NovelToon NovelToon
ROMANSA BIAS & ZEE

ROMANSA BIAS & ZEE

Status: tamat
Genre:Teen School/College
Popularitas:1.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: Bubu.id

Zivanya Alkaridz siswi cerdas dan populer di Sekolah Menengah Pertama (SMP) memilih berpenampilan jelek saat masuk ke Sekolah SMA unggulan di kotanya.

Diejek tak memupuskan semangatnya, ia mencari persahabatan dan cinta yang tulus di masa peralihannya itu.

Bias Putra Samudra, seorang siswa tampan dan populer menarik perhatiannya. Hingga tanpa di duga sebuah surat yang menyatakan cinta ia terima tertanda Bias sang idola.

Hati Zee tak menentu, "Mungkinkah Kak Bias benar-benar menyukaiku yang jelek?"

Munculnya Surat itu adalah penyebab konflik dalam kisah ini. Yuk ikuti!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bubu.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DESIRAN ITU ADA

..."Gue cuma penonton, yang ngejalanin itu elo!" (Johan)🥀...

...______________________________________...

"Hai Bang!"

"Wah seneng gue ngelihat muka lo berseri gitu, Bi," ucap Johan melontarkan apa yang ada di otaknya. Bias tersenyum dan segera mengambil tempat duduk di samping pelatihnya itu.

"Alhamdulillah, Bang."

"Lagi happy lo? Biasanya tiap latihan muka lo cemberut." Bias terkekeh.

"Doi lagi asik, Bang."

"Nasya?"

"Iyalah, cewe gue kan dia doang, Bang!"

"Lah kali. Tapi surprize gue dengernya, gimana ceritanya doi bisa biarin lo bernapas lega latihan basket kayak sekarang?"

"Gue juga gak paham, Bang. Kemarin doi ngajak shopping eh tadi pagi katanya gue gpp latihan dan shoppingnya besok aja."

"Cewek, cewek ... paling seneng ya makhluk itu klo shopping!"

"Please jangan mulai lah, Bang!" Johan tersenyum sambil menggelengkan kepala. Johan memang sebetulnya kurang suka Nasya dan ia sering melontarkan hal tersebut pada Bias, mengatakan kalau Nasya sekedar suka dengan harta Bias.

"Coba lah tes sekali-kali, Bi. Bilang kalo usaha bokap lo bangkrut dan lo udah miskin, coba gimana tanggapan dia."

"Bang, berapa kali gue bilang ... Nasya itu sayang gue. Jangan negatif thinking sama dia."

"Kalo emang lo yakin, harusnya lo nggak takut dong Bi ngetes dia bilang lo sekarang miskin. A-tau lo sebetulnya nggak yakin Nasya tulus sama lo dan lo takut kalo nyatanya Nasya ninggalin lo saat lo nggak bisa ngasih dia barang apa-apa lagi!" Bias terdiam sejenak namun memaksa tersenyum setelahnya.

"Gue yang seneng beli-beliin barang ke doi, Bang. Gue nggak ngerasa keganggu dan yang paling utama ... gue ikut seneng ngelihat doi seneng," ucap Bias dengan mata fokus menatap beberapa bola di lapangan yang siap dimainkan itu.

"Terserah lo lah, Bii. Gue cuma jadi penonton dan bisanya komentar doang sesuai yang gue lihat, balik lagi yang ngejalanin itu elo. Yang pasti, kalo lo nemu hal yang buat lo ragu, jangan tutup keraguan itu karena cinta lo yang begitu besar ke doi." Bias tersenyum getir, ia mengangguk setelahnya.

"Eh ngomong-ngomong, yuk kita mulai latihan! Noh masa depan lo udah dateng!"

Bias seketika menoleh ke mana arah pandang Johan dan ia menggelengkan kepala. "Bang ... Bang ..., seneng banget sih lo ngeledekin gue sama tuh anak."

"Lha kenapa? Salah? Bukannya lo yang bilang kalau kita nggak boleh mandang seseorang dari fisik," ucap Johan sambil terus menatap Zee yang sedang berjalan mendekat ke arah mereka.

"Dan Bukan nggak mungkin juga kalo elo seorang Bias Putra Samudra suatu saat bakalan bucin dan merengek-rengek cinta sama tuh gadis hitam," tambah Johan. Bias tampak kaget dan menelan salivanya kasar, ia sangat tak ingin semua itu terjadi tapi ia membenarkan ucapan yang pernah ia lontarkan kalau sebagai manusia tidak boleh menilai manusia lain hanya dari tampilan fisiknya. Ya, karena rupa merupakan pemberian Sang pencipta.

"Udah ah, makin ngawur lo, Bang!" Bias tampak berdiri tak lama Johan berdiri pula. Keduanya mendekati sekumpulan gadis dengan pakaian olah raga. Ya, untuk latihan full seminggu hanya untuk peserta lomba yang rencananya akan mewakili sekolah. Berhubung Zee sudah dipersiapkan menjadi tim cadangan, maka ia ikut latihan pula.

"Oke untuk semuanya sebelum kita mulai latihan ada baiknya kita awali dengan doa. Semoga setiap latihan yang kita lakukan menuju hari H 4 hari lagi dimudahkan oleh Allah. Semua di sini diberi kesehatan sampai perlombaan nanti. Berdoa, mulai!" Semua raga menunduk hikmad memohon pada Pencipta hingga beberapa saat setelahnya lontaran selesai diucap Johan.

"Oke sebagai pemanasan, kita lari ngiterin lapangan sebanyak 10x dulu. Yo ... Yo ... Yo ...!"

Semua raga menurut pada setiap kata yang diucap Johan tak terkecuali Bias yang juga ikut memutari lapangan mengambil posisi paling belakang. Bias sesekali tersenyum saat ingat kata yang diucapkan Johan padanya mengenai kemungkinan ia akan bucin pada Zee.

Bang Jo ... Bang Jo ... Lo itu bisa-bisanya ngucapin itu.

Entah mengapa netra Bias tak teralihkan setelahnya dari wajah Zee.

Zee itu memang berbeda dari yang lain dan gue acungin jempol sama kepercayaan dirinya. Dia nggak minder walaupun berbeda. Dia bangga dengan anugerah wajah yang Allah kasih, walau sebagian orang meremehkan. Dan Allah membalas rasa syukur Zee dengan memberi kecerdasan sama tuh anak. Luar biasa elo Zee.

Setelah melakukan pemanasan, seperti halnya hari kemarin, Johan dan Bias berpencar. Zee tampak langsung siap di tempatnya latihan hari kemarin. Bias masih berjalan saat dilihatnya Zee sudah mulai memantul-mantulkan bola dan mengarahkannya ke keranjang. Sesekali dilihatnya Zee membetulkan letak kacamatanya yang turun saat ia menggerakkan tubuhnya dan Bias tak ingin berhenti tersenyum.

Lo begitu semangat Zee, thanks lo udah jaga kepercayaan gue dan serius sama latihan ini.

Melihat jarak Bias semakin dekat, Zee menghentikan aktivitasnya. Ia berdiri tegak seakan siap mendengar materi yang akan Bias beri untuknya. Dan sikap Zee yang begitu formal di depannya lagi-lagi membuat Bias risih dan berusaha keras menahan senyumnya.

"Ka-k," sapa Zee sambil menganggukkan kepala. Bias membalas anggukan itu.

"Apa kabar Lo hari ini, Zee?" tanya Bias menatap tampilan gelap wajah Zee. Zee yang menangkap Bias menatapnya intens jadi salah tingkah, ia menunduk dalam dan beberapa kali meletakkan tangan pada kacamatanya, seolah membetulkan kaca mata itu. Ya, Zee menutupi nervous-nya, tapi Bias yang sudah tau Zee memiliki rasa padanya justru ingin tersenyum dibuatnya.

"Oke untuk latihan hari ini, gue mau jelasin ke lo mengenai shooting. Sebenernya gue yakin lo pasti udah tau, tapi kita flashback aja ya." Zee mengangguk.

"Shooting itu, usaha memasukkan bola ke dalam keranjang atau ring basket lawan untuk meraih poin. Melakukan shooting bola basket ke dalam ring lawan merupakan bagian dari upaya untuk memenangkan permainan bola basket. Nah, untuk bisa memasukkan bola ke dalam ring lawan nggak sekedar menembak bola basket secara sembarangan, dibutuhkan teknik cara shooting bola basket yang benar."

Zee seperti hari sebelumnya menyimak seksama wajah dan setiap kata yang Bias ucap. Lagi-lagi hatinya begitu bahagia berada dekat Bias.

Kak Bias ... apa bener Kakak suka aku? Kenapa Kakak nggak pernah tanya kenapa aku nggak pernah bales surat Kakak?

Disela memperhatikan Bias, setan mulai menggoda dan berusaha menghilangkan konsentrasi itu. Ia terus membisikkan kebaikan-kebaikan Bias, pesona Bias dan segala hal tentang Bias yang membuat Zee seakan melambung pernah dinyatakan suka olehnya pria sempurna di hadapannya itu.

"Zee ... Zee?"

"Eh, Ka-kak. Ma-af!

"Lo baik-baik aja, kan?"

"Hee ... i-ya Kak."

Astagfirullah ... sadar Zee! Berhenti mikir yang nggak-nggak! Inget, lo harus menampilkan yang terbaik saat lomba nanti. Fokus Zee! Fokus!

Duh anak ini, ngeselin banget sih, gue lagi nerangin ternyata dia bengong, tapi mukanya lucu banget klo bengong gitu. Astagfirullah Bias, sadar! Kok lo jadi mbatinin tuh anak sih?

"Oke, sekarang lo ambil satu bola, Zee! Kita langsung praktek macam-macam shooting aja, gue fikir lo udah ngeletek sama dasar-dasar basket." Zee seperti biasa mengangguk, namun kini sambil menunduk setelah tadi ketahuan banyak melamun.

Bias langsung memberi contoh Zee dan Zee diminta mengikuti cara Bias melakukannya. Baru satu macam cara yang Bias ajarkan, Bias tampak mendekat ke arah Zee.

Kak Bias kenapa deketin aku?

Bias mendekatkan jarinya ke kacamata yang Zee pakai, secara perlahan Bias membuka kacamata itu.

"Ini lepas dulu gpp, kan? Biar Lo nyaman bergeraknya!"

Zee bergeming, baru kulit Bias sedikit menyentuh pelipisnya desiran itu sudah menghantar panas ke aliran darah Zee. Zee spontan mengangguk.

...________________________________________...

🥀Happy reading😘

🥀Maaf mas Bro lagi libur susah nulis. Makasih supportnya selalu❤️❤️

🥀Senin manis, jangan lupa like, komen juga votenya untuk Zee😍😍

1
Enddless Bettle
teranat susah menyingkirkan seseorang yg sudah terpatri dlm hati
IK
ini satyo supir zee dlu bkn
IK
cewe matre
IK
semoga bias terzee zee cinta nya Zee
IK
emang ruwet masalah rumah tangga.. mnding Bias sabar n nemuin bukti klo papa nya mmg slingkuh
IK
kan duo racun ngerjain Zee
IK
karena dy pinter
IK
gercep yaa Zee
IK
izin baca yaa thor
Mutiara Bocil
oleng si Zee untung sadar zee
Mutiara Bocil
lah iya kan
Mutiara Bocil
sadar zee
Evi
aku suka karna visualnya org Indonesia semua
Rusma Yulida
menurutku sih bias bodoh LBH bodoh lagi Zee🤣🤣🤭
Ilham Risa: Hai kak, mampir juga yuk kak ke novel aku "ketika suami ku mendua" makasih kak🙏
total 1 replies
Ika Fitri
info karya baru itu judulnya apa Thor?
blarala
klau suami setengah iklas pasti ada aja yg terjadi mendingan nurut aja zee
ellis siti aisyah
emang agak egois sih ..kan dia yang cinta duluan ya....
Nhinicancer
nama sekolahx kadang salah
fa _azzahra
tadinya mau dkung jihan.tp di part ini aq di ingatkan bhwa johan ga jauh bda dg bias.sama2 suka zee setelah tau kecantikan zee
fa _azzahra
satyo kalo ga salah dlu sopir nya ayah zee bukan ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!