Bismillah... Kisah ini aku ambil dari beberapa orang yang memiliki pengalaman yang sama. Aku menggabungkannya menjadi sebuah kisah yang mungkin banyak sekali terjadi di kehidupan ini.
Gerd Anxiety adalah Masalah pencernaan, seperti heartburn, mual, dan sakit perut adalah gejala umum yang bisa ditimbulkan baik oleh GERD maupun anxiety. Kalau di masyarakat lebih di kenal dengan sakit asam lambung akut.
Novel ini bercerita tentang perjuangan seorang wanita yang ingin sembuh dari penyakit yang dia derita. Berbagai cobaan hidup, jatuh bangun dalam menghadapi kehidupan ini hingga dia akhirnya sembuh dan sukses.
Jangan lupa pilih menu Favorit ya sebelum dibaca 🥰🥰
*****
Deg.. deg.. deg..
Tiba - tiba saja aku merasa sesak dan kesulitan bernafas. Aku segera meraba dadaku, jantungku sangat kencang sekali berdetak. Keringat dingin mulai membasahi tubuhku. Pakaianku mulai basah karenanya.
Lututku bergetar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon winda siregar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
Tibalah hari pertemuan dengan perkumpulan orang - orang yang mengidap penyakit yang sama denganku. Tadi malam aku sedikit gusar dan tidak nyenyak tidur.
Aku merasa tegang menyambut hari ini. Tetapi sebenarnya aku sangat penasaran seperti apa acaranya akan berlangsung.
Hari ini adalah hari sabtu, aku libur kerja tetapi suamiku masih bekerja setengah hari. Setelah absen dari kantor dia singgah ke rumah untuk menjemputku.
Anak - anak kali ini kami antar ke rumah mertua, karena sebenarnya hari ini adalah hari libur mertuaku. Jadi kami tidak mau merepotkan orang tua.
Suami sudah sampai di rumah, aku langsung mengunci pintu dan naik ke atas motor suami.
Bismillah.. Ya Allah ini adalah salah satu ikhtiarku untuk sembuh, ridhoilah usahaku ini ya Rabb. Doaku dalam hati sambil memeluk pinggan suamiku dari belakang.
"Yah.. Bunda kok tegang ya" ucapku.
"Tegang kenapa?" suamiku balik bertanya.
"Apa mereka bisa menerima kehadiran Bunda yah? Nanti mereka di sana udah tua - tua semua? Udah gitu penyakit mereka sudah mau sembuh sedangkan Bunda baru mulai pengobatan?" tanyaku khawatir.
"Bun... Bunda selalu memikirkan sesuatu hal yang belum tentu terjadi. Bunda membuat ketakutan - ketakutan Bunda sendiri, itu yang membuat Bunda cemas dan jadi pemicu asam lambung kumat. Hadapi saja, yakinlah Bunda akan baik - baik saja" tegas suamiku.
Aku terdiam dan fokus pada jalanan.
Akhirnya kami sampai di tempat yang sudah diinformasikan Pak Pramono.
"Anggia... Anggi.. sini" panggil Pak Pramono dari kejauhan.
Kami melihat ada beberapa orang yang sedan berbincang - bincang di dekat Pak Pramono. Aku dan suamiku berjalan menghampiri Pak Pramono. Suamiku langsung berjabat dengan Pak Pramono.
"Pak titip istri saya ya, saya mau lanjut kerja" ucap suamiku pada Pak Pramonk.
"Iya Nak silahkan.. silahkan..." jawab Pak Pramono.
"Bun nanti kalau sudah siap kabari aja Ayah" ucap suamiku.
"Iya Yah" balas ku.
Suamiku kembali ke parkiran motor dan pergi. Aku dikenalkan Pak Pramono kepada teman - teman yang ada dalam perkumpulan.
"Teman - teman kenalkan ini Anggi yang saya ceritakan kemarin" ucap Pak Pramono kepada teman - teman baruku.
Mereka terdiri dari pria dan wanita dari segala umur. Memang aku yang paling muda diantara mereka semua. Tapi mereka menyambutku dengan sangat ramah.
"Anggi" ucapku memperkenalkan diri.
"Sri" ucap Ibu cantik dihadapanku.
"Joko" Pria yang disamping Pak Pramono memperkenalkan diri.
"Eli" ujar wanita yang satu lagi.
Kami berjumlah lima orang dan kemudian duduk di tepi kolam ikan Mas Koi. Tempat ini adalah restoran yang tak jauh dari pusat kota.
Suasananya sangat asri, udaranya sejuk karena banyak pepohonan rindang. Suara gemericik air dari kolam memecahkan keheningan tempat ini. Sangat nyaman untuk tempat pertemuan.
"Karena kami sudah saling kenal, bagaimana kalau pertemuan kali ini Naik Anggi saja yang memperkenalkan dirinya? Jangan sungkan Nak Anggi, keluarkan saja apa yang ingin kamu ucapkan. Jangan ada yang kamu pendam" perintah Pak Pramono.
Aku menilai diantara kami semua, Pak Pramono lah yang paling tua. Makanya semua teman - teman kelompokku sangat hormat pada beliau.
Aku mulai menarik nafas panjang.
"Nama saya Anggia Permata. Umur saya tiga puluh delapan tahun. Saya sudah menikah, nama suami saya Mas Fadil. Kami mempunyai sepasang anak. Nama mereka Shifa dan Rayyan. Shifa sudah kelas tiga sekolah dasar sedangkan Rayyan baru berumur lima tahun. Suamiki bekerja di Perusahaan XXX sebagai team marketing atau sales. Sedangkan saya bekerja sebagai admin di Perusahaan Asuransi ABC" ungkapku.
Kemudian aku terdiam, bingung harus berkata apa lagi.
"Ceritakan apa yang kamu derita Nak Anggi. Tentang penyakit kamu" perintah Pak Pramono.
Aku tetap diam. Bu Sri meraih tanganku dan menggenggamku memberi semangat.
"Cerita saja Nak, jangan sungkan. Kalau kamu mau menangis juga tidak apa - apa. Jangan mali, kita semua keluarga di sini" sambut Bu Sri.
"Saya bekerja di bagian klaim dimana menerima semua pengajuan klaim setiap nasabah. Saat ini perusahaan sedang tidak baik dan tersendat membayar klaim nasabah. Sehingga setiap hari saya selalu mendengarkan amarah, makian serta tangisan para nasabah yang kesal dan putus asa karena uang mereka tidak bisa ditarik. Sebelumnya saya memang sudah mempunyai penyakit asam lambung. Dengan adanya permasalahan di kantor penyakit saya jadi semakin parah. Saya tiba - tiba merasa sesak, cemas, ketakutan, detak jantung kencang, keringat dingin dan lutut saya bergoyang dan lemas" ungkapku tertunduk.
"Jangan khawatir kami juga punya sakit yang sama dengan kamu, bahkan saya lebih parah" sambut Bu Sri.
Aku menatap wajah Bu Sri kemudian wajah teman - teman baruku bergantian.
"Lanjut Nak Anggi" ucap Bu Eli.
"Satu tahun belakangan ini saya lebih lima kali dibawa suami ke Rumah Sakit karena keluhan itu, awalnya saya mengira saya kena serangan jantung tapi hasil pemeriksaan jantung saya bagus. Dokter hanya menyebutkan bahwa saya menderita asam lambung hingga akhirnya saya di rujuk ke Dokter Jiwa. Sekarang saya gampang marah terlebih saat dirumah dengan anak - anak. Sedikit saja kesalahan mereka saya akan marah. Sebenarnya saya sangat merasa bersalah tapi saya tidak bisa melawan semua itu. Kalau suami tidak bisa dihubungi perut saya langsung mules dan saya membayangkan hal yang tidak - tidak. Saya lebih mudah baper, dan sering mengingat - ingat hal - hal yang sedih. Saya juga takut mati, takut suami kawin lagi dan anak - anak saya akan disiksa oleh Ibu tirinya. Saya ingin sembuh Pak, Bu. Anak - anak saya masih terlalu kecil. Mereka masih membutuhkan saya" ungkapku. Air mataku mulai mengalir.
Bu Eli menepuk bahuku lembut.
"Sama Nak, kami juga merasaka hal yang sama. Kamu pasti bisa sembuh apalagi kamu masih muda" ucap Bu Eli memberi semangat.
"Kenapa kamu takut mati? Kalau kamu takut memikirkan suami kamu akan menikah lagi, kamu tidak akan bisa mencegahnya dan mengaturnya. Kalau kita sudah mati kita tidak akan bisa mengatur dunia lagi karena kita akan sibuk dengan amalan atau dosa - dosa kita. Kalau kamu khawatir dengan hidup anak - anak kamu. Yakinlah saat kita lahir Allah pasti akan berikan rezeki walau hanya rezeki untuk bernafas tapi itu adalah rezeki. Yakinlah anak kamu akan terus hidup ada atau tanpa kamu" ucap Pak Joko.
"Coba kamu pikirkan lagi mengapa kamu takut mati?" tanya Pak Pramono.
Aku terdiam dan mencoba mencari jawaban dari pertanyaan Pak Pramono.
"Tanya hati kamu Anggi dan jangan malu untuk mengakuinya. Setiap manusia pasti punya kelemahan dan kekurangan" sambut Buk Sri.
"Aku belum siap mati Bu, karena dosaku sangat banyak. Amalanku belum cukup untuk aku bawa di hadapan Allah.. Aku.. aku masih belum sanggup, dan amalanku belum cukup. Aku tidak sanggup untuk masuk neraka" ungkapku akhirnya dan kembali menangis.
Kali ini tangisanku lebih kencang bahkan aku sampai terisak. Mereka membiarkan aku menangis untuk menumpahkan segala gundah gulanaku.
Tak lama kemudian Pak Pramono berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menghampiriku. Setelah itu dia mengusap lembut kepalaku yang tertutup jilbab.
Aku merasa seperti sentuhan Papaku yang begitu lembut. Tiba - tiba hatiku menghangat dan nyaman.
"Sekarang kalau kamu sudah menemukan ketakutan kamu, apa yang akan kamu lakukan untuk melawan itu semua?" tanya Pak Pramono.
"Aku harus lebih taat beribadah Pak, menjauhi larangan Allah dan menjalankan semua perintahnya" jawabku.
"Caranya?" tanya Pak Joko.
Aku terdiam lagi.
"Kamu harus merubah diri kamu jadi pribadi yang lebih baik, jangan tinggalkan shalat, perbanyak sedekah, puasa dan mengaji Nak Anggi. InsyaAllah kamu akan lebih tenang" sambut Bu Sri.
.
.
BERSAMBUNG
Semoga novel saya ini banyak pembacanya ya...
Awalnya pesimis novel ini bisa sesukses novel - novel yang lain. Tapi tak apalah...
Tujuan saya membuat novel ini agar bisa bermanfaat untuk para pembaca karena di kehidupan nyata hal ini sering terjadi.
Novel ini murni bukan novel hayalan saya yang penuh dengan percintaan melainkan novel yang berasal dari beberapa kehidupan nyata orang - orang yang pernah saya temui dan saya jadikan sebuah cerita seperti ini.
Semoga cerita ini bisa memberikan ilmu kepada kita semua tentang menghadapi sebuah masalah dan menyelesaikannya. Kasih sayang suami , keluarga dan teman sangat penting untuk kita tetap waras dalam hidup ini.
Apalagi diluar sana banyak ibu - ibu yang stres pada hidupnya sampai bertindak buruk dalam hidupnya dan hidup anak - anaknya.
Semoga kita dijauhkan dari penyakit ini. Aamiin...
nonelnya seperti kehidupan kita sehari'', benar'' hidup seperti nyata kita alami,
luar biasa sekali pengalaman yang bisa kita petik