nada yang tenang, kembali ke mode pemimpin yang efisien. “Ambil semua yang bisa digunakan.”

Saat ia melangkah melewati puing-puing, matanya menangkap sosok lain. “Sedang apa kamu di sini, Izam?”

Izam berdiri kaku, bersama beberapa kawannya. Ekspresi Izam dipenuhi kebingungan, matanya bolak-balik antara Martin yang baru saja menembak dan Rendi yang sedang membereskan mayat.

“Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kamu bisa ada di sini?” balas Izam, suaranya terdengar tercekat.

“Aku… Menyusul kakakku yang dicuri oleh mereka,” jawab Martin, singkat dan dingin.

“Apa maksud kamu?” desak Izam, bingung dengan tumpang tindihnya masalah ini.

Martin mengangkat bahu. Ia mengulurkan pistol yang masih panas kepada Rendi. “Kamu mau dengar yang mana? Penculikan kakakku, atau ingin tahu siapa mereka yang ada di samping kamu?”

Izam menatap Rendi, Baki, dan Tera. “Apa kamu mengenal mereka?”

“Mereka adalah teman lamaku,” kata Martin dengan santai, seolah baru saja bertemu di kedai kopi, bukan di lokasi pembunuhan.

Terko yang ada di samping Izam menyela, suaranya terdengar waspada. “Sebenarnya teman kamu itu siapa, Izam?”

Hizam menjawab sebelum Izam sempat membuka mulut. “Bukankah kamu sudah tahu kalau dia adalah Preman Selatan?”

“Preman Selatan?” ulang Terko, terkejut. Reputasi Martin bukanlah rahasia lagi di kalangan mereka.

Martin, yang sudah lelah dengan drama identitas, memutuskan untuk mengakhiri perkenalan paksa ini. “Jika ingin kalian mengenal satu sama lain, aku persilakan.” Martin menatap semua orang yang ada di sana, pandangannya tajam.

“Apa maksud kamu tidak ingin mengenalkan mereka satu per satu?” protes Terko.

“Aku malas memperkenalkan mereka satu per satu,” balas Martin, nadanya penuh ketidaksabaran. “Kalian punya mulut, kenapa tidak berkenalan sendiri-sendiri?”

Martin berbalik, berjalan keluar dengan langkah mantap. “Kamu mau ke mana?” panggil Izam.

"Pergi ke rumah sakit, melihat kondisi kedua kakakku. Mau ikut? Setelah itu kita berangkat sekolah,” kata Martin, tanpa menoleh.

Izam hanya terdiam, mencerna rentetan kejadian yang gila ini. Namun, ia tidak bisa membiarkan Martin pergi sendirian. Ia tahu Martin tidak baik-baik saja. Izam segera meninggalkan teman-temannya dan mengikuti Martin dari belakang.

Setibanya di rumah sakit, suasana lebih tenang, tetapi penuh penjagaan. Mereka berjalan menuju kamar rawat inap yang sudah dijaga ketat oleh Tera.

“Bagaimana kabar Kak Mola dan Kak Meli?” tanya Martin, nada suaranya kini melunak, kepeduliannya terlihat jelas.

“Tenang saja, mereka baik-baik saja,” jawab Tera dengan lega. “Dan kebetulan, ibu kamu juga ada di dalam. Apa kamu mau melihatnya?”

Martin menggelengkan kepala. Ada keraguan dan rasa bersalah di matanya. “Tidak, terima kasih. Aku akan berangkat sekolah sebelum terlambat.” Ia menatap Izam yang menunggu di bawah.

Martin berjalan keluar gedung dan langsung masuk ke dalam mobil. Izam mengikutinya dan segera memberikan tas. “Ini pakaian kamu.”

“Terima kasih,” ucap Martin. Ia melepaskan pakaiannya yang compang-camping dan berganti dengan seragam sekolah.

“Apa kamu tidak apa-apa pergi dengan keadaan seperti itu?” tanya Izam, menunjuk luka memar di wajah Martin. Ada nada khawatir yang tulus dalam suaranya.

Martin membalas tatapan itu, melihat luka yang sama di wajah Izam. “Kamu sendiri bagaimana?” Mereka berdua hanya terdiam, saling berbagi kelelahan dan rasa sakit tanpa perlu kata-kata.

Sampai di depan gerbang sekolah, mereka berdua keluar dan berjalan bersama menuju ruang kelas. Roki, teman sekelas mereka, yang kebetulan melihat mereka berdua masuk bersama, segera menghampiri. Roki terkejut melihat wajah Izam dan Martin yang penuh dengan luka memar.

“Apa yang terjadi dengan kalian berdua?” seru Roki, nada suaranya dipenuhi keterkejutan dan kekhawatiran yang berlebihan.

Mereka berdua hanya menggelengkan kepalanya, ingin menghindari pertanyaan. Tetapi Roki tidak menyerah. Tiba-tiba, ia meraih lengan keduanya dan menarik mereka.

“Kamu mau bawa kami kemana?” tanya Martin, sedikit kesal.

“Ke ruang kesehatan! Lihat wajah kalian yang memar ini! Apa kalian tidak sakit?!” bentak Roki, keras kepala.

“Kita tidak kesakitan, Roki. Kita ke kelas saja, ya?” ucap Izam, suaranya serak karena lelah. Ia tidak punya tenaga untuk melawan Roki yang keras kepala.

“Tidak! Kita akan pergi ke ruang kesehatan!” putus Roki.

Mereka berdua akhirnya hanya mengikuti keinginan Roki. Sampai di depan ruang kesehatan, kebetulan ada dokter sekolah. “Dok, bisa periksa mereka berdua?” kata Roki, mendorong keduanya ke depan.

Setelah diperiksa dan diberi obat pereda nyeri, Dokter Sekolah menatap mereka dengan tatapan seorang ayah. “Kalian anak muda, kalau semangat jangan kelewatan. Sayangi tubuh kalian,” tegurnya pelan.

Izam dan Martin hanya terdiam dan menganggukkan kepala mereka. “Bagaimana, Dok? Apa mereka akan baik-baik saja?” tanya Roki, tidak sabar.

“Tenang saja, Nak Roki. Mereka tidak apa-apa, hanya mendapatkan luka pukulan, tapi tidak begitu serius,” jawab Dokter.

Roki kembali menatap mereka, matanya penuh kecurigaan. “Kalian berantem dengan siapa?”

Alih-alih menjawab, Martin dan Izam berjalan gontai dan menuju tempat tidur untuk istirahat. Mereka benar-benar kelelahan.

“Kalian berdua mengabaikanku, ya!” protes Roki.

Dokter sekolah menghampiri Roki. “Mereka hanya kelelahan. Tadi aku menyuntikkan obat penenang ringan kepada mereka berdua. Mungkin saja mereka sekarang merasa mengantuk.” Dokter itu kemudian memberikan surat izin. “Sudah aku buatkan dua surat izin untuk mereka berdua.”

“Baik, Dok. Aku titip mereka di sini, ya,” ucap Roki yang kemudian berjalan keluar ruangan.

Saat langkah kaki Roki sudah menjauh, keheningan pecah. Mereka berdua terbangun.

“Kalian berdua bisa tidak, jangan membuat masalah,” kata Dokter Mio, tersenyum lelah, yang sudah mengenal reputasi mereka.

“Maaf membuat kamu kerepotan,” kata Izam.

“Kamu kenal dengan Dokter Mio?” tanya Martin.

“Kamu sendiri?” balas Izam.

“Kalian berdua cepat istirahat sana,” potong Dokter Mio. Mereka berdua langsung berbaring, akhirnya melepaskan lelah yang menumpuk. Sementara itu, di kamar rawat inap, Kak Mola dan Kak Meli sudah siuman dari pengaruh penculikan.

“Bagaimana keadaan kalian, apa baik-baik saja?” tanya Tera.

“Aku baik saja, tapi di mana Martin?” tanya Mola, matanya mencari-cari adiknya.

“Iya, di mana Martin berada?” sahut Meli, nada suaranya cemas.

“Kalian tidak usah khawatir. Dia sekarang ada di sekolahan,” ucap Tera menenangkan.

Ibu Martin yang berada di samping mereka bertanya, “Apa tadi dia datang ke sini?”

“Itu benar, Bu, tapi langsung pergi ke sekolahan,” kata Tera.

“Apa dia baik-baik saja?” desak Mola.

“Dia baik-baik saja,” ulang Tera, meyakinkan mereka.

Selesai mereka diperiksa, Tera keluar untuk mencari makanan. Kebetulan ia bertemu dengan Rendi yang membawa bungkusan. “Kamu mau keluar cari makan?” tanya Rendi.

“Menurut kamu?” ucap Tera.

“Ini, aku bawakan makan,” kata Rendi. Ia mengetuk pintu dan masuk. “Bagaimana kabar kalian? Aku membawa makan untuk kalian jika kalian lapar,” ucap Rendi tanpa basa-basi.

Ibu Martin mengambil bungkusan itu. “Terima kasih, Nak Rendi.”

Setelah mengantarkan makanan, Rendi memutuskan untuk pergi karena ada urusan lain. Ia menitipkan mereka bertiga kepada Tera yang masih di luar berjaga. “Kamu mau pergi?” tanya Mola.

“Iya, maaf aku tidak bisa berlama-lama. Karena ada urusan yang harus aku bereskan,” kata Rendi, nada bicaranya serius.

Rendi keluar ruangan dan berpesan kepada Tera, “Jaga mereka bertiga.”

“Kamu mau ke mana?” tanya Tera.

“Urusan yang kemarin belum selesai,” ucap Rendi sambil melewatinya. “Kalau ada apa-apa, kabari kami.”

Rendi berjalan keluar bangunan menuju mobil yang terparkir. Tiba-tiba, ada seseorang yang sudah menunggunya. Itu adalah Mizuki, yang kebetulan mengikuti Rendi. “Kenapa kamu ada di sini?” tanya Rendi, terkejut.

“Seharusnya aku yang bertanya. Kamu itu siapa Martin?” desak Mizuki, menatap Rendi dengan tatapan penuh curiga.

“Bukankah kamu sudah tahu kemarin aku adalah teman lama dia,” kata Rendi, mendorong Mizuki yang menghalangi jalannya untuk masuk ke mobil.

“Apa hanya teman lama?” tanya Mizuki, nada suaranya menyiratkan kecurigaan yang semakin kuat.

1
anggita
up trus..
anggita
organisasi kegelapan jiwa...
anggita
klo mau promo novel, bisa ketempat kami.. bebas👌
anggita
authornya kurang promo. padahal cukup rajin update. 🙄
Herwanti: gx pintar promo. terima kasih untuk kunjungannya ya
total 1 replies
anggita
pelabuhan X
anggita
👍👍👌👌👏👏,,
anggita
sastra ilmu bela diri 🙄
anggita
organisasi rose black.
anggita
👌👌,,,
anggita
mizuki.
anggita
remon.. roki..
anggita
mampir ,👍saja..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!