Novel ini berkisahkan tentang pernikahan yang terjadi karena adanya perjodohan,
Namun pernikahan yang mulanya berjalan tanpa Cinta itu, dapat berubah. Dua insan yang mulanya tidak saling mengenal, kini saling tidak ingin meninggalkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANISA RANI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BALAS DENDAM
"Pak, itu gelasnya saya tinggal disana. Terimakasih pak" (Ucapnya singkat, lalu meneruskan langkahnya menuju mobilnya)
Penjual es pun tampak bingung, kenapa Izzan berlarian menuju mobilnya dan disusul Zahra dengan langkah cepat serta mata yang sedikit mengembun menahan tangis
Dengan langkah yang sangat cepat, kini Zahra sudah berada tepat dipintu samping kemudi mobil. Dan dengan kasarnya, Zahra membuka pintu mobil itu. Zahra menghempaskan bokongnya dengan keras,
"Kamuu!! Kamu tuh seneng banget sih buat aku marahh" (Sarkas Zahra sambil mencondongkan badannya lalu menunjuk ke arah Izzan dan disertai tatapan tajam)
"A-aku ta-tadi lupa, Ra. So-sorry" (Ucap Izzan sangat gugup)
"Lupaa?!! hemhh, kamu fikir aku percaya? kamu modus kann, hemm? tadi saja aku melihatmu sedang asik memandangi fotoku ditaman" (Ucap Zahra yang kini sudah duduk dengan posisi yang benar)
"Tapi kali ini aku serius, Ra.. believe me? please" (Pintanya pada Zahra dengan memasang wajah memelas)
"Lihatlah, bagaimana hebatnya dia beracting" gumam Zahra dalam hati, sambil melirik Izzan dengan ekor matanya
"Aku ga mudah memaafkan. Buktinya, baru saja dimaafkan kamu sudah bikin aku marah lagi!" (Ucap Zahra kesal)
"Iyaa, iyaa aku jamin kali ini aku tak akan mengganggumu atau membuatmu marah. Hehe, peace✌️" (Ucap Izzan berjanji sambil mengangkat kedua jarinya, telunjuk dan jari tengah)
"Baiklah, aku pegang omonganmu" (Tukas Zahra singkat)
"Terimakasih nyonya Mufallah" (Ucap Izzan menggoda Zahra)
"Cck.. belum juga sah!" gumam Zahra dalam hati
"Pakai sabuk pengamanmu, kita jalan lagi" (Ucap Izzan mengingatkan Zahra untuk memakai sabuk pengamannya)
"Heemm" (Jawab Zahra singkat)
***
Sesampainya dikediaman Zahra, Izzan langsung disambut hangat oleh ayah, ibu dan kakak-kakak Zahra
"Assalamualaikum ummi, abah, kakak"
"Assalamualaikum, semua"
Ucap keduanya bersamaan memberi salam, dan berhambur mencium punggung tangan keluarga Zahra
"Yuk, yuk langsung masuk kedalam aja. Ummi sudah buat cemilan yang banyak" (Ucap ummi Marwah pada Izzan dan Zahra)
"Waahh, iyaa ummi.." (Ucap Zahra bersemangat, karena memang Zahra sangat menyukai cemilan)
Sementara Izzan hanya mengangguk dan tersenyum manis
"Nak Izzan, kamu mandi dulu yaa. Kamu bisa pakai kamar mandi yang ada dikamar tamu" (Ucap ummi Marwah pada Izzan, dan dibalas anggukan oleh Izzan)
"Bi, tolong antarkan nak Izzan kekamar tamu ya" (Perintah ummi Marwah pada bi Tini)
"Baik nyonya, kalau begitu saya permisi" (Ucap bi Tini, sembari membungkukkan tubuhnya dan berlalu pergi)
"Izzan permisi dulu ya pak, bu" (Pamit Izzan pada ayah Abidzar dan ummi Marwah)
"Iya nak"
"Iya sayang"
Jawab ayah Abidzar dan ummi Marwah serempak
Sementara Zahra, Gadis cantik itu kini sedang berada didalam kamarnya. Dia sibuk merapikan tempat tidurnya yang terlihat seperti kapal pecah. Siapa lagi yang membuat kamarnya demikian? kalau bukan keponakan-keponakannya dari ketiga kakaknya, Aziz, Hafidz, dan Mujnah
"Hufftt.. Umur mereka saja baru sekitar 5 sampai 7 tahun sudah membuatku lelah seperti ini, apalagi kalau mereka sudah besar? waahh bisa gila aku" (gerutu Zahra seorang diri, yang tiba-tiba bergidik ngeri ketika membayangkan keponakannya itu membuatnya K.O)
Setelah Selesai merapikan kamarnya, Zahra pun bergegas mandi
Tapi ketika dia baru saja ingin melangkahkan kakinya kedalam kamar mandi, Kak Mujnah mengagetkannya dengan membuka pintu kamar Zahra tanpa mengetuknya dulu
"Kak, kakak tuh kebiasaan deh. Kalau masuk pasti ga ketuk pintu dulu" (Ucap Zahra sembari mengambil bathrobenya)
"Kalau ketuk pintu ga asik dik, Hahaha" (Sahut Mujnah sambil tertawa pelan)
"Ckk.." (Zahra berdecak singkat sambil menggelengkan kepalanya karena ulah sang kakak)
"Oiyaa ngomong-ngomong, ada apa kak? aku mau mandi nih" (Tanya Zahra)
"Oiyaa. Kakak sampai lupa tadi mau bilang apa sama kamu dik, itu Ummi minta kamu buatin pepes tahu untuk makan malam nanti. Karena ummi pengen Izzan merasakan masakanmu" (Jawab Mujnah yang membuat Zahra berseringai jahil)
"Hemm.. kesempatan nih, buat membalas kejahilan-kejahilannya padaku itu" gumam Zahra dalam hati
"Kamu dengar apa yang kakak bilang kan dik?" (Tanya Mujnah pada Zahra yang terlihat melamunkan sesuatu)
"Ehh dengar kak, dengar" (Jawab Zahra dengan cepat, membuat Mujnah menganggukkan kepalanya dan keluar dari kamar Zahra)
Ketika memastikan kakaknya sudah benar-benar pergi, Zahra pun langsung mengunci pintu kamarnya dari dalam. Dan dia bersorak
"Yesss, aku mendapat kesempatan untuk mengerjainya. Heemm pepes tahu kan? yaaa akan aku buatkan untukmu, Tuan muda yang terhormat" (Ucap Zahra seorang diri sambil terus menyeringai jahil)
Sementara dilain sisi, Izzan terlihat sedang kebingungan karena dia lupa kalau dia tidak membawa baju ganti. Tetapi, dengan cepat matanya melirik ke arah walk in closet yang terdapat lemari kaca. Didalam lemari kaca itu, sudah tersusun rapi baju-baju santai yang masih baru. Dan dengan berat hati, dia mengambil salah satu baju yang ada dalam lemari itu. Izzan memilih baju lengan pendek berkerah warna biru, dengan celana pendek selutut berwarna hitam
Lalu, Izzan keluar dari kamar tamu itu. Dia melangkahkan kakinya menuju keluarga besar Zahra yang tengah asik bercengkrama, terlebih dengan adanya keponakan-keponakan Zahra, kian menambah suasana ramai sore itu
"Sore semua" (Sapa Izzan dengan menyertai senyuman manis)
"Sore dik"
"Sore nak"
Jawab semuanya dengan serempak
Izzan berlalu duduk disamping ayah Abidzar, dan langsung mendapat tepukan pelan dibahunya dari ayah Abidzar. Izzan pun tersenyum, dan dia merasa menghangat karena mendapat perlakuan demikian
"Eemm, maaf pak bu.. Tadi Izzan tidak membawa baju ganti, karena langsung kesini setelah selesai rapat. Jadi, Izzan mengambil baju ini dari lemari yang ada diwalk in closet kamar tamu" (Ucap Izzan dengan canggung)
"Naakk, baju-baju itu memang sengaja ummi belikan untukmu. Supaya nantinya kalau kamu mau menginap disini, kamu tidak susah-susah membawa baju ganti" (Tukas ummi Marwah pada Izzan)
"Terimakasih ya bu" (Ucap Izzan sambil tersenyum)
"Iyaa nak sama-sama. Oyaa, jangan panggil ummi dengan sebutan ibu yaa. Panggil saja ummi, dan begitupun dengan abah" (Ucap ummi Marwah pada Izzan)
"Baiklah ummi" (Ucap Izzan sambil tersenyum mengiyakan)
☘☘☘
Tak lama kemudian, semua mata tertuju pada Zahra yang sangat cantik dengan menggunakan gamis syar'i senada dengan hijab yang dia kenakan. Izzan pun tak mengedipkan matanya menatap Zahra yang sedang menuruni anak tangga,
"Sore semua, Eemm.. aku pergi kedapur dulu yaa" (Sapa Zahra sekaligus pamit untuk menuju kedapur, kemudian dibalas anggukan oleh ayah dan ibunya)
Mata Izzan terus mengikuti kamanapun langkah Zahra, Karena ruang keluarga berhadapan langsung dengan dapur. Maka, Izzan dengan mudahnya melihat semua yang sedang dilakukan oleh Zahra
Aisyah, Istri dari Hafidz yang melihat Izzan terus menatap pada Zahrapun menyenggol tangan suaminya
"Lihatlah mas, calon adik iparmu itu terus-menerus menatap kearah Zahra" (Ucap Aisyah berbisik, sambil terkekeh)
Hafidz pun berdehem, lalu dia berniat menggoda Izzan
"Ekkheemm! Zan, adikku itu limited edition. Selain wajahnya sangat cantik, hatinya pun tak kalah cantiknya. Bahkan, dia itu ibarat kembang desa disini" (Goda Hafidz yang membuat semuanya tertawa, terkecuali Izzan)
"Apa yang dikatakan oleh kak Hafidz itu benar? aarrghh!! kenapa aku jadi ingin melenyapkan para pria yang menyukai Zahra sih!" gumam Izzan yang sudah bersungut
"Hahaha, Lihatlah wajahnya sekarang. Dia sangat marah seperti ingin menelan mentah-mentah pria yang menyukai Zahra" (Ucap Aziz disertai gelak tawa)
***
Setelah cukup lama bercengkrama sambil menunggu Zahra yang memasak makanan untuk Izzan, kini Zahra pun telah usai dari kegiatannya didapur. Dan Zahra mempersilahkan semua anggota keluarganya untuk menuju kemeja makan, Lalu setelah semuanya sudah berkumpul dimeja makan. Zahra pun ikut bergabung, dia duduk disamping Abimanyu, anak kedua dari Aziz
Tampak semua para wanita dimeja makan itu, mengambilkan makanan untuk suaminya masing-masing. Namun Izzan tidak menunggu Zahra, dia memilih untuk mengambil makanannya sendiri
"Lohh, kok ambil sendiri Zan? Zahra, dilayani dong Izzannya" (Ucap Aisyah pada Zahra)
"Iya kak" (Jawab Zahra singkat, lalu mengambil piring dari tangan Izzan dan mengambilkan nasi beserta lauk untuk Izzan)
"Inii" (Ucap Zahra dengan nada dingin sembari menyodorkan piring itu pada Izzan)
Setelah menerima makanan yang diberikan Zahra untuknya, Izzan pun mulai menyuap makanan itu masuk kemulutnya
"Eehmm, astaga ini manis sekalii!! apa dia menambahkan dua kilo gula dimasakannya ini?" gumam Izzan dalam hati
"Pepes buatan Zahra itu enak bukan nak? Zahra itu sangat pintar membuat pepes. Gimana menurutmu? enak?" (Tanya ummi Marwah pada Izzan)
"Emmm i-iyaa ummi, enak. Enak sekali, rasanya cocok sekali dilidahku" (Jawab Izzan terbata-bata menahan rasa mual, karena memakan pepes buatan Zahra)
"Rasain kamuu, makannya jadi orang jangan suka jahil!" gumam Zahra sambil melirik Izzan disertai dengan senyuman smirk nya