Di usia 20 tahun, hidup Keira Seng sudah diberi deadline.
Kanker lambung stadium awal. Dokter bilang masih ada harapan, tapi tubuhnya berkata lain. Di tengah ketakutan dan kesendirian — karena keluarganya sudah lama bukan tempat bersandar — sebuah HP Nokia tua yang selalu ada di tasnya tiba-tiba mengirim pesan:
[SISTEM IMITASI AKTIF. TARGET DITETAPKAN: XAVIER SIA. SELESAIKAN MISI UNTUK MENDAPAT POIN KEHIDUPAN.]
Xavier Sia. Cucu konglomerat Sia Corporation. Mahasiswa hukum semester 5 yang wajahnya selalu muncul di @unparfess sebagai "Campus Crush No.1." Dingin. Tajam. Dan — atas kebetulan yang absurd — tinggal di unit sebelah apartemen Keira.
Misi pertama: berpakaian seperti dia selama satu minggu.
Yang tadinya hanya "survival strategy" perlahan berubah bentuk. Baju yang sama membawa mereka ke percakapan. Percakapan membawa kedekatan. Kedekatan membawa perasaan yang Keira tidak mampu — dan tidak berhak — untuk miliki.
Karena bagaimana bisa kamu jatuh cinta kalau kamu sendiri tidak tahu berapa lama bisa hidup?
Dan bagaimana bisa Xavier tahu bahwa gadis yang selalu tersenyum di depannya sedang menghitung waktu di belakangnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15: Makan Malam Pertama
Apakah ini undangan biasa, atau sesuatu yang lebih dari itu?
Keira seharusnya menanyakan itu langsung.
Sebaliknya, ia hanya mengangguk sambil menggenggam cup milk tea hangat, lalu berkata, "Boleh."
Satu kata itu membuat Xavier menatapnya sedikit lebih lama. Tidak ada senyum besar. Tidak ada kalimat manis. Hanya sorot mata yang melunak, cukup untuk membuat Keira merasa lift The Springs mendadak kekurangan oksigen.
"Sabtu malam?" tanya Xavier.
"Sabtu malam."
Maka selama satu minggu berikutnya, Keira hidup dengan kalimat `Sabtu malam` seperti notifikasi yang terus berkedip di kepala.
Celine mengetahui semuanya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, karena Keira melakukan kesalahan fatal: bertanya, "Menurut lo, makan malam di Braga itu pakai baju apa?"
Celine yang tadinya rebahan sambil main game langsung duduk.
"Braga? Makan malam? Dengan siapa?"
"Teman."
"Nama teman itu Xavier Sia?"
Keira diam.
Celine menaruh HP. "Oke. Kita darurat nasional."
Sabtu sore, kamar Keira berubah menjadi posko styling. Celine datang membawa tote bag penuh pilihan baju, sementara Keira duduk di tepi kasur dengan wajah pasien yang menunggu vonis.
"Ini bukan date," kata Keira untuk ketiga kalinya.
"Tentu. Dua orang, Sabtu malam, restoran di Braga, dijemput cowok ganteng, bukan date. Itu seminar pajak."
"Dia bilang terima kasih karena aku jaga Mochi."
"Kalau cuma terima kasih, dia bisa kirim GoFood."
Keira tidak punya bantahan.
Celine memilihkan dress midi warna hijau gelap yang potongannya sederhana, dipadukan cardigan tipis krem. Tidak terlalu mencolok, tidak terlalu santai. Rambut Keira dibiarkan tergerai setengah, ujungnya dicatok sedikit.
Saat Keira melihat cermin, ia hampir tidak mengenali dirinya sendiri.
Pucatnya masih ada. Tubuhnya masih kecil. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya setelah lama merasa seperti tubuhnya hanya catatan medis berjalan, Keira terlihat seperti gadis dua puluh tahun yang akan makan malam dengan seseorang yang mungkin ia sukai.
Celine berdiri di belakangnya, senyum menggoda di wajah.
"Nah. Kalau Xavier tidak bereaksi, berarti dia buta hukum dan buta estetika."
"Dia anak Hukum, bukan dokter mata."
"Makanya jangan kasih alasan."
Pukul tujuh kurang lima, Xavier mengirim pesan:
`Aku di bawah.`
Jantung Keira langsung jatuh ke perut.
Di lobi, Xavier berdiri dekat pintu kaca memakai kemeja hitam, lengan digulung, rambut rapi tanpa terlihat terlalu usaha. Saat melihat Keira, ia berhenti sejenak.
Sejenak saja.
Tapi Celine, yang mengantar Keira sampai lift dan mengintip dari jauh seperti mata-mata gagal, pasti akan menyebutnya reaksi.
"Hai," kata Keira.
Xavier menatapnya dari wajah ke cardigan, lalu kembali ke matanya.
"Hai."
"Aneh?"
"Tidak."
Jawabannya terlalu cepat.
Keira menggigit bibir menahan senyum. "Berarti?"
Xavier membuka pintu mobil GrabCar yang sudah menunggu. "Bagus."
Satu kata lagi.
Dan lagi-lagi, dari Xavier, itu cukup membuat dada Keira penuh.
Restoran Italia di Braga itu tidak terlalu besar, tetapi hangat. Lampu kuning menggantung rendah, dinding bata ekspos memberi kesan tua, dan dari jendela terlihat jalan Braga yang ramai oleh pejalan kaki, pasangan muda, dan turis yang sibuk mengambil foto. Aroma roti panggang, saus tomat, dan keju bercampur dengan hujan tipis yang baru turun di luar.
Xavier menarik kursi untuk Keira.
Keira menatap kursi itu, lalu menatapnya.
"Kamu sering begini?"
"Menarik kursi?"
"Iya."
"Kalau kursinya berat."
"Alasan yang sangat romantis."
"Aku sedang menghemat energimu."
Kalimat itu ringan, tetapi tangan Keira berhenti di ujung meja. Ia tidak tahu apakah Xavier sadar betapa tepat kalimat itu mengenai bagian dirinya yang ia sembunyikan. Tubuhnya memang cepat lelah. Tenaganya memang harus dihemat, bahkan untuk hal kecil seperti berdiri terlalu lama.
Ia duduk perlahan. "Terima kasih."
Saat melihat menu, Keira langsung tahu restoran ini bukan tempat yang biasa ia pilih sendiri. Harganya tidak semengerikan cek lima miliar, tentu saja, tetapi tetap membuatnya menghitung. Xavier seolah membaca pikirannya.
"Aku yang ajak. Aku yang bayar."
"Aku belum bilang apa-apa."
"Wajahmu bilang."
"Wajahku cerewet ya?"
"Cukup."
Pelayan datang. Xavier memesan pasta aglio olio tanpa cabai untuk Keira, sup krim jamur, dan air mineral hangat. Untuk dirinya sendiri, ia memesan lasagna dan kopi.
Keira menatapnya setelah pelayan pergi. "Kamu ingat aku nggak bisa makan pedas?"
"Kamu pernah bilang perutmu sensitif."
"Itu cuma sekali."
"Aku punya ingatan bagus."
Keira pura-pura melihat serbet. "Berbahaya."
"Untuk siapa?"
"Untuk orang yang punya banyak rahasia kecil."
Xavier tidak langsung menjawab. Matanya berhenti di wajah Keira sedikit lebih lama. "Kalau suatu hari mau cerita, aku bisa dengar."
Jantung Keira melemah sebentar.
Ada banyak hal yang bisa ia ceritakan. Kanker. Sistem. Ketakutan bahwa waktunya tidak sepanjang orang lain. Tapi lampu restoran terlalu hangat, piring di depan mereka terlalu normal, dan untuk sekali ini ia ingin menjadi gadis yang hanya makan malam dengan cowok yang memperhatikan menu untuknya.
"Nanti," katanya pelan.
Xavier mengangguk, tidak memaksa.
Percakapan mereka mengalir setelah makanan datang. Dari tugas Bu Ratna, yang membuat mereka sama-sama harus mencatat kebiasaan kecil, sampai karya Keira di pameran. Xavier bertanya bagaimana ia mulai menggambar. Keira menceritakan tablet pertamanya yang dibeli dengan menabung uang ulang tahun, webtoon yang ia baca diam-diam saat SMA, dan mimpi kecilnya punya studio ilustrasi.
"Studio sendiri?" tanya Xavier.
"Mungkin. Suatu hari. Kalau aku panjang umur."
Kalimat itu keluar terlalu cepat.
Keira langsung mengambil air.
Xavier berhenti memotong lasagna. "Keira."
"Maksudku kalau rezekinya panjang," koreksinya cepat, tersenyum. "Bahasa orang tua."
Xavier masih menatapnya, tetapi ia membiarkan koreksi itu lewat.
Sebagai gantinya, ia bercerita tentang Hukum, tentang bagaimana sebagian orang mengira ia masuk fakultas itu karena keluarga, padahal ia memang suka membaca celah logika dalam argumen orang. Keira tidak terkejut. Xavier punya wajah orang yang menikmati membongkar kalimat sampai lawannya menyerah.
"Kasihan lawan debatmu," katanya.
"Mereka memilih sendiri."
"Kejam."
"Efisien."
Mereka tertawa pelan.
Ketika obrolan menyentuh keluarga, Keira menjawab lebih pendek. Orang tuanya bercerai. Mama sibuk, tetapi sekarang lebih sering datang. Tentang Papa, ia hanya berkata, "Kami tidak terlalu dekat."
Xavier tidak bertanya lagi.
Sebagai gantinya, ia bercerita tentang Engkong yang kalau datang selalu membuat hidup orang serumah panik, tentang Mama yang lebih lembut daripada kelihatannya, dan tentang Papa yang jarang bicara tetapi sekali bicara biasanya langsung membuat semua orang duduk rapi.
"Keluargamu hangat," kata Keira tanpa sadar.
Xavier menatapnya. "Kadang terlalu ramai."
"Ramai itu tidak selalu buruk."
Ia baru menyadari suaranya melembut setelah kalimat itu keluar. Xavier juga mendengarnya. Tapi sekali lagi, ia tidak mendesak.
Mereka sampai pada Mochi saat dessert kecil datang, panna cotta yang Keira makan hanya beberapa sendok karena perutnya sudah penuh.
"Kenapa kucing hitam?" tanya Keira. "Banyak orang malah takut kucing hitam."
Xavier melihat ke luar jendela sebentar. Braga berkilau karena hujan.
"Waktu SMA, aku pernah kehilangan kucing peliharaan. Sejak itu selalu ingin punya kucing hitam."
Keira menahan sendok. "Kucingmu dulu hitam?"
"Iya." Xavier tersenyum samar, tetapi matanya tidak ikut tersenyum penuh. "Dia hilang tiba-tiba. Aku cari berhari-hari. Nggak ketemu."
"Maaf."
"Sudah lama."
"Tetap sedih."
Xavier menatapnya, dan kali ini senyumnya lebih nyata. "Iya. Tetap sedih."
Keira tidak tahu kenapa cerita pendek itu membuat hatinya lunak. Mungkin karena Xavier yang biasanya dingin tiba-tiba terlihat seperti anak laki-laki yang pernah kehilangan sesuatu dan tidak bisa memperbaikinya. Mungkin karena ia juga tahu rasanya kehilangan sesuatu sebelum sempat benar-benar memilikinya, hanya saja miliknya bernama masa depan.
Mereka keluar restoran hampir pukul sembilan. Hujan sudah berhenti. Udara Braga dingin dan bersih, jalanan memantulkan lampu toko. GrabCar yang mereka pesan masih beberapa menit lagi, jadi mereka berjalan pelan di trotoar.
Jarak bahu mereka dekat.
Terlalu dekat untuk disebut biasa.
Tapi tidak ada yang bergerak untuk menjauh.
Tangan Keira beberapa kali hampir menyentuh tangan Xavier saat mereka berjalan berdampingan. Setiap kali itu terjadi, ia merasa seluruh tubuhnya menahan napas. Xavier tidak menggenggam tangannya. Keira juga tidak.
Namun ketika ada motor lewat terlalu dekat, Xavier bergerak sedikit ke sisi luar, menempatkan tubuhnya di antara Keira dan jalan.
Gerakan kecil.
Tidak diumumkan.
Tapi Keira melihat.
Di perjalanan pulang, mereka tidak banyak bicara. Bukan canggung. Lebih seperti sama-sama menyimpan sesuatu yang belum berani diberi nama.
The Springs sudah lebih sepi saat mereka tiba. Di dalam lift, angka lantai naik perlahan. Keira berdiri di sisi kiri, Xavier di sisi kanan. Pantulan mereka terlihat di pintu lift yang mengilap, dua orang yang belum menjadi apa-apa, tetapi sudah terlalu banyak berbagi diam.
Lift berhenti di lantai 16.
Pintu terbuka.
Xavier keluar lebih dulu, lalu berhenti dan menoleh.
"Keira."
Ia mengangkat wajah.
Xavier menatap matanya. Bibirnya terbuka sedikit, seperti ada kalimat yang sudah sampai di sana dan ragu untuk keluar.
Jantung Keira berdetak pelan sekali, lalu cepat sekali.
"Ya?"
Satu detik lewat.
Dua.
Akhirnya Xavier hanya berkata, "Selamat malam."
Keira menahan napas yang entah sejak kapan tertahan. "Selamat malam."
Xavier berbalik dan masuk ke unitnya.
Pintu tertutup.
Keira masih berdiri di depan lift beberapa saat, menggenggam tali tas kecilnya.
Dia tadi...
Apa dia sebenarnya ingin mengatakan sesuatu yang lain?